
Tangisan perempuan itu tidak bisa lagi ditahan. Dengan tangan gemetar dan suara yang keras, dia memeluk Kino yang tepat di depan pintu.
Tapi, tetap saja yang utama adalah mencari tau kebenaran.
“Song Haneul-san…sebaiknya kita bicara di dalam”
Mendengar kata-kata Kino, dia langsung melepas pelukannya dan menariknya masuk. Ketiga remaja itu masuk ke dalam kamar tempat Song Haneul bersembunyi.
Begitu menutup pintu, Song Haneul menggeser kembali meja dan menaikkan kursi serta yang lainnya untuk menahan pintu. Termasuk rice cooker dan kompor portable. Sebenarnya tidak diikutsertakan juga tidak masalah, tapi ya sudahlah. Intinya dia berusaha semaksimal yang dia bisa.
Di dalam ruangan tersebut, semuanya tampak masih cukup tertata rapi. Agak mengejutkan memang.
‘Tidak ada bekas darah dan lainnya. Nyaris sama seperti kamar-kamar yang sempat aku lihat. Apakah memang ada sesuatu yang menyebabkan hal seperti ini terjadi?’
Pikiran rumit masih tidak bisa dijauhkan dari Kino.
Dia menyadari bahwa situasi mereka tidak normal. Tapi di tengah banyaknya mahasiswa yang telah mati dan berubah menjadi zombie, hal yang seperti ini menjadi yang paling tidak normal untuknya.
“Maafkan aku…tempatnya…sedikit berantakan” kata perempuan yang sedang menghapus sisa air matanya itu
“Tidak, ini sudah cukup bagus. Apa ini kamarmu?” tanya Kaito sambil melihat isi ruangan tersebut
“Iya. Aku tinggal di asrama ini. Selain aku, Jung…”
“Song Haneul-san?”
“Bukan apa-apa…”
Jelas terdengar bahwa Song Haneul menyebut nama ‘Jung’ dan ketiga orang itu tentu tau bahwa yang dimaksud adalah Jung Leon, programmer utama yang sudah meninggal dan jadi mayat itu.
******
Sementara di gedung arsip, Kang Ji Song berjalan ke arah kepala Jung Leon yang nyaris diabaikan semuanya.
“Sunbae…tidak ada yang mengira akan jadi seperti ini” gumamnya
Dia mengambil kepala itu dan meletakkannya bersama dua mayat teman Baek Hyeseon yang berada di pojok ruangan sekarang.
Setelah Ryou pergi, mereka memindahkan kedua mayat tersebut menjadi sedikit ke pojok agar tidak begitu dekat dengan yang lain.
Karena tidak adanya banyak kain di tempat itu, mereka terpaksa menutupinya dengan kertas dan buku-buku yang disobek. Kepala Jung Leon juga mendapatkan perlakuan yang sama.
Seo Garam menghampiri Kang Ji Song.
“Ji Song…”
Seo Garam mengintip apa yang dilakukan oleh Kang Ji Song. Dia cukup kaget namun mencoba tidak berteriak.
Setelah semua yang dia alami, terlalu terlambat untuk berteriak melihat seseorang memegang kepala manusia lainnya.
“Aku sedang memindahkan kepala Jung Leon-sunbae. Bagaimanapun, semasa hidupnya kita mengenal beliau adalah orang yang sangat baik” jelas Kang Ji Song
Dia berdoa untuk Jung Leon. Melihat itu, Seo Garam juga ikut berdoa.
Ha Jinan dan yang lain melihat apa yang dilakukan oleh Seo Garam dan Kang Ji Song. Mereka menghampiri keduanya dan ikut berdoa untuk Jung Leon.
“Aku senang mereka bertiga menyelamatkan Jung Leon-sunbae. Jika tidak, di alam sana aku yakin sunbae akan sangat menyesal karena semua berakhir seperti ini” gumam Ha Jinan
Dari belakang, tiba-tiba ada suara yang menjawab mereka.
“Ini semua juga akibat ulahnya! Dia memang pantas untuk mati seperti itu!”
Semua mahasiswa itu menengok. Itu adalah salah satu dari teman Baek Hyeseon yang dilukai oleh Kaito.
“Kalau bukan karena aplikasi bodoh itu, kita semua tidak akan menghadapi masalah seperti ini! Ini semua adalah ulahnya! Dia pantas untuk mati!”
Ucapan itu jelas merupakan luapan kemarahan. Tapi, yang lebih menyebalkan lagi adalah orang yang mengatakannya seperti tidak menyadari posisinya sekarang.
Dengan kesal, Kang Ji Song berdiri dan berjalan mendekati orang yang duduk tak berdaya itu.
“Bicara apa kau? Aku tidak mendengarnya. Coba katakan sekali lagi”
“Hah! Ini semua adalah ulahnya! Karena aplikasi bodoh itu, kita jadi seperti ini!!”
-BUUK
Sebuah tendangan melayang ke tubuh orang tersebut. Kang Ji Song langsung menendangnya tanpa menunggu izin dari siapapun. Mahasiswa lain langsung menghampiri tempat tersebut dengan tongkat kayu dan senjata yang mereka miliki.
Kang Ji Song menatap mereka dengan wajah yang dipenuhi emosi.
“Kh!” kata pemuda yang tersungkur di lantai
Kelima temannya yang lain tidak memedulikannya dan memilih untuk menoleh ke arah lain. Dia menyadari bahwa tidak ada satupun dari temannya yang mau membela ucapannya dan itu pula yang membuatnya semakin terlihat emosi.
Kang Ji Song menatapnya sekali lagi dan bertanya.
“Apa kau yang sudah seenaknya saja melempar sesama manusia pantas bicara begitu? Kau harusnya sedikit berterima kasih Kaito-nim tidak memotong tangan atau kepalamu”
“Heh! Memangnya kau pantas bicara begitu?! Harus sadar bahwa kau itu hanya junior di sini!” teriaknya
Kim Yuram mendekati pemuda itu dan menatapnya tajam. Dia sudah siap dengan sebuah tongkat kayu yang dia pinjam dari mahasiswa lain.
Dengan membawa tongkat itu di tangannya, dia membalikkan ucapan pemuda menyebalkan tersebut.
“Tidak ada istilah junior dan senior sekarang. Yang ada hanya manusia dan iblis. Kau yang sudah membunuh teman sendiri dan teman kami adalah iblis. Dan kami mungkin bisa membuatmu berkumpul dengan dua temanmu yang lain di pojok itu”
“Kau tidak sadar pada posisimu, dasar senior tidak berguna!”
-BRUUK
Kim Yuram mengayunkan secara sembarang tongkat kayu yang dipegangnya hingga menjatuhkan beberapa tumpukan buku di dekatnya. Dia marah.
“Jangan bicara seenaknya saja setelah kami membiarkan kalian hidup, pengecut! Asal kau tau, kami semua yang ada di sini bisa melempar kalian semua keluar tanpa perbekalan dan makanan! Jangan kau kira kami tidak bisa kejam seperti yang kau lakukan pada Go Yu Bin dan Han Wonjae-sunbae!” bentak gadis itu
Mahasiswa yang lain menatap mereka marah dan mengatakan semua kekesalannya.
“Park Sungmin mati karena kalian!”
“Jika bukan karena keegoisan kalian, Woo Tae Yoon tidak akan menjadi korban!”
“Kembalikan Yoon Dawon padaku!”
Mereka menyebutkan nama-nama teman dan orang berharga mereka yang menjadi korban keegoisan Baek Hyeseon dan teman-temannya.
Seo Garam ikut bicara.
“Kau mungkin tidak ingat apa yang kau katakan pada Kaito-ssi. Kau berkata kalau kau ingin hidup. Kami membiarkan kalian hidup karena kami masih memiliki nurani. Berbeda dengan kalian yang bisa melempar teman sendiri hanya demi mengikuti perintah orang lain”
“……” pemuda itu diam dengan wajah kesalnya
“Jika kalian ingin menebus dosa kalian, diam dan jangan melakukan apapun. Tapi jika kalian masih mencoba membela diri dan berkata seakan itu bukan salah kalian, aku akan ikut menjadi salah satu orang yang akan mengusir kalian dari sini”
“Ini bukan tempat milik kalian!” bentak pemuda itu pada Seo Garam
“Tapi ini bisa jadi tempatmu mati” jawab Seo Garam dengan mata dingin
Kang Ji Song sempat tidak menyangka bahwa seorang Seo Garam yang terlihat biasa dan tidak begitu menonjol bisa berkata seperti itu.
Akhirnya, pemuda itu hanya bisa berdecak dengan menahan sakit pada tubuh yang ditendang Kang Ji Song sebelumnya.
Ha Jinan yang melihat dari kejauhan hanya bisa berdoa.
‘Kino-ssi, Ryou-ssi, Kaito-ssi…aku mohon kembalilah secepatnya. Semoga semua ini bisa berakhir. Kalau seperti ini terus, aku takut akan ada hal buruk seperti yang terjadi di kantin sebelumnya’
******
Sementara itu di dalam kamar asrama milik Song Haneul, ketiga remaja itu masih melihat-lihat tempat tersebut.
“Duduklah dimanapun kalian suka”
“Terima kasih”
Keduanya mulai duduk di lantai kamar. Seperti deskripsi sebelumnya, ruangan itu bersih. Tanpa debu, tanpa noda darah dan tanpa kotoran. Sedikit berantakan pada bagian dekat pintu karena ketiganya tau dia pasti menggunakan semua benda yang ada untuk menahan pintu agar tidak ada zombie yang masuk.
Song Haneul membuka sebuah kotak barang kecil berisi minuman kaleng dan beberapa chips serta biskuit.
“Tidak perlu repot-repot. Jangan khawatirkan kami” Kaito memberinya isyarat agar berhenti menyuguhkan makanan
“Apa kalian yakin? Kalian pasti haus dan lelah”
“Kami tidak la…”
Kalimat Ryou terhenti. Dia mulai menyadarinya.
‘Tidak lapar? Berarti hukum ‘dunia’ sebelumnya masih berlaku. Bukan hanya tidak memiliki aroma tubuh setelah berlari dan bermandikan keringat, tapi kalau aku pikir kembali kami bertiga juga tidak makan apapun. Itu artinya, kemungkinan kami juga tidak akan memiliki rasa kantuk dan tidak memerlukan defekasi’
Wajah Ryou mulai terlihat tegang dan memandang sang kakak yang ada di sampingnya. Kino mengangguk tanda dia menyadari hal itu juga. Karena itu, Kaito mengatakan bahwa Song Haneul tidak perlu menyuguhkan mereka makanan.
“Setidaknya, kalian harus minum. Ini, silahkan. Aku masih punya banyak”
Karena merasa tidak enak, ketiganya terpaksa menerimanya.
Kino sempat melihat sebuah foto di atas meja. Selain itu, dia melihat sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan pita merah yang mengikat. Tapi, perhatiannya mulai teralihkan begitu perempuan itu mengajaknya bicara.
“Maaf, aku belum memperkenalkan diriku. Meskipun kalian mungkin sudah tau namaku tapi rasanya tidak sopan. Namaku Song Haneul”
“Namaku Yuki Kino dan ini adikku Yuki Ryou. Dan ini adalah Kaito-san”
“Yuki Kino, Yuki Ryou dan Kaito ya”
“Ah, kau bisa memanggilku Ryou dan Kino karena Yuki adalah nama keluarga. Terdengar aneh jika dipanggil seperti itu” ujar Ryou pada Song Haneul
“Baiklah. Kalian dari fakultas apa?”
“Kami…mahasiswa baru. Hari ini adalah hari pertama kami datang dan entah kenapa kami terjebak dalam situasi seperti ini”
Pengalihan yang bagus dari Ryou. Bakat bersandirwara miliknya sudah satu level dengan Kaito sekarang. Sungguh di luar prediksi siapapun.
Tapi, mendengar jawaban Ryou, Song Haneul menjadi sedih. Dia tertunduk dan mengepalkan tangannya dengan erat.
“Maaf…jadi seperti ini. Ini adalah salahku…ini adalah salah kami bertiga. Maaf”
“Song Haneul-san…jangan menyalahkan dirimu”
“Tidak! Ini memang salah kami! Seandainya kami tidak membuat event seperti ini! Semua tidak akan berakhir tragis! Seandainya…seandainya semua ucapan kami tidak menjadi kenyataan…”
******