
Kaito yang awalnya ingin mengejar Ryou dan Theo sekarang justru berjalan ke arah bar yang didatangi oleh Theo sebelumnya.
Pintu bar masih dalam keadaan terbuka. Dari jendela, Kaito melihat ke dalam bar dan tidak ada siapapun kecuali seseorang yang berdiri di dalam. Seorang laki-laki yang mematung dan sepertinya mengatakan sesuatu yang tidak begitu didengarnya.
‘Siapa itu? Apakah Theo sebelumnya bertemu dengannya?’ gumam Kaito dalam hati
Kaito mencoba masuk ke dalam bar itu. Tampaknya pria tersebut tidak menyadarinya sama sekali.
-Tok…tok…
Kaito mengetuk pintu yang terbuka dengan pelan untuk melihat reaksinya.
“Se–selamat da…”
Awalnya pemuda di depan Kaito itu mencoba tersenyum walau terpaksa, namun sekarang berubah.
Pemuda itu tidak melanjutkan kalimatnya lagi dan tatapannya langsung berubah menjadi tajam.
Kaito tentu menyadarinya, orang di hadapannya ini melihatnya dengan tatapan tidak bersahabat sama sekali.
‘Kupikir ekspresi wajahnya berubah karena dia melihatku, tapi kurasa wajahmua berubah karena melihat pedang yang kubawa. Tampaknya orang ini juga mengenal Justin’ pikir Kaito dalam hati
Kaito yang saat itu masih berdiri di depan pintu akhirnya melangkah masuk lebih dalam dan dia merasakan hal tidak biasa dengan ruangan tersebut.
Sambil melirik ke semua sisi ruangan, Kaito mulai tersenyum melihat sisi pojok ruangannya.
“Selera penataan ruangan yang bagus. Apa kau yang memilih karpet dan kertas dinding itu?”
“……” pemuda itu terdiam tanpa merubah ekspresi wajahnya
Dia benar-benar melihat Kaito dengan tatapan tidak bersahabat. Pemuda itu bahkan bertanya dengan nada dingin
“Karpetnya baru datang sekitar 30 menit lalu. Apa ada yang anda sukai dari dekorasi baru bar ini, tuan?”
“Aku hanya penasaran bagaimana sebuah karpet besar itu bisa menutupi noda darah yang masih belum bersih di lantai kayu tua seperti ini”
-Deg
Mata pemuda itu langsung melebar dan tangannya mengepal dengan kuat. Kaito memperhatikan perubahan gerak-gerik tubuhnya. Pemuda itu masih belum mengatakan apapun sampai akhirnya dia mulai berjalan mendekati Kaito yang berada di dalam bar.
“Apa anda ingin memesan sesuatu, tuan? Jika anda datang hanya untuk menikmati dekorasi tempat ini sebaiknya anda tidak membuang-buang waktu anda dan pergi”
Pengusiran secara halus. Benar sekali, pemuda berpakaian bartender itu tampaknya tidak menyukai kedatangan Kaito dan mengusirnya.
Sepertinya wajah tampan Kaito memang selalu disalahartikan sebagai penjahat. Sungguh kenyataan yang ironis sekali mengingat Kaito itu begitu manis dan rapuh yang bisa hancur kapan saja ketika menerima komentar pedas dari mulut Ryou.
Kaito tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh bartender itu dan memberikan jawaban paling pahit yang mungkin ingin didengar olehnya.
“Apa kau yakin ingin mengusirku seperti itu? Seharusnya kau melakukannya dengan kekerasan seperti yang tergambar dalam otakmu–” Kaito dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan langsung mengarahkannya ke leher bartender itu dalam posisi horizontal
“……!!!” pemuda itu terkejut dan tidak sempat mundur untuk bereaksi
“Misalnya saja seperti ini contohnya” tatapan mata tajam Kaito seperti menyerangnya juga secara mental
Kini yang tersisa dari pemuda itu adalah rasa takut dan wajah pucat.
Tidak lama setelah itu Kaito menarik kembali pedangnya sambil menatap tajam pemuda itu.
“Bukankah ini yang sedang kau pikirkan tadi saat melihat pedangku? ‘Pria dengan pedang tanpa sarung pedang’ yang dicari oleh Justin-sama ada di hadapanku sekarang. Aku benar, kan?”
“Kenapa kau bisa datang ke tempat yang bahkan tikus saja ragu untuk memasukkinya?”
Nada bicara bartender itu akhirnya berubah. Mungkin inilah sifat asli pemuda di hadapan Kaito. Di wajahnya, tidak lagi memperlihatkan senyum ala bartender atau topeng palsu. Yang sekarang ada di hadapan Kaito adalah sosok pemuda yang menatapnya dengan tatapan marah.
“Lucu sekali. Aku datang karena orang yang kukenal baru saja keluar dengan sangat terburu-buru sampai mengabaikanku. Kau harus tau rasanya diabaikan oleh orang yang kau kenal”
“Apa maksud–”
“Jangan mencoba menyelamatkan dirimu sendiri dengan cara tidak elegan begitu, tuan bartender. Kau harus tau seberapa berbahayanya kondisimu saat ini. Aku bisa saja menghiasi karpet baru milikmu yang datang 30 menit lalu itu dengan darah segarmu di atasnya”
Pemuda itu tidak sempat melanjutkan kalimatnya kembali karena Kaito sudah terlanjur memotong dan mengancamnya.
Mengetahui semua yang dikatakan oleh pria berpedang itu sungguhan, dia menghela napas dan mulai terlihat normal dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.
“Jadi, kau mengenal Theo?”
“Baru sekitar satu jam lebih sedikit. Perlu kusebutkan menit dan detiknya juga?” Kaito menjawab pemuda itu dengan nada meledek
“Kau pasti sudah mendengar sebagian cerita tentang tempat ini dan Justin-sama. Kalau sudah mengetahuinya kenapa justru ke tempat ini atas keinginanmu sendiri?” pemuda itu bertanya pada Kaito
“Aku tidak tau situasi macam apa yang terjadi di sini sampai membuat anak itu terburu-buru. Tapi sebelum dia memutuskan untuk masuk sendiri ke tempat ini, dia berkata padaku dan temanku bahwa dia ingin bertemu dengan Justin dan mengambil barang milik temanku”
“Barang…”
“Lupakan soal itu dulu. Aku ingin tau kenapa Theo bisa seperti itu. Kau pasti tau sesuatu kan, tuan bartender? Sebaiknya kau mengatakannya dengan jujur atau pedang ini akan menancap di salah satu tubuhmu”
Kaito mengancam pemuda itu lagi secara verbal.
“Dasar sial, kukira semalam adalah hari sialku yang terakhir. Kenapa hari ini aku juga sial sampai diancam dua kali” protes pemuda itu
“……” Kaito hanya diam memperhatikan gerakan bartender itu
“Aku…aku tidak tau seperti apa hubunganmu dengan Theo. Sejujurnya sampai kemarin aku sama sekali tidak peduli pada peliharaan Justin. Tapi, mengetahui apa yang akan mereka hadapi setelah ini membuatku merasa bersalah. Pada akhirnya, aku tidak ingin disamakan dengan manusia berotak gorilla itu” kata pemuda itu dengan wajah kecewa dan sedih
“Apa maksud ucapanmu?”
Pemuda itu menatap Kaito dengan tatapan serius lalu setelah itu dia membungkukkan tubuhnya seraya memohon.
“Aku tidak akan meminta lebih. Aku mohon tolong selamatkan mereka dari para iblis dari wilayah gelap itu. Aku mohon padamu!!”
“Iblis katamu!!”
“Mereka semua…Theo dan teman-temannya telah dijual oleh Justin kepada iblis. Mereka adalah pembunuh sekaligus pedagang yang khusus menjual tubuh manusia tidak peduli dalam keadaan hidup atau mati. Mereka semua diberikan oleh Justin sebagai bayaran untuk menemukan dan menangkapmu!”
Kaito terkejut. Bukan hanya terkejut namun juga syok. Siapa yang mengira dia akan mendengar hal seperti itu.
Selain itu, kalimat ‘iblis dari wilayah gelap’ yang dikatakan oleh pemuda di depannya ini membuat Kaito tidak bisa menghilangkan kecurigaannya kepada suara wanita dan seorang lagi yang baru saja didengarnya.
Kaito tidak bisa berhenti terlihat panik dan bergumam dalam hati.
‘Iblis katanya, jelas itu tadi adalah manusia! Mungkinkah itu kiasan untuk seorang pembunuh yang bisa membunuh tanpa belas kasih?! Itu bukan hal yang penting sekarang. Itu artinya nyawa Theo dalam bahaya!!’
Kaito tidak memikirkan hal lain selain nyawa Theo yang sedang terancam.
Tiba-tiba ada sesuatu dalam diri Kaito yang mulai terasa terbakar. Perasaan aneh itu lagi. Perasaan benci yang tidak bisa dikendalikan olehnya ketika mengingat nama ‘Justin’ .
‘Kenapa ini?! Lagi-lagi perasaan ini. Aku…aku tidak bisa menahan emosiku sekarang. Apa yang kerjadi?!’
Tangan Kaito terasa dingin dan pedang yang masih berada di tangannya digenggam semakin erat. Pemuda di depannya masih memohon padanya dan tidak terlihat akan bangun sampai Kaito memberinya jawaban.
Akan tetapi jangankan memberinya jawaban, mencoba mengendalikan dirinya sendiri saja sebenarnya Kaito sudah bersusah payah tanpa sepengetahuan pemuda itu.
‘Kendalikan dirimu, Kaito! Jika tidak, pedang ini akan bergerak sendiri menebasnya! Kendalikan dirimu sekarang, kendalikan dirimu!!’ kata Kaito dengan penekanan dalam hatinya
“Aku tidak ingin disamakan dengan orang sejahat Justin tapi aku tidak bisa melakukan apapun! Setidaknya jika kau memang memiliki kekuatan untuk itu, selamatkanlah dia!. Aku…aku akan membantumu menemukan bendamu itu, aku berjanji!!. Aku mohon!” pemuda itu semakin terdengar putus asa
Kaito yang masih mencoba mengendalikan dirinya akhirnya menggiggit bibirnya sendiri sampai terluka dan mengeluarkan darah meski hanya sedikit.
Hal itu cukup membantunya menenangkan diri. Segera dia menghapus darah di bibirnya dengan ibu jarinya, dia menjawab pemuda di depannya.
“Kau bisa memanggilku Kaito, tuan bartender. Jangan khawatir. Tanpa kau minta aku tetap akan menyelamatkan Theo dan teman-temannya”
“Benarkah?” pemuda itu mulai bangkit dan menatap Kaito
“Dan mengenai tawaranmu barusan itu, aku akan senang kalau kau bisa membantuku menemukan benda yang kemungkinan berada di tangan pria bernama Justin”
“Aku mengerti. Asalkan kau benar-benar bisa menyelamatkan mereka dari Seren-sama dan pengawalnya, itu sudah cukup” ucap pemuda itu
‘Seren ya. Aku sudah menduga bahwa orang di hadapanku ini mungkin mengetahui banyak hal, tapi aku tidak menyangka dia akan mengetahuinya sampai sejauh itu. Bahkan nama wanita yang kudengar suaranya saja bisa dia kenali. Akhirnya aku bisa mempercayai instingku bahwa wanita itu berbahaya!’ gumam Kaito dalam hati
Pemuda itu kembali bicara pada Kaito.
“Namaku Arkan. Mengenai barang yang kau cari, asalkan aku tau ciri-cirinya aku mungkin bisa melakukan sesuatu untuk mendapatkannya dari Justin. Bisa kau beritau aku seperti apa benda tersebut?”
“Sebuah jam saku berwarna keemasan dengan banyak sekali goresan pada bagiannya dan memiliki rantai kurang lebih 20 cm. Itu adalah benda yang dicuri Theo dari temanku saat dia berdoa di altar”
“A…”
Pemuda bernama Arkan itu mengeluarkan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya dan menunjukkannya kepada Kaito.
“Aku tidak tau apakah ini benar-benar kebetulan tapi kurasa ini adalah benda yang kau cari”
Kaito terkejut dan tersenyum tipis sambil bergumam dalam hati.
‘Oh Tuhan, sekarang aku percaya pada apa yang namanya keberuntungan. Setelah sekian lama dipermainkan oleh ‘kedua dunia’ dan keberuntunganku sendiri, akhirnya tiba saatnya dimana aku bisa percaya bahwa hal konyol seperti itu ternyata sungguhan dan tidak meninggalkanku sendiri’
Itu adalah hal yang sangat mengharukan. Kaito mungkin tidak menyesali tindakannya untuk mengunjungi tempat ini daripada mengikuti Ryou pergi tadi. Hanya saja dia tidak memiliki banyak waktu.
“Aku tidak peduli darimana dan bagaimana kau bisa mendapatkan jam saku ini, tuan bartender. Tapi aku benar-benar sangat berterima kasih padamu karena sudah menemukannya. Aku akan mengambil ini dan–”
Kaito tiba-tiba saja menarik tubuh Arkan bersamanya ke samping kirinya dan ketika mereka berdua terjatuh, ada seseorang yang berdiri di depan pintu masuk bar.
-Dor…Dor…Dor
-Braaak
Terdengar suara tembakan yang datang dari arah belakang Kaito. Suara meja dan kursi di bar yang jatuh terdengar. Peluru yang ditembakkan oleh orang tersebut menembus lantai kayu di bagian belakang dan beberapa bagian dinding bar.
Tembakan itu awalnya mengarah ke tubuh Kaito, namun karena dia menarik Arkan ke sisi samping kirinya hingga terjatuh jadi mereka berdua aman.
Namun untuk saat ini.
Tidak sempat mengambil jam saku yang ada di tangan Arkan, sekarang Kaito melihat pemandangan yang tidak bagus dan mungkin bisa membuat matanya terkena iritasi ringan.
“Tuan bartender, makhluk jelek darimana itu?” Kaito bertanya dengan santainya sambil melirik Arkan yang mencoba bangun akibat terjatuh setelah didorong oleh Kaito
Arkan akhirnya bisa melihat siapa yang ada di depan pintu masuk dengan pistol yang diarahkan kepada dirinya dan Kaito
“J–Justin-sama!!!” Arkan berteriak saat melihat sosok dengan pistol di tangannya
Di tengah keadaan yang bisa dikatakan tidak bagus, Kaito sepertinya mulai memiliki bakat unik Ryou.
“Justin?. Pria botak jelek itu bernama Justin?. Kupikir Theo menghinanya karena dia membencinya. Ternyata itu benar, wajahnya benar-benar seperti gorilla dan jelek sekali. syukurlah Ryou tidak di sini untuk memaki dirinya. Bisa repot kalau sampai Ryou mengatakan orang ini jelek seperti kepala kambing”
Kaito meniru beberapa kalimat makian yang biasa dikatakan Ryou di saat tidak bagus seperti itu.
Arkan yang mendengarnya menatap aneh orang di sampingnya sambil bergumam dalam hati.
‘Apa anak ini waras mengatakan hal seperti itu di hadapan orangnya langsung? Apa urat takutnya sudah putus? Apa dia tidak peka terhadap perasaan orang lain?’
Wahai Arkan, anak di sampingmu itu tidak seperti dirimu yang lebih mengkhawatirkan potongan gaji dan lembur dibandingkan nyawa orang yang ditembak di depan matamu langsung.
Bukan saatnya untuk saling berkomentar, sorot mata Kaito menjadi tajam dan dia bersiap dengan pedangnya.
“Ahahahaha!! Tidak kusangka aku akan menemukannya tanpa susah payah!” kata Justin sambil memegang pistolnya dan melangkah masuk ke dalam bar
Kaito mulai mencoba berdiri dan berbisik pada Arkan sambil mengulurkan tangannya ke arah belakang. Arkan melihat tangan Kaito.
“Tuan bartender, berikan jam sakunya padaku sekarang”
“Oi, ini bukan saatnya untuk itu!”
“Aku akan mengurusnya sendiri jadi berikan jam itu padaku. Aku akan sebisa mungkin menjauhkan dia darimu”
“Kau benar-benar akan melawan Justin-sama?! Kau pikir kau bisa melawannya?! Kau hanya akan mati!!”
“……” Kaito terdiam
Dia ingat apa yang dia katakan pada Ryou soal larangannya membunuh manusia dari ‘dunia’ tempat mereka berada sekarang. Setelah menghela napas panjang, Kaito dengan sorot mata tajam melihat Arkan.
“Berikan dan akan kuurus makhluk jelek itu. Aku akan sebisa mungkin menahan diriku untuk tidak membunuhnya tapi aku tidak mau mengganti kerusakan tempat ini. Tidak masalah kan?”
“Jangan egois!! Gajiku dipertaruhkan di sini!”
“Nyawa Theo dan yang lain juga dipertaruhkan di sini! Kau masih bisa hidup selama tidak terkena tembakan darinya! Pikirkan apakah gajimu itu bisa menyelamatkanmu dari tembakan yang barusan itu?” Kaito mulai menatap sinis
“……” Arkan tidak bisa membalas
Dia langsung memberikan jam sakunya kepada Kaito dan dengan cepat Kaito memasukkan jam saku itu ke dalam saku celananya.
“Terima kasih. Saat aku berlari nanti, kau pergilah ke belakang meja bar itu dan bersembunyilah. Aku akan melempar paksa orang itu keluar dari bar ini”
“Hah!!”
-Dor…Dor…Dor…
Karena kecerobohan Arkan yang mulai berteriak mendengar kalimat Kaito, Justin jadi menembaki mereka kembali. Namun kali ini, seluruh tembakannya ditepis dengan mudah oleh pedang milik Kaito.
“……!!!” Justin yang melihat itu terkejut
Kaito mulai berlari ke arah Justin. Dan sebelum pelatuk pistol itu ditekan oleh Justin, sebuah tendangan keras dilakukan oleh Kaito.
-BUUUUK
-BRAAAAK…BRAAAK
Kaito menendang Justin pada bagian wajahnya. Tidak disangka tendangan Kaito itu benar-benar kuat hingga bisa membuat pintu bar dan tembok bagian pinggirnya rusak karena terkena hantaman tubuh Justin saat menerima ditendang Kaito.
Justin sendiri yang tidak menyangka akan dapat ditendang dengan mudah oleh Kaito terlempar keluar bar dengan sekali tending dan terdorong sampai ke tembok seberang bangunan bar.
“Kaaakh!!”
Arkan hanya bisa diam dengan mulut terbuka lebar.
‘Jangan bilang aku sedang bermimpi sekarang!’
******