Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 70. Awal Pertarungan di Tempat Asing bag. 4



Di dalam bar [Barre des Noirs], Arkan sedang sibuk membereskan meja dan kursi yang jatuh akibat kejadian sebelumnya. Dengan gerakan yang terlihat sangat terpaksa, dia merapikan semuanya.


Sambil sesekali dia menatap pintu bar yang rusak parah dan tembok yang hancur akibat ulah Justin dan Kaito beberapa waktu lalu, semangat hidup Arkan tampaknya sudah berkurang drastis.


“Aku tidak yakin gajiku bulan ini akan baik-baik saja. Mungkin jika manager melihat ini dan mengancamku, aku harus mengancam balik dengan pisau atau pedang seperti seorang kriminal. Atau sebelum dia mengetahui hal itu, aku bisa mengirimkan surat kaleng dan surat terror agar dia tidak memotong gajiku bulan ini”


“Apa yang kau katakan barusan itu, tuan bartender?”


“……!!!”


Arkan tampak terkejut mendengar suara itu. Dia langsung menengok ke arah pintu ruangan Justin yang terbuka. Dia melihat Kaito keluar dari ruangan itu dan menutup pintu ruangan tersebut dengan santai.


“Imajinasimu benar-benar sangat liar ya, tuan bartender”


“Ini semua karena kau! Lihat hasil perbuatanmu ini!. Bahkan lantai kayu ini juga semakin kotor dengan noda darah dimana-mana! Aku benar-benar akan kehilangan gaji dan pekerjaanku setelah ini!” Arkan berkata dengan nada marah sambil menunjuk wajah santai milik Kaito


Tidak salah jika Arkan marah kepada Kaito.


Jika dilihat secara keseluruhan tempat itu, dari luar jalan sampai ke dalam bar, terdapat banyak sekali jejak dan noda darah dalam jumlah banyak. Seperti ada sesuatu yang besar diseret masuk ke dalam bar tersebut dan mengakhiri jejaknya di dalam ruangan Justin.


“Aku hanya ingin melanjutkan rencanaku saja” jawab Kaito santai


“……” Arkan terdiam


Dengan wajah pucat, Arkan mengingat kembali kejadian sebelum jejak darah itu tercipta di dalam bar tempatnya bekerja. Lebih tepatnya, dia mengingat penyebab mengapa barnya bisa hancur seperti itu.


******


Sekitar 25 menit yang lalu…


Ini dimulai ketika Kaito menendang Justin keluar hingga bagian pintu dan ujung temboknya hancur.


Setelah Kaito keluar dan pertarungan dimulai, Arkan hanya diam mematung dengan ekspresi kesal. Beberapa saat setelahnya, wajah kesal Arkan akhirnya berubah kembali menjadi nyaris tanpa ekspresi. Dia mulai bergumam dalam hatinya ketika mengendap-endap untuk bersembunyi di balik meja bar.


Isi dari pikirannya ketika mencoba mengendap-endap untuk bersembunyi iyalah kekhawatirannya akan keputusan dia meminta bantuan dari Kaito.


Selama pertarungan di luar terjadi, Arkan hanya duduk di lantai di belakang meja bar sambil meracik minuman untuk menenangkan dirinya sendiri.


“Ini mungkin terdengar gila. Di saat ada pertarungan di luar, aku masih menyempatkan diriku membuat cocktail dingin untukku sendiri. Tapi aku tidak mau mati sebelum meminum karyaku yang kubuat, jadi inilah saatnya aku menuntaskan keinginan terakhirku sebagai bartender”


Sebuah keinginan terakhir sebelum mati, itulah yang dipikirkan oleh Arkan.


Dalam situasi mencekam dan tidak tenang, Arkan berhasil membuat tiga minuman dingin di cuaca panas untuknya sendiri. Dia benar-benar bartender sejati.


“Aku menamai minuman ini sebagai mahakarya! Bersulang untuk hidup lebih baik dan kenaikkan gajiku bulan ini!”


-Dor


Suara tembakan pertama terdengar. Itu terjadi ketika dia meminum cocktail dingin pertamanya.


“Memang yang paling nikmat adalah meminumnya selagi baru saja dibuat. Kau jenius, Arkan”


Entah dia mengatakannya untuk menghibur dirinya sendiri atau dia memang begitu menikmati alkoholnya dalam situasi tegang seperti itu.


Atau opsi ketiga, dia sudah terlalu depresi dengan situasi saat ini dan memutuskan untuk memotong semua urat takutnya.


-Dor


Selang beberapa menit kemudian, terdengar lagi suara tembakan di luar.


Kali ini, dia meminum satu gelas cocktail lainnya.


“Aku pikir otakku sudah tidak berfungsi dengan baik. Kuharap minuman di gelas terakhir yang tersisa ini bukanlah yang terakhir untukku”


Bersamaan dengan sebuah teriakan keras yang terdengar, Arkan langsung berubah panik.


“Oi oi oi oi…ini pasti mimpi. Bagaimana mungkin gorilla itu benar-benar terlihat sangat lemah di matanya?! Apa Justin memang selemah itu atau orang bernama Kaito itu yang terlalu kuat? Apa ini kenyataan?! Aku bahkan melihat potongan gajiku akan sangat besar setelah ini tapi itu tidak penting!”


Arkan memberanikan diri untuk keluar dari balik meja bar dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Sambil melihat sekelilingnya, Arkan mencoba menerima kenyataan.


Di dalam hatinya, dia sudah mulai kehilangan semangat hidupnya kembali.


‘Demi semua tabunganku di bawah tempat tidur, kalau begini terus aku mungkin akan meniru tindakan tuan Nox semalam. Bukan hanya sudah diancam sebanyak dua kali hari ini…tapi aku juga bertemu dengan orang yang mungkin lebih mengerikan dibandingkan dengan si gorilla itu. Sial sekali nasib pekerja sepertiku”


Sudah tidak ingin berpikir hal yang macam-macam, dia mulai menghela napas dan mencoba mengembalikan ketenangannya kembali.


Dia bahkan berdoa dengan menyebut nama manager yang dianggapnya sebagai kasta tertinggi di dunia kerjanya.


“Manager, kumohon jangan pecat aku sekalipun tempat bobrok ini rata dengan tanah. Ini semua karena hal yang tidak terduga terjadi. Aku tau aku bodoh karena mencoba peduli pada Theo dan teman-temannya itu, tapi percayalah manager…aku tetap lebih peduli pada gaji dan cutiku dibandingkan dengan apapun di dunia ini. Kumohon jangan memecatku atau akan kudoakan kau cepat mati sebelum kau berhasil kabur dengan selingkuhanmu. Aamiin”


Setelah berdoa sekaligus mengatakan sumpah serapahnya untuk sang manager, Arkan kembali ke meja bar untuk meminum satu gelas cocktail dingin yang tersisa.


Dengan mengangkat tangan kanannya yang memegang gelas cocktail, dia mengatakan sepatah kata sebagai pembukaan sekaligus penutupan harapannya.


“Demi kenaikkan gajiku, kesehatan mentalku, keselamatan nyawaku dan demi kelangsungan hidup yang lebih baik sebelum usiaku bertambah tahun ini. Bersulang untuk diriku sendiri!”


Semua kesulitan hidup seorang Arkan akhirnya terungkap.


Suasana di luar bar tidak begitu hening. Sesekali dia mendengar ada gesekan dan sesuatu yang hancur.


Dengan keringat dan wajah pucat, dia mencoba untuk melihat keluar. Baru sekali dia mencoba melangkahkan kakinya dari meja bar menuju pintu keluar namun dia berhenti.


[Aku akan sebisa mungkin menjauhkan dia darimu]


Dia ingat kalimat yang dikatakan Kaito beberapa waktu lalu. Jelas bahwa pemuda itu mencoba sebaik mungkin untuk bertarung di tempat yang jauh dari bar agar Arkan tidak terlibat dalam bahaya.


Dengan alasan itulah, Arkan kembali terus menerus mengurungkan niatnya untuk melihat pertarungan yang terjadi secara langsung.


“Jika aku keluar, ada kemungkinan aku akan menjadi penghalang bagi pemuda bernama Kaito itu. Selain itu, bisa saja Justin akan menggunakan diriku sebagai sandera untuk membuat Kaito lengah. Aku harus tetap di sini sampai semuanya selesai”


Sebuah gagasan pemikiran yang sangat masuk akal dan sangat bisa diterima dalam situasi tersebut.


Arkan hanya bisa berdiri mematung untuk beberapa menit.


Akan tetapi, semua berubah ketika dia melihat sekeliling ruangan bar itu dan mendapatkan visual masa depan tentang wajah managernya yang akan memakinya habis-habisan.


“Ekh…tempat ini jauh lebih buruk dari semalam” gerutu Arkan dengan wajah aneh


Bersamaan dengan pengelihatan masa depannya, terdengar suara tembakan dari luar. Namun bukan hanya sekali.


-Dor…Dor…Dor


Suara tembakan itu terdengar sebanyak tiga kali dan yang lebih membuatnya hampir berteriak, suaranya terdengar cukup dekat dengan tempatnya sekarang.


“Apa itu menuju kemari?! Apa gorilla itu menembakki Kaito dan menuju kemari?!” kata Arkan sambil menengok ke arah pintu keluar dengan panik


Sudah peduli tentang apa yang dia pikirkan beberapa menit lalu soal mencoba tidak menghalangi Kaito, dia berjalan dengan cepat menuju pintu keluar yang bagiannya sudah rusak dan kayunya sudah berserakan dimana-mana.


“A…hmph!” niat awalnya ingin berteriak akhirnya gagal karena dia menutup mulutnya sendiri


Karena tidak jadi teriak, dia akhirnya teriak di dalam hati.


‘Akh! Kenapa dia malah ke sini?! Oi, kau!! Bukankah kau sendiri yang mengatakan ingin menjauhkanku dari si gorilla itu?! Kenapa malah pergi ke tempat ini lagi, dasar bodoh!!’


Melihat Kaito seperti sedang berpikir, raut wajah Arkan berubah menjadi serius.


Dia melihat Kaito mengambil kantong sampah yang ada di depan bangunan di barnya.


‘Itu…sampah yang kubuang jam 09.00 pagi tadi kan? Untuk apa benda itu?’ gumamnya dalam hati


Semakin dilihat, Arkan semakin memahami bahwa pemuda bernama Kaito itu bisa dengan mudah membuat Justin terlihat hanya besar mulut.


Dia melihat Kaito bicara untuk memancing amarah Justin dan kemudian melemparkan kantong sampah itu ke depan.


‘Mungkinkah dia melemparkan itu ke arah Justin?!’ ucap Arkan dengan raut wajah terkejut


Tindakan Kaito yang melemparnya tanpa beranjak dari tempatnya membuat Arkan menjadi penasaran. Kantong sampah itu dengan mudah disayat sempurna oleh Justin sehingga semua isinya keluar menghujani Justin.


Kesempatan itu digunakan oleh Kaito dengan baik dan langsung menembakkan kembali peluru pistol tersebut ke arah Justin.


-Dor…Dor…Dor


“Aaakh!!!” Justin berteriak sekeras-kerasnya kali ini


Teriakan Justin langsung membuat bulu kuduk Arkan berdiri.


‘Mustahil! Tidak tidak tidak tidak, ini tidak mungkin. Justin yang sombong dan bersikap seolah penguasa sekarang dibuat tidak berdaya?! Pedang di tangan Justin itu adalah pedang milik Kaito, iya kan? Apa yang sebenarnya terjadi saat aku tidak melihatnya? Pertarungan ini…sejak kapan terlihat seperti pembantaian secara sepihak begini?’ Arkan bergumam dalam hatinya dengan wajah syok


Bukan hanya sekali dia mendengar Justin berteriak dan tertembak tapi ini sudah yang kedua kalinya.


Arkan melihat Kaito berjalan mendekati Justin sambil mengatakan sesuatu yang membuatnya sulit bernapas.


“Aku merasa Theo dan tuan bartender itu terlalu melebih-lebihkan kemampuanmu. Ternyata kau lebih lemah dari sekawanan anjing liar di malam hari yang pernah kulawan sebelumnya”


Benar, kalimat itulah yang membuatnya sulit bernapas.


‘Anjing liar katanya. Dia membandingkan Justin dengan sekawanan anjing liar dan bahkan menilai dia lebih lemah dari para anjing liar?!. Yang benar saja!!’


Saat Kaito memegang pedangnya kembali, Arkan hanya bisa melihatnya dari belakang. Dia hanya tau bahwa Kaito mengangkat tangan yang memegang pedangnya itu ke atas lalu tiba-tiba suara teriakan Justin kembali menggema di seluruh area tersebut.


“Aaakh!! Tanganku!! Tanganku!!!”


“……” Kaito terdiam


“Dasar kurang ajar! Sampah tidak berguna!! Jangan jadi pengecut dan lawan aku sekarang!!”


Wajah pucat Arkan akhirnya muncul saat dirinya melihat apa yang mengalir di jalan.


“Da–darah?!” katanya sambil menutup mulutnya dengan satu tangan


Walaupun hanya melihat punggung Kaito namun siapapun pasti tau bahwa pemuda itu baru saja memotong tangan Justin hingga mengeluarkan banyak sekali darah segar di sana.


Sekali lagi dia melihat Kaito mengangkat pedangnya ke atas dan suara teriakan datang mengiringi.


“Aakh!! Dasar sial, akan kubunuh kau! Akan kubunuh kau!!”


“Jangan bercanda!!” Arkan yang berada di belakang Kaito tanpa sadar berteriak setelah melihatnya


Dia melihat pistol di tangan lainnya pemuda itu seperti diarahkan kepada Justin. Dengan cepat Arkan langsung menghampirinya dan berteriak ke arah Kaito.


“Kaito, hentikan sampai di situ! Kau akan benar-benar membunuhnya! Kau belum mengetahui informasi untuk menolong Theo dan teman-temannya. Selain itu, gorilla itu masih berhutang 5.000 Franc pada bar ini!!”


“……” Kaito terdiam tanpa ekspresi mendengar itu


“Jangan bunuh dia, kumohon! Kalau sampai dia mati dan hutangnya tidak dibayar, gajiku yang akan dipotong! 5.000 Franc itu tidak sedikit! Itu setara dengan biaya sewa kamar ditambah makan makanan lezat selama satu bulan! Aku bisa mati kalau gajiku menghilang sebanyak itu, aku akan langsung miskin!!!”


“Aku tidak tau kalau kau bisa sedingin itu, tuan bartender. Kau mirip dengan teman baik yang kukenal” ucap Kaito


“Terima kasih atas pujiannya. Jangan membunuh dia atau kau yang harus membayar hutangnya!!”


Arkan melihat Kaito menengok ke belakang dan melihatnya dengan wajah seakan ingin mengajukan protes.


“Oi, tuan bartender. Aku baru mengenalmu dan baru melawan pria bernama Justin ini kurang dari setengah jam. Aku tau tempat ini tidak mengenal hukum tapi bukan berarti kau menimpahkan hutang orang ini kepadaku!. Aku akan menuntutmu nanti!!” protes Kaito


“Kau sendiri yang bilang tempat ini tidak ada hukum jadi kau tidak bisa menuntutku, dasar bodoh!”


“……” Kaito diam dengan wajah aneh


Setelah itu semuanya seperti yang telah terjadi sebelumnya. Dia melihat kondisi Justin yang tidak berdaya sama sekali dengan kedua lengannya yang terpotong. Dia juga mendengar Kaito mengatakan hal aneh tentang betapa bingungnya dia terhadap hal yang dia lakukan.


Dari semua hal yang dia lihat dan dia dengar, yang paling membuatnya nyaris berteriak lagi adalah ketika Kaito yang awalnya berlutut untuk bicara dengannya sekarang berdiri dan menendang wajah Justin serta menginjaknya dengan kaki.


“……!!” Arkan syok melihat itu sekarang


Jantung Arkan nyaris berhenti berdetak kembali ketika Kaito memanggilnya dengan nada sinis.


“Tuan bartender–”


“……A–Apa?”


“Aku sudah cukup muak untuk bertanya padanya dan akan mulai mendengarkanmu saja. Kau bilang wanita bernama Seren itu berada di wilayah gelap, iya kan?”


“Benar” Arkan menjawabnya dengan nada tenang


“Kau juga mengatakan bahwa mereka adalah pembunuh sekaligus pedagang yang khusus menjual tubuh manusia tidak peduli dalam keadaan hidup atau mati, benar kan?”


“Be–benar”


“Kalau begitu, apa aku bisa menjual tubuh Justin untuk mendapatkan kembali kebebasan Theo dan teman-temannya kepada wanita bernama Seren itu juga?”


“Eh? Apa kau sudah gila?” Arkan menjadi lebih syok lagi mendengarnya


Kaito mengangkat kakinya dari wajah Justin lalu berbalik dan melihat Arkan dengan tatapan serius.


“Aku tanya padamu, apa aku bisa menjual tubuhnya untuk membeli anak-anak itu kembali? Seharusnya tidak ada masalah dengan itu”


Arkan hanya bisa pasrah dan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.


“Kau ini...apa kau serius kau bukan kriminal dengan pikiran begitu? Apa kau yakin kau benar-benar bukan penjahat yang menyamar ke tempat ini, Kaito”


******