
Di gang sempit itu, Theo membuat Ryou dan Kino terlihat bingung dan saling menatap satu sama lain.
“Apa maksudmu aku dalam bahaya?” Kaito bertanya kepada Theo dengan wajah penasaran
“Aku…”
Dengan pertanyaan Kaito kepadanya, Theo menjadi lebih panik lagi.
‘Bagaimana aku menjelaskannya kepada Kaito-nii kalau gorilla itu sedang mencarinya sejak kemarin malam?!’ gumam Theo dalam hati dengan wajah panik
Kaito menatap anak itu dengan wajah penasaran tapi dia tau bahwa dia tidak akan mendapatkan jawaban cepat dari Theo. Hal itu terbukti dari ucapan Theo setelahnya.
“Aku… aku akan jelaskan sambil berjalan. Sebaiknya kita pergi dari sini untuk mengambil jam saku milik Kino-nii sekarang!”
Terlihat dengan jelas bahwa Theo seperti ingin mengalihkan pembicaraan yang sudah dia buat. Bukan berarti Kaito ingin melepaskannya begitu saja, namun memang tidak akan baik jika mereka terus berada di sana.
“Baiklah, aku mengerti. Seperti yang kau bilang, kita pergi dari sini”
“……” Ryou terdiam sebentar
Mereka bertiga akhirnya berjalan meninggalkan tempat tersebut. Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu telah menunjukkan pukul 10.00.
Setelah Kaito memasukkan kembali jamnya, ketiga orang tersebut berjalan di sepanjang gang sempit itu. Theo berada di depan mereka. Kaito berada tepat di belakang Theo sedangkan Ryou berjalan sedikit di belakang Kaito sambil sesekali melihat ke belakang.
‘Aku berharap Kino tidak apa-apa’ gumam Ryou dalam hati
Setelah beberapa detik, Ryou menyusul Kaito dan berbisik padanya.
“Sudah dapat apa yang kau mau?”
“Belum semuanya karena pertanyaan terakhirku belum dijawab olehnya. Sepertinya dia takut padaku karena sesuatu. Aku tidak yakin apa itu tapi kemungkinan ada hubungannya dengan pedangku ini”
“Aku sudah mengatakannya padamu tadi, kan? Itu karena–”
“Jangan bicara apapun, kumohon. Telingaku akan menjerit nanti”
Kaito memotong kalimat Ryou dengan cepat sebelum dia selesai bicara. Tetapi sepertinya pemilihan bahasa Kaito tidak sepintar kemampuan bertarungnya.
Hal itu membuat dirinya menjadi sasaran komentar mulut Ryou untuk kesekian kalinya.
“Kau bilang telingamu bisa menangis, sekarang bisa menjerit juga. Sepertinya telinga milikmu itu multitasking ya. Aku ingin dengar semerdu apa suaranya itu” Ryou membalas kata-kata Kaito dengan nada serius
“……” Kaito hanya diam tanpa mau membalas
Suasana antara mereka berdua kembali menjadi serius.
“Sekarang aku serius bertanya, kau punya dugaan kenapa dia merasa takut padamu? Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan keanehan tempat ini atau mungkin dengan ingatanmu?”
“Aku tidak yakin. Yang jelas aku ingin mendengarnya langsung. Aku tidak bisa menunggu untuk itu”
“……” Ryou diam dan melihat ke arah punggung anak yang berada di depannya
“Theo!” Kaito memanggil anak yang berjalan di depannya
“……!!!” Theo terkejut
Meskipun anak itu tidak mengatakan apapun saat dipanggil oleh Kaito dari belakang dan tetap berjalan, namun dia sadar bahwa Kaito akan mulai menagih apa yang telah dikatakan oleh dirinya tadi.
“Theo, bukankah seharusnya kau berhenti mengulur waktumu dan katakan padaku alasannya? Kalau seperti ini, jangankan bisa mendapatkan jam sakunya dengan cepat. Aku berani bertaruh kita akan sampai ke tempat pria bernama Justin itu siang hari. Tidak ada kemungkinan dia masih di tempat yang kau tuju, jadi berhentilah membuang waktu kami dan jawab pertanyaanku sekarang”
Kaito berbicara sepanjang itu namun anak di depannya tidak menengoknya sama sekali. tidak ada dari mereka bertiga yang menghentikan langkah kakinya. Saat itu, Ryou yang menyadari sesuatu ikut berkomentar.
“Begitu rupanya. Theo, kau mengulur waktu agar kita tidak cepat sampai ke tempat orang bernama Justin itu ya. Kau yang awalnya berlari seakan ingin cepat sampai ke tempat dimana Justin berada, sekarang justru berjalan santai saat bersama kami. Siapapun pasti akan merasa aneh dengan itu”
“……” Theo masih terdiam dan berjalan sedikit lebih cepat
“Sekarang aku bisa menebak sesuatu, orang yang memegang jam saku milik kami sekaran yaitu Justin sepertinya memiliki urusan khusus dengan Kaito. Benar begitu, kan?”
Ryou mengeraskan sedikit suaranya ketika mengatakan kata-kata tersebut untuk melihat reaksi Theo.
-Deg
Theo langsung berhenti.
“Sudah kuduga” ucap Ryou ketika melihat langkah Theo berhenti
Melihat anak di depannya berhenti, langkah kedua orang yang berada di belakangnya juga ikut terhenti. Kaito mulai berjalan ke depan menghampiri anak tersebut dan ketika sudah berada di depannya, Kaito berlutut dan bertanya pada Theo.
“Apakah semua tebakan yang dikatakan Ryou itu benar? Apa orang bernama Justin itu memang sedang mencariku sekarang?”
“……” wajah panik Theo tidak bisa lagi disembunyikan
“Jangan khawatir, aku tidak akan terluka semudah itu. Katakan padaku alasan kenapa pria itu mencariku?”
“Ka–Kaito-nii sendiri yang mengatakan kalau kemarin kau ke sini, benar kan?”
“Lalu, ada masalah dengan itu?” Kaito menatap mata Theo
“Sebenarnya kemarin malam ada kejadian yang mengerikan dan aku tau itu ada hubungannya dengan Kaito-nii”
Ryou mendekati mereka berdua dan menepuk pundak Theo dari belakang.
“Ceritakan pada kami!”
Theo dengan tubuh gemetar karena takut menceritakan semuanya. Dia menceritakannya kepada kedua remaja tersebut, tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Justin di bar dan juga tentang apa yang didengarnya ketika dia dan kedua temannya bersembunyi dari anak buah Justin semalam.
Selama mendengar apa yang dikatakan oleh Theo, Ryou membuat wajah dingin. Wajah tersebut seperti seseorang yang siap menghabisi seseorang. Kaito sesekali melirik wajah Ryou yang masih berdiri di bekalang Theo sambil mengeluarkan keringat di keningnya.
‘Aku semakin bisa melihatnya dengan jelas, itu adalah wajah yang menunjukkan niat untuk membunuh. Ryou bisa menunjukkan ekspresi dingin seperti itu sekarang dengan mudah. Aku berharap rasa kemanusiaan miliknya benar-benar tidak berkurang sama sekali’
Mengkhawatirkan dua hal dalam satu waktu membuat Kaito menjadi orang paling pengertian diantara ketiga orang di gang sempit itu.
Fokus kedua remaja itu masih pada semua penjelasan Theo, hingga akhirnya Ryou menghela napas berat sebelum mengatakan sesuatu.
“Haaa….”
“Ryou…-nii?” Theo menengok ke arah Ryou yang ada di belakangnya
“Kita persingkat saja semua ini. Jam saku kami ada pada si gorilla itu dan orang yang mengejar kami berdua sebelum ini juga merupakan suruhan dari si gorilla”
“Ryou-nii sudah bertemu mereka berlima?!” Theo langsung kaget dan berubah menjadi penasaran
Dia juga melihat ke arah Kaito. Kaito mengangguk tanda bahwa hal itu benar.
“Kami sudah bertemu dengannya. Mereka mengepung kami di keramaian kota pagi ini. Seperti penjelasanmu barusan, pelaku yang mencoba menyerang kami itu memang lima pria berotot dengan tato di tubuhnya”
“Jangan khawatir, kami sudah membuat mereka tidur untuk sementara dan mengambil barang menarik juga dari mereka. Ini benar-benar konyol Siapa yang menyangka bahwa mereka mengejar Kaito hanya karena perintah labil dari atasan mereka yang bodohnya tidak jauh berbeda dari gorilla! Orang bernama Justin itu pasti tidak lulus sekolah!” Ryou terlihat kesal dan dingin ketika mengatakan semua itu
Namun, ada hal tidak biasa yang dilakukan Kaito setelah mendengar semua yang dikatakan Ryou. Mungkin ini adalah hal yang paling tidak biasa yang pernah terjadi.
“Kau masih bisa bicara begitu, Ryou? Bukankah itu berlebihan?”
“Apanya yang berlebihan, Kaito?! Kau mau mengoreksi ucapanku yang mana lagi?! Semua itu benar, kan? Orang bernama Justin itu memang sangat bodoh!!”
“Ryou, dengarkan aku. Pria bernama Justin itu bukan tidak lulus sekolah. Sejak awal dia memang tidak pernah pergi ke sekolah, aku bahkan ragu dia tau tempat seperti apa sekolah itu”
“……” Ryou terdiam sebentar dan berpikir
“Karena itu dia bisa dengan mudah memberi perintah kepada anak buahnya hanya dari informasi tidak jelas begitu. Kau seharusnya tau itu, Ryou” kata Kaito melanjutkan ucapannya
Sekarang, kemampuan Kaito yang tersembunyi sudah mulai aktif. Sejak dia bisa melakukan ‘pujian’ pada Ryou di gang sempit ketika selesai menghajar kelima pria berotot itu, sekarang dia bisa mengoreksi komentar Ryou dengan sempurna.
Bakat luar biasa dari remaja yang kehilangan ingatannya ini sungguh menakjubkan.
“Ah, kau benar! Terima kasih sudah mengoreksi ucapanku”
Ajaibnya, Ryou berterima kasih untuk itu.
Theo yang mendengar komentar ringan dari kedua remaja itu hanya diam mematung seakan pikirannya ikut hanyut ke suatu tempat.
‘Aku tidak begitu mengerti situasi ini, tapi aku yakin kalau mereka berdua mungkin lebih berbahaya dari si gorilla itu. Mulut mereka berdua benar-benar jahat sekali!!’
Ryou dan Kaito melihat Theo yang mematung tanpa berkata apapun lagi. Setelah beberapa detik, Ryou bertanya lagi pada anak itu.
“Jadi, yang kami katakan soal Justin itu semua benar, kan?”
“Iya, benar. Gorilla itu sepertinya memang tidak pernah sekolah” Theo menjawab dengan wajah aneh
“Kurasa itu sudah menjawab semua pertanyaanku. Terima kasih banyak sudah menjawabku, Theo. Sekarang kami berdua sudah mengerti situasi yang kami hadapi. Kita harus cepat ke tempat dimana Justin itu berada dan mengambil kembali jam saku yang ada padanya”
Theo sangat panik hingga mengeluarkan suara yang agak keras.
“Apa?! Kaito-nii, kau tidak mendengar penjelasanku? Gorilla itu sedang mencarimu. Bahkan, tadi kalian sendiri yang mengatakan bahwa kalian sudah bertemu dengan kelima anak buahnya kan? Dia berusaha melukaimu karena kau sudah masuk ke wilayah kekuasannya ini! Kalau sampai terjadi sesuatu padamu nanti, apa yang harus aku lakukan nanti! Kino-nii…Kino-nii tidak mengetahui hal ini, benar kan? Bagaimana–”
Sebelum menyelesaikan semua kata-kata paniknya itu, Kaito berdiri dan memengan gagang pedangnya.
“Theo, kau tidak berpikir pedang ini hanya hiasan di pinggangku bukan?”
“Eh?”
“Aku tidak bermaksud untuk membiarkannya membunuhku” sorot mata Kaito yang tajam menatap wajah Theo
Theo merasakan ada suatu kekuatan di balik sorot mata tersebut. Sesuatu yang mungkin tidak begitu dia pahami namun terasa sangat kuat sampai membuat dadanya merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Semangat, sebuah perasaan baru di dadanya saat dia melihat sorot mata Kaito.
Theo merasa apa yang selalu dia panjatkan dalam doanya mulai terkabul. Kesempatan untuk membalas semua hal buruk yang dilakukan Justin kepada dia dan teman-temannya akhirnya tiba.
******
Setelah berjalan sebentar, Kino melihat sesuatu yang tidak biasa.
Pada awalnya, bangunan di sekitar altar tersebut mulai sepi karena orang-orang sudah hampir tidak lagi melewati tempat tersebut meskipun beberapa terlihat masih ditinggali. Namun setelah berjalan lebih dalam, dia mulai melihat keanehannya.
Jalan tersebut mengarah pada jalan sempit seperti gang dengan banyak sekali bangunan kosong. Bangunan tersebut benar-benar tidak terawat dan terdapat beberapa kantong sampah di tiap sisinya. Tidak banyak memang tapi tetap terlihat kumuh dengan kesan kotor. Dilihat oleh Kino sekilas, dia seperti melihat sebuah pemandangan yang familiar.
“Aku tidak tau kenapa tempat seperti ini ada di kota. Apakah ini bagian dari ‘dunia malam’ juga?”
Berjalan masuk sebentar, Kino berhenti dan melihat sekelilingnya. Dia teringat apa yang dikatakan Fabil beberapa waktu lalu.
[Kami tinggal di suatu daerah di kota ini. Tempat kami tinggal hampir tidak pernah dikunjungi oleh penduduk kota karena terlalu asing]
[Dari belakang altar, Kino-niichan bisa melewatinya dengan berjalan lurus. Itu lebih dekat dengan tempat tinggal kami]
Kino terdiam sebentar lalu mulai menghela napasnya.
“Haa…aku lupa Fabil-kun baru saja mengatakan tentang tempat ini saat kami di restoran. Kenapa aku bisa melupakan hal penting sepert ini?” Kino bicara dengan nada kecewa menutup wajahnya dengan satu tangannya
Setelah selesai kecewa pada dirinya sendiri, Kino kembali menatap semua bangunan tinggi yang kosong dan rapuh di sisi kanan dan kirinya.
“Jadi, kurasa ini adalah daerah asing yang dimaksud. Aku tidak percaya mereka tinggal di tempat dengan lingkungan buruk seperti ini. Sekarang aku penasaran bagaimana penduduk kota tidak menyadarinya? Bukankah tempat ini sangat dekat dengan bangunan altar?”
Kino tidak langsung berjalan ke depan, namun dia menyempatkan diri untuk mempelajari tempat itu dengan melihat sejenak apa yang ada di dalam bangunan tua dan kosong itu dari jendela di sampingnya. Satu per satu tiap kaca jendela yang ada di sana didatangi olehnya.
Wajah Kino mulai berubah pucat setiap kali selesai melihat apa yang ada di dalam bangunan tersebut.
“Tidak ada apapun di dalam. Apakah semua bangunan ini yang berada di ‘dunia malam’? Lampu dan perabotan lainnya tidak ada. Yang membedakan bangunan ini memiliki pintu dan kaca jendela”
Selesai melihat dari jendela bangunan, Kino terdiam sebentar.
“Aku tidak yakin tentang ini tapi kurasa aku harus memberitau Ryou dan Kaito-san, bahwa ada tempat lain selain anak tangga yang kemarin kami lihat muncul di kota ini. Mereka berdua mungkin belum mengetahuinya. Akan lebih baik jika aku melaporkan hal ini juga nanti”
Kino melihat jam saku miliknya dan waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Lebih dari dua puluh menit berlalu sejak dia sampai ke gang sempit itu dan menggunakan waktunya untuk melihat-lihat area tempatnya berdiri sekarang.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Kino memutuskan untuk berjalan lebih dalam lagi.
“Jika memang Stelani-chan dan yang lain melewati jalan ini, seharusnya aku bisa menemukan sesuatu yang bisa berguna untuk menjadi informasi lainnya. Aku harus cepat menemukan Theo-kun! Entah kenapa firasatku tidak bagus mengenai tempat ini”
Kino memasukkan kembali jam saku miliknya dan berlari ke depan.
Ketika dia berlari melewati tempat itu, dia sempat memperlambat langkahnya beberapa kali karena masih sangat penasaran dengan tempat asing itu. Bangunan dengan tinggi yang mirip dengan bangunan di kawasan pertokoan, sudah begitu setidaknya dua sampai lima bangunan yang kelihatannya memiliki lantai lebih tinggi dari bangunan di kota ada di sana.
Hatinya tidak bisa berhenti bertanya pertanyaan yang sama.
‘Kenapa tidak ada yang menyadari tempat ini?’
Kino mulai mempercepat kembali langkahnya menuju ke area lebih dalam.
Tidak ada yang menyadarinya satu sama lain. Ketika Kino melewati gang sempit itu, Ryou dan Kaito sudah ada di depannya bersama Theo. Hanya tinggal masalah waktu sampai mereka bertemu beberapa menit lagi.
******
Ryou dan Kaito sudah mendengar semua dari Theo.
“Jadi, tunjukkan dimana tempat Justin itu berada sekarang” Ryou meminta Theo untuk menunjukkan tempatnya
“Ada di depan. Dari sini kita lurus sampai melewati pertigaan setelah itu kita berbelok ke sisi kanan. Gorilla itu berada di sebuah bar bernama [Barre des Noirs]. Seharusnya di jam segini dia masih ada di sana”
“Baiklah. Kali ini tunjukkan jalannya tanpa ragu. Larilah secepat yang kau bisa dan jangan memikirkan apa yang akan dia lakukan padaku. Keselamatanmu aku yang akan menjamin. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu termasuk jika dia mencoba melukaimu” Kaito tersenyum pada Theo
Theo juga melihat ke arah Ryou yang tersenyum kepadanya. Dengan melihat kedua kakak di depannya membuat semangat Theo kembali.
‘Akhirnya aku bisa membantu Kino-nii dan membalas gorilla itu!’ kata Theo dalam hati
Theo langsung berlari dan kali ini dia menggunakan semua kecepatannya agar bisa sampai di sana. Ryou dan Kaito mengikutinya dari belakang.
Kaito mulai berpikir sejenak dalam hatinya.
‘Justin, orang yang mengaku sebagai penguasa tempat ini sekaligus orang yang memegang jam saku milik kedua kakak beradik itu. Haruskah aku menganggap dia sebagai bagian dari keanehan di ‘dunia’ ini? Yang pasti aku sudah mengetahui semua ini saling terhubung. Tinggal bagaimana caranya kami bisa mendapatkan jam saku itu tanpa harus membunuh manusia di tempat ini. Aku masih belum menemukan celah yang memudahkanku untuk membunuh musuh. Akan tetapi kurasa semua itu tergantung pada situasi yang kami hadapi nanti’
Mata Kaito menyipit, menandakan dia sedang berpikir dengan serius. Pikirannya mulai teralihkan saat Ryou berkata padanya.
“Kaito, aku tidak tau apa kau masih memiliki pendirian yang sama seperti sebelumnya atau tidak, tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu”
“Apa itu, Ryou?” Kaito bertanya dengan nada datar seakan bisa menebak apa yang ingin dikatakan olehnya
“Aku memang tidak ingin Kino merasa sedih dan kecewa padaku. Bagiku itu adalah mimpi terburuk jika harus dibenci olehnya, tapi aku akan katakan sekali lagi padamu. Aku mungkin akan berakhir menjadi pembunuh tergantung pada situasinya nanti”
“……” Kaito terdiam tanpa ekspresi
“Kau sudah dengar dari bocah itu seperti apa orang bernama Justin, kan? Dia itu iblis. Kalau mau dibandingkan, aku lebih senang menyamakan dia dengan si kepala kambing yang ada di ‘dunia malam’ waktu itu. Dia bahkan tidak segan untuk membunuh lima orang termasuk tiga wanita di dalamnya. Seharusnya kau mengerti hanya dengan kenyataan itu, Kaito”
Sorot mata Ryou tajam ketika mengatakan semua itu. Tanpa mengurangi kecepatannya, mereka terus bicara.
“Seandainya memang hal itu diperlukan, aku berharap kau tidak menghalangiku untuk membunuhnya nanti. Ini semua demi keselamatan kita bersama dan demi Kino” Ryou melanjutkan perkataannya
“……” Kaito terdiam
Tidak lama setelah itu Kaito mulai membuka mulutnya.
“Ryou, sebelum ini aku mengatakan padamu bahwa keadaanmu itu jauh lebih serius dari yang kau duga. Kau masih ingat itu kan?”
“Saat aku baru menangkap bocah di depan itu? Benar juga, kau berjanji untuk mengatakannya padaku. Jadi, apa maksud ucapanmu itu?” Ryou mulai bertanya dengan nada santai
“Aku harus mengakui bahwa kemampuan bertarungmu sudah meningkat. Dibandingkan Kino, kau jauh lebih mahir menggunakan senjata. Bahkan kalau kau menyadarinya sekarang, kita bahkan bisa bicara selancar ini meskipun sedang berlari. Itu bukanlah hal yang bisa dilakukan orang normal” Kaito bicara dengan nada serius
“Tentu saja. Kau sudah mencoret namaku dan Kino dari daftar orang normal, ingat? Apa yang salah dengan itu semua?”
“Apa yang kau rasakan ketika kau mengatakan bahwa kau ingin membunuh kelima orang yang mengejar kita sebelumnya? Saat kau berkata kau ingin membunuh mereka, apa yang kau rasakan?”
“Apa maksudmu? Mereka musuh, tentu saja harus dilenyapkan. Aku juga sudah bilang bahwa aku sudah belajar untuk menerima keadaanku sekarang! Dunia fantasi seperti ini…aku sudah mencoba menerimanya. Karena itu aku harus melakukan apapun untuk bertahan hidup sampai menemukan cara kembali ke Jepang”
“Itulah yang kutakutkan” Kaito melihat ke arah Ryou
Kecepatan mereka berdua semakin melambat sampai akhirnya mereka berhenti. Ryou tampak kesal dengan apa yang dikatakan Kaito dan mulai bertanya dengan nada tinggi.
“Kau itu, dari tadi hanya bicara berputar-putar. Kau benar-benar suka basa-basi ya. Kalau memang ada yang mau kau katakan sebaiknya bicara yang jelas!!. Jangan membuang-buang waktu dengan kalimat pembuka seakan-akan kau sedang pidato di depan wartawan!!”
Mendengar suara keras dari belakang, Theo yang ada di depan akhirnya berhenti dan melihat apa yang terjadi kepada kedua kakak di belakangnya itu.
Kaito menatap Ryou dengan tatapan serius.
“Ryou, sudah hampir tiga hari kau dan Kino terjebak di sini dan aku melihat bahwa kaulah yang menunjukkan perkembangan kemampuan paling menonjol dibandingkan kakakmu. Tapi, aku mulai merasa bahwa kau mulai kehilangan kesadaran akan nilai kemanusiaan di sini”
“Nilai kemanusiaan? Bicara apa kau ini?” Ryou tersenyum sambil menatap wajah Kaito dengan senyum meremehkan
“Kau masih tidak sadar? Kau bicara dengan begitu ringan seakan-akan nyawa manusia itu tidak ada artinya! Sekarang ini kita tidak sedang berada di ‘dunia malam’, Ryou! Kita sedang berada di ‘dunia’ yang hanya terdapat manusia di dalamnya. Kau juga manusia jadi sebaiknya jangan semudah itu mengatakan bahwa kau akan membunuh manusia lain tanpa berpikir terlebih dahulu”
Kaito menatap Ryou tanpa mengendurkan emosinya sama sekali. Tapi sekarang, Ryou justru tertawa dan tersenyum.
“Ahahaha! Kaito, kau sangat lugu. Bahkan kakakku yang polos saja tau bahwa hanya ada dua jenis manusia di dunia ini dan mereka tidak akan pernah berubah meskipun kau terjebak di dunia manapun”
“……” Kaito diam dan mencoba untuk mendengarkan Ryou selesai bicara
“Manusia itu hanya ada dua jenis. Pertama adalah manusia yang baik seperti malaikat dan yang kedua adalah manusia yang jahat seperti iblis. Kalau kakakku, Kino adalah manusia yang bagaikan malaikat maka aku akan memberikan gelar iblis pada manusia seperti Justin. Mengerti maksudku?”
“Ryou–”
“Aku tidak sedang membicarakan kemanusiaan di sini!! Aku sedang bicara bagaimana caranya menyelamatkan kita dari iblis berkedok manusia, ingat itu!! Omong kosong dengan kemanusiaan. Sejak kapan ‘dunia’ aneh ini memiliki aturan dan hukum?!”
“……!!!” sekarang Kaito benar-benar dibuat terkejut dengan ucapan Ryou
Ryou mendekati Kaito dan menatapnya dengan tatapan serius.
“Kaito, aku akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi. Aku sangat percaya padamu dan aku menghargaimu sebagai orang yang selalu menolongku dan kakakku. Aku mengerti kau mengkhawatirkanku dan aku berterima kasih untuk itu. Tapi, aku tidak lemah!”
“……”
“Aku juga ingin melindungimu dan Kino dengan kekuatan yang kumiliki. Hanya saja tidak semua hal bisa berakhir baik seperti yang kau harapkan. Apa yang dikatakan oleh Theo mengenai gorilla itu juga termasuk di dalamnya”
“……”
“Seperti yang kubilang, aku akan membunuhnya tergantung pada situasi. Jadi ini semua tidak ada hubungannya dengan nilai kemanusiaanku. Aku masih memiliki rasa kasihan pada Theo dan teman-temannya. Bukankah itu cukup untuk membuktikan bahwa aku masih memiliki rasa kemanusiaan yang utuh?”
“……”
Semua yang bisa dilakukan Kaito hanyalah diam mendengarkan. Bukan karena tidak bisa melawan kata-kata itu, hanya saja dia tidak ingin memperkeruh suasana. Dia tidak ingin membuat Ryou semakin kesal dan tersulut emosi.
Untuk sekarang, semua argumennya barusan akan ditelan sendiri oleh Kaito. Bukan berarti dia mengakui dia kalah, tetapi karena Kaito sudah terlanjur menganggap pertemuannya dengan kedua kakak beradik itu begitu spesial dan berarti sehingga dia tidak ingin merusaknya.
Kaito memilih untuk mengalah dan membiarkan Ryou berdiri dengan pendiriannya itu.
“Aku mengerti. Aku hanya khawatir kau berubah karena terlalu lama di ‘dunia’ aneh ini. Aku tidak bermaksud menyinggung. Maafkan aku”
“……” Ryou terdiam
Tatapannya masih kesal dengan apa yang dikatakan oleh Kaito, namun dia juga tau Kaito tidak bermaksud jahat dan semua yang dikatakannya itu murni karena dia khawatir. Ryou menarik napas panjang lalu menghembuskannya sebelum bicara.
“Haa…aku tau. Ini tidak pernah terjadi. Lebih baik kita lupakan. Tentu saja satu atau dua hal yang kau katakan tadi akan aku coba pahami. Aku tau kau itu begitu peduli jadi aku tetap menghargai itu. Terima kasih”
Berakhir damai dengan cara tidak terduga, Theo datang mendekati mereka dan mencoba memperbaiki suasana tersebut.
“Ryou-nii, Kaito-nii…kenapa kalian justru bertengkar seperti sepasang suami-istri di sini? Kalian harusnya tau malu karena berteriak sekeras itu di depan anak kecil sepertiku. Kalian membuang-buang waktu. Kita harus cepat!”
Seketika pikiran Ryou dan Kaito akhirnya berdamai mendengar ucapan Theo dan mampu membuat sebuah pemikiran yang sama dalam satu waktu.
‘Dasar anak sial kurang ajar!!’
******