
Di asrama mahasiswa saat ini, Kino yang selesai dengan panggilannya menghela napas.
“Haaa~”
“Kenapa? Ada apa?” tanya Song Haneul
“Tidak. Aku minta maaf pada kalian karena tidak menyalakan speakernya” ucap Kino sambil meminta maaf
“Tidak, itu sudah benar. Untuk berjaga-jaga, aku rasa kita tidak perlu bicara lebih jauh dari ini. Bagaimanapun juga, tempat keberadaan Song Haneul dan cara untuk menyelesaikan event ini harus terbatas pada kita berempat”
“Kaito benar. Untuk saat ini, sebisa mungkin jangan memberitau banyak informasi pada mereka” Ryou menambahkan pernyataan Kaito
Song Haneul tidak begitu mengerti dengan pembicaraan tersebut.
“Memang kenapa tidak boleh?”
Ketiga remaja itu memberitaukan beberapa kenyataan hitam yang terjadi di gedung arsip dan mengenai informasi yang disebarkan oleh Baek Hyeseon. Mendengarkan cerita dari ketiga remaja itu membuat Song Haneul menjadi pucat dan semakin pucat.
Tangannya mulai gemetar dan minuman yang dia pegang nyaris tumpah membasahi lantai. Sebelum hal itu terjadi, dia tersadar dan mulai terlihat menggigit bagian bawah bibirnya sambil berkata.
“Tidak bisa dimaafkan. Dalam keadaan seperti ini…dia lebih memilih mengorbankan hoobae dan temannya sendiri…itu tidak bisa dimaafkan!”
“Benar. Hal itu tidak bisa dimaafkan. Jadi, aku melemparnya keluar seperti yang dia lakukan pada teman dan juniornya”
“Apa?”
Song Haneul melihat Ryou yang menjawabnya dengan nada dingin. Dia melihat mata remaja itu dan mengerti bahwa dia telah melenyapkan Baek Hyeseon.
“…Apa…apa orang bernama Baek Hyeseon itu…ada di bawah? Apa dia menjadi salah satu zombie yang mengepung tempat ini?”
“Benar. Oh! Lebih tepatnya beberapa waktu lalu dia masih ikut bersama yang lain. Sebelum masuk ke sini, aku sudah memenggal kepalanya dan menendangnya seperti bola untuk melumpuhkan zombie lain”
“Eh?”
“Mungkin kepalanya sedang dijadikan bola oleh yang lainnya”
“……” Song Haneul terdiam
Dia terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Ryou. Lebih mengejutkan lagi, dia melihat reaksi kedua remaja lainnya yang menanggapi dia dengan sangat santai seperti tidak ada masalah berarti.
‘Mereka bisa mengalahkan zombie sebanyak itu dengan mudah? Mungkinkah…mungkinkah aku masih bisa menyelamatkan semua yang masih hidup keluar dari kekacauan ini?’ pikirnya dalam hati
Kaito mulai bicara.
“Sekarang adalah waktu yang tepat. Kita bisa pergi dari sini dan mulai menuju pintu gerbang utama untuk mengambil kuncinya”
Ryou setuju dengan ucapan Kaito.
“Kau benar, Kaito. Akan lebih cepat jika kita melakukannya segera sebelum malam datang”
Kino mengambil jam saku yang ada di tangannya dan melihat waktu pada jam tersebut.
‘Jam 03.20 sore. Akan lebih cepat jika kita pergi dari sini. Tapi…untuk mengalahkan semua zombie-zombie itu nyaris sesuatu yang mustahil. Paling tidak, kita semua tau bahwa di depan kedua pintu gerbang pasti dijaga oleh puluhan zombie. Tidak semua zombie akan pergi ke sini sesuai dengan deskripsi dalam cerita. Kami semua butuh rencana’
Itulah yang dipikirkan oleh Kino. Hal tersebut tidaklah salah, mengingat mereka sudah melihat sendiri seperti apa kawanan zombie yang menjaga pintu gerbang di sisi lain area kampus itu.
Song Haneul melihat jam saku yang dipegang oleh Kino.
“Jam apa itu?”
“Ah, ini jam saku”
“Antik sekali. Apakah kamu memakainya untuk melihat jam? Kenapa tidak menggunakan jam tangan saja?”
“Ini…ini adalah benda penting jadi aku harus selalu membawanya”
“Begitu”
‘Untuk saat ini, jangan sampai ada yang curiga’ dalam batin Kino
Kaito melihat ke arah Kino. Di dalam pikirannya, ada beberapa hal yang ingin dia pastikan. Melihat Kino membuatnya ingat sesuatu.
[Kino, kenapa kau berhenti?]
Dia akhirnya mengingatnya dan bertanya pada Song Haneul.
“Boleh aku bertanya padamu?”
“Ah, tentu saja. Apakah ada sesuatu?”
“Kenapa di tempat ini, semua terlihat rapi dan tidak ada tanda-tanda penyerangan?”
“……” Song Haneul terdiam
“Saat memasuki tempat ini, di lobi kami masih melihat adanya kaca pecah dan sedikit noda darah. Tapi, dari pintu yang terbuka aku bisa melihat ruangan yang rapi dan sangat bersih. Begitu menaikki anak tangga ke lantai selanjutnya sampai tempat ini…tidak ada tanda-tanda kematian”
“Benarkah? Kenapa aku tidak menyadarinya?” Ryou bergumam pelan dengan wajah terkejut
“Itu benar. Kino yang menyadarinya lebih dulu. Apa ada penjelasan logis mengenai hal ini, Song Haneul?”
Mata Kaito terlihat begitu tajam. Bukan hanya itu, dia seperti menaruh curiga pada Song Haneul.
Awalnya, dia berpikir mungkin karena kekuatan permata itulah yang menjadi alasan kenapa perempuan itu bisa selamat. Tapi, mengetahui permata itu berada di lokasi berbeda membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain curiga padanya.
Song Haneul berusaha menjawabnya.
“Itu…itu mungkin karena aku menuliskan tempat ini sebagai tempat yang tidak akan tersentuh oleh zombie dalam naskah tersebut”
“Menuliskan tempat ini dalam naskah? Begitu rupanya. Jadi benar, semua yang terjadi itu persis seperti yang ditulis”
“Benar. Awalnya, di dalam sana tertulis bahwa tempat ini tidak tersentuh oleh zombie karena ada tim penyelamat yang datang dan mengalahkan zombie serta berhasil membunuh setengah dari mereka yang mengepung area ini. Nantinya, pemain yang selamat akan mendapatkan sebuah poin ekstra berupa senjata untuk membunuh para zombie”
“Poin…ekstra?”
Song Haneul menjelaskannya sedikit.
“Benar. Dalam aplikasi [Event Horror Apps] ada sedikit tambahan misi untuk event yang sekarang kami adakan. Poin ekstranya berupa senjata untuk mengalahkan para zombie”
“Nantinya begitu mereka sampai di sini, mereka cukup menekan gambar senjata dan keluarlah jenis senjata yang bisa digunakan dan cukup tunjukkan saja pada pemain yang menjadi zombie”
“Bagaimanapun juga, ini adalah event aman jadi tidak ada senjata asli. Dengan menunjukkan gambar senjata pada pemain yang menjadi zombie, zombie tersebut akan keluar dari permainan karena dianggap telah dibunuh oleh senjata tersebut”
Kaito mengangguk. Kino dan Ryou mengerti konsepnya.
Pada akhirnya, ini hanyalah sebuah permainan event. Tidak ada yang mati sungguhan di sini, jadi senjata yang digunakan hanyalah gambar yang mereka tunjukkan kepada pemain zombie.
“Tapi ini bukan lagi permainan jadi gambar tidak akan membunuh mereka. Apa ada senjata besar yang bisa digunakan?” tanya Ryou
“Senjata…”
“Kita butuh itu. Kalau bisa, pisau besar atau kapak tidak masalah. Yang penting ada senjata untuk digunakan”
“Kalau hanya pisau, di dapur mahasiswa ada. Dapur itu bisa dipakai semua mahasiswa yang tinggal di sini. Meskipun kami juga memiliki dapur kecil di setiap kamar, tapi…”
Ryou berdiri sambil memegang tas belanja miliknya.
“Aku mengerti. Kalau begitu, kita kumpulkan senjata yang mungkin berguna lalu pergi dari sini. Sudah waktunya permainan ini berakhir”
“Baik. Aku akan bersiap-siap terlebih dahulu!”
Song Haneul berdiri dan mulai mengambil tasnya. Dia mengambil kembali laptopnya dan memasukkan beberapa benda seperti ponsel dan kabel charge, sedikit makanan dan minuman untuk perbekalannya dan foto yang ada di meja.
Sebelum memasukkannya ke dalam tas, dia melihat foto tersebut dengan penuh penghayatan.
‘Leon-nim, Seung Chan…aku akan hidup demi kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir dengan penyesalan. Aku yakin kalian juga akan mendukungku. Ini akan menjadi perjalanan terakhir dari langkah kecil impian yang kita bangun bersama. Tolong…doakan aku’
Mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Setelah menyingkirkan semua penghalang di depan pintu kamar Song Haneul, keempat remaja itu pergi menuju dapur mahasiswa terlebih dahulu untuk mengumpulkan senjata.
******
Di perpustakaan, ada setitik cahaya yang terlihat dari dalam saku celana salah satu mayat tanpa kepala. Perlahan-lahan, satu-satunya mayat tanpa kepala tersebut berdiri dan berjalan perlahan-lahan menuju tangga menurun.
******