
Xenon berjalan menuju tempatnya kembali bersama ketiga remaja dari dunia lain. Dia terus terdiam dan berjalan sendirian di depan.
Kaito sempat berbisik kepada Yuki bersaudara.
“Apa menurut kalian dia baik-baik saja?”
“Aku tidak yakin, Kaito-san. Aku rasa ucapan mereka sebelumnya cukup berpengaruh pada Xenon-san”
“Kalau begitu sebaiknya kita tanyakan saja padanya” usul Ryou
“Aku rasa tidak perlu. Itu masalah pribadinya, Ryou. Jika kita terlalu ikut campur, akan tidak baik hasilnya” kata sang kakak
“Begitu? Baiklah”
Xenon sempat berhenti. Melihat orang yang di depannya berhenti, ketiganya bertanya.
“Ada apa, Xenon-san?”
“Kau sakit perut?”
“Apa ada yang tertinggal?”
“……” Xenon terdiam
Untuk beberapa saat, tidak ada apapun. Tidak lama kemudian, tanpa melihat ketiga orang di belakangnya, Xenon membuka mulutnya.
“Aku harap kalian tidak terlalu memikirkan ucapan Jessie-sama dan Jene-sama barusan”
“Tidak apa-apa, Xenon-san. Itu adalah masalah pribadimu. Kami juga memiliki hal pribadi yang tidak bisa kami katakan seluruhnya padamu jadi tidak apa-apa”
“Terima kasih untuk pengertiannya”
“Sama-sama”
Satu kata dari Kino telah membuat semuanya membaik. Pada intinya, Xenon ingin menjaga privasinya sedikit lebih lama dari ketiga remaja dari dunia lain tersebut.
Mereka kembali ke tempat Xenon untuk beristirahat.
“Malam ini kau akan menginap di sini lagi? Bukankah besok kau akan menjadi penguji?” tanya Ryou
“Aku mengatakan pada Kino tadi sore mengenai hal penting yang belum bisa aku informasikan”
“Apakah itu mengenai kedua orang yang bersamamu barusan, Xenon-san?”
“Itu juga. Tapi hal penting lain”
“Kebetulan sekali, kami bertiga juga menemukan hal yang lebih penting dari yang kau duga” sambung Ryou
Keduanya duduk di sofa dan mulai berdiskusi.
******
Di ruang rapat Dewan Sihir, semua kapten termasuk Rexa dan Mark hadir dengan semua berkas mereka yang menumpuk.
“Algeria, apakah ini sudah semuanya?” tanya Mark
“Sudah, Mark-sama. Ini sudah semuanya. Total pesertanya 540 orang. Akan dibagi menjadi 8 tim sesuai nomor ruangan yang didapatkan saat mendaftar pagi ini”
Lucas memperhatikan tiap profil peserta yang didapatkan dari pendaftaran.
Memang saat diadakan pendaftaran, mereka tidak menulis apapun kecuali nama, tapi semua itu ditulis dengan sistem sihir yang berlaku jadi tanpa disadari oleh calon peserta, semua latar belakang dan kemampuan mereka telah tercatat.
Saat menyusun file berdasarkan nomor ruangan, Alicia melihat sesuatu yang tidak asing.
“Ini…bukankah yang kita temui saat ada di labirin tanaman. Tiga orang dari dunia lain yang dekat dengan Xenon”
Mendengar itu, semuanya kecuali Emilia langsung berdiri dan melihat tiga kertas yang dipegang oleh Alicia. Semuanya cukup terkejut dengan isinya.
“Kosong?!”
“Aku rasa karena mereka dari dunia lain, jadinya tidak ada apapun yang tertulis mengenai mereka” kata Rexa
“Atau ada hal seperti sihir yang melapisi mereka sehingga latar belakang mereka tidak diketahui?” tebak Mark
Tidak lama kemudian, Emilia mengernyitkan dahinya dan bicara serius.
“Kalian harus lihat data empat orang ini juga”
Emilia mengurutkan data empat peserta yang dia temukan ke atas meja. Betapa terkejutnya mereka melihat bahwa data keempatnya juga kosong tanpa latar belakang dan apapun itu.
“Apa ini?” tanya Tatiana yang kebingungan
“Ini juga data calon peserta yang akan mengikuti ujian besok. Sama halnya seperti ketiga pemuda itu, mereka berempat juga tidak memiliki hal apapun yang terdeteksi oleh sistem sihir milik Akademi”
“Bagaimana menurutmu, Lucas-sama?” tanya Algeria
Lucas melihat wajah dan nama dari keempatnya.
“Mereka…ras setengah elf ya”
“Setengah elf?”
“Benar. Memang tidak begitu terlihat, tapi rambut berwarna kuning dan perak itu adalah warna yang sering muncul di ras setengah elf. Elf normal di Negara ini normalnya memiliki rambut hitam, coklat atau kemerahan”
“Itu artinya mereka masuk tanpa menyebutkan nama asli sehingga tidak diketahui oleh sistem?” Algeria menebak
“Emily, Xenon, Tatiana dan aku” jawab Mark santai
“Begitu. Kalian bertiga harus hati-hati. Rexa, jika bertemu dengan Xenon tolong sampaikan hal ini padanya”
“Aku mengerti”
Rexa terlihat cemas. Dia memegang bros yang dipakainya.
‘Xenon, semoga besok kamu tidak akan terlibat masalah’
“Para anggota kalian mungkin perlu diberitau mengenai hal ini. Untuk anggota divisi yang menjadi pengawas, tolong sampaikan pada mereka semua untuk melakukan pengawasan sangat ketat” perintah Lucas
“Kami mengerti” jawab semuanya
Setelah menyusun berkas dan berhasil menyelesaikan laporan lain, semuanya pergi ke ruang divisinya masing-masing kecuali Mark dan Emily yang tetap bersama Lucas di dalam ruang rapat.
“Aku sudah minta salinan data ini dari Algeria. Menurut kalian, bagaimana dengan ketujuh orang ini?”
Emily dan Mark mengambil kertas tersebut.
“Emily percaya pada tiga orang ini. Mereka adalah orang yang Emily temui di labirin waktu itu dan dengan kesaksian Xenon hari ini, Emily yakin mereka bukan orang jahat. Masalahnya adalah keempat orang ini”
“Bagaimana denganmu, Mark?” tanya Lucas
Mark meletakkan kembali kertas yang dipegangnya ke meja dan terlihat serius.
“Aku belum pernah bertemu dengan penjelajah dari dunia lain itu, tapi karena Emily mengatakan semua itu, aku percaya mereka bukan orang bermasalah. Tapi aku harus akui, para half-elf ini meresahkan”
“Aku yakin kita sudah melewatkan sesuatu sehingga kita mungkin saja telah membiarkan hal tidak menyenangkan terjadi”
“Begitu, Bicara soal hal yang menyebalkan, tadi sore aku bertemu Lady Midford saat baru keluar kelas bersama Emilia”
“Bertemu Misha?” Emily langsung terlihat kesal
“Gadis arogan itu masih merasa dirinya lebih kuat darimu?” tanya Mark
“Entahlah. Hanya saja dia ingin sekali bertemu Rexa. Aku rasa dia ingin mendapatkan simpatinya kembali”
“Huh! Emily benci padanya sejak dulu. Kenapa Marquis begitu bodoh sampai mau menjodohkan anaknya yang hebat dengan gadis egois dan seenaknya begitu?! Padahal Rexa lebih cocok dengan Emilia, benar kan?” gerutu Emily
“Kamu anak usia 11 tahun yang sudah mengerti dunia orang dewasa rupanya” kata Mark santai
“Emily ini anak 11 tahun yang istimewa! Dilihat juga sudah ketauan bahwa dia itu nenek sihir!”
“Aku mengerti. Kemampuanmu itu memang lain dari yang lain, karena itu kamu diberikan hak istimewa untuk masuk ke Akademi Sekolah Sihir di usia muda”
Emily terlihat senang mendengar kalimat Mark. Lucas menatap kedua orang di depannya dengan wajah serius.
“Karena tidak semua anggota divisi yang aku masukkan dalam rapat tadi, aku ingin kalian melakukan tugas sebagai penguji sekaligus pengawas ujian besok”
“Terlepas dari adanya pengawas yang membantu kalian nantinya, aku memberikan kalian izin khusus untuk melakukan ‘tindakan berat’ jika terjadi hal yang tidak diinginkan” seru Lucas pada keduanya
“Antisipasi maksudmu?” tanya Mark
“Benar. Pikiranku sama seperti kalian, aku menaruh rasa curiga tinggi pada keempat orang ini”
“Haruskah aku memakai Artifact yang aku miliki?”
“Tentu. ‘Tindakan berat’ kuizinkan dan semua itu akan menjadi tanggung jawabku”
“Baiklah kalau begitu”
“Emily, jika ada informasi yang bisa kamu dapatkan, tolong langsung sebarkan kepada lainnya di saat itu juga”
“Mengerti”
Lucas menatap ketujuh berkas di atas meja.
‘Tampaknya besok akan menjadi hal yang tidak mudah’
******
Sementara itu, ketiga remaja dari dunia lain sedang melakukan rapat penting bersama Xenon.
“Xenon-san, kami ingin membahas hal penting terkait masalah yang mungkin bisa membantumu” kata Kino
“Hal penting?”
“Ini berhubungan dengan pelaku yang menculik semua orang yang hilang dan hal itu ada hubungannya dengan kejadian di masa lalu”
Xenon terkejut mendengarnya. Tanpa basa-basi, Ryou yang sudah terlihat serius mulai membuka satu per satu hal penting yang telah mereka dapatkan.
“Xenon, aku tidak tau kau menyadari semua ini atau tidak. Tapi jika menghubungkan semua cerita dan kejadian yang pernah kau katakan pada kami, maka semuanya cocok”
“Mengenai pelaku yang terlibat dan kemungkinan dalang di balik semua ini, kami sudah cukup menemukan benang penghubungnya”
“Apa maksud–”
“Pelakunya ada di dalam keluarga bangsawan dan pihak yang terlibat adalah ras setengah elf dan beastman”
******