Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 271. Hari Santai Sebelum Ujian bag. 3



“Serius…selamat datang di Jepang versi dunia lain”


Ryou tidak memiliki kalimat lain begitu melihat apa yang ada di dalamnya. Ketiganya masuk dan langsung menutup pintunya. Begitu tertutup, sihir aktif pada pintu tersebut dan terkunci otomatis.


Batu permata yang dimasukkan dari luar, sekarang posisinya sudah ada di bagian dalam pintu.


“Lihat ini, sepertinya kita bisa keluar kalau mengambil batu ini kembali” Kino menunjuk batu permata tersebut


“Lupakan soal batunya, Kino. Sejak kapan di sini seperti net room di tempat kita? Kalau tau begini, lebih baik semalam menginap saja di kantor ini!”


“Ryou, jangan bicara begitu”


Ryou sudah tidak tahan dengan isi hatinya dan mulai meledak.


“Lihat tempat ini! Mana ada kantor pencarian catatan sipil yang memiliki mesin pembuat kopi instan dan kulkas mini seperti ini di dalamnya?! Sudah begitu, ada semacam alat berbentuk tablet merk Samsung Galaxy keluaran terbaru!”


“Lihat bantal duduk itu! Akh! Bahkan si bodoh Kaito sudah duduk di atasnya!”


“Karena ini empuk dan nyaman. Kalian tidak mau coba?”


Sungguh jawaban yang sangat santai dari Kaito. Bagaikan di rumah sendiri, dia benar-benar melepas sepatunya dan langsung duduk di bantal duduk tersebut.


“Lihat, kan?! Ini sudah tidak beres! Makin lama ‘dunia’ ini makin di luar akal sehatku! Kembalikan semua akan sehatku yang baru saja aku pakai beberapa jam lalu!”


“Ryou, hentikan! Jangan berteriak begitu, nanti mengganggu orang di samping!” Kino sudah panik


Tapi hal itu langsung ditepis Kaito. Dia mengetuk dinding pembatas ruangan tersebut.


“Kino, ini cukup tebal. Dan aku yakin, bersamaan dengan tertutupnya pintu itu dengan sendirinya, sihir dari batu permata itu sudah mengunci ruangan ini. Ini benar-benar hanya ruangan kotak biasa dengan kita bertiga di dalamnya”


“Benarkah itu, Kaito-san?”


“Benar, jadi biarkan adikmu itu berteriak sampai suaranya habis agar dia tidak bisa marah-marah lagi setelah ini. Ryou, lanjutkan marah-marahmu sekarang”


“Diam kau!”


Kaito hanya tersenyum mengejek. Mau tidak mau, akhirnya kedua kakak beradik itu duduk dengan tenang.


Di dalam ruangan tersebut, selain ada mesin pembuat kopi instan lengkap dengan kopi sachet di sampingnya, ada kulkas kecil di pojok ruangan.


Kaito membukanya dan melihat ada beberapa minuman kaleng. Di samping kulkas tersebut ada rak kecil berisi chips, biskuit dan snack bar lainnya.


“Tempat ini hebat. Apa mereka benar-benar kantor untuk mengurus masalah kependudukan dan catatan sipil? Ini seperti mereka sedang mempromosikan cara baru untuk berdagang dan menginap gratis” ucap Kaito


“Kalau kau berani menyentuh makanannya, akan kubunuh kau” Ryou mulai mengancam


“Kenapa? Di sini tidak ada harganya. Ini gratis, kan?”


“Tidak ada harganya itu bukan berarti gratis! Itu artinya kemungkinan besar setelah keluar dari sini kita harus membayar. Aku yakin ada sistem otomatis begitu kita keluar nanti. Uang kita harus dihemat, ingat itu!”


“Hmm, baiklah”


Sepertinya Kaito ingin mencicipi minuman kaleng itu biarpun sebenarnya tidak ada rasa haus sama sekali yang dia rasakan.


Di sana juga terdapat meja dengan sebuah alat yang mirip dengan tablet berukuran 10 inci dengan tripod yang terpasang pada benda tersebut.


“Ini benar-benar tablet, ya? Di bawah mereka menggunakan buku tua, tapi hanya beda satu lantai mereka menggunakan alat modern. Perbedaannya benar-benar terlihat” gumam Kino


Jarang sekali Kino berkomentar seperti itu menandakan dia cukup heran dan tidak percaya pada semua yang dilihatnya.


Ryou mencoba menyalakan tombol pada tablet tersebut dan berhasil.


“Wow, selamat datang di dunia fantasi modern. Kaito, agar kau tidak hidup di zaman batu terus, aku akan mengajarkanmu cara memakai alat modern”


“Ryou, di kampus waktu itu aku juga mengerti cara menggunakan benda yang namanya smartphone dan laptop. Jangan memandangku serendah itu ya”


“Tapi kau pernah lihat ini sebelumnya?”


“…Belum”


“Berarti kau masih hidup di zaman batu. Terima saja kenyataannya”


“……” Kaito sudah harus pasrah pada mulut Ryou sekarang


Ryou mulai melihat menu pada layar.


“Kino, tidak ada search engine atau aplikasi. Tampaknya memang hanya bisa mengakses daftar menu-menu ini”


“Coba ke bawah. Informasi mengenai keluarga kerajaan dan sejarah mereka, itulah yang harus kita cari. Mustahil mereka tidak memilikinya di sini”


“Ini dia!”


“Sejarah kerajaan kami. Coba dibuka dulu” seru Kino


Ryou membuka halaman tersebut. Pada bagian tengah atasnya terdapat tulisan jumlah halaman yang bisa dibaca.


“Gah! 404 halaman! Orang macam apa yang mau membaca semua ini?! Kino, aku tidak mau menghafalnya. Silahkan, aku mengandalkan otak jeniusmu. Ini giliranmu bersinar, kakakku”


“Ryou…”


Sang adik berdiri sambil menyeret bantal duduknya untuk pindah ke pojok ruangan. Dia membuat gesture tubuh yang benar-benar menyuruh sang kakak yang menghafalnya.


Kaito mendekati Kino karena penasaran sekaligus berbisik.


“Adikmu semakin menyebalkan. Apa kita tidak bisa mengusirnya keluar?”


“Kaito-san, jangan begitu”


“Oi, Kaito! Aku tidak tuli ya! Kau diam saja!”


Kaito menengok ke belakang dan memutar matanya ke atas tanda dia sudah tidak mau mengurusi Ryou.


Sekarang, hanya tinggal Kino dan Kaito yang melihat halaman tersebut. Mereka membacanya. Untuk beberapa menit, mereka masih sanggup membacanya.


Mulai sepuluh menit kemudian, beberapa halaman dilewati begitu saja.


“Ini melelahkan. Tidak adakah fitur pencarian kosakata di sini?” gumam Kino yang sedikit pusing dengan tulisan itu


“Aku pikir kau tidak akan berpikir begitu?”


“Maafkan aku, Kaito-san. Berbeda dengan Ryou, aku lebih menyukai buku daripada tablet”


“Begitu. Kita lewati beberapa halaman dulu. Coba mulai dari halaman 100”


Sementara kedua orang itu sibuk, Ryou duduk terdiam dan berpikir dengan caranya sendiri.


‘Mengenai kerajaan dan semua yang tersembunyi di dalamnya memang sedikit membuatku cemas. Jujur saja, saat kami semua sependapat bahwa masalah ini ada hubungannya dengan orang dalam bisa sangat berbahaya’


‘Yang paling berbahaya adalah aura yang tidak biasa itu. Jika kami bertiga terpaksa melawan mereka ketika ujian masuk besok, aku ragu kami akan selamat’


‘Selain itu, tidak ada petunjuk pasti. Xenon sendiri juga mengatakan bahwa ada kejadian yang hanya diketahui oleh keluarga Duke dan keluarganya namun masih dirahasiakan sampai sekarang’


‘Apakah ada motif tertentu? Apakah ada kekuatan yang memang sedang dicari? Untuk apa? Atas dasar apa mereka menculik penduduk kota dan mengorbankannya? Apa yang mereka lakukan pada tubuh para korban yang belum ditemukan itu?’


‘Ini rumit! Menyelami masalah ini memang tidak mudah, tapi permata Kaito bisa jadi salah satu sumber dari kekacauan di ‘dunia’ ini juga’


‘Satu hal yang aku tau, permata Kaito jelas punya kekuatan magis. Dan kekuatan itu saling mempengaruhi tiap ‘dunia’ yang kami masuki. Aku harap hanya ada satu permata lagi di tempat ini’


‘Aku harus bisa melindungi Kino. Dengan kekuatan yang aku miliki sekarang, aku bisa melindunginya!’


Mata Ryou menunjukkan keseriusan. Dia benar-benar sangat bertekad untuk melindungi sang kakak.


Di saat pikiran Ryou membawanya pada sebuah analisa, Kino dan Kaito menemukan sesuatu yang cukup menarik.


“Kaito-san, ini…”


“Aku tidak tau, tapi mungkin ini termasuk yang kita cari”


Kino menengok ke belakang dan memanggil sang adik.


“Ryou, kemarilah! Kamu harus lihat yang ini!”


Melihat wajah serius sang kakak, Ryou dengan cepat menghampirinya.


“Ada apa? Kalian sudah menemukan sesuatu?”


“Lihat bagian ini!”


Ryou tertegun. Matanya melebar dan wajahnya seperti melihat sesuatu yang dia cari.


“Aku rasa, ini mungkin ada hubungannya dengan semua kasus itu. Aku tidak menyangka sebelum masuk akademi sihir, kita akan menemukan hal semacam ini”


“Tidak ada yang lainnya, tapi dari semua halaman yang ada hanya ini yang memang terlihat meyakinkan” kata Kaito


“Tidak masalah. Sisanya bisa kita cari tau saat kita berhasil lulus ujian. Minimal, kita bisa pegang ini untuk mencari tau informasi selanjutnya dan menemukan ‘benang penghubungnya’ kembali”


******