Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 217. Event Horror: Kunci Untuk Menyelesaikan Event bag. 4



“Si bodoh itu! Akan kupukul dia begitu aku mendapatkannya!” umpat Ryou


Tapi, keadaan tidak mendukung dirinya untuk melakukan itu sekarang.


“Ryou, kita harus melakukan sesuatu dengan mereka!”


“Aku tau, Kino! Tapi pilihan apa yang kita punya? Kita harus pergi ke pintu gerbang dengan banyak zombie di belakang kita atau mengejar si bodoh itu dan menangkapnya hidup-hidup untuk diumpankan kepada zombie?! Pilih satu sekarang!!”


“Tidak ada pilihan yang bagus! Kita harus lakukan sesuatu!!” Song Haneul jadi ikut berteriak


Kino berpikir apa yang sebaiknya dilakukan. Tapi, semuanya tampak sulit akibat situasi yang tidak mendukung.


‘Bagaimana ini? Kami sudah tau dimana kunci untuk mengakhiri permainan. Tapi di saat yang sama, aku dan Ryou datang ke tempat ini demi mendapatkan kepingan ingatan Kaito-san. Yang mana yang harus aku pilih’


Ryou tampaknya sudah terlalu kesal hingga akhirnya dia yang memutuskan.


“Kita tangkap dan lemparkan si bodoh Kaito kepada kawanan zombie”


“Apa?”


“Kita akan kejar Kaito sekarang, Kino. Dia pergi ke perpustakaan, kan? Aku yakin dia ingin mencari permata itu”


“Permata?” Song Haneul bingung dengan arah pembicaraan tersebut


“Kamu yakin, Ryou?”


“Aku sangat yakin, Kino. Seandainya kita nekat pergi ke pintu gerbang utama, aku yakin kawanan zombie lain sudah menunggu di sana juga. Jika harus menghadapi yang sebanyak itu, aku harus mengakui bahwa hanya kecepatan Kaito yang bisa melakukannya”


“Ryou…”


Kino sempat berpikir positif kepada sang adik.


‘Aku tau Ryou tidak akan memiliki niat buruk untuk menyakiti Kaito-san’


Tidak lama setelahnya, pikiran itu runtuh dan berubah menjadi debu.


“Alasan lainnya, kita harus memukul dan melemparnya sebagai umpan zombie”


“Apa?! Ryou, jangan pernah berpikiran–”


-GRAAAA


Suara zombie-zombie itu semakin dekat. Jarak yang sudah susah payah dibuat oleh mereka akhirnya menjadi sia-sia.


“Tidak ada waktu, kita pergi menyusul Kaito sekarang!”


Ryou berlari diikuti oleh Kino dan Song Haneul. Mereka mengubah rute pelarian dari yang awalnya pergi ke pintu gerbang utama menuju perpustakaan.


******


Di gedung arsip sekarang, Seo Garam mulai merasa sedikit khawatir. Dia menghampiri Kim Yuram yang sedang sibuk dengan ponselnya.


“Kim Yuram…”


“Ada apa, Garam-nim?”


“Apa menurutmu…”


“Menurutku? Kau kenapa?”


“Aku merasakan firasat buruk. Apa menurutmu, kita hubungi saja nomor ponsel yang dipegang Ryou dan yang lainnya?”


Kim Yuram terdiam. Dia juga berpikiran hal yang sama sejak mendengar penjelasan Kino tentang tempat Song Haneul yang dikelilingi oleh zombie.


Tapi, Kim Yuram memilih untuk menolak hal tersebut.


“Garam-nim, aku rasa kita sebaiknya tidak melakukan hal itu. Kita harus tetap menunggu mereka di sini dan berdoa agar mereka selamat. Kino-ssi sudah meminta kita untuk menunggu di sini dan kita harus melakukannya”


“Aku tau itu, tapi…”


“Percaya pada mereka adalah hal terbaik untuk saat ini”


Kalimat Kim Yuram membuat Seo Garam sedikit lebih tenang. Tapi sebenarnya, Kim Yuram sendiri menyembunyikan sesuatu. Dia sendiri melihat ponselnya karena berharap dihubungi oleh nomor yang dibawa oleh Ryou sebelum pergi.


‘Kenapa dia tidak menghubungiku ke nomor ini? Ayolah…meski hanya sekali, tolong hubungi aku juga’ pikirnya


“Akan kupukul dia, lalu kutampar, lalu akan kucaci maki si bodoh itu! Setelah itu, akan kuseret dia dan kulempar sebagai umpan! Aku akan membuat dia bekerja ekstra untuk mengalahkan semua zombie-zombie itu. Dasar pria amnesia tidak tau diri!”


Segala jenis umpatan dikeluarkan olehnya. Tentu saja Kino yang mendengarnya di belakang ingin sekali menasehati sang adik, tapi dia tidak bisa karena kepanikkan lebih mendominasi pikirannya sekarang.


‘Aku harus berpikir cepat. Jika sudah sampai di tempat Kaito-san berada sekarang, kami jelas akan menghadapi para zombie itu di ruang terbatas seperti sebelumnya. Apakah ada cara lebih cepat untuk bisa lolos dari mereka?’


Song Haneul mulai merasa sedikit penasaran dengan kalimat yang dikatakan mereka sebelumnya.


[Kita akan kejar Kaito sekarang, Kino. Dia pergi ke perpustakaan, kan? Aku yakin dia ingin mencari permata itu]


‘Permata apa yang mereka maksud? Apa ada permata lain di tempat ini? Tapi tidak mungkin itu adalah permata yang dibawa Leon-nim, kan? Mungkinkah?’


Song Haneul memberanikan diri untuk bertanya pada Kino.


“Kino, mengenai permata yang kalian maksud itu…permata apa?”


Kino terkejut mendengar pertanyaan itu.


“Ada apa, Song Haneul-san?”


“Aku mendengar bahwa teman kalian pergi ke perpustakaan karena ingin mencari permata. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ada hal lain yang terjadi di tempat ini?”


“……” Kino terdiam dan tidak menjawab


Mereka bertiga telah sepakat untuk tidak memberitau tujuan sebenarnya kenapa mereka ada di tempat itu. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Kino adalah mengalihkan pembicaraan.


“Sebaiknya kita bahas ini nanti, Song Haneul-san. Kita harus segera sampai ke perpustakaan terlebih dahulu”


“Be–begitu. Aku mengerti”


Song Haneul mulai berhenti bertanya dan melupakan hal itu sejenak.


Di belakang, ada beberapa zombie yang mulai terlihat. Jaraknya memang masih cukup jauh, tapi bisa dipastikan mereka akan tetap mengikuti ketiga remaja itu sampai ke tempat tujuan.


**


Kaito yang sudah jauh di depan seakan tidak memikirkan apapun. Mungkin sejauh perjalanannya dengan kedua kakak beradik itu, ini adalah pertama kalinya dia egois.


“Seharusnya mayat Jung Leon masih ada di sana. Aku ingat pakaian yang dia pakai. Aku harus segera mengambilnya”


Memanfaatkan situasi karena tidak adanya zombie yang mengejar, dia mulai menambah kecepatannya.


‘Maafkan aku, Kino, Ryou. Aku tau aku egois, tapi seandainya hanya ini kesempatan yang aku punya, aku harus bisa memanfaatkannya. Aku akan siap menerima pemikiran buruk kalian. Hanya untuk sekali ini saja, maafkan aku’


Kaito hampir sampai di perpustakaan. Begitu masuk, tentu saja pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Mayat, mayat dan mayat di kanan dan kiri lantai.


Tanpa memedulikan semua itu, dia menginjak tubuh mereka dan berlari menaikki tangga ke lantai dua.


Sesampainya di sana, dia segera mencari mayat milik Jung Leon. Dengan napas terengah-engah, dia mulai berjalan dan memperhatikan satu per satu mayat tanpa kepala yang sebelumnya dia bunuh.


“Dimana mayatnya? Seharusnya ada di sekitar sini…”


Kaito mulai mencari. Sesekali dia berlutut dan melihat tubuh mayat tanpa kepala yang ada di lantai. Beberapa kali dia bahkan sampai memperluas area pencariannya yang sebenarnya tidak masuk akal. Namun, sekarang hal tidak masuk akal itu membuatnya syok.


“Mustahil…mayatnya tidak ada?!” Kaito berubah pucat


Benar-benar tidak masuk akal, itulah yang ada dalam pikirannya. Bagaimana bisa mayat tanpa kepala bisa hilang seakan memiliki pikirannya sendiri.


Sampai detik ini, dia masih belum memikirkan kemungkinan yang mustahil. Dia masih mencoba mencarinya sekali lagi.


Tanpa memedulikan apapun, dia mulai coba merogoh saku celana setiap mayat di lantai dengan harapan bisa menemukan permatanya. Tapi tentu saja semua itu sia-sia.


“Tidak mungkin…” Kaito menjadi semakin syok


Keringat tiba-tiba keluar dari keningnya, tangannya mulai dikepal dengan kuat dan bibir bagian bawahnya digigit dengan kuat olehnya sampai mengeluarkan sedikit darah.


Sekarang, Kaito baru mulai terpikirkan sebuah kemungkinan mustahil.


“Mungkinkah…mayatnya bergerak dan pergi dari tempat ini?”


******