Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 298. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir: Area Level C bag. 3



Setelah Mark mengusir semua peserta yang dianggap gagal, dalam sekejap hanya tersisa 21 orang.


Dengan santai, Mark berjalan ke depan lagi.


Kaito melihat sosok Mark begitu kuat, bahkan nyaris tidak memiliki cacat.


'Auranya sungguh menakjubkan. Selain itu, mata merah saat dia mengaktifkan sihir...apakah berbeda dari milik Xenon?'


Mark melihat ke arah peserta yang anggap layak diuji.


Tiba-tiba suara di ruangan terdengar.


"Mark..."


"Hmm? Kamu masih di sana, Lucas?"


"Kamu belum memutus komunikasinya, Mark. Aku kira kamu sudah memutus Calliope beberapa waktu lalu" kata suara Lucas


"Aku rasa aku sudah putuskan. Kamu saja mungkin yang memakai Calliope untuk berbicara denganku"


Salah seorang pengawas berbisik "Mark-sama, Anda belum memutusnya dengan [Nox]"


"Hmm? Benarkah?"


"Iya"


"Hooo. Kenapa aku bisa lupa?" tanya Mark santai


Seluruh peserta memperhatikan semua itu. Mereka hampir bisa dibilang tertegun karena tidak percaya dengan kekuatan dan sikap acuhnya.


"Kalau begitu, putuskan Calliope. Aku masih ada pekerjaan" kata suara Lucas


Sebelum memutuskan komunikasinya, Kaito bertanya pada suara tersebut.


"Maaf, apakah aku boleh bicara sebentar dengan suara ini?"


Mark dan semua peserta termasuk Virgo melihat Kaito.


Dengan mata merah yang bersinar, Mark ingat wajah itu.


'Dia adalah orang yang masuk dalam daftar kosong. Orang yang kuat dan memiliki potensi tidak terbatas' katanya dalam hati


Tampaknya suara tersebut merespon dengan baik.


"Apakah masih ada yang ingin ditanyakan?"


"Kau mengatakan bahwa mereka memang gagal, apakah ada hubungannya dengan kekuatan dan kerjasama dalam tim?"


"Apa?" respon Virgo bingung


Mark dan kedua pengawasnya terdiam dan mendengarkan apa yang ingin ditanyakan kembali oleh Kaito.


"Aku mendengar peserta lain tadi bicara soal keinginannya untuk lulus dan penolakan untuk bekerjasama dengan yang dianggap lemah olehnya"


"Penguji itu mengatakan bahwa jika ada setengah dalam tim yang kami bentuk gagal maka semua dalam satu tim akan gagal"


"Itu adalah prinsip kerjasama tim agar seluruh tim tidak saling menjatuhkan dan saling melindungi satu sama lain"


"Mungkinkah tag duel ini adalah ujian yang lebih mengedepankan kerjasama tim dari kekuatan individu?"


Semua terkejut mendengarnya. Suara itu tampak tertawa sedikit.


"Ahaha, aku yakin kamu sudah biasa bertarung"


"Apa aku salah?" tanya Kaito


Suara itu menjawab dan memberikan beberapa penjelasan lainnya.


"Tidak. Itu benar. Sebenarnya hanya 50% benar. Tapi itu tidak salah. Fokus kami memang tetap pada kekuatan dan kemampuan individu"


"Namun dalam medan pertempuran, ada kalanya sikap egois harus dikesampingkan demi kelangsungan bersama"


"Jika kalian bisa menganggap teman kalian hanya penganggu karena lemah, maka kalian hanya akan fokus pada pencapaian diri sendiri"


"Dan jika itu terjadi, hanya kehancuran dan perpecahan yang terjadi. Pengkhianat, adu domba dan hal-hal buruk lain akan ikut menyusul"


"Ujian [Area Level C] sengaja kami khususkan dalam bentuk tag duel agar kalian bebas mengeluarkan kekuatan masing-masing"


"Namun, kalian harus bisa membangun hubungan dan mengerti kemampuan tiap individu lain dalam tim yang mungkin bisa jadi potensi tersembunyi bagi kalian juga"


"Itulah tujuan diadakan tag duel dalam ujian masuk"


"Selain itu, kalian beruntung karena lawan kalian itu kuat"


"Kuat. Penguji ini kuat?" tanya seorang peserta lain


"Benar. Dia adalah anggota atau bahkan bisa dianggap yang terkuat nomor 1 di seluruh wilayah timur"


"Mark adalah Marquis Vermillion yang sekarang dan satu-satunya pemilik senjata legendaris Artifact"


"Artifact katamu?!"


Banyak yang terkejut. Tapi mendengar kata Artifact, kebencian muncul dari ekspresi wajah Virgo.


"Jika kalian bertanya padaku, aku hanyalah pemimpin Dewan Sihir, tapi secara kemampuan...aku tidak ada apa-apanya" lanjut suara itu


"......" Kaito hanya diam. Itu tidak mengherankan karena dia sudah tau semuanya dari Xenon


Mark menguap dan mengatakan komentarnya, "Aku lelah mendengarmu berkata aku yang terkuat. Kamu hanya merendah, Lucas. Setidaknya hanya kamu yang bisa berdebat dengan para orang tua di Dewan Sekolah"


"Mark, jangan bicara begitu" Suara Lucas mulai terdengar lirih


"Sudah sudah, terima kasih untuk penjelasannya. Dan kamu, peserta nomor 89.."


Kaito menengok. Mark menghampirinya.


"Sudah jelas?"


"Gambarannya sudah dapat" jawab Kaito tenang


"Baiklah" Mark melihat ke atas, " Lucas, aku tutup"


"Baik. Terima kasih untuk kalian semua yang masih mau mendengarkan penguji kalian. Lakukanlah yang terbaik"


"Kelulusan kalian ada di tangan penguji dan pengawas ujian, jadi ikutilah aturannya"


"Semoga kejadian tadi menjadi pelajaran penting saat kalian bergabung dengan kami"


"Kudoakan keberhasilan kalian semua"


[Nox]


Mark menonaktifkan sihirnya. Seketika semua hening.


"Kenapa hening? Tidak ada yang mau bicara lagi?" tanya Mark


"Tidak. Silahkan dimulai, penguji" kata Kaito


"Baiklah. Kembali ke ujiannya. Kalian bebas membentuk tim sekarang. Minimal 3 orang dan maksimal tidak terbatas"


"Oh iya, jangan khawatir. Kalau dalam tim kalian ada individu yang kalah namun secara tim kalian aku akui, maka seluruh anggotanya akan lulus"


"Seperti kata peserta nomor 89 tadi, prinsipnya adalah kerjasama tim. Satu lulus maka semua lulus. Begitu pula sebaliknya"


"Silahkan kalian pikirkan anggota timnya. Karena pesertanya sudah terpangkas cukup banyak, jadi kalian bebas berdiskusi"


"Aku akan duduk tenang dan melihat kalian berdebat. Kalau sudah, panggil aku ya"


Sungguh santai sekali penguji ini. Sekarang, bisa dilihat bahwa penguji Akademi Sekolah Sihir itu kuat tapi memiliki masalah serius dalam menjalankan tugasnya.


Alias, terlalu acuh dan sangat santai.


Ada yang lupa menjelaskan penjelasan lengkap, ada yang terlalu senang seperti anak-anak, ada pula yang sangat santai walau kuat.


**


Di ruangannya, Lucas yang memperhatikan itu semua seperti sedang mempersiapkan mentalnya.


"Meminta anggota kuat menjadi penguji dan mengabaikan sikap asli mereka adalah kesalahan fatalku"


"Seharusnya orang-orang tenang seperti Rexa, Emilia dan Tatiana yang aku pilih sebagai penguji"


"Dewan Sekolah akan menertawakan laporanku nanti malam"


**


Di pos ruang ujian 7, Mark benar-benar duduk diam dengan santai.


Virgo menatap penguji itu dengan perasaan kesal, "Aku tidak percaya ujian setingkat Akademi Sekolah Sihir akan seperti ini"


"Kenapa?" tanya Kaito


"Mereka disebut pasukan penjaga wilayah timur yang memiliki otoritas tertinggi selain kerajaan, tapi ternyata seperti level penerimaan guild yang main-main"


Nada protes itu tampak begitu jelas. Kaito tidak bisa menyalahkannya. Dia sempat berpikir demikian.


'Aku tidak tau tapi jika sejak awal dia mengatakan bahwa ini adalah ujian yang mengukur kemampuan tim, mungkin tidak seperti ini'


'Kenapa harus repot-repot menjelaskan hal seperti itu? Dia seperti memang tidak niat mengatakannya pada kami'


'Atau...mungkin ada hal lain?'


Tidak ada yang tau bahwa itu adalah rencana Mark.


'Semua peserta yang gagal itu jelas tidak. memiliki potensi berbahaya. Sudah aku duga kedua orang yang masuk daftar kosong itu akan lulus'


'Itu artinya, hanya mereka semua yang ada di sini yang harus diwaspadai'


'Aku tidak tau apakah ada penyusup lain yang masuk ke ruang ujian ini selain daftar yang harus aku awasi'


'Sekarang, gadis setengah elf dan peserta nomor 89 adalah fokus utamaku'


'Jika mereka berdua adalah mengikuti Earl Midford...aku akan melenyapkan mereka berdua di sini'


******