Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 28. Jam Saku yang Hilang bag. 2



“Ini sebuah masalah yang lebih serius dibandingkan dengan lenyapnya ‘dunia malam’. Kita dalam masalah besar sekarang”


Kaito bicara dengan nada serius. Kedua kakak beradik itu baru saja menghabiskan waktu di ‘dunia’ itu selama kurang dari dua hari dan sekarang mereka sudah kehilangan sumber petunjuk mereka untuk kembali.


“Aku…aku akan kembali menelusuri semua jalan yang kita lewati!!”


Dengan panik Kino berbalik dan berlari untuk menelusuri tempat sebelumnya. Wajahnya terlihat pucat dan keringat keluar dari keningnya. Namun, sebelum pergi lebih jauh Ryou memegang tangan sang  kakak untuk menghentikannya.


“Tunggu sebentar!! Kau pikir kau mau kemana, Kino?”


“Jam itu mungkin masih ada di sekitar sini. Aku akan menelusuri jalan ini kembali. Jamnya…jam saku itu adalah satu-satunya cara untuk kita kembali pulang!”


“Kau bilang mau menelusuri jalan ini, memangnya kau ingat setiap jalan yang kita  lewati, hah?! Kau pikir sudah berapa lama kita berkeliling tempat ini tanpa tujuan jelas?!” Ryou berteriak ke arah Kaito di belakangnya


“Kaito!! Coba kau lihat jam berapa sekarang di jam sakumu?”


Kaito mengambil jam saku miliknya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10.15. Sudah lebih dari dua jam berlalu sejak mereka meninggalkan kolam air mancur. Mendengar jawaban Kaito, Ryou langsung melihat wajah kakaknya yang semakin panik dan lemas.


“Kau dengar itu kan, Kino?”


“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Ini…ini salahku karena terlalu ceroboh. Kalau tidak mencarinya sekarang bagaimana kalau jam itu sudah diambil oleh orang lain. Aku…aku...” Kino menjadi sangat panik dan mulai menangis


-Puk


Kaito yang sudah berjalan mendekati mereka berdua menepuk pundak Kino untuk membuatnya tenang.


“Tenanglah. Jangan sampai hal ini membuatmu begitu panik. Aku minta maaf karena sudah berkata hal yang tidak-tidak barusan. Ini memang masalah serius yang baru kita alami tapi bukan berarti tidak bisa dilalui. Jangan khawatir, kita akan menemukannya. Aku juga akan membantu”


“Kaito…-san” Kino mulai sedikit tenang meskipun air matanya masih mengalir


“Sudah lebih baik?” Ryou bertanya pada sang kakak


Kino hanya mengangguk dan menghapus air matanya di pipinya. Bohong jika mereka bertiga sudah tenang hanya dengan itu tapi sekarang bukan saatnya panik atau Kino akan mulai menyalahkan dirinya sendiri lagi.


“Kalau begitu, kita coba mencarinya mulai dari tempat yang telah kita datangi selama dua jam lebih itu. Akan lebih baik jika kita berpencar agar bisa lebih mudah menemukannya. Seandainya kita sudah mencari di semua lokasi tersebut tapi masih belum menemukannya, kita bisa mencarinya di tempat lain selagi masih ada waktu. Bagaimana?” Kaito mengusulkan sebuah ide. Kedua kakak beradik itu menyetujuinnya.


“Kita akan berkumpul di kolam air mancur di depan altar itu lagi karena tempat itu yang paling mencolok. Jangan khawatir, masih ada waktu sampai jam enam kembali” Kaito tersenyum pada Kino untuk membuatnya tenang


“Akankah jam itu kembali lagi padaku setelah jam enam nanti sekalipun kita belum menemukannya, Kaito-san?”


“Aku tidak punya jaminan seperti itu tapi kita hanya bisa berharap hal itu bisa terjadi. ‘Dunia malam’ yang tidak datang saat ini sudah cukup membingungkan, karena itu kita harus siap dengan resiko terburuk. Tapi, bukan berarti jam itu akan hilang”


“Jika jam itu sudah ditemukan, sebaiknya kau kalungkan saja jam itu di lehermu Kino. Rantainya cukup panjang untuk dikalungkan di leher. Sebagai antisipasi jika hal seperti ini terulang lagi, mengerti maksudku kan?” Ryou bicara dengan nada sedikit tegas pada Kino


“……” Kino hanya diam tertunduk dan setelah itu dia mengangguk tanda mengerti


Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap menelusuri semua jalan yang mereka lalui secara terpisah. Mereka berpencar dengan harapan akan bisa menemukannya lebih cepat. Titik kumpul kembali adalah kolam air mancur itu lagi dengan batas waktu sampai matahari terlihat akan terbenam.


Tidak membuang waktu, Kino tentu saja langsung berlari menelusuri semua jalan yang dilaluinya. Dengan melihat ke sisi bawah jalan dan sesekali memperhatikan orang-orang yang lewat, dia terus mencarinya dengan sangat hati-hati.


‘Aku mohon semoga bisa kutemukan. Aku mohon!’


******


Di suatu daerah sepi di kota, letaknya dekat dengan kawasan penduduk yang sangat gelap dan sempit. Terdapat banyak sekali gang di setiap belokan. Berbeda dengan jalanan utama yang begitu ramai dan padat penduduk, tempat itu seperti daerah yang terlupakan. Letaknya berada di bagian paling ujung dari kota. Seakan terlupakan, hanya cahaya matahari yang menyinari tempat itu tanpa adanya tanda-tanda sumber cahaya lain di sana, termasuk lampu.


Bangunan altar yang tinggi masih dapat terlihat jelas. Meskipun dibilang sepi dan terlupakan, apabila menelusuri tempat itu sedikit lebih dalam, bagian dari kawasan itu memiliki beberapa kios-kios dagang sederhana. Beberapa transaksi terjadi di sana dan barang-barang yang dijual juga cukup aneh. Semua benda yang tidak ada di kawasan pertokoan di jalan utama tersedia di sana. Banyak suara-suara para pedagang yang menawarkan dagangnya


meskipun hanya sedikit orang yang datang.


Di sebuah tempat pada bagian dalam kawasan tersebut, terdapat sebuah bar yang sangat tua bernama [Barre des Noirs]. Bar itu berisi banyak sekali orang-orang bertato dengan wanita-wanita penggoda. Banyak pemabuk dan pekerja **** bebas di sana yang berpesta seakan semua dunia berpihak pada mereka. Keadaan ruangan yang minim pencahayaan membuat pikiran mereka lebih mudah menyerap efek dari minuman keras di sana.


Ada sebuah pintu di pojok kanan meja bartender yang tiba-tiba mengeluarkan suara barang pecah.


-CRAAASH


“Dasar para tikus-tikus tidak berguna!! Apa saja yang kalian lakukan seharian ini, hah!! Hanya bisa mendapatkan hasil sedikit dan sisanya barang-barang tidak berguna!. Kalian pikir kalian akan kuberi makan jika seperti ini!! Dasar sampah!”


Seorang laki-laki botak bertubuh kekar dan berbadan besar berusia sekitar 30-35 tahun dengan beberapa wanita penggoda di sampingnya duduk dengan raut wajah sangat marah. Dia memecahkan botol minuman ke tanah dan memarahi beberapa anak-anak di sana. Mereka semua adalah sekumpulan anak-anak yang berada di depan pintu masuk altar. Terlihat ada anak perempuan yang menabrak Kaito dan anak laki-laki yang menabrak Kino di sana.


“Ma–maafkan kami, Justin-sama. Ka–kami akan mencari lebih banyak lagi. Karena itu…tolong beri kami makan” kata salah satu anak laki-laki dengan kulit hitam yang berdiri di barisan belakang. Dia memohon sambil menahan air mata


“Kami sudah tiga hari tidak makan. Kami janji akan membawakan banyak sekali uang untuk Justin-sama. Tolong beri kami sepotong roti untuk makan” anak perempuan yang menabrak Kaito mulai menangis


“Kalian pikir aku akan memberi kalian makan kalau kalian tidak bekerja dengan benar seperti ini? Heh, lebih baik tikus seperti kalian mati saja jika tidak bekerja dengan benar.


“……”


Dari belakang, seorang anak laki-laki dengan topi coklat maju ke depan dan melempar beberapa benda dari sakunya. Dengan wajah kesal dia melempar beberapa barang ke bawah lalu berteriak.


“Aku mendapatkan itu semua sendirian. Jika kau ingin semua itu, ambilah! Aku hanya ingin kau memberikan roti pada kami semua. Seharusnya itu cukup!”


Benda yang dilemparkan itu adalah uang koin emas, perhiasan mewah seperti kalung, gelang, cincin dan banyak sekali berlian dan ada satu benda lagi yang terlempar di sana. Sebuah benda tua seperti jam saku dengan goresan.


Para wanita yang ada di sana terlihat senang sekali dan mengambil semua barang-barang itu meskipun semua itu berada di lantai dan mereka memungutnya seperti seekor hewan. Tentu saja sebagai rasa terima kasih, Justin berdiri dan langsung memberikan satu tinju pada anak tersebut.


“Berani sekali tikus kotor sepertimu membuat para wanitaku terlihat seperti anjing!! Rupanya kau ingin mati ya, bocah?!"


“Aku sudah memberikan semua yang kudapatkan. Bukankah itu yang kau inginkan, Justin-sama? Seharusnya kau tidak mengingkari ucapanmu itu dan memberi kami makan!. Sekarang aku minta roti untuk kami semua atau aku tidak akan mencuri benda-benda itu lagi!!”


Sungguh anak kecil yang memiliki nyali. Setelah diberikan satu tinju di wajahnya, dia masih bisa mengancam pria besar itu. Tentu saja Justin menjadi kesal dan tanpa ragu mencekik leher kecil anak itu. Semua anak-anak yang ada di sana mulai menangis ketakutan dan berteriak. Tapi hal itu tidak menurunkan emosinya. Hal itu justru membuatnya sangat emosi.


“Beraninya kau, Theo!! Aku sudah tidak butuh tikus sialan sepertimu!!!”


“….Ukh…”


Para wanita penggoda itu begitu senang dan tidak peduli dengan semua tangisan dan teriakan anak-anak di ruangan itu sampai akhirnya salah satu dari mereka tersenyum sangat senang dan memeluk Justin.


“Sayangku lihat, permata ini begitu bagus!. Aku  ingin lebih banyak lagi yang seperti ini!”


“Aku akan memberikan semua yang kalian inginkan setelah menyingkirkan tikus tidak berguna ini dari pandanganku!”


Justin menjawab wanita itu sambil terus mencekik Theo semakin keras sampai matanya melotot dan terdengar suara merintih dari mulutnya. Tangisan anak-anak semakin keras dan beberapa bahkan ingin mencoba menolong tapi ditendang oleh Justin dengan keras. Wanita yang memeluk Justin tidak terlihat peduli dengan semua anak-anak itu termasuk Theo, tapi dia mulai merayu Justin dengan gaya seksinya.


“Nee, sayangku… tidak bisakah kau membiarkan tikus-tikus itu pergi dan mencari lebih banyak lagi untuk kita semua di sini? Aku ingin permata ini lagi. Dia cukup pandai bisa mengambil semua ini”


“Coba pikirkan sayang, selama ini tikus itu yang membawakan banyak sekali berlian dan permata untukmu. Sayang sekali jika dia mati. Diantara semua tikus-tikus tidak berguna yang menangis di sana, hanya tikus kecil itu saja yang bisa diandalkan” kata seorang wanita lainnya


“Hmm…. Jadi kalian ingin aku melepaskan dia?”


“Tentu. Jika dia gagal, kurasa tidak masalah membiarkan mereka mati membusuk. Selama masih bisa dimanfaatkan, lebih baik digunakan sampai mereka rusak. Sayangku juga berpikir begitu kan?”


Justin melempar Theo ke arah teman-temannya dan mereka langsung menghampirinya dengan tangisan. Tentu saja Theo mencoba mengatur napasnya kembali, tetapi dia juga menatap semua yang ada di depannya dengan tatapan kebencian. Justin berteriak memanggil salah seorang anak buahnya dari bar dan meminta mereka membawakan roti. Setelah beberapa menit, ada sebuah kardus berisi roti di dalamnya dan dilemparkan ke arah anak-anak itu.


Roti-roti yang berjatuhan di lantai diambil oleh semua anak-anak itu. Stelani, anak perempuan yang sebelumnya pernah menabrak Kaito secara tidak sengaja membantu Theo untuk berdiri. Mereka keluar dari ruangan itu. Sorot mata Theo masih menunjukkan kebencian pada Justin.


‘Aku tidak akan pernah memaafkanmu!’


Setelah semua anak-anak itu keluar, Justin mulai bermain dengan para wanita itu. Para wanita itu begitu senang dengan semua emas, berlian dan perhiasan yang didapatkan oleh Theo.


“Jika bukan karena kalian, aku pasti akan mematahkan leher Theo sialan itu! Dasar anak tidak berguna!”


Justin masih terlihat emosi mengingat tindakan Theo tadi. Tapi dia juga sangat menikmati semua hasil curian anak-anak itu. Dia menggunakannya untuk memesan minuman, berpesta pora dan melakukan semua hal yang dia suka. Salah seorang wanitanya melihat ke bawah dan menemukan benda berbentuk jam berwarna keemasan dengan banyak goresan.


“Sayangku, tikus itu tadi juga melempar ini. Apa menurutmu ini berharga?”


“Coba kulihat” Justin melihat detail benda itu lalu melemparnya ke pojok ruangan “hanya sampah, biarkan saja disana. Jangan menyentuh barang yang kotor”


Setelah mengabaikan benda itu, mereka kembali berpesta dan menikmati kesenangan dunia sekali lagi.


**


Di luar, kumpulan anak-anak itu duduk dengan memegang sebuah roti di tangan mereka. Beberapa ada yang berwajah sedih, ada juga yang menangis. Theo berusaha menenangkan suasana tersebut.


“Ayo, makanlah. Kita sudah mendapatkan roti-roti ini. Memang sedikit kotor tapi masih bisa dimakan jika dibersihkan sedikit. Lihat ini!” Theo bicara dengan senyum ceria seakan semua hal buruk tadi tidak pernah terjadi padanya


Stelani melihat ada bekas merah di leher Theo dan bertanya dengan wajah sedih.


“Theo, apa lehermu terasa sakit?”


“Sudah tidak apa-apa. Jangan memikirkanku. Daripada itu, ayo kita makan. Setelah itu kita cari uang lagi dari para orang-orang di kota. Jika kalian belum mendapatkan uang untuk diberikan pada Justin, biar aku yang mengurus sisanya”


“Tapi, mencuri itu tidak baik Theo. Selain itu akan sangat berbahaya kalau sampai ketauan oleh penduduk di kota. Kau bisa saja dihajar massa di sana” kata anak laki-laki berkulit hitam sebelumnya


“Jangan khawatir, Fabil. Selama ini aku tidak pernah gagal, iya kan? Selain itu…” mata Theo menjadi tajam dan menujukkan kebencian yang mendalam sambil berkata “…di dunia ini tidak ada yang lebih aku benci kecuali gorilla besar itu. Aku akan membalas perlakuan Justin pada kita selama ini. Karena itu aku akan mencoba segala cara untuk mendapatkan uang”


“……”


Mereka semua terdiam. Perlakuan Justin pada mereka memang tidak bisa dimaafkan, tentu saja semua anak-anak itu setuju. Tapi, tidak ada yang bisa mereka lakukan. mereka terlalu takut untuk melawannya. Hanya Theo yang berani melakukan sampai sejauh itu dan sebagai hasilnya seperti yang terjadi tadi.


“Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Kalau terus dipikirkan, nanti rotinya dingin. Membalas Justin adalah keinginanku tapi impian utamaku adalah membuat kita semua bisa hidup dengan aman dan bisa makan enak. Karena itu, ayo semangat! Haamph” Theo menggigit roti yang dipegangnya dengan senyuman dan lahap


Melihat hal itu, Stelani dan lainnya juga mengikutinya. Meskipun roti yang mereka makan hanya satu dan kotor, mereka berusaha membersihkan dan memakannya dengan senyuman. Pemandangan yang begitu mengharukan dan menyedihkan di saat yang sama. Dalam hati Theo, hanya ada satu kalimat yang diucapkannya.


‘Aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan mencari cara untuk membalas Justin’


******


Kaito berada di sebuah jembatan lain di kota tersebut. Dia berdiri sambil mengambil jam sakunya dari dalam jubahnya, melihat waktu yang ditunjukkan jam tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.05. Sudah nyaris satu jam berlalu sejak mereka berpencar untuk mencarinya.


“Sama sekali tidak ada di sepanjang jalan ini. Sekarang kalau boleh jujur, aku ragu mereka berdua juga akan menemukannya”


Kaito memasukkan jamnya kembali dan berjalan kembali. Jembatan itu dilalui banyak sekali orang-orang. Berbeda dengan jembatan di jalanan menuju kedai makanan tempat Kaito biasa pergi, jembatan ini berada di dekat pusat kota. Tanpa disadari olehnya, dia sudah berjalan ke arah pusat kota.


“Aku tidak menyangka bahwa Kino bisa seceroboh itu sampai menjatuhkan jam saku miliknya. Tapi, terlalu aneh jika dia tanpa sadar menjatuhkannya”


Kaito mulai berpikir mengenai masalah mereka kali ini.


‘Jika mengacu pada kejadian sebelumnya, seharusnya Kino bisa saja kehilangan permataku dan jam saku miliknya di saat bersamaan saat dia diserang oleh satyr. Tapi, kenyataannya dia tidak kehilangan apapun. Itu artinya saku celananya memiliki ruang yang cukup dalam dan aman’


Ekspresi Kaito menjadi sedikit sini dan sepertinya dia mulai memiliki sebuah tebakan.


“Mungkinkah ada hal lain yang menyebabkan itu terjadi? Misalnya…sengaja terlihat menghilang atau dicuri?”


Tapi mengingat betapa tuanya jam tersebut, rasanya mustahil ada yang mencuri jam itu. Adanya yang mencuri jam saku itu menjadi opsi pemikiran terakhir untuk Kaito. Dia mulai berjalan dan mencarinya lagi.


‘Kurasa hanya pemikiran yang berlebihan jika membuat kemungkinan bahwa jam saku itu dicuri. Aku berharap jam saku itu bisa ditemukan secepatnya’


******


Ryou berada di dekat sebuah toko buah mulai menengok ke kanan dan kiri jalan. Dia juga sudah mencari di setiap daerah dan tempat yang mereka lalui sebelumnya namun, hasilnya sama. Tidak ada petunjuk apapun tentang jam itu.


“Gawat. Jangan katakan ada yang mengambilnya atau membuangnya. Lagipula sudah lebih dari tiga jam sekarang. Suatu keajaiban jam saku itu tidak rusak. Aku takut justru benda itu sudah tidak ada lagi di kota ini, walaupun kurasa itu mustahil”


Ryou sekarang lebih mengkhawatirkan keadaan Kino dibandingkan jam saku itu. Dia dan kakaknya itu saling mengetahui semua kebiasaan dan sifat masing-masing. Tentu saja dia tau sifat Kino yang senang menyalahkan diri sendiri jika mengalami hal seperti ini. Dia masih mengingat wajah sang kakak yang memerah dan hampir menangis saat tau jamnya hilang. Kino mungkin akan langsung berlari mencarinya tanpa berpikir panjang jika tidak dihentikan olehnya saat itu.


“Aku tidak mau melihatnya seperti itu. Aku rasa akan lebih baik jika aku mencari Kino dibandingkan berpencar seperti ini. Aku tidak ingin dia sampai terluka”


Ryou tidak tau kemana dia harus mencari kakaknya sekarang. Tapi, karena titik kumpul mereka sudah ditentukan, dia yakin pada akhirnya mereka akan bertemu di satu titik. Dia memutuskan untuk mencari Kino sambil tetap memperhatikan kemungkinan jam saku itu ada di jalan yang dia lalui.


******


Setelah lama mencari, Kino sekarang berada di kolam air mancur tempat mereka seharusnya berkumpul nanti. Waktu berkumpul mereka masih sangat lama, tetapi entah kenapa Kino ingin sekali mencarinya dari titik itu. Dia masuk kembali ke bangunan altar dan mulai mencari.


Di dalam altar, ada petugas yang bisa membantu orang-orang yang kehilangan barang. Ada juga ruang informasi untuk barang hilang yang ditemukan oleh para petugas altar tersebut. Kino memberanikan diri untuk bertanya pada petugas itu dengan harapan dia bisa menemukannya.


“Jam saku tua dengan goresan ya? Mohon maaf, tuan. Hari ini kami tidak menerima laporan adanya benda seperti itu yang tertinggal di sini” ucap petugas itu pada Kino


“Begitu ya. Misal…misalnya saja ada benda seperti itu di sini, bisakah saya meminta tuan menyimpannya? Jam saku itu mungkin terlihat tua tapi itu adalah benda yang paling penting bagi saya”


“Tentu saja. Kami akan menyimpannya dan saat anda berdoa lagi, kami akan memberikannya pada anda apabila sudah ketemu”


“Te–terima kasih banyak”


Kino tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewanya saat itu. Dia menaruh harapan yang besar pada altar ini karena saat dia baru meninggalkan tempat itu sebelumnya, jam saku itu masih ada padanya.


“Aku rasa aku memang harus mencarinya dari jalan yang telah kami lalui sebelumnya”


Kino berjalan menuju pintu keluar. Dia cukup terkejut mendengar suara teriakan wanita dan beberapa pria yang memarahi petugas altar.


“Kau pikir aku akan percaya ucapanmu!! Ini sudah ketiga kalinya aku kehilangan emas dan permataku!”


“Aku sudah kehilangan berlian kesayanganku hari ini. Tempo hari aku juga kehilangan dompetku!. Sebenarnya apa-apaan tempat ini!”


“Istriku kehilangan kalung permatanya hari ini! Kami sudah tidak bisa membiarkan hal itu! Siapa pengurus tempat ini, katakan! Apanya yang tempat suci, banyak sekali orang yang kehilangan barang-barangnya setiap berdoa di sini!”


“……”


Kino memperhatikan dari jauh. Dia melihat wajah para petugas begitu kewalahan menghadapi banyaknya orang yang berteriak dan marah-marah. Dia tidak berpikir altar yang dikatakan sebagai tempat yang menjadi pusat daya tarik dan perhatian penduduk itu akan memiliki sisi gelap seperti ini.


‘Apakah memang sering terjadi seperti itu di sini? Ternyata bukan hanya aku’


Tapi meskipun begitu, Kino tidak percaya begitu saja bahwa jam sakunya akan hilang karena dicuri saat dia di dalam altar. Jam sakunya tidaklah terlihat mewah seperti benda lain yang hilang milik orang-orang itu. Dia hanya bisa berjalan kembali keluar pintu dengan rasa sedih.


******