Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 143. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 4



Dua hari berlalu dan akhirnya Kino keluar dari rumah sakit. Terdapat dua hari yang sangat panjang untuk diingat.


Dimulai dari pagi hari yang cerah ketika Kino telah dinyatakan keluar dari rumah sakit.


Di lobi rumah sakit, Ryou dan Kaito menunggu Kino yang masih menjalankan pemeriksaan terakhir. Keduanya berdiri di dekat pintu keluar dengan pakaian mereka yang penuh dengan noda darah sebelumnya. Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu menunjukkan pukul 10.15 di pagi hari.


“Sudah lebih dari sepuluh menit. Apa Kino masih lama?” tanya Kaito pada Ryou di sebelahnya


“Aku tidak tau. Kurasa mungkin sebentar lagi akan…”


Kalimat Ryou terhenti. Dia sempat melirik ke arah perawat dan orang-orang yang lewat. Jelas terlihat bahwa semuanya melihat dirinya dan Kaito dengan wajah aneh.


“Psst, Kaito. Kita jadi bahan tontonan ya?” bisik Ryou pada Kaito


“Pura-pura tidak lihat. Setelah ini kita pergi untuk membeli baju lalu kembali ke penginapan. Baru kita ke bar untuk mengambil senjata kita” kata Kaito sambil memasukkan jam sakunya kembali


Sekitar lima menit, Kino menuruni tangga dan menghampiri mereka. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian yang sama seperti saat dia dibawa ke rumah sakit. Itu karena kedua orang yang setia menemaninya sama sekali tidak memiliki niat untuk membelikannya pakaian baru.


“Maaf membuat kalian menunggu” Kino menghampiri mereka dengan senyum


Dia turun dengan membawa sebuah kantong kecil yang merupakan obat dari dokter. Ryou cukup terkejut melihat penampilan tangan kiri sang kakak.


“Kino…tanganmu…”


“Ah ini? Dokter mengatakan bahwa sudah tidak perlu banyak diperban jadi hanya diperban sederhana seperti ini saja. Obatnya ada di dalam. Kata dokter lukanya sudah mulai banyak yang mengering. Dokter juga sampai heran karena hal itu”


Kino tersenyum dan memegang tangan Ryou.


“Ini semua berkat Ryou. Terima kasih banyak ya”


“……” Ryou hanya memerah karena malu


“Kaito-san juga, terima kasih banyak karena sudah mau mencarikan obat itu untukku. Berkat itu, aku mulai sedikit lebih baik. Luka di tubuhku juga sudah mulai menghilang”


“Sama-sama. Itu tidak sebanding dengan hal yang kau lakukan untukku, Kino”


Entah kenapa, di sekeliling ketiga remaja itu jadi seperti tontonan untuk khalayak ramai. Kino mulai melihat sekitar lobi rumah sakit dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari sana.


******


Ketika keluar dari rumah sakit, mereka berjalan di jalan utama di pusat kota. Tentu saja pagi itu banyak sekali orang yang berjalan di sekitar tempat itu. Dan semakin banyak orang yang melihat mereka bertiga dengan wajah aneh.


“Mereka memperhatikan kita lagi sekarang” gumam Ryou


“Aku rasa kita harus benar-benar membeli pakaian baru sebelum kembali ke penginapan. Kita juga bisa membeli beberapa hal seperti obat atau yang lainnya” Kaito menambahkan


Kino mulia mengingat sesuatu.


“Kaito-san…bukankah kita hanya membayar penginapan untuk satu minggu?”


“Benar”


“Kita pergi dari tempat itu menuju altar di pagi hari, tepatnya setelah hari pertama menginap. Lalu karena aku dirawat selama empat hari, berarti kita hanya bisa tinggal di penginapan selama dua hari. Apakah kita tidak rugi? Kalian juga tidak kembali ke sana karena menemaniku”


“Hmm…aku rasa…kita bisa melakukan sesuatu dengan itu semua”


“Melakukan sesuatu?”


“Itu tidak penting. Kita mampir ke toko pakaian dulu sebelum kembali. Minimal kita beli jubah untuk menutupi pakaian penuh darah ini”


“Jubahmu sendiri penuh dengan noda, Kaito” Ryou berkata sambil menunjuk pakaian yang dikenakan Kaito


“Karena itu kita beli yang baru sekarang. Masih ada sisa uang yang bisa digunakan. Kita mampir sebentar, kau tidak keberatan kan?” Kaito bertanya pada Kino


“Aku tidak masalah. Itu lebih baik daripada dilihat dengan tatapan seperti penjahat oleh orang-orang”


-Deg


Kata penjahat sudah menjadi sebuah pisau tajam untuk kedua orang itu. Mereka menyadari status mereka sebagai pembunuh dan kriminal sekarang. Kino yang awalnya tersenyum menjadi bingung karena dua orang di dekatnya mendadak bisu dengan sebuah latar hitam di belakangnya.


“Kalian berdua kenapa?”


Ryou dan Kaito hanya bergumam satu sama lain.


“Penjahat katanya, Kaito”


“Aku sudah katakan bahwa hanya Kino yang bisa memanggil kita dengan sebutan kriminal, Ryou. Penjahat juga termasuk dalam persamaan katanya”


“Kau benar”


“Um…teman-teman? Kalian baik-baik saja?” Kino hanya bisa bertanya


Bagaikan lari dari kenyataan, keduanya mulai berjalan tanpa menghiraukan Kino sama sekali. Mereka masuk ke dalam sebuah toko pakaian yang tidak jauh dari tempat mereka berhenti sebelumnya.


Di sana, Kaito sengaja memilih jubah dengan warna gelap untuk berjaga-jaga jika mengalami hal seperti di pasar gelap sebelumnya. Ryou sendiri memilih pakaian yang ukurannya sedikit lebih besar dari ukuran sebenarnya. Hal ini demi memudahkan Kino mengganti pakaiannya nanti.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 25-30 menit untuk membeli pakaian, mereka keluar dari sana.


Waktu yang mereka habiskan itu digunakan untuk memakai jubah yang dibelinya serta mengganti celana mereka yang penuh dengan darah.


“Kurasa menutup pakaian lama dengan jubah terlebih dahulu tidak begitu buruk. Yang penting celanannya sudah diganti” Ryou mulai berkomentar


Untuk ukuran remaja laki-laki yang tidak begitu menyukai belanja, membawa empat kantong belanjaan itu merupakan jumlah yang cukup banyak.


Setelah berjalan beberapa lama sambil membicarakan hal yang bersifat santai, mereka sampai di kawasan perumahan penduduk yang tidak asing lagi, hingga akhirnya mereka sampai di penginapan [Hébergement Clarks] kembali.


Di lobi, ketiganya disambut oleh wanita di meja resepsionis kembali. Kaito kembali mengurus semuanya. Entah perdebatan apa yang terjadi di sana, tampaknya Kaito mencoba sangat tenang menghadapi semuanya.


Kino yang melihat Kaito di meja resepsionis dengan cemas berbisik pada Ryou.


“Ada meninggalkan tempat ini membuat kita dalam masalah?”


“Aku tidak tau. Di dalam kamar yang kita sewa masih ada beberapa barang yang kubeli ketika pergi berbelanja dengan Kaito”


“Aku harap tidak terjadi sesuatu”


Setelah drama di meja resepsionis, akhirnya Kaito memanggil keduanya. Sampai di depan ruangan, Kaito membuka pintu dengan kunci yang dikantonginya sejak awal lalu masuk.


“Benar-benar tidak ada yang berubah dari ruangan ini. Menakjubkan sekali, tidak terasa kita sudah meninggalkan tempat ini nyaris satu minggu kurang dua hari” gumam Ryou


Semua barang-barang yang dibeli diletakkan di atas meja. Kino duduk di kursi hingga akhirnya ditarik oleh sang adik untuk duduk di tempat tidur.


“Kau…duduk di sini! Lepas sepatumu dan rebahkan tubuhmu sekarang! Orang sakit harus banyak istirahat. Kantong obatnya biar aku yang lihat!”


“Tapi–”


“……” Kino hanya diam dan pasrah mendengarkan adiknya


Kaito membawa beberapa pakaian yang dia beli.


“Aku akan menggunakan kamar mandi terlebih dahulu. Sepertinya tidak ada salahnya jika mandi sebelum pergi ke bar”


“Baiklah. Setelah ini gentian denganku” Ryou membalas sambil mengambil botol air


Setelah Kaito memutuskan untuk mandi, Ryou membantu Kino untuk meminum obatnya. Di saat itu, keadaan hening untuk sesaat. Kino memulai pembicaraan.


“Aku senang anak-anak itu begitu baik dengan memberikan banyak sekali makanan untuk kita”


“Iya benar sekali. Dan mereka hampir membuat kerusuhan selama kau dirawat! Mereka bahkan benar-benar berkunjung seharian sebelum kau pulang. Untung saja dokter mengatakan kau bisa pulang har ini. Kalau tidak…aku sudah merencanakan sesuatu untuk mereka semua”


“Ryou…”


“Aku sudah berencana untuk melempar mereka keluar jendela begitu menginjakkan kaki di ruang perawatanmu”


“Ryou…kenapa kamu begitu kejam pada anak-anak manis itu?”


“Manis apanya?! Mereka berandal kecil! Manja dan menyebalkan! Kau tidak ingat apa yang mereka katakan padamu kemarin siang sebelum mereka pulang!”


“Mereka hanya bercanda. Jangan terlalu serius”


“Mereka tidak bercanda!!” Ryou berteriak


Ada hal yang terjadi mengenai hal ini. Itu terjadi di jam jenguk kedua.


******


Ini adalah kejadian singkat di rumah sakit saat Kino dikunjungi oleh anak-anak itu kembali. Kali ini, Riz dan Arkan yang menemani mereka.


Di dalam ruang perawatan Kino, semua anak-anak itu datang membawa banyak sekali buah dan jus. Ruangan menjadi sangat penuh dengan makanan dan tentu saja membuat perawat memberikan kursi tambahan di ruangan Kino.


“Kino-niichan, kapan kau sembuh?” tanya Michaela yang duduk di tempat tidur Kino sambil memeluknya


“Aku rasa besok. Semalam dokter mengatakan aku bisa pulang secepatnya. Mungkin jika bukan besok, aku akan pulang lusa”


“Begitu. Tapi kami bisa merawat Kino-nii juga kan?” Theo ikut bertanya


“Oi, anak-anak nakal! Bicara apa kalian semua? Aku tidak akan membiarkan kalian terus memonopoli kakakku! Kalian dilarang datang ke tempat ini besok!”


“Ryou, kau seperti anak kecil sekali. Kino lebih dewasa darimu, harusnya kau meniru kakakmu” Arkan menyindirnya


“Aku menolak untuk mengalah pada anak-anak itu! Turun kalian dari tempat tidur kakakku!”


Stelani dan Fabil hanya melihat satu sama lain. Anak-anak lain juga diam dan melirik Kino dengan wajah serius. Kino hanya bisa tersenyum dengan semua kebingungan di wajahnya. Tidak lama kemudian, semua anak-anak itu berteriak.


“Kino-niichan jangan sembuh dulu!”


“Kami akan merawat Kino-niisan dengan baik!”


“Kami akan datang setiap hari. Kalau Kino-niichan tidak sembuh-sembuh, artinya Kino-niichan tidak akan pergi dari kota ini juga”


“Benar. Kau pernah bilang kalau nanti akan pergi dari kota ini juga kan? Kalau sakit, artinya Kino-niichan tidak jadi pergi”


“Ryou-niichan saja yang pergi. Dia galak, mirip om-om gendut. Kino-niichan tinggal di sini saja ya”


Rengekan anak-anak itu membuat Kaito terdiam, Arkan dan Riz membisu sedangkan Ryou memerah seperti gurita.


Sebuah teriakan terdengar dari mulut pedasnya dan Kaito sudah bersiap untuk menahan remaja yang emosian itu.


“Dasar setan-setan kecil! Berani sekali kalian mendoakan kakakku untuk tidak sembuh! Tadi kau bilang aku apa, hah?!”


“Om-om gendut” balas seorang anak dengan wajah meledek


“Berani sekali kau bocah! Menyingkir kalian dari kakakku!”


“Tidak! Kino-niichan, ada setan!” mereka mulai memeluk Kino


“Lepaskan tangan kalian dari kakakku! Dasar bocah menyebalkan! Tidak punya sopan santun!”


Arkan dan Riz saling berbisik.


“Bukankah dia yang tidak sopan menghadapi anak-anak seperti itu?” bisik Arkan pada Riz


“Dan dia masih bisa bicara sopan santun katanya. Luar biasa hebat”


Kino yang mendengar semua kalimat kasar dan teriakan itu hanya bisa pasrah. Dia merasa kesabarannya cukup terkikis.


“Kalian semua…”


Panggilan pertama diabaikan.


“Ryou…”


Kembali diabaikan. Kali ini, Kino diabaikan oleh adiknya sendiri yang masih sibuk memarahi dan memaki anak-anak itu.


“Theo-kun…Michaela-chan…anak-anak…”


Dan untuk ketiga kalinya dia diabaikan anak-anak itu.


“……”


Kaito yang melihat Kino terus tersenyum manis di saat seperti ini mulai merasakan aura tidak menyenangkan. Kaito memanggil kedua orang yang masih bingung dengan semua itu


“Tuan bartender…Riz…bantu aku menenangkan anak-anak itu atau kita akan dapat masalah besar”


“Hmm?”


Baru saja Kaito meminta pertolongan, sesuatu mulai membuat semuanya nyaris tidak bisa berkata apapun.


“Kalian semua…jika terus bertengkar seperti ini, kemungkinan besar aku mungkin tidak akan pernah keluar dari rumah sakit karena akan memiliki penyakit baru yang disebut gangguan mental”


“……!!!” semuanya terdiam


Ryou dan anak-anak lain mulai melihat Kino dengan tatapan cemas.


“Jika kalian ingin melihatku dirawat lebih lama lagi, aku akan sangat senang sekali mendengarkan kata-kata kasar itu sampai selesai. Kebetulan di sini ada makanan dan cemilan. Kaito-san sebaiknya duduk bersama Arkan-san dan Riz-san di sana sebagai penonton. Aku juga akan ikut menyaksikannya”


Sebuah kalimat yang sangat tajam dikatakan oleh Kino dengan senyum manis dan tatapan hangat. Ryou dan anak-anak itu tidak mampu mengatakan apapun dan langsung berubah tenang.


******