
Dengan senyuman di bibirnya, Theo mengulangi nama itu lagi dan lagi.
“Kino…Kino-nii…”
Kino yang tidak begitu mendengar apa yang bibir Theo katakan hanya melihatnya sambil memperhatikan tempat mereka berdiri sekarang. Dengan begitu banyak orang yang lewat dan situasi ramai, jalanan umum itu bukanlah tempat untuk mengobrol.
“Sepertinya ini bukan tempat yang tepat untuk bicara. Kita bisa pindah ke tempat yang lebih nyaman. Apa ada tempat bagus yang bisa Theo-kun tunjukkan padaku?”
“Te–tempat bagus?! Kau mau aku menunjukkan…tempat…tempat yang ba–bagus?! Aku yang…tunjukkan?!”
Theo begitu gugup hingga tidak bisa bicara dengan benar untuk menjawab pertanyaan Kino. Kino hanya melihatnya dan berpikir untuk mengajaknya ke suatu tempat di kota.
“Kalau memang Theo-kun tidak tau, bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih santai? Apa kamu sudah sarapan?”
“Makan? Um…aku makan…tiga buah apel hari ini”
“Apel? Selain itu?”
“……” Theo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
“Hanya apel?!” Kino terlihat cemas
“Umm” Theo mengangguk dengan jujur saat ditanya olehnya
Kino yang memperlihatkan wajah cemas yang begitu jelas akhirnya hanya bisa menyarankannya untuk mencari tempat makan terlebih dahulu.
“Kalau begitu, apa ada makanan yang kamu inginkan, Theo-kun? Kita bisa ke sana sekarang”
“Tapi, aku tidak punya uang untuk membelinya”
“Siapa yang mengatakan kalau Theo-kun yang membayar? Karena aku yang mengajakmu makan, tentu saja aku yang akan membayarnya”
“Eh?! Memang boleh seperti itu?” Theo terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kino
“Tentu saja boleh. Sebaiknya kita pergi dari sini. Ayo!”
Kino menggandeng tangan Theo. Awalnya Theo merasa malu tapi dia sangat senang bertemu dengan kakak itu lagi. Tidak hanya bertemu, tapi mereka sudah saling mengenal nama dan sekarang mereka akan makan bersama. Untuk Theo, Kino adalah sosok orang dewasa pertama yang mau dekat dengannya dan menolongnya dengan senyuman.
**
Melihat dari sisi Kino sebelumnya ketika bertemu dengan anak itu.
Saat itu, dia tidak tau bahwa ada seorang anak yang berdiri di depannya. Anak itu terlihat sedikit malu dan menundukkan kepalanya. Kino hanya bisa bicara dalam hati melihat anak itu.
‘Anak yang di depanku ini…bukankah anak yang kemarin?’
Memperhatikan semua ciri-ciri yang jelas terlihat, pandangan Kino langsung berubah. Rambut hitam lurus dengan baju berwarna orange dan topi berwarna coklat yang sama persis dengan yang dikenakannya kemarin. Bekas lebam kemarin yang sedikit membiru juga masih dapat dilihat dengan jelas.
‘Anak yang tidak sengaja menabrak aku dan Ryou di altar, anak yang kemarin bersamaku di anak tangga dan anak yang…. Itu pasti anak bernama Theo. Entah kenapa aku yakin itu’
Kino tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya dan langsung mendekati anak itu.
“Kamu anak yang kemarin, kan?. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi”
Saat bertanya kepadanya, Kino bisa mengetahui apa yang anak itu rasakan. Anak yang terlihat malu bertemu dengannya itu terlihat senang. Ketika anak itu mencoba menjawabnya, dia terlihat gugup hingga Kino tidak bisa menahan tawanya. Dan ketika dia bertanya kepada Kino tentang namanya, tentu Kino tersenyum padanya.
“Namaku Theo. Apa aku…boleh tau nama kakak juga?”
Kino sempat terdiam tanpa mengatakan apapun.
‘Dia benar-benar Theo-kun! Anak ini yang dimaksud oleh Michaela-chan. Aku yakin dia yang selalu bersama dengan Stelani-chan dan anak-anak lain di altar. Bisakah aku menganggap ini adalah suatu keberuntungan untukku karena bertemu dengannya?’
Kino mencoba untuk berhenti memikirkan hal lain dan dengan senyuman ke arah anak yang ada di depannya, dia langsung memberitaukan namanya.
“Tentu saja. Salam kenal Theo-kun, namaku Yuki Kino”
Kino dapat melihat betapa senangnya anak itu mendengar namanya. Meskipun dia melihat anak itu seperti menggerakan mulutnya dan mengatakan sesuatu, dia tidak begitu mendengarnya dan melihat area sekitarnya.
“Sepertinya ini bukan tempat yang tepat untuk bicara. Kita bisa pindah ke tempat yang lebih nyaman. Apa ada tempat bagus yang bisa Theo-kun tunjukkan padaku?”
Pendekatan yang baik yang dapat dilakukan Kino saat ini adalah memulai komunikasi dua arah yang akan menciptakan suasana nyaman untuk kedua belah pihak.
‘Bagaimanapun juga aku harus sebisa mungkin berada di dekat anak ini dan tidak membuatnya curiga’ pikir Kino dalam hati
Dengan menggandeng tanganya dan pindah ke tempat lain, Kino berjalan meninggalkan area tersebut ke tempat yang lebih baik untuk mengobrol.
**
Saat ini, mereka sedang berjalan di jalan utama di pusat kota. Karena letaknya dekat dengan pusat kota yang begitu ramai, sudah jelas banyak sekali orang di sana. Bahkan jumlah orangnya lebih banyak dari yang dilihat di jalanan besar di kota.
Theo berjalan dengan tangan yang digenggam erat oleh Kino mulai memanggil namanya.
“Um…Kino-nii…”
“Ada apa, Theo-kun?” Kino melihat ke arah anak yang berada di sampingnya
“Ta–tanganku…” sambil malu-malu Theo melirik ke arah tangannya
“Ah!. Maafkan aku”
Kino melepaskan tangannya dan tersenyum sambil minta maaf. Itu bukan karena Theo tidak menyukai hal itu, hanya saja dia malu jika diperlakukan seperti anak kecil olehnya. Setelah beberapa menit mereka berjalan, mereka melihat sebuah kursi taman di bawah pohon yang terletak di sisi samping jalan.
“Theo-kun, mau menungguku sebentar?”
“……” Theo mengangguk
Kino berpesan pada Theo untuk menunggunya di kursi taman di pohon rindang tersebut dan pergi untuk mencari makanan. Selama menunggunya, Theo terlihat begitu senang sekali.
“Aku tidak menyangka akan bertemu dengan kakak itu lagi di sini. Kino-nii ya, tidak kusangka sekarang aku bahkan mengetahui namanya”
‘Seharusnya aku tidak bertemu dengannya. Setelah apa yang aku lakukan kepadanya kemarin pagi saat berada di altar, bukankah aku tidak boleh merasa senang seperti ini?. Kau harus memiliki malu, Theo!’
Theo dengan semua pikiran beratnya. Rasa bersalah terus menyelimutinya ketika dia mengingat bahwa dia telah mencuri sesuatu dari Kino tetapi justru sangat senang saat dia bisa bertemu dengannya lagi sekarang.
“Aku harus minta maaf pada Kino-nii. Aku tidak ingin dia membenciku” Theo bergumam dengan wajah murung dan nada menyesal
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, Kino kembali dengan membawa banyak sekali kantong berisi makanan dan minuman dingin.
“Maaf sudah menunggu. Lihat ini, Theo-kun!. Ada banyak makanan enak dan minuman dingin. Ayo makan!” Kino tersenyum ke arah anak itu
“Ke–kenapa kau membeli sebanyak ini, Kino-nii!!. Siapa yang akan menghabiskan semua itu?!”
“Eh? Tentu saja Theo-kun yang harus menghabiskannya. Bukankah kamu hanya makan tiga buah apel pagi ini? Karena aku sudah membeli sebanyak ini jadi Theo-kun harus menghabiskannya, mengerti”
“A…”
Sudah dipastikan tidak ada penolakan untuk itu. Akhirnya, mereka berdua duduk di kursi di bawah rindangnya pohon dan melihat banyaknya orang yang lalu lalang di kota. Kino memberikan semua makanan itu kepada Theo dan memintanya untuk memakannya. Walaupun Theo awalnya ragu, namun akhirnya dia menerimanya karena dorongan dari suara perut yang memaksa dirinya.
“Bagaimana rasa roti sandwich isi dagingnya? Enak? Aku membeli semua untukmu”
“Enak! Rasanya enak!. Kino-nii juga harus memakannya” Theo memberikan satu roti untuk Kino
Kino menggelengkan kepalanya sambil mengatakan “aku sudah kenyang” dengan wajah yang meyakinkan. Selagi mereka dalam keadaan tenang, Kino memperhatikan anak di sampingnya sebentar sebelum memulai pembicaraan.
“Apa luka itu benar-benar sudah baik-baik saja?”
“Sudah lebih baik. Luka seperti ini sudah biasa untukku jadi tidak perlu khawatir”
“Sudah biasa?”
Kino tiba-tiba teringat apa yang dikatakan Michaela sebelumnya.
[Kino-niichan, Justin-sama itu sangat jahat. Dia juga tidak punya rambut dan tubuhnya besar dengan banyak tato menyeramkan. Theo-niichan selalu memanggilnya dengan sebutan gorilla dan dia sangat membencinya]
Awalnya, Kino ingin bertanya kepada Theo tentang berbagai macam hal termasuk tentang jam saku miliknya, namun dia mengurungkan niatnya itu dan terus berpura-pura masih belum mengetahui apapun.
Theo terus mengambil roti sandwich isi daging itu sambil memegang minuman dingin yang ada di sampingnya. Karena Kino hanya diam sambil menunggunya makan, Theo jadi berhenti sejenak.
“Apa aku makan terlalu banyak jadi Kino-nii tidak mau bicara denganku?”
Wajahnya terlihat murung tiba-tiba dan berhenti untuk mengunyah. Kino hanya tersenyum melihatnya dan mengusap-usap kepalanya yang tertutup topi.
“Aku ingin bicara dengan Theo-kun, tapi karena kamu masih makan jadi aku akan menunggu sampai kamu selesai makan”
“Aku tidak apa-apa kalau Kino-nii mau bicara! Aku…aku akan mendengarkanmu!”
“Beberapa waktu lalu aku juga menemani orang lain makan namun karena aku terlalu sering mengajaknya bicara dia jadi tersedak. Karena itu aku akan mengobrol dengan Theo-kun saat kamu sudah selesai makan. Nikmatilah waktu makanmu, Theo-kun”
Mendengar itu, wajah anak itu berubah senang dan dengan cepat dia mencoba menghabiskan makanannya. Setelah semua sandwich dan minuman itu habis, dia duduk santai untuk meregangkan tubuhnya dan menurunkan makanan di perutnya.
“Sudah selesai?” Kino bertanya kepada Theo
“Sudah. Terima kasih banyak untuk makanannya, Kino-nii”
“Kalau begitu sekarang kita sudah bisa bicara banyak hal”
Kino menghela napas sebentar dan mencoba mengotrol dirinya sendiri. Banyak hal fatal yang ingin sekali dia tanyakan sekaligus kepada Theo. Tetapi mengingat Theo baru mengenalnya, Kino berpikir bahwa akan lebih baik jika dia bersikap seperti belum mengetahui apapun.
‘Pada akhirnya aku akan bisa menghubungkan semua benang-benang masalah ini. Karena itu jangan mencoba terburu-buru, Kino. Buat agar anak ini tenang dan nyaman berada di sisimu sehingga semua akan berakhir baik’ gumam Kino dalam hati
Kino sudah mencoba mengendalikan pikirannya dan mulai melakukan percakapan santai.
“Bagaimana kabarmu hari ini, Theo-kun?”
“Um…cukup baik”
“Aku yakin melihatmu di altar kemarin. Sebenarnya aku pergi ke altar pagi ini tetapi aku tidak melihatmu”
Theo merasa bingung menjawabnya, tapi dia tidak berniat berbohong kepada kakak ini dan akhirnya bicara hal dengan jujur.
“Aku…aku tidak pergi ke altar hari ini karena ada sedikit urusan”
“Urusan? Urusan apa?”
“Aku sedang mencari pekerjaan di kota untuk mendapatkan uang. Aku menawarkan jasaku untuk bekerja. Aku akan melakukan apapun, mengangkat karung atau memindahkan barang, mencuci piring kotor dan lainnya. Aku akan melakukannya demi mendapatkan uang”
Kino melihatnya dengan ekspresi tenang karena dia sudah memiliki bayangan kenapa anak sekecil itu mau melakukan hal tersebut. Namun, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya.
“Apa hanya kamu sendiri yang melakukannya?”
“Begitulah. Aku melakukannya untuk teman-temanku. Jika aku mendapatkan uang, aku akan bisa mendapatkan roti untuk mereka makan”
Sedikit melenceng dari rencana awalnya, Kino mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikannya kepada Theo.
“Ini…100 Franc?! Kino-nii memberiku uang sebanyak ini!. Kenapa?”
Tentu saja anak itu terkejut dan kaget. Meskipun begitu, Kino mengusap-usap kepalanya kembali sambil tersenyum.
“Theo-kun sudah berjuang dengan baik. Kalau memang kamu sedang membutuhkan uang, mau membantuku pagi ini?”
“Membantu? Apa yang bisa kubantu untuk Kino-nii?”
“Maukah kamu membantuku menemukan bendaku yang hilang?”
Setelah mendengar permintaannya, wajah pucat Theo langsung terlihat menggambarkan ketakutannya.
******