Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 44. Pencarian Informasi bag. 2



Lily yang melihat senyuman Kino yang tampak aneh dan tertekan itu bertanya padanya.


“Ada apa? Apa kamu sakit perut, Kino?”


“Ti–tidak apa-apa. Mendengar Lily-san mengatakan hal seperti itu mengingatkanku pada seseorang yang kukenal” Kino menjawab sambil tersenyum


Tentu saja senyumannya itu seperti perasaan tidak percaya karena bertemu orang yang mirip dengan adiknya.


“Begitu? Apa dia secantik diriku?” Lily menjawab seakan menggoda remaja itu


“Um…lebih cantik Lily-san dari orang itu. Sungguh. Ahahaha”


Kino tidak mau memperpanjang basa-basi yang bisa membuat mentalnya semakin diuji. Dia mencoba untuk mencari informasi yang lain lagi.


“Lily-san, tentang anak laki-laki bertopi coklat itu…apakah dia selalu meminta sumbangan ke dalam altar?”


“Benar. Hanya anak itu saja, tidak pernah ada anak lain yang masuk ke dalam altar ini selain dia”


Kino diam sejenak. Balita Ivy yang mencoba berdiri di pangkuan Kino mulai memeluknya. Tentu saja Kino dengan senyuman membantu anak itu memeluk lehernya.


“Ara, Ivy. Kau benar-benar menyukai Kino ya. Padahal anak ini tidak pernah lepas dariku, tapi sejak bertemu denganmu kemarin dia jadi sangat senang”


Melihat pemandangan itu Lily hanya bisa tersenyum.


Kino membalas senyuman itu dengan ucapan “terima kasih” pada Lily. Sambil memeluk balita itu, Kino akhirnya mengingat sesuatu.


[Aku ingat dengan jelas. Dia yang menabrak kita dan kau yang membantunya berdiri tadi pagi]


Itu adalah kata-kata Ryou yang dia ucapkan ketika kembali dari toko jam. Saat itu, Kino duduk dengan seorang anak yang kelaparan dan mereka duduk bersama di anak tangga salah satu toko. Ciri-ciri anak itu mirip dengan anak yang bersamanya kemarin dan anak itu juga orang yang menabraknya saat dia dan adiknya hendak keluar dari altar.


‘Anak dengan topi coklat yang dimaksud Lily-san adalah anak yang kemarin di altar. Ryou juga mengatakannya. Aku hampir melupakannya. Kalau tidak salah ciri-cirinya selain topi coklat itu…’


Kino yang akhirnya mengingatnya tidak melanjutkan kata-kata di pikirannya tapi langsung bertanya pada Lily.


“Lily-san, mengenai anak itu…selain topi coklat apakah dia memakai baju berwarna orange dan memiliki rambut hitam?”


“Benar! Anak itu memakai baju orange dan punya rambut hitam yang bagus sekali. Apa kamu bertemu dengannya juga kemarin?”


“Iya. Kemarin anak itu tidak sengaja menabrakku saat aku hendak keluar dari altar. Setelah aku dan adikku menolongnya dia pergi begitu saja”


“Hoo, pantas kemarin aku tidak melihatnya. Tapi, mengetahui anak itu tidak ada di sini, aku jadi berpikir mungkinkah terjadi sesuatu padanya?”


“Kuharap tidak terjadi hal buruk padanya”


Kino dengan lembut mengangkat balita yang tidak mau melepaskan pelukkannya dari leher Kino itu agar duduk kembali ke pangkuannya dan bermain dengan jari tangannya lagi. Anak itu dengan senang menggenggam semua jari tangan Kino dengan gemas sambil menggoyang-goyangkan tangannya  naik turun seperti mengajaknya bermain. Lily tertawa melihat anaknya senang bermain dengan Kino.


Semua informasi yang diberikan Lily adalah hal yang baru pertama kali didengar Kino. Dia hanya bisa menggambarkan beberapa kemungkinan namun masih ragu dengan analisanya.


Lily ingat dia ingin bertanya pada Kino.


“Oh iya, aku ingin tau. Kamu mengatakan bahwa kemarin kamu ke sini untuk bertanya mengenai benda milikmu yang hilang. Kalau boleh tau benda apa itu?”


“Benda milikku yang hilang berupa jam saku antik vintage berwarna keemasan, tetapi benda tersebut sangat tua dan memiliki banyak sekali goresan dimana-mana”


“Jam saku antik ya. Sepertinya mahal”


“Aku tidak berpikir ada orang yang berpendapat sama sepertimu, Lily-san. Jam itu sudah sangat tua namun untukku itu benda yang sangat berarti”


Mendengar itu, Lily merasa iba dan mengusap-usap punggung Kino dengan senyuman.


“Semoga kamu menemukannya ya”


“Terima kasih banyak, Lily-san”


Ivy yang melihat ibunya melakukan sesuatu menggerakkan tangannya dan mengikutinya. Dia mengusap-usap tangan Kino sambil tertawa.


“Terima kasih, Ivy-chan” Kino tersenyum manis pada anak itu


Sekarang Kino jadi berpikir untuk menyimpulkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia pikirkan.


‘Kasus kehilangan itu terjadi seminggu terakhir, benda yang hilang semuanya adalah benda yang bernilai tinggi jika dijual, perubahan selama waktu itu hanya sedikit dan tidak begitu mencolok. Haruskah aku membenarkan pemikiran Lily-san bahwa ini adalah pencurian?’


Lily mengajak Kino bercerita hal lain. Tentu saja Kino mendengarkannya sambil memberikan senyuman sebagai bentuk respon. Namun, di dalam pikirannya masih penuh dengan hipotesa berat yang masih diragukan kebenarannya olehnya.


‘Seandainya benar pencurian, itu artinya jam saku milik kami juga kemungkinan dicuri oleh pelaku pencurian. Anehnya, kenapa pencurinya justru mencuri jam saku milikku? Kenapa bukan uang yang ada di saku celanaku saat itu? Apa ini sebuah kesengajaan atau memang pelakunya tidak sengaja mengambil jam saku itu dariku?’


Masih menjadi keraguan. Sampai saat ini, Kino takut menebak siapa pelakunya. Dia hanya tidak ingin melakukannya meskipun seandainya dia sudah memiliki tebakan untuk itu.


‘Aku sepertinya membuat kesalahan. Jam saku itu sudah tidak ada dalam saku celanaku begitu aku keluar dari altar. Padahal sampai kemarin, aku bersikeras dan begitu yakin mengatakan pada Kaito-san bahwa benda itu masih ada padaku. Tetapi sepertinya aku benar-benar salah. Kata-kata Kaito-san itu seperti menggambarkan bahwa dia sudah mengetahui titik terangnya’


Wajah Kino menjadi serius. Dia sempat tersenyum pada Ivy yang mencoba meraih pipi Kino. Kino hanya menyentuh jari kecil balita itu dan tersenyum padanya tapi di dalam hatinya dia merasa begitu bersalah.


“Ada apa?” Lily bertanya pada Kino


“Bukan apa-apa. Lily-san, apakah aku boleh bertanya satu hal lagi?”


“Tentu saja. Apa yang mau kamu tanyakan?”


“Seandainya Lily-san begitu yakin bahwa semua benda berharga milik penduduk dan jamaah itu benar-benar dicuri, kira-kira siapa pelakunya?. Apakah sudah memiliki gambaran tentang hal itu?”


“Pelakunya ya…entahlah. Aku tidak memikirkannya. Pasti orang yang sangat membutuhkan uang, benar kan?. Mereka tidak akan mencuri sesuatu jika tidak membutuhkan uang”


“Begitu. Aku juga sependapat. Terima kasih banyak, Lily-san”


Lily tersenyum dan menengok ke ruangan altar. Semakin banyak orang-orang yang datang. Dia segera mengambil Ivy yang masih asyik bermain dengan jari-jari Kino. Seperti masih ingin bermain dengan kakak itu, Ivy terus melambaikan tangan kecilnya ke arah Kino.


“Kita harus pulang, Ivy. Besok kita masih bisa bertemu kakak Kino lagi” Lily bicara pada anaknya yang sudah berada dalam pangkuannya


“Besok aku akan bermain dengan Ivy-chan lagi. Jaga kesehatanmu ya, Ivy-chan. Terima kasih untuk informasinya Lily-san. Aku benar-benar terbantu”


“Sama-sama. Aku berharap kamu bisa menemukan jam saku milikmu kembali, Kino”


“Aku juga berharap begitu”


Setelah mereka berpamitan, Kino duduk kembali dan menghela napas panjang berkali-kali untuk mengembalikan mentalnya.


“Kaito-san benar-benar memberikanku tugas yang berat. Aku merasa mentalku semakin turun jika seperti ini”


Tidak seperti dirinya, Kino sepertinya bergumam sesuatu yang masih terasa ambigu. Tapi jika diartikan, bisa dikatakan dia sudah menemukan titik terang hilangnya jam saku mereka dengan usahanya sendiri.


“Aku rasa aku sedang melakukan dosa”


Kata-kata yang bisa diartikan sebuah kalimat ambigu kembali keluar dari bibir Kino. Setelah dia menghela napas untuk kesekian kalinya, dia melihat ke arah petugas penjaga yang sama sekali belum selesai dengan pada jamaah yang marah-marah di depan sana.


Kino mengambil jam saku baru di saku celananya dan melihat jarum jam yang ditunjukkan oleh benda itu.


“Sudah jam 07.35 ya. Aku tidak menyadari waktu telah berlalu sangat cepat”


Setelah memasukan jam sakunya, Kino bangun dari tempatnya dan berbalik ke arah pintu keluar. Terdiam beberapa saat, dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menatap benda di tangannya untuk beberapa detik sampai dia menggenggamnya dan berjalan ke arah pintu altar.


Baru beberapa langkah Kino berjalan, dia berhenti kembali sebentar karena melihat kelompok anak-anak itu sedang melingkar dan membicarakan sesuatu. Beberapa anak-anak memegang perut mereka dan menundukkan kepala, anak perempuan kecil yang sepertinya ingin menangis juga terlihat olehnya.


Kino tidak bisa memikirkan hal lain selain mencoba mendekat sambil bergumam dalam hati.


‘Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu sebelum pikiranku membawaku pada penyesalan’


Satu lagi kalimat ambigu dari Kino yang akhirnya membuat tekadnya bulat untuk melangkah keluar dan mengulurkan tangannya ke hadapan mereka.


**


Stelani dan Fabil mengulurkan tangan mereka untuk meminta uang pada jamaah yang lewat.


“Tolong pak, bu. Beri kami sedikit uang untuk makan hari ini”


“Silahkan sumbangan berapapun untuk anak yatim piatunya”


Anak-anak yang lain juga meminta sumbangan dengan mengulurkan tangan mereka. Gambaran ini mirip dengan mengemis. Bukan, ini memang mengemis. Jelas-jelas mengemis. Tapi, karena kalimat ‘anak-anak yatim piatu’ itu terdengar begitu memilukan di telinga jamaah membuat orang-orang yang lewat tetap memberikan uang untuk mereka.


Ada seorang wanita dengan anaknya keluar dari altar dan memberi uang pada mereka.


“Ivy, ayo berikan hadiah ini pada kakak manis di sana”


“Terima kasih banyak, nyonya!”


Anak balitanya yang sangat cantik dan manis itu tersenyum dan memberikan uang yang sebelumnya ada di tangannya. Dia memberikan senyum lebar kepada Stelani yang menerima uangnya dengan wajah merona.


Sang ibu dan anak balita cantik itu berjalan ke arah tangga menurun sambil tersenyum ceria dan tertawa.


“Lihat-lihat, uangnya sudah terkumpul banyak! Syukurlah~” Fabil terlihat senang dengan semua uang itu dan menunjukkannya pada yang lain


“Nyonya tadi juga memberiku koin 5 Franc. Setidaknya kita bisa membeli lima potong roti berukuran kecil dengan uang ini jika menyimpannya tanpa sepengetahuan Justin-sama” Stelani menunjukkan koin yang ada di tangannya


“Jangan, Stelani-neechan! Jika Justin-sama mengetahuinya nanti Stelani-neechan akan terkena masalah!” Michaela berusaha mencegah ide Stelani


Stelani yang mendengar itu menjadi murung dan sedih. Dia hanya memikirkan agar anak-anak kecil yang lain bisa makan roti lezat lagi seperti semalam. Tidak mungkin menunggu sampai Theo kembali karena dia sendiri bahkan tidak tau kemana dan apa yang dia lakukan untuk mendapatkan uang.


“Fabil, tapi–”


“Kurasa Michaela benar, Stelani. Tidak apa-apa. Aku juga akan membantu. Bukan hanya Theo yang akan mendapatkan uang untuk Justin-sama”


Fabil sebenarnya tidak tau apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan uang seperti yang Theo bawa semalam. Namun karena dia juga salah satu dari yang tertua di sana bersama Stelani dan Theo, dia merasa harus melakukan sesuatu. Dia menyesalkan dirinya yang kemarin hanya bisa menangis di belakang saat Justin memarahi mereka.


Untuk sesaat, anak-anak itu berkerumun dan terdiam. Jamaah yang keluar masuk altar ingin memberi uang mereka tetapi diurungkan kembali oleh mereka setelah melihat semua anak-anak itu tampak melingkar dengan wajah murung.


“Fabil-niichan, aku lapar”


“Berlari di pagi hari membuatku semakin lapar. Stelani-neechan, kita benar-benar tidak jadi membeli roti dengan uang itu?”


“Nee, Fabil-niichan…”


Anak-anak lain terus menerus mengatakan bahwa perut mereka lapar. Sambil merengek, mereka terus mengatakan lapar. Itu wajar, tidak salah mereka kelaparan. Hanya saja posisi mereka sulit.


Jika mereka kembali dengan uang sedikit maka Justin tidak akan segan-segan menghukum mereka. Mencoba kabur pun tidak akan berguna. Stelani dan Fabil merasa panik dan tidak bisa berbuat apa-apa pada rengekan anak-anak itu.


Michaela yang terlihat memerah menahan tangis akhirnya bicara dengan nada tinggi dan serak pada anak-anak lain.


“Kalian jangan mendesak Stelani-neechan dan Fabil-niichan seperti itu!!. Kalau uangnya sedikit, Justin-sama akan memukul kita!”


“Memang kau tidak kelaparan, Michaela?” tanya seorang anak


“Um….” Michaela memasang wajah cemberut namun memegang perutnya juga


-Kruuuuk


Suara ‘konser perut’ mereka semua bisa terdengar sebagai harmoni indah di pagi hari. Di altar, lagu pertama yang terdengar adalah suara perut mereka yang cukup keras, termasuk milik Stelani dan Fabil.


Suasana murung dan sedih mengelilingi mereka sambil memegang perut masing-masing. Sampai mereka mendengar langkah kaki seseorang yang keluar dari altar dan melihat sebuah uluran tangan di hadapan mereka.


“Ambilah ini untuk kalian”


Semua anak-anak itu terkejut dan langsung melihat ke arah orang yang mengulurkan tangan itu. Mereka melihat wajah orang itu  memberikan senyuman manis dan menenangkan dengan sorot mata lembut kepada mereka.


Orang itu terlihat seperti remaja usia belasan tahun dengan sebuah sabuk pengikat di pinggangnya yang menyimpan tiga bilah pisau dalam sarung yang terpasang di sabuk tersebut.


“Aku tidak tau apakah ini cukup untuk kalian tapi aku harap kalian mau menerimanya”


Kakak, itulah panggilan yang terpikirkan oleh mereka untuk orang itu. Remaja itu mengulurkan tangannya dan pada telapak tangannya terdapat lima buah koin berwarna emas dengan tulisan angka 100 Franc di atasnya.


Melihat itu, mata mereka berbinar dan langsung berteriak pada kakak itu.


“100 Franc!! Kakak memberi kami lima buah koin 100 Franc?!” Fabil terkejut melihat apa yang ada di atas telapak tangan kakak itu


“Keren!!. Aku baru pertama melihat koin emas 100 Franc dari dekat!!” kata anak lain sambil terlihat berbinar-binar karena terlalu senang


“Dengan satu koin 100 Franc ini saja, kita semua bahkan bisa membeli makanan enak untuk dimakan tiga kali sehari dan itu bisa dimakan untuk empat hari!!” Stelani tidak kalah antusias hingga bisa merincikan nilai koin tersebut


“Huwaaa!!”


"......"


Remaja itu terdiam hanya melihat mereka dan tidak mengatakan apapun.


Setelah wajah berbinar mereka, sekarang mereka terdiam dan menujukkan wajah tidak yakin. Ekspresi senang mereka berubah drastis menjadi tatapan penuh keraguan.


Stelani bahkan bertanya pada remaja itu dengan tatapan curiga.


“Kakak yakin memberikan uang sebanyak ini kepada kami?”


“Memang itu masalah?” tanya kakak itu dengan wajah tenang


“Untuk anak-anak yatim piatu seperti kami, bahkan dengan berdiri seharian di sini kami tidak mungkin bisa membawa uang sebanyak itu. Uang sumbangan yang paling banyak kami dapatkan hanya sekitar 80 sampai 90 Franc”


Stelani mengatakan semua hal itu dengan menatap mata remaja tersebut sambil menunjukkan ekspresi curiganya. Fabil juga tidak merubah raut wajah curiga itu. Tetapi siapa yang mengira orang yang berdiri di hadapan mereka memberikan senyuman kembali dan berkata dengan lembut.


“Aku melihat kalian berdiri lama di sini dengan menahan rasa lapar. Aku tidak ingin usaha dan rasa lapar kalian sia-sia hanya demi membawa sedikit uang. Paling tidak, kalian tidak harus berdiri terlalu lama sekarang dan bisa pulang untuk beristirahat”


Stelani dan Fabil terkejut mendengar kata-kata remaja tersebut. Bukan hanya terkejut, Stelani bahkan tanpa sadar mulai meneteskan air matanya. Fabil pun tidak bisa menahan air matanya.


Anak-anak yang lain juga tidak bisa menahan air mata mereka dan ikut menangis.


“Hiks…hiks… huwaaa…huwaaaa”


Sekarang, wajah remaja itu yang berubah panik melihat semua anak-anak itu menangis. Bahkan wajahnya lebih panik lagi ketika dia menengok kanan kirinya dan mendapati semua jamaah seperti membicarakannya dari belakang.


“Se–sebentar. Aku minta maaf sudah membuat kalian menangis. Tolong jangan menangis la–”


“Hiks…hiks….huwaaaaa…..”


Belum selesai bicara, anak-anak itu menangis semakin menjadi-jadi.


“Ke–kenapa kalian menangis semakin keras?!”


Tangisan anak-anak itu semakin keras ketika dia berusaha menenangkan mereka. Sungguh usaha yang sangat hebat untuk ukuran remaja berhati dermawan. Remaja itu telah memecahkan rekor membuat delapan anak menangis sekaligus di pagi hari hingga sukses menjadikan hal itu sebagai tontonan para jamaah yang lewat di depan pintu masuk altar.


Dalam pikiran kakak itu dia seperti merintih.


‘Kalau seperti ini, semua orang di altar akan mengira aku adalah orang yang suka melakukan penindasan kepada anak kecil. Aku harus melakukan sesuatu!’


Tidak mau membuat dirinya dalam masalah, remaja itu menarik kembali tangannya dan memasukkan uang koin itu ke saku celananya. Dia memohon dengan sangat dan meminta mereka untuk berhenti menangis. Sebagai tambahan, remaja itu juga mengajak mereka makan bersama.


Stelani dan Fabil yang perlahan menghapus air mata mereka mulai tenang diikuti oleh anak-anak lainnya.


“Kumohon tolong tenang ya. Aku minta maaf telah membuat kalian menangis. Kalian pasti lapar, iya kan? Aku akan mengajak kalian makan sebelum kalian pulang. Sebaiknya kita semua pindah tempat ya”


“Umm”


Sambil menghapus air matanya semua anak-anak itu mengangguk sebagai tanda setuju.


Kesembilan orang itu berjalan menuruni tangga altar dan berjalan melewati jalanan besar di kota.


Keadaan begitu ramai di sana. Karena matahari semakin tinggi, aktivitas penduduk semakin ramai di jalan raya. Kereta kuda pembawa barang banyak terlihat di setiap sisi.


Remaja itu berjalan berdampingan dengan semua anak-anak itu. Sambil memperhatikan mereka dengan hati-hati, dia bertanya kepada semuanya.


“Apa ada makanan yang ingin kalian makan di sekitar sini?”


Mereka semua terdiam. Mata mereka masih berkaca-kaca seakan air mata itu bisa keluar kapan saja. Remaja itu berubah pucat dan mencoba memikirkan hal terbaik yang bisa dia lakukan. Tidak lama kemudian, tepat dari arah depannya terdapat sebuah bangunan toko bertuliskan [Stands de Restauration Familiale].


‘Bangunan di depan itu…restoran keluarga’ remaja itu bergumam dalam hati


Dia melihat tubuh kurus dari semua anak-anak itu sehingga dia berpikir akan lebih baik jika dia memberi mereka makanan yang lebih bergizi selain sepotong roti.


“Dengar, di depan sana ada restoran keluarga. Kita akan sarapan di sana, tidak masalah kan?”


Michaela mengusap-usap matanya sampai memerah karena berusaha menghapus air matanya. Setelah itu dia berlari ke depan remaja itu. Langkah remaja itu langsung terhenti karena dihadang oleh Michaela.


Fabil memanggil Michaela yang berdiri di depan remaja itu.


“Michaela, apa yang kau lakukan?”


“Michaela, jangan seperti itu!”


Stelani menghampiri Michaela sambil memintanya untuk tidak menghalangi jalan remaja itu. Namun, Michaela tidak mundur dan malah semakin mendekatinya. Melihat itu, remaja itu yang awalnya kaget akhirnya berlutut untuk menyesuaikan pandangan mata anak itu dengannya.


“Ada apa?” Remaja itu bertanya dengan senyum di wajahnya


“Kakak bukan orang jahat, iya kan?”


“Benar. Aku tidak merasa aku adalah orang yang jahat. Apakah ada masalah dengan itu?”


“Kalau begitu aku ingin kakak menyebutkan namamu”


Stelani yang berada di dekatnya langsung berteriak.


“Michaela! Jangan seperti itu, itu tidak sopan!”


“Tapi bukankah kakak ini mengajak kita makan? Itu artinya kakak ini tidak jahat dan orang yang tidak jahat akan menyebutkan nama mereka saat ditanya. Theo-niichan selalu mengatakan hal itu, ingat? Orang jahat tidak suka ditanya nama mereka tapi orang baik akan menjawab bila ditanya tentang nama mereka”


“Michaela….”


Jawaban polos dari Michaela tidak merubah raut wajah Stelani yang panik. Tetapi, remaja itu tertawa kecil sambil menunjukkan wajah tersenyumnya yang tidak kalah manis dari sebelumnya. Dia bahkan mengelus kepala Michaela dengan lembut.


“Aku minta maaf karena sudah berlaku tidak sopan. Terima kasih sudah menanyakan namaku”


“Jadi, kakak akan menjawabnya, iya kan?”


“Tentu. Salam kenal, anak manis. Perkenalkan namaku Kino, Yuki Kino. Senang bertemu  denganmu”


******