Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 252. Satu Hari Sebelum Ujian bag. 1



Keesokan harinya…


Di sebuah jalan yang sepi di pagi hari, Xenon membawa kedua kakak beradik dan pemuda hilang ingatan itu ke suatu tempat.


“Aku tidak akan pernah membiarkan kalian sendirian lagi di ruang tamu. Ingat itu, para orang-orang dari dunia lain” kata Xenon dengan kesal


“Oi! Aku sudah katakan bahwa yang semalam itu adalah ulah Kaito, bukan kami!”


Ryou terlihat tidak mau disalahkan. Tapi, kejadian semalam itu sudah cukup membuat kepala Xenon sakit. Bahkan, jika ada sebuah kantong emosi yang terpasang di tubuhnya, bisa dipastikan bahwa kantong itu sudah meledak akibat terlalu lama menahan kemarahan.


“Ryou, aku tidak mau disalahkan” celetuk Kaito


“Tapi kan pengendalianmu yang bodoh itu yang membuat kita nyaris berpindah alam lagi! Untung saja tempat itu sudah dilapisi sihir oleh pemiliknya!”


“Kalian berdua, jangan banyak bicara! Aku menyalahkan kalian…tidak, Kino orang baik. Aku tau itu. Yang jelas, aku menyalahkan kalian berdua kecuali Kino!” ucap Xenon dengan tegas


“Oi!! Jangan pilih kasih ya!”


“Apimu nyaris memasak tubuhku menjadi roti panggang!!” Xenon berteriak ke arah Ryou


“Ukh…”


Ada sejarah di balik kejadian ini.


******


Di malam hari, tepatnya semalam, ketika ketiganya sedang membicarakan mengenai masalah Kaito. Ryou melihat sang kakak sambil berbisik.


“Aku berani bersumpah ini bukan pertanda baik, Kino. Setidaknya, kita bertiga sudah terlibat dalam masalah besar di Negara ini”


“Ryou!” Kino berbisik dengan ekspresi panik


Kaito tampaknya menyadari kedua kakak beradik itu sedang membicarakan sesuatu.


“Kalian sedang membicarakan sesuatu?”


“Kami?! Kami hanya sedang berpikir bahwa ujian masuk besok lusa itu akan menjadi masalah serius. Ahaha”


Sungguh jawaban bagus dari Ryou yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Tampaknya Kaito percaya pada kalimat itu.


“Jika kalian juga berpikir begitu, sebaiknya aku dan Kino memilih batu sihir kami secepatnya”


Akhirnya, arah pembicaraan mereka kembali normal dan berada di jalan yang lurus.


“Kaito-san, apakah kamu memiliki gambaran batu sihir mana yang ingin kamu gunakan?”


“Aku tidak yakin. Tapi, sebaiknya kita coba satu per satu. Paling tidak, kita harus melakukannya dan besok adalah hari yang harus kita pakai untuk belajar mengendalikannya”


Ryou terlihat seperti orang yang sangat santai.


“Mempelajari sihir yang tidak pernah kita pakai dalam waktu satu hari itu seperti saat kita diminta berjalan di atas tali untuk pertunjukan sirkus. Kalau tidak gagal ya mati, pilih saja salah satu”


“Ryou, kenapa kamu berkata begitu? Kita harus masuk ke Akademi Sekolah Sihir demi Xenon-san juga”


“Aku paham, aku juga mengerti soal itu. Aku berharap kita bisa benar-benar menguasainya dengan baik”


Kino masih melihat sang adik dengan wajah seriusnya, tapi bukan saatnya untuk itu. Selain Ryou, kedua orang lainnya memilih batu sihir mereka yang pertama.


“Aku rasa aku bisa memilih yang ini. Batu biru ini…aku rasa ini elemen air” Kino memegang batu sihirnya


Dia meletakkannya pada telapak tangannya dan batu itu mulai masuk ke tubuhnya.


‘Apa ini? Apa Ryou juga merasakan hal yang seperti ini? Rasanya ada sesuatu yang menyelimuti tubuhku. Air…ada suara air di sini’


Pikiran Kino tampak begitu menyatu dengan batu sihir tersebut dan begitu dia membayangkan air, tiba-tiba dari tangan dan sekelilingnya keluar banyak sekali gelembung air.


“Ki–Kino?” Ryou berdiri dan menjauhi sang kakak


Bukan hanya Ryou, Kaito juga tampak berdiri lalu mundur. Gelembung air itu terus muncul dan menyatu satu sama lain, hingga akhirnya menjadi air yang dapat dikendalikan. Mereka mengelilingi Kino tanpa membuatnya basah sama sekali.


Begitu membuka matanya, Kino mulai terkejut dan melihat banyak sekali air di sekelilingnya.


“Apa ini?!”


“Kino, tampaknya kau memiliki kecocokan dengan elemen itu” ujar Kaito


“Begitukah? Tapi aku tidak tau cara menghilangkan air ini!” kata Kino dengan wajah panik


Ryou mencoba memberinya saran yang ‘bagus’, walaupun sebenarnya bukan arti yang sebenarnya.


“Kino, tenang. Kalau mau panik, paniklah sekarang! Tapi setelah itu, pikirkan kalau air itu berhenti keluar atau menghilang. Seperti yang aku lakukan saat di toko itu!”


Kino dan Kaito melihat ke arah Ryou dengan wajah aneh sambil membayangkan hal yang terjadi siang ini.


[Ini bagaimana menghentikannya!!]


[Bicara itu mudah, tapi kau kan tidak tau aku sepanik apa?!]


[Jangan merasa bangga hanya karena kau hampir mati berkali-kali, dasar bodoh! Ah!! Berhenti! Aku bilang berhenti!!]


Begitu selesai mengingat ekspresi Ryou siang tadi, Kaito berkata kepadanya.


“Ryou, terima kasih untuk saran yang tidak berguna itu”


“Hah?! Kau ingin berkelahi?!”


“Teman-teman, aku harus bagaimana sekarang?” Kino hampir kehilangan ketenangannya


“Aku sudah bilang padamu kalau kau harus panik lalu bayangkan air itu menghilang sendiri, kakakku!”


“Panik bukan jawaban, Ryou!”


‘Aku harus tenang. Jangan pikirkan kalimat Ryou dan aku harus tenang. Berhenti dan menghilang, aku harus membayangkan air ini berhenti keluar dan menghilang. Berhenti dan menghilang, berhenti dan menghilang, berhenti dan menghilang. Ayolah, berhentilah keluar dan menghilanglah!’


Tidak lama setelah itu, air yang keluar semakin lama semakin sedikit. Sampai pada akhirnya semuanya berhenti keluar dan menghilang.


Kino menarik napasnya dan duduk dengan menyandarkan pundaknya ke sandaran sofa.


“Aku…berhasil…”


Ryou dan Kaito bernapas lega. Mereka tidak melakukan banyak hal untuk merayakan hal tersebut mengingat Xenon yang ada di kamarnya pasti sudah tidur.


“Syukurlah kau sudah berhasil mengendalikannya. Sekarang tinggal kau seorang yang belum melakukannya, Kaito. Sebaiknya pilih yang memang sudah menjadi karakteristikmu”


Kaito memikirkan kalimat itu dengan serius.


“Karakteristik ya. Misalnya?”


“Kau yang suka mencuri persembahan di altar, mudah sekali meninggalkan aku dan Kino serta mudah sekali membawa kami ke dalam masalah”


“……” Kaito mencoba mengontrol emosinya saat ini


“Ryou…” dan sang kakak yang mencoba menguatkan hatinya untuk menenangkan sang adik


‘Andai aku bisa membuat mulutnya itu diam’ pikir Kaito dalam hati


Lupakan soal itu. Kaito mulai melihat batu sihir yang mungkin cocok untuknya.


“Apa kalian berpikir logam atau kayu cocok untukku?”


“Aku tidak yakin. Mungkin kau bisa mencoba angina atau air seperti Kino” saran Ryou


“Air ya…” Kaito mencoba mengambil batu berwarna biru lainnya


Tidak begitu memiliki pengaruh. Meskipun batu tersebut sudah masuk ke dalam tubuhnya, namun tampaknya air bukanlah elemen yang cocok untuk Kaito.


“Tidak ada yang keluar” gumamnya pelan


Ryou melihat telapak tangan Kaito dari dekat.


“Kau merasakan sesuatu?”


“Tidak begitu. Hanya saja, aku merasa tubuhku seperti kesemutan”


“Aku rasa kau harus mengeluarkan batu itu dan jangan pernah membayangkan elemennya, Kaito”


“Aku rasa kau benar” Kaito membenarkan ucapan Ryou


“Sepertinya kau benar-benar tidak memiliki bakat untuk menguasai elemen air. Sekarang aku percaya pada apa yang dikatakan oleh pelayan di toko itu. Jika tidak cocok maka akan berakibat fatal. Kesemutan yang kau katakan barusan itu sepertinya adalah sedikit efeknya. Jika nekat, mungkin kau akan terluka”


“Kalau begitu akan aku keluarkan batunya. [Sortie]!”


Batu biru itu keluar dari tangan Kaito dan diletakkan kembali ke atas meja olehnya.


“Siapa yang menyangka akan seperti ini. Aku kira yang seperti ini tidak ada” katanya


“Kaito-san, mungkin bisa mencoba yang lain. Jika seandainya elemen yang dikuasai olehmu adalah api…” Kino melihat ke arah sang adik


Ryou tampaknya mengerti pandangan itu.


“Ah! Benar juga! Kau bisa pakai punyaku dulu, Kaito. Pastikan kalau kau memang memiliki kecocokan dengan elemen ini. Bisa saja aku memiliki kecocokan dengan elemen lain juga!”


“……” Kaito terdiam mendengarnya


Hal tersebut benar-benar dilakukan olehnya. Ryou mengeluarkan kembali batu elemen api miliknya dan diberikan kepada Kaito.


Untuk pertama, hal tersebut memang berhasil. Namun, apinya mudah padam dan tidak menghasilkan semburan sebesar yang dihasilkan Ryou.


“Tampaknya api bukan elemen yang cocok juga untukku”


“Begitu. Kalau begitu, sebaiknya kita coba yang lainnya lagi” kata Kino kepada Kaito


Setelah mengembalikan kembali batu sihir itu kepada Ryou, Kaito mengambil batu berwarna hijau.


“Batu sihir ini…hijau itu biasanya elemen apa?”


“Kalau di anime, biasanya angin. Coba saja” kata Ryou dengan nada santai


Kaito mengambil batu tersebut dan belum ada satu menit, ada sebuah hal yang tidak diduga. Sesaat setelah batu itu masuk ke dalam tubuh Kaito, sebuah angin kencang langsung bertiup.


Bagaikan sebuah badai, benda-benda di sana berterbangan.


-Gruk…Gruukk


Terdengar suara yang aneh dari luar, membuat Xenon tidak bisa tidur dan akhirnya terbangun kembali.


“Apa yang makhluk dunia lain itu lakukan di luar?” gerutunya


Begitu membuka pintu ruangan kamarnya, Xenon menjadi pucat.


“Apa yang kalian lakukan!! Kalian ingin menghancurkan tempat ini ya! Siapa yang memanggil angin ribut di dalam ruangan!” teriaknya


“Bukan aku! Kaito mencoba batu sihirnya dan tiba-tiba seperti ini!”


Sekarang, Xenon bisa melihat apa yang akan terjadi setelahnya.


“Aku benar-benar akan begadang semalaman setelah ini”


******