Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 88. Pasar Gelap bag. 11



Di luar gerbang, Ryou dan Kaito masih tertahan oleh penjaga gerbang yang menodongkan pisaunya kembali. Ryou cukup kesal dengan itu dan ingin sekali mengeluarkan emosinya. Akan tetapi Kaito mencoba membuatnya tidak bicara lebih dari yang sebelumnya dia lakukan.


Pria penjaga gerbang bernama Will itu bertanya pada Kaito.


“Jadi, siapa namamu?” tanya Will dengan menodongkan pisaunya kembali ke wajah Kaito


“Kenapa? Apa aku harus menyebutkan namaku juga setelah dilarang masuk ke dalam?” jawab Kaito dengan tatapan tajam


“Aku hanya bertanya. Kau mungkin sudah mendengar siapa namaku dari Riz tadi, benar kan? Jadi akan lebih baik jika aku mengetahui siapa namamu juga”


“Kurasa itu tidak perlu”


“Hmm? Memang kenapa?”


“Aku yakin kau juga sudah dengar tentang orang yang bicara di hadapanmu ini. Benar begitu, kan?”


Kaito bicara seperti benar-benar menantangnya. Will tidak lagi melihatnya dengan wajah tersenyum namun melihatnya dengan wajah datar. Matanya terlihat serius dan genggaman pisaunya semakin kuat.


“Apa maksud ucapanmu itu, anak muda?” tanya Will dengan ekspresi wajah serius


“Jangan membuatku menanggapi omong kosongmu itu, tuan. Aku sudah dengar dari tuan bartender kalau kau dan wanita yang merupakan istri pengelola tempat ini datang ke bar pagi ini. Aku dengar kalian datang untuk mencari informasi tentang alamat tempat tinggal anak-anak jalanan milik Justin, yang dijadikan sebagai bayaran untuk menemukan seseorang. Apakah ucapanku itu benar?”


Will yang awalnya serius kembali menunjukkan senyumannya.


“Menarik. Sepertinya kau tau banyak. Lalu apa lagi yang kau dengar?”


“Aku mendengar ciri-ciri orang tersebut”


“Oh ho…”


“Pria berpedang tanpa sarung pedang, itu orang yang dicari oleh Justin. Benar begitu kan?”


“……” Will terdiam


Sekarang dia benar-benar tertawa mendengarnya.


“Ahahaha! Sepertinya kau tau banyak tentang semua itu ya. Memang benar orang yang kami cari adalah pria berpedang tanpa sarung pedang dan itu sesuai dengan permintaan Justin. Sepertinya kau tau sesuatu…tidak, sepertinya kau adalah orang yang dicari itu. Aku tidak salah, kan?”


Kaito mengeluarkan pedangnya. Ryou yang berada di belakangnya masih terlihat menahan dirinya karena Kaito sudah memberinya isyarat untuk menahan diri sedikit lagi. Tapi sepertinya emosi itu sudah terlalu lama ditahan dan sepertinya dia sudah tidak tahan lagi.


‘Aku tidak bisa membuang-buang waktuku lebih lama dari ini!!’ kata Ryou dalam hati


Perlahan, dia memegang gagang pedangnya dan menariknya perlahan.


Kaito yang sudah menggenggam pedang itu di tangannya hanya tersenyum melihat pria besar di hadapannya.


“Aku ingin memberitau sesuatu yang menarik padamu, tuan penjaga. Sepertinya, orang bernama Justin itu memiliki wajah dan kebiasaan yang buruk karena bisa terpancing emosi dengan mudah”


“Lalu mana bagian menariknya?” tanya Will dengan nada datar


“Bagian menariknya adalah aku dan pria berpedang tanpa sarung pedang di hadapanmu sudah melenyapkan gorilla jelek itu dari dunia ini”


“Apa?!”


-SLAAAASH


Tanpa aba-aba, Ryou yang telah mengeluarkan pedangnya melompat dan menyerang Will. Serangan itu berhasil di tangkis oleh Will dengan menggunakan pisau dagingnya.


“Aku tidak memiliki waktu untuk meladenimu sekarang! Menyingkir dari jalanku dan biarkan aku masuk?!” kata Ryou yang emosi


“Kau kira aku akan membiarkan kalian masuk hidup-hidup?! Aku akan membiarkan kalian masuk begitu aku membunuh kalian berdua dan memberikan mayat kalian pada Madame!!”


Will yang menahan serangan Ryou memukul mundur pedangnya itu dengan mendorong pisau dagingnya dengan kuat sehingga pedang Ryou terayun ke atas.


Ryou yang berhasil dipukul mundur mempelihatkan bagian perut yang terbuka. Melihat itu, Will mengambil kesempatan itu untuk menyerang sisi perut dan berniat untuk menebasnya, namun hal itu gagal dilakukan karena Kaito menahan serangannya itu dengan pedangnya.


-CKLAAANG


“Kaito!!” teriak Ryou


Ryou yang mundur dan memperbaiki kuda-kudanya kembali melihat Kaito menahan serangan dari penjaga gerbang itu dengan cukup sulit.


‘Dia lebih kuat dari yang aku kira. Kurasa orang ini benar-benar bisa bertarung dengan benar dan tidak hanya banyak bicara seperti Justin. Kemampuan bertarungnya cukup membuatku susah. Jika salah sedikit maka Ryou sudah terluka parah!’ ujar Kaito dalam hati


Serangan Will berhasil di tahan oleh Kaito dan dia menguatkan kakinya untuk mendorong pisau daging itu.


Tidak ingin tinggal diam, Ryou kembali berlari dan menyerangnya. Dia dengan cepat mengayunkan pedangnya kembali untuk menyerang sisi kiri perut pria besar itu. Tetapi sebelum berhasil melakukannya, pria itu menendang Ryou dan mengayunkan kembali pisau dagingnya untuk menyerang Kaito.


Ryou berhasil menahan tendangan itu dengan pedangnya yang diposisikan secara horizontal tapi dampaknya tetap saja menyakitkan. Perasaan yang tidak asing muncul.


“Ini mengingatkanku pada kambil sialan yang menendangku di ‘dunia malam’ waktu itu! Siapa yang menyangka akan bertemu dengan tendangan yang mirip dengan miliknya!!” gumam Ryou kesal


Will tampaknya tidak bisa meremehkan kedua remaja di depannya. Dia bertanya pada mereka mengenai perkataan mereka sebelumnya.


“Kalian mengatakan bahwa Justin sudah mati, apa itu benar?”


“Lucu sekali. Bukankah kau baru saja mengizinkan kedua orang itu lewat? Asal tau saja, yang ada dalam gerobak itu adalah mayat Justin dan kami berniat untuk menukarnya. Karena itu kami ingin melakukan transaksi dengan pengelola tempat ini” kata Ryou sambil menunjukkan senyum meremehkan


“Mayat itu adalah Justin?!” Will terkejut


Ini tidak seperti apa yang diduga olehnya.


Di saat kedua pemuda itu masih menunjukkan kuda-kuda siap menyerang, Will justru menarik senjatanya kembali dan memperlihatkan pose berpikir dengan memegang dagunya.


“Hmm? Bagaimana ini sekarang? Kalau memang Justin sudah mati bukankah seharusnya Monsieur dan Madame sudah tidak perlu lagi melakukannya? Biasanya memang seperti itu tapi…mayatnya justru dibawa ke sini ya. Hmm…”


Will masih melanjutkan gumaman itu sendiri.


“Selain itu targetnya sendiri yang datang dan bermaksud untuk menjualnya. Ini tidak melanggar aturan kan? Haruskah aku mengizinkan mereka masuk ke dalam?”


Di saat Will masih berpikir, Ryou sudah tidak mau menghabiskan waktu untuk menunggu dan kembali menyerangnya.


“Minggir dari situ sekarang!!”


Will yang melihat serangan itu langsung dengan cepat membuka pintu gerbangnya dan menyingkir ke sisi samping. Sekarang, Ryou yang melakukan serangan berada di dalamnya.


“Eh?”


Serangan Ryou terhenti dan dia menjadi bingung. Bukan hanya Ryou, Kaito sendiri bahkan membuka mulutnya dengan tatapan bingung.


“Gerbangnya…dibuka?”


Will langsung tertawa melihat itu.


“Ahahahaha. Kenapa bingung? Bukankah kalian sendiri yang ingin pintunya dibuka? Aku sudah membukakan pintunya. Kurasa aku akan mengantar kalian masuk dan bertemu dengan Monsieur dan Madame sekarang”


Dalam hati, Ryou bahkan mempertanyakan situasi ini.


‘Memang bisa semudah itu? Hanya seperti ini dan aku bisa masuk ke dalam tempat ini? Kenapa tidak dilakukan dari tadi, dasar badak!!!’


“Kenapa…kau membiarkan kami masuk dengan mudah setelah semua yang kami lakukan?” tanya Kaito dengan wajah serius


“Bukankah kalian datang untuk melakukan transaksi menggunakan mayat Justin? Kau tidak kubiarkan masuk karena merupakan orang yang dicari oleh Justin. Majikanku diminta untuk mencarimu. Tapi kalau klien yang menyewa jasa kami saja akan berakhir menjadi barang dagangan nanti malam, kenapa harus repot-repot memburumu lagi? Selain itu kau sendiri yang membunuhnya, kan? Bukankah itu lebih bagus lagi?! Ahahahaha!!”


Pikiran yang benar-benar mengejutkan tapi masuk akal, setidaknya akal sehat kedua remaja itu bisa menerimanya.


Akhirnya Kaito mengangguk dan menyimpan pedangnya kembali. Ryou yang melihat Kaito melakukannya akhirnya terpaksa mengikutinya.


‘Aku ingin sekali membalas dendam atas tendangannya barusan tapi akan kusimpan untuk nanti. Ini masih siang dan aku harus bisa menyelamatkan Kino secepatnya!’ kata Ryou dalam hati


Mereka akhirnya masuk ke dalam dengan Will sebagai pemandu. Setelah gerbang ditutup, mereka berjalan menuju tempat pengelola berada.


******


Arkan dan Riz berjalan sambil melihat pasangan suami-istri itu berjalan bergandengan tangan.


Seren bahkan menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan kedua orang di bekalang sambil menggandeng sang suami.


“Nee, Riz…”


“Iya, Seren-sama?”


“Bagaimana bisa Justin mati?”


“Itu…” Riz tampak bingung menjawab pertanyaan itu


“Yang jelas bukan kau atau Arkan yang melakukannya kan?”


“Tentu saja bukan kami! Yang ada justru aku yang akan berakhir seperti ini!! Kau lucu sekali, Seren-sama. Ahahaha”


Riz memaksakan dirinya untuk tertawa. Keadaan tidak benar-benar baik-baik saja karena nyawa anak-anak itu masih belum diketahui. Dia melihat wajah Arkan yang terlihat pucat dan mencoba mencari tau sedikit mengenai keadaan ketiga orang yang diceritakan oleh Arkan sebelumnya.


“Anu… Jack-sama, boleh aku bertanya sesuatu?”


“Hmm? Mau tanya apa?” jawab Jack santai tanpa melihat ke belakang


“Aku dengar ada anak yang dibawa ke tempat ini beberapa waktu lalu. Bagaimana dengan nasib mereka sekarang?”


“Mereka masih hidup. Niat awalnya ingin langsung kubunuh dan kupotong sendiri tapi–”


Belum Jack selesai bicara, Arkan langsung memotong pembicaraan itu dan mengulangi kembali kalimat Jack.


“Masih hidup?! Mereka benar-benar masih hidup, kan? Itu bukan kebohongan, kan?!”


“Arkan!!” Riz berteriak memperingati Arkan


Arkan langsung terlihat panik karena dia telah memotong pembicaran seorang pembunuh di depannya. Namun, reaksi Jack ternyata di luar dugaannya.


“Ahahaha, tidak perlu kaku begitu. Aku telah menjelma dari seorang pembunuh berdarah dingin menjadi seorang pembisnis berdikari yang berhati lembut, jadi kau tidak perlu takut”


“Begitu ya” jawab Arkan dengan pelan


Dalam hatinya, Arkan sempat berkomentar tentang kata-kata Jack.


‘Pembisnis berdikari yang berhati lembut katanya. Aku rasa susunan daftar kata dalam kamusnya itu sedikit. Dimananya yang berhati lembut? Dia bahkan bisa membangun tempat yang seperti neraka ini’


Jack kembali melanjutkan kalimatnya.


“Sampai dimana tadi…oh, sampai anak-anak itu selamat. Ya, mereka selamat. Awalnya aku sangat antusias untuk menjual mereka dalam keadaan terpotong dan sudah terbagi menjadi beberapa bagian. Tapi, minatku hilang begitu saja. Jadi malam ini mereka akan kujual hidup-hidup. Kurasa beberapa bangsawan kaya nanti berminat untuk menjadikan mereka berdua budak”


Arkan ingat ucapan Riz sebelumnya.


[Jack-sama itu mudah sekali tertarik pada sesuatu tapi mudah juga bosan. Jika dia tidak tertarik dengan manusia atau orang yang akan dijual, kemungkinan besar dia akan menjual mereka dalam keadaan hidup dengan harga yang murah agar tidak perlu merawat mereka]


Arkan dan Riz saling memandang satu sama lain sambil menunjukkan senyuman di wajahnya. Satu harapan mulai terlihat ditambah lagi mereka berdua mendengarnya sendiri dari orang yang dimaksud.


Masih ada kemungkinan untuk menyelamatkan kedua anak itu. Akan tetapi sebelum Arkan bertanya tentang seorang lagi, langkah mereka terhenti di depan sebuah bangunan.


“Tempat ini–”


“Kita sudah sampai” kata Seren dengan senyuman


Akhirnya, kedua suami-istri beserta kedua orang di belakang mereka itu sampai di bangunan lantai enam tempat mereka tinggal, [La porte du Paradis].


Arkan melihat sekeliling bangunan di sekitarnya dan bangunan yang tepat ada di sampingnya


“Silahkan masuk”


“Barangnya akan kutinggalkan di luar saja tidak masalah kan, Jack-sama?” tanya Riz


“Tidak masalah. Memang siapa yang mau mengambil mayat itu?. Lagipula ini seperti kau baru pertama kali ke tempat ini, Riz”


“Itu…biasanya aku membawanya ke kiosku. Tapi karena hari ini aku membawanya untuk Jack-sama jadi–”


“Sudahlah, ayo masuk”


Seren tiba-tiba terdiam dan melihat bangunan di samping tempat itu. Dia menarik lengan pakaian sang suami dan berbisik.


“Sayang…”


Jack menyadari sesuatu dan melirik ke arah bangunan itu juga.


“Tidak masalah. Sekalipun melarikan diri, nanti juga tertangkap. Karena akan dijual hidup-hidup, cukup dipatahkan saja satu kakinya setelah ini. Sebaiknya kita urus yang ini dulu ya” kata Jack dengan senyum manis


“Aku mengerti”


Arkan menjadi penasaran dan bertanya.


“Apakah ada sesuatu?”


“Tidak ada. Silahkan masuk. Anggap rumah sendiri ya”


Jack dan Seren membuka pintu tempat itu. Kedua orang itu hanya diam mengikuti dari belakang.


Arkan kembali berdoa dalam hatinya.


‘Hanya tinggal sedikit lagi. Kumohon semoga semuanya bisa berjalan sesuai keinginan kami’


******