
Di jalan yang ada di kota, ketiga remaja dunia asing itu masih berjalan mengikuti arah peta.
“Nee, mau dengar pendapatku tidak?” Ryou mencoba membuka obrolan
“Tentang apa?”
“Kenapa mereka menamai tempat itu sebagai Akademi Sekolah Sihir? Bukankah akademi dan sekolah itu sama saja? mereka boros sekali memberi nama tempat yang intinya tempat pembelajaran juga”
Ini dia, Ryou dan kritik pedasnya. Tapi sejujurnya, kritikan itu benar.
“Memang sedikit merepotkan jika menyebut akademi lalu sekolah setelahnya, padahal maknanya sama. Setidaknya yang dipikirkan Ryou itu benar untukku” Kaito setuju dengan pendapat Ryou
“Kalau menurut buku yang tadi kita baca, nama lain dari Akademi Sekolah Sihir itu tidak begitu jelas karena tulisan asing, tapi pembelajaran di sana itu menyangkut akademi militer sihir dan sekolah tinggi sihir untuk semua kalangan. Jadi, ada beberapa gedung di sana yang membuat pihak Dewan Sihir menyebutnya Akademi Sekolah Sihir untuk memudahkan masyarakat”
Kino memberikan sedikit penjelasan mengenai alasan penyebutan nama asing itu.
Tampaknya wajah keduanya masih belum sepenuhnya menerima tapi penjelasan Kino itu adalah kenyataan yang telah mereka baca bersama jadi tidak ada alasan untuk membantah.
“Umm…abaikan mengenai hal itu dan sebaiknya kita pergi menuju akademi apalah itu namanya”
“Ryou…”
Kino hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Berjalan di kota yang berisikan penduduk manusia dan yang bukan manusia membuat ketiganya merasa aneh.
Ryou bahkan berbisik kepada Kino dan Kaito.
“Kalian berdua, dengarkan aku. Aku merasa sangat aneh berjalan dengan melihat goblin di depan kita memakan jas dan setelah seperti orang kantor pada umumnya”
“Ryou, jangan bicara begitu. Nanti kalau beliau dengar bagaimana?” Kino berusaha menghentikan sang adik untuk mengatakan hal itu
“Tapi aku serius. Di ‘dunia malam’ kita membunuhnya habis-habisan, tapi di sini malah kita bisa menyapa mereka seperti orang normal”
“Aku mengerti perasaan itu. Sejujurnya aku juga heran dengan semua itu, Kino. Dan yang lebih unik lagi, ada makhluk yang disebut mermaid berjalan di kota dengan banyak air yang mengelilinginya seakan air itu membentuk kolam agar dia bisa berenang di darat”
“Mermaid itu pasti menggunakan sihir air. Aku yakin itu. Mana ada mermaid berenang di aspal padat?” kata Ryou dengan sangat percaya diri
“Kau benar”
Begitu mereka sibuk mengobrol, mereka sampai di sebuah jalan lebar dan pagar tinggi yang terbuka lebar.
Bangunan besar yang begitu mewah, terdapat jalan lurus yang luas serta orang yang lalu-lalang bersamaan dengan kendaraannya.
“Ini…[Buckingham Palace] di Inggris…bukan, ini mungkin [Château de Versailles] di Prancis. Modelnya bahkan lebih mewah lagi. What a beautiful building this is” gumam Ryou
Kaito yang mendengar itu sedikit penasaran dengan kalimat terakhir yang dikatakan Ryou.
“Ryou, ‘wat’ apa yang barusan itu? Apa itu bahasa lain lagi yang ada di dunia asal kalian?”
“Oh, itu Inggris. Mungkin kalau di matamu sekarang, tulisan yang ada di buku sebelumnya adalah bahasa Franka yang kau pakai benar, kan?”
“Benar. Mungkinkah bahasa di ‘dunia’ ini adalah bahasa yang berasal dari Negara Inggris yang kalian sebut?”
“Tepat. Di mata kami sekarang, semua tulisan itu menggunakan bahasa Inggris. Jadi ya…”
“……” Kaito terdiam
Dia semakin menyadari bahwa kemungkinan ada banyak perbedaan yang akan semakin menonjol di antara mereka bertiga.
Kaito mencoba untuk tidak memikirkan hal itu terlebih dahulu dan mengikuti Kino yang lebih dulu berbicara pada salah seorang penjaga di sana.
“Baik, terima kasih banyak tuan”
“Kino, apa ada sesuatu yang telah kau ketahui?” tanya Kaito
“Penjaga ini bilang kalau untuk mendaftar sekolah sihir kita harus pergi ke dalam untuk mengambil nomor. Akan ada ujian masuk satu hari setelah pendaftaran di tutup dan dibagi dalam 3 tahapan”
“Kalau begitu, kita masuk dulu untuk melihat-lihat”
Ryou menarik tangan kedua orang itu dan berlari masuk ke dalam.
**
Di dalam lorong koridor yang luas, terlihat Xenon yang berjalan seorang diri. Dari arah belakang, terlihat seorang gadis yang memanggilnya.
“Xenon!!”
Langkahnya terhenti. Dia berbalik dan melihat gadis yang memanggilnya.
“Jessie-sama”
“Kenapa putra seorang Marquis memanggil putri seorang Viscount dengan sebuah seperti itu? Aku mencarimu kemana-mana. Sudah nyaris tiga jam, kemana saja kamu pergi?”
“Aku hanya diam di ruanganku sambil mengerjakan laporan kriminal yang telah dieksekusi. Laporannya sudah aku letakkan di meja Rexa-sama dan sekarang aku ingin pergi untuk ikut praktek”
“Xenon…tidak bisakah kamu menjadi lebih santai. Aku selalu merasa bahwa hubunganmu dengan kakakmu itu sangat…”
Gadis cantik berambut pirang bermata biru itu tampak begitu khawatir. Dia menatap Xenon dengan sangat cemas. Tapi, Xenon tampaknya tidak ingin berada lebih lama dengannya.
“Lady Jessie Rottenburg, aku hargai perhatian itu tapi sebaiknya masalah internal antara aku dan Rexa-sama tidak menjadi perhatian seorang bangsawan seperti Anda”
“Tapi aku harus peduli karena keluarga kita–”
“Keluarga van Houdsen dan Viscount Rottenburg memang mengatur pertunangan sejak kecil, namun bukan berarti masalah personal antara aku dan Rexa-sama menjadi perhatian Anda. Selain itu, setelah lulus nanti Jessie-sama bisa mencari pasangan yang tepat untuk menjadi suamimu”
“Itu jauh lebih baik dibandingkan menikah dengan anak pelayan yang meminjam nama Marquis sepertiku”
“Kenapa kamu bicara–”
“Jika hanya ingin membahas itu saja, sebaiknya aku pergi dulu. Selamat siang”
Xenon memberi hormat dan pergi dari hadapan Jessie. Setelah Xenon pergi, datang seorang remaja laki-laki yang mendekati Jessie.
“Jangan memikirkan pria dingin seperti itu, Jessie”
“Jene”
“Aku akan bicara padanya”
“Aku hanya…aku hanya ingin Xenon seperti dulu”
“Jangan cemas. Aku tau kau menyukainya sejak kecil. Aku juga akan mendukung saudara kembarku untuk menikah dengan anak dingin itu. Tenang saja. Serahkan padaku, ya!” remaja bernama Jene itu memeluk Jessie
Setelah melepas pelukannya, Jene berlari mengejar Xenon meninggalkan Jessie sendiri.
Di depannya, Xenon yang berjalan tanpa memperhatikan belakangnya cukup terkejut ketika pundaknya dipukul.
“……!!!”
“Kenapa sikapmu dingin sekali pada adikku!”
“Jene-sama”
“Hei, aku sudah bilang panggil aku Jene. Kita ini kan sudah berteman sejak kecil”
“Berteman sejak kecil tidak ada hubungannya dengan–”
“Kaku sekali dirimu itu. Sebenarnya hati dan pikiranmu itu terbuat dari apa?”
“Itu–”
“Pokoknya, kau harus minta maaf pada adikku setelah ini atau aku akan membuatmu…mengerjakan semua laporan tugas penelitian sihir untuk lusa”
Xenon hanya tersenyum dan menjawab bahwa dia akan menemui Jessie setelah urusannya selesai.
“Bicara soal itu, tadi pagi aku dengar kau sudah membereskan salah satu dari kelompok itu ya”
“Benar. Gadis setengah elf dan 6 orang beastman. Mereka sudah mati tapi aku belum menemukan petunjuk lain mengenai siapa dalang di balik semua kasus orang hilang itu”
Jene terdiam. Dia mulai berpikir.
“Kejadian orang-orang yang hilang itu benar-benar sulit diprediksi dan sekarang Dewan Sihir justru membuka ujian masuk sekolah sihir. Apakah ini bukan kebetulan yang disengaja?”
“Aku berpikir demikian. Kemungkinan besar Dewan Sihir ingin menggunakan cara ini untuk memancing orang-orang ada kaitannya dengan organisasi tersebut. Pasti ada satu sampai dua penyusup yang ada datang…”
“Kau benar. Dan ini mungkin akan jadi perhatian lain bagi para kapten untuk meningkatkan penjagaan. Rexa yang merupakan kapten dari Divisi Eksekutor juga pasti akan melakukan sesuatu”
“Aku tau itu. Biarkan beliau yang melakukannya. Oh iya, bicara soal pagi ini…aku ingat aku bertemu dengan tiga orang yang menarik”
“Menarik? Orang yang menarik bagaimana?”
“Mereka sempat nyaris menjadi korban organisasi tersebut tapi yang membuatku terkejut, mereka tidak memiliki sihir”
“Hah? Tidak punya sihir? Berarti memakai item sihir?” Jene terlihat terkejut dan bingung di saat yang sama
“Benar. Mereka pengguna item sihir. Hanya saja aku merasa mereka itu aneh. Seperti berasal dari tempat lain”
“Aku tidak mengerti. Apa kau sebegitu penasarannya? Memang kau yakin bisa bertemu lagi dengan mereka bertiga lagi?”
“Aku rasa tidak. Tapi jika takdir berkata lain, mungkin saja bisa bertemu lagi”
**
Sementara tiga orang menarik yang dimaksudnya sedang tersesat di dalam ‘labirin’.
“Oi, kau bilang kita belok ke sana kan? Kenapa jadi sampai di tembok penuh tanaman begini, Kaito?”
“Aku hanya merasa aku mendengar suara orang di sini jadi…um…maafkan aku. Sepertinya aku salah kali ini”
Mendengar ucapan Kaito yang terlihat tenang meskipun telah minta maaf, Ryou berteriak dengan keras karena emosi.
“Kalau mau tersesat sebaiknya jangan mengajak orang lain bersamamu! Kau tidak tau kita sudah berputar-putar di sini dan justru semakin jauh masuk ke dalam?! Aku tau otakmu itu penuh dengan rasa ingin tau, tapi tidak sesat juga! Dasar bodoh!”
“Aku sudah mengatakan padamu kalau aku menyesal. Aku juga sudah minta maaf padamu. Kenapa jadi dipermasalahkan?”
“Karena sampai sekarang kita bertiga masih belum keluar dari sini! Pokoknya sampai kita keluar dari sini, aku tidak akan memaafkanmu! Dasar remaja amnesia dari dunia lain!”
“Kau itu cerewet sekali, dasar anak kecil bermulut pedas!”
Ryou dan Kaito mulai beradu mulut lagi, hingga akhirnya Kino harus mencoba menghentikan mereka.
“Kalian berdua, aku mohon hentinkan semua ini sekarang atau kita tidak akan keluar dari sini!”
Ada alasan kenapa mereka bertiga bisa tersesat di sana dan itu berawal dari 15 menit yang lalu. Tepatnya setelah mereka masuk ke dalam lingkungan Akademi Sekolah Sihir.
******