
Suasana di dalam gedung arsip begitu tenang. Hampir tidak ada yang berkata apapun kecuali satu orang.
Seseorang yang berdiri di depan mereka semua dengan senyum ramah dan sambutan hangat.
Jelas sekali siapa dia. Itu karena tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun sejak mereka datang, jadi ketujuh remaja yang baru saja masuk sudah bisa menebaknya.
“Kau yang bernam Baek Hyeseon?” tanya Kaito dengan nada dingin
Ucapan Kaito cukup berani. Membuat Baek Hyeseon mendekatinya dan memberinya senyuman tipis yang merupakan bentuk ketidaksukaannya.
“Benar. Namaku Baek Hyeseon. Tapi, di sini aku adalah senior jadi kau bisa memanggilku dengan sebutan sunbae”
“Senior? Kau bilang kau senior di sini? Berapa usiamu?”
“Aku? Aku berusia 21 tahun. Aku yakin kau mahasiswa dari jurusan lain yang tidak mengenalku jadi–”
“Kalau begitu tidak ada keharusan untukku memanggilmu senior. Secara usia, aku juga 21 tahun. Jadi, jangan suka memaksakan panggilan senior di belakang namamu itu padaku. Kau bisa meminta mereka yang ada di belakangku untuk memanggilmu begitu. Itu juga jika mereka bersedia” Kaito kembali bicara dingin
“……” Baek Hyeseon tertegun
Dia memberikan kesan penuh kebencian di matanya. Tapi, bola matanya melihat ke arah pedang yang dipegang oleh Kaito.
“Itu…darimana kau mendapatkan senjata itu?”
“Aku membawanya. Ini digunakan sebagai bentuk pertahanan diri karena alasan khusus. Dan ini bukan untuk dipinjamkan kepada siapapun”
“Hoo…pedang ini sangat indah. Ini pasti sangat kuat sampai bisa membuatmu menembus zombie-zombie di luar sa–”
-Sriiiiing
Baek Hyeseon yang baru saja berusaha menyentuh pedang di tangan Kaito langsung diberikan sebuah perlakuan khusus yang spesial darinya, yaitu izin untuk mencicipi sendiri ketajaman ujung pedang mata dua milik Kaito.
Dan itu tepat di leher Baek Hyeseon.
Dengan wajah panik, Baek Hyeseon mundur ke belakang. Semua orang yang menyaksikan ikut terkejut dan teman-teman Baek Hyeseon mulai memasang kuda-kuda waspada.
Seo Garam langsung menarik Kino dan berbisik.
“Hentikan Kaito-ssi, Kino-ssi! Jangan sampai kita berbuat kekacauan di sini! Kita juga harus bertemu Go Yu Bin”
“Tidak apa-apa, Seo Garam-san. Kaito-san sangat ahli dalam mengurus semuanya. Aku mungkin akan melakukan hal yang sama seperti Kaito-san pada orang kejam seperti dirinya. Tujuan kita adalah membuatnya mengalah dan tidak menyakiti siapapun di sini. Tenang saja”
“U…um…” Seo Garam masih terlihat panik
Kim Yuram bersama Ha Jinan yang ada di belakang Ryou dan Kaito saat ini mundur sedikit mendekati Kino. Mereka juga tampak panik. Tapi, Kino berusaha melindungi mereka dan membuat mereka tidak panik.
Kang Ji Song memperhatikan orang-orang yang berada di tengah.
‘Kenapa jumlahnya sedikit? Satu…dua…tiga…’
Dalam hati, Kang Ji Song menghitung seluruh jumlah orang yang duduk di tengah. Semakin dia menghitung mereka, semakin pucat dan panik dibuatnya.
‘Mustahil! Jumlahnya tidak sama seperti yang difoto. Bahkan, aku merasa ada orang yang hilang! Apa yang terjadi?!’
Kang Ji Song melirik ke arah Baek Hyeseon yang masih mematung akibat pedang yang diarahkan Kaito padanya.
‘Jangan katakan bahwa dia sudah melakukan sesuatu pada beberapa orang di sini seperti yang kami baca dari Go Yu Bin’
Kang Ji Song berbisik pada Seo Garam.
“Garam, kau kenal siapa Go Yu Bin? Apa kau sering bertemu dengannya?”
“Aku hanya bertemu sekali jadi aku tidak begitu ingat. Tapi, mungkin dia ada di antara kerumunan orang-orang di tengah”
“Coba buka kembali ponselmu dan cocokan foto yang dikirimkan sunbae dengan orang-orang di depan itu”
Seo Garam mulai panik melihat wajah Kang Ji Song yang tampak pucat. Dengan cepat dia membuka aplikasi [Event Horror Apps] dan melihat isi chat yang sebelumnya pernah dikirimkan oleh Baek Hyeseon.
Tiga foto yang dikirimkannya waktu itu memuat semua orang yang ada di gedung arsip. Begitu dia melihat kenyataan di depannya, dia begitu terkejut.
Kaito yang masih mengarahkan pedangnya pada Baek Hyeseon mulai bicara.
“Aku sudah bilang padamu bahwa ini bukan untuk dipinjamkan”
“Kau salah paham. Aku hanya ingin menyentuhnya”
“Menyentuh di awal biasanya akan dilanjutkan dengan mencoba memegangnya sendiri, lalu ingin mencoba memakainya. Setelah itu mencoba memilikinya secara sepihak”
“Itu tidak benar”
“Itu adalah urutan untuk merebut barang orang lain secara halus. Aku yakin kau juga tau itu, Baek Hyeseon. Jadi, jangan coba menguji keberuntunganmu. Atau mungkin…kau ingin mencicipi ujungnya? Kalau masih berminat, aku akan mengizinkannya”
Baek Hyeseon sudah cukup bersabar dengan orang di depannya.
“Cih!” decaknya
Ryou sudah benar-benar tidak tahan dengan sikapnya itu. Baru saja ingin mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, Seo Garam memanggil Baek Hyeseon.
“Sunbae…kemana yang lainnya?”
Baek Hyeseon mulai melihat Seo Garam dengan tatapan serius. Dia langsung menjauhi ujung pedang yang dihunuskan ke lehernya dan mendekati Seo Garam lalu bertanya.
“Ada apa?”
“Jumlah mereka tidak sampai 34 orang seperti yang dikatakan sunbae di awal. Kemana yang lainnya?” tanya Seo Garam dengan wajah panik
Sebenarnya, dia sudah memiliki tebakan mengenai apa yang terjadi pada semua orang yang hilang. Dia jelas mengingat pesan yang dikirimkan Go Yu Bin di grup komunitasnya.
[Baek Hyeseon telah membunuh temannya, Han Wonjae-sunbae dan tiga orang lainnya. Jangan percaya pada isi pesan yang dia kirimkan ke chat grup [Event Horror Apps] karena itu semua hanya sebuah akal agak seluruh persediaan makanan kita direbut olehnya!]
Memang tidak dijelaskan bagaimana Baek Hyeseon membunuh teman dan tiga orang tersebut. Namun meski hanya tebakan saja, Seo Garam dan Kang Ji Song sempat berbisik membahas ini sebelum memanggilnya tadi.
“Yang paling masuk akal adalah kemungkinan mereka dilempar keluar olehnya. Kau sadar ada genangan darah yang dilihat di depan tadi? Meskipun hanya tebakanku tapi aku yakin itu yang dilakukan sunbae” bisik Kang Ji Song
Oleh sebab itu, Seo Garam berani bertanya pada Baek Hyeseon.
Sekarang, mata Baek Hyeseon melihat Seo Garam dengan tatapan dingin. Bahkan dia melirik ponsel yang ada di tangan Seo Garam.
Seo Garam mulai memberanikan diri untuk memastikan kembali. Dia bertanya pada Baek Hyeseon untuk kedua kalinya.
“Sunbae…bisa kau jawab pertanyaanku?”
“Ah. Mereka baru saja keluar mencari makanan kembali. Itu adalah keinginan mereka karena merasa bahwa makanan di sini mulai menipis”
“Siapa yang coba kamu bohongi?”
“Siapa itu yang mencurigaiku begitu?”
Kino mulai berjalan ke depan dan berdiri di depan Baek Hyeseon.
“Apa kau mahasiswa baru? Kenapa bersikap seperti itu pada sunbae-mu sendiri?”
“Maafkan aku. Tapi, aku hanya ingin mengatakan bahwa alasan itu sangat tidak masuk akal”
“Dimananya?”
“Pertama, jumlah zombie di luar terlalu banyak. Kedua, siapa yang mau mengorbankan nyawanya sendiri untuk mencari makanan di tengah banyaknya monster di luar? Mereka datang ke tempat ini untuk meminta perlindungan”
“Mereka mungkin sangat berani sampai mau menerobos. Aku yakin mereka akan kembali” jawabnya dengan santai
“Aku minta maaf, tapi saat kami datang, ada genangan darah yang baru saja tercipta. Kemungkinan ada yang baru saja mati di luar. Apa Baek Hyeseon-san tidak merasa khawatir?”
“Genangan darah?”
Di sini, Baek Hyeseon seakan tidak mengerti. Lebih tepatnya, dia sedang berpura-pura tidak mengetahui semua hal itu.
Dia sedang berakting menjadi orang polos yang tidak tau apapun.
“Apa…apa kau yakin dengan yang kau katakan?!” Baek Hyeseon menjadi panik
“Apa kamu serius tidak mengetahuinya?”
“Aku serius aku tidak tau!”
Wajahnya pucat mendengar apa yang dikatakan oleh Kino. Tentu saja, semua tau dia sedang berbohong. Namun, Kaito diam-diam memuji aktingnya yang menjijikkan tersebut.
‘Dia cukup hebat dalam hal bersandiwara. Aku rasa aku harus mempelajari hal itu. Memutus urat malu yang kumiliki demi menutupi kejahatanku. Itu layak dicoba setelah ini’
Sementara Kaito memikirkan hal lainnya, Ryou sudah muak dengan semua hal itu dan akhirnya menghampiri Kim Yuram.
“Berikan tas itu padaku”
“Ryou…apa yang mau…”
“Akan kulempar ke wajahnya” gumamnya dengan penuh kekesalan
Baek Hyeseon masih bertahan dengan semua akting yang dia lakukan sampai Ryou menghampirinya dan bermasud untuk ikut berdiri di hadapannya.
Dengan pelan, dia menarik tangan sang kakak ke belakang.
“Kakakku yang baik, biar aku yang urus”
Baek Hyeseon menunjukkan wajah heran.
“Kau…”
“Bicara soal bahan makanan, kau bilang kalau tempat ini kekurangan bahan makanan…makanya sebagian dari mereka yang ada di belakangmu itu mencarinya, kan? Kebetulan kami bawa banyak makanan dan hadiah karena kau sudah menyambut kami dengan sangat baik”
“Apa itu…persediaan yang kalian punya?”
Terlihat sebuah perubahan ekspresi dari wajah Baek Hyeseon. Tapi, melihat ada sesuatu yang menetes berwarna merah di sana, dia sedikit curiga.
“Apa itu yang menetes?”
“Oh…ini…”
Dengan cepat, Ryou melempar tas belanja berisi makanan ke arah Baek Hyeseon. Reflek dari Baek Hyeseon membuatnya menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.
Melihat tindakan Ryou, semua teman-temannya yang bersenjata mulai menghunuskan senjatanya ke arah tujuh orang yang baru saja diizinkan masuk.
Kaito mulai menghunuskan pedangnya kembali pada orang yang berani mengarahkan tongkat pemukul ke arahnya. Wajahnya begitu dingin dengan sorot mata pembunuh.
“Kurang ajar! Apa yang kau lakukan pada….”
Sebuah teriakan terdengar dari arah belakang.
“Kyaaa!!! Ke–kepala! Ada kepala di lantai!!”
“Gyaaa!”
“Apa itu?! Kenapa ada benda seperti itu di sini?!”
Semua orang berdiri. Mendengar teriakan itu, Baek Hyeseon juga ikut melihat ke bawah dan betapa terkejutnya dia begitu melihat sosok kepala yang ada di bawah.
“Ini…” wajahnya pucat
Ryou tersenyum sambil memegang pisaunya.
“Perkenalkan, kami semua adalah kelompok yang baru saja memenggal kepala salah satu pendiri aplikasi pembawa sial itu. Salam kenal, senior”
******