Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 23. Permata di Dunia Malam bag. 8



Di sebuah ruangan dengan jendela dan tirai putih yang terbuka lebar, ada dua orang yang sedang duduk di kursi kayu yang mana terdapat tiga cangkir beserta sebuah teko teh dan penuh dengan makanan di atas meja kayunya. Seseorang dengan sebuah pedang tanpa sarung terpasang di sabuk pengikat miliknya dan seseorang yang menuangkan teh panas ke dalam sebuah cangkir di atas meja. Terdapat sebuah pedang dengan sarung di samping tempat tidur. Di atas tempat tidur itu, ada seseorang yang tertidur. Angin yang berhembus dan sinar matahari pagi yang masuk dari jendela yang berada tepat di dekat tempat tidur itu seperti tangan yang membelainya dengan lembut dan membangunkannya.


“…Mmm… ini…”


Matanya mulai terbuka dan melihat dengan jelas. Dia melihat atap ruangan yang asing untuknya. Sesaat dia masih berpikir dan tenang. Kemudian tidak lama setelahnya, teriakan keras dari orang tersebut keluar dari


mulutnya dan secara reflek bangun dengan wajah sangat panik.


“Kino!! Kaito!!”


“Kami di sini” keduanya menjawab serentak


Ryou terdiam dan melihat ke sampingnya kirinya dan di sana ada dua orang yang duduk di kursi kayu, Itu adalah Kino dan Kaito yang menunggu Ryou bangun. Kino langsung berdiri dari kursi dan menghampiri Ryou.


“Selamat pagi, Ryou. Tidurmu nyenyak?”


“……” Ryou melihat wajah Kino yang tersenyum


Rasanya seperti ada sesuatu yang mengetuk hatinya dan membuatnya tersenyum begitu senang. Wajah Ryou tersenyum ceria melihat Kino ada di hadapannya dan tidak mengalami luka seperti semalam. Sulit dipercaya jika itu adalah mimpi karena mereka jelas mengalami semua itu. Kino juga terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi dia menahannya. Pada akhirnya, Kino bersikap seolah semua baik-baik saja.


“Sebaiknya Ryou bangun dan kita sarapan dulu. Baru setelah itu kita bicarakan semua hal yang terjadi”


Kino memegang tangan sang adik dan menggandengnya. Di meja kayu tersebut sudah tersedia berbagai makanan dan secangkir teh untuk setiap orang. Setelah kedua kakak beradik itu duduk, mereka bertiga makan dengan tenang.


Ryou memperhatikan ruangan tersebut dan setiap sudutnya. Tempat itu memang tidak sama dengan sebelumnya. Hanya memiliki sebuah tempat tidur, memiliki tiga kursi dan sebuah meja kayu, sebuah lemari kecil di samping kiri pintu masuk dan jendela lebar dengan tirai putih.


“Tempat ini berbeda dengan tempat sebelumnya. Dimana kita sekarang?” Ryou bertanya sambil memegang garpu


“Ini lantai dua toko [Boulangerie Rassen]. Ryou tidur selama setengah jam sejak kita kembali ke ‘dunia siang’ ini. Jadi, sekarang jam setengah tujuh pagi. Aku senang Ryou bangun di saat yang tepat untuk sarapan" Kino menjawab sambil meletakkan roti di piring Ryou


“Bou… toko roti maksudnya? Jadi, di bawah ruangan ini adalah toko roti? Bagaimana bisa?”


“Aku memohon pada pemilik toko ini untuk meminjamkan ruangan kosong sampai kau bangun. Tidak ku sangka selain meminjamkan kamar tamu, mereka memberikan kita sarapan gratis seenak ini. Kau bisa menganggap ini sebuah keberuntungan” Kaito bicara sambil memegang cangkir teh


“Tapi, sejujurnya aku sedikit tidak enak pada pemilik toko karena sudah membuat gaduh saat hari masih pagi, Kaito-san”


“Itu bukan salahmu, Kino. Selain itu dengan kondisimu sebelumnya, mustahil kau bisa membawa Ryou ke luar, kan? Selain itu karena kegaduhan tadi pagi, tokonya jadi didatangi banyak sekali orang dan pada akhirnya orang yang datang jadi membeli roti dari toko ini. Bisa dibilang kita membantu bisnis mereka. Karena itu kita anggap saja ini keberuntungan”


“Be…begitu ya”


Kino mulai berpikir bahwa pola pikir Kaito sekilas mirip sekali dengan adiknya. Ryou yang mendengarkan pembicaraan mereka hanya bisa diam beberapa saat sambil mengunyah makanannya. Setelah menelannya, dia bertanya tentang alur pembicaraan mereka berdua.


“Jadi, apa maksudnya dengan kegaduhan tadi pagi? Hanya aku yang tidak tau apapun di sini. Menunggu selesai sarapan hanya akan menbuang waktu. Aku ingin dengar ceritanya sekarang” Ryou melihat dengan tatapan tajam ke arah keduanya


“……”


Keduanya terdiam sesaat sampai akhirnya Kaito meletakkan cangkir tehnya dan mulai membuka mulutnya.


“Aku yang akan menjelaskannya padamu. Tentang semua hal yang tidak kau ketahui setelah kau pingsan sampai setelah kita berhasil keluar dari ‘dunia malam’ itu”


******


Mundur setengah jam yang lalu, saat matahari terbit dan semua menjadi normal kembali.


Kaito melihat waktu yang ditunjukkan pada jam saku miliknya pukul 06.00. ‘Dunia malam’ telah berakhir dan semua kembali normal. Setelah memasukkan jam sakunya kembali, dia mulai menatap langit dengan senyuman dan napas lega. Baru setelah itu dia menyadari bahwa dia hampir melupakan sesuatu yang tidak kalah penting.


“Aku hampir lupa!! Kino, Ryou!!”


Kaito berbalik sambil memasukkan pedangnya ke sabuk pengikat di pinggangnya, pedang lainnya masih digenggam di tangannya. Dia berlari ke bangunan tempat kedua kakak beradik itu berada. Saat dia membuka pintu, dia melihat mereka dikelilingi kerumunan orang.


“Kenapa dengannya?”


“Ada apa?”


“Apa dia baik-baik saja, nak?”


Kerumunan itu mengelilingi mereka berdua. Dia melihat sekeliling tempat itu dan menyadari bangunan itu adalah toko roti yang baru saja membuka tokonya. Saat dia melihat kerumunan itu, dia menyadari bukan saatnya terpaku. Kaito langsung mendekati kerumunan dan seketika kegaduhan dimulai. Orang-orang di sekitarnya yang melihat ke belakang langsung berteriak seketika dan mundur. Mereka begitu panik melihat Kaito yang membawa pedang datang mendekat. Bahkan pemilik toko sampai terlihat pucat karena Kaito dianggap sebagai perampok yang hendak merampok di pagi hari.


“To–tolong jangan bunuh kami. Akan saya berikan uangnya, tolong jangan bunuh kami. Kau…kau boleh mengambil semua uang yang ada di sini…Hiii”


“……”


“Saya punya dua anak dan istri yang harus makan”


“……”


“Kalau tau begini, aku tidak akan pergi ke toko ini…Hiii”


“……”


Wajah Kaito saat mendengar hal itu langsung berubah aneh mendengar orang-orang itu bicara seakan sedang dalam bahaya. Dia melihat kerumunan orang-orang itu begitu gemetar dan takut seperti marmut yang hendak dimakan oleh kucing liar. Sekarang, Kaito bahkan bisa melihat wajah kecil marmut yang menangis untuk menggambarkan ekspresi orang-orang itu dalam bayangannya.


‘Kenapa jadi seperti melihat sekumpulan marmut yang akan dibunuh?. Memang aku begitu menakutkan?’ Kaito bergumam dalam hati sambil memasang wajah datar tanpa ekspresi


Kaito juga sempat melirik pintu masuk dan dia melihat banyak sekali orang-orang berkumpul dengan wajah takut. Bahkan, beberapa pemilik toko di sekitar tempat itu membawa benda tajam dan melihat ke arahnya dengan tatapan seakan sedang menatap seorang penjahat. Semua keributan itu sedikit berubah alurnya saat  seseorang dari dalam kerumunan itu memanggil namanya.


“Kaito-san? Apa kamu di sana, Kaito-san?”


“Kino. Apa kau baik-baik saja?”


Kaito mendekati ke arah kerumunan orang-orang di dalam. Pemilik toko yang ketakutan itu beserta semua orang yang berkumpul di dalam langsung ke sisi paling pojok toko dan gemetar sambil mengamati situasi mereka.


Kaito mencoba untuk mengabaikan mereka walaupun sepertinya tatapan berbagai ekspresi sedang mengarah padanya. Dia melihat Kino yang sedang memangku Ryou yang masih belum sadarkan diri.


“Apa Ryou baik-baik saja?” Kaito berjongkok sambil memeriksa denyut nadinya


“Ryou masih belum bangun. Saat ‘dunia malam’ berakhir tiba-tiba bangunan tempat kami berada berubah menjadi toko ini. Apakah Ryou baik-baik saja, Kaito-san?”


Kino terlihat begitu khawatir dengan keadaan sang adik, namun dia melihat senyuman di bibir Kaito.


“Semua baik-baik saja. Seluruh lukanya tidak ada dan dia hanya tertidur karena lelah. Jangan khawatir”


“Syukurlah” Kino menghela napas lega


Tidak lama setelah itu, Kino baru menyadari bahwa Kaito masih membawa pedang tanpa sarung di tangan kirinya. Dia juga melihat banyak orang yang gemetar ketakutan di pojokan dan banyak sekali tatapan aneh dari luar toko. Sekarang, situasi mereka benar-benar di luar dugaan.


“Umm… Kaito-san, kenapa pedang itu?”


“Ini pedang milik Ryou yang kupinjam darinya”


“Sarung pedangnya…masih terpasang di sabuk pengikat, ya?” Kino melihat ke sabuk pengikat Ryou lalu menatap Kaito dengan tatapan aneh


“Karena aku hanya butuh pedangnya jadi aku tidak mengambil sarungnya. Aku akan membawa Ryou, karena itu sebaiknya kita keluar dari sini. Kita harus pergi sebelum keadaan lebih kacau lagi. Aku merasa orang-orang ini memiliki masalah serius dengan pikiran mereka. Kau lihat mereka sudah berisik pagi-pagi, kan?”


Kino mulai berpikir bahwa Kaito miliki sifat acuh dengan level yang cukup tinggi. Bahkan dengan situasi yang sudah bisa dilihat penyebabnya, pelaku utamanya justru masih belum menyadari hal itu.


“Sebenarnya Kaito-san… jika kamu ingin tau, penyebabnya adalah Kaito-san yang membawa pedang itu bersamamu. Apa masih belum menyadarinya?”


“……”


Kaito terdiam sesaat dan melihat tangan kirinya. Setelah itu melihat sekumpulan orang-orang di pojokan yang terlihat seperti marmut, lalu terakhir melihat ke luar. Selesai melihat semua di sekitarnya, dia melihat wajah Kino yang terlihat malu sekali sambil tersenyum.


“Ini di luar dugaan”


Setelah itu, Kino berdiri dan minta maaf pada pemilik toko dan semua orang di sana. Dia mengarang cerita bahwa dia dan adiknya sedang mengantri di barisan belakang namun, karena sang adik merasa pusing akhirnya dia pergi ke sisi lain toko dan adiknya pingsan. Tentu saja itu cuma karangan dan tidak bisa membuat mereka semua percaya. Hanya saja setelah melirik ke arah Kaito yang menatap mereka, mereka tanpa pikir panjang mempercayai hal itu.


******


Di ruang kamar tamu, banyak ekspresi tercipta dari wajah ketiga orang itu. Kino dan Ryou masih mendengarkan cerita Kaito tentang kejadian pagi ini.


“Dan begitulah. Karena mereka masih menatapku dengan wajah seperti marmut yang akan diterkam hewan buas, aku memanfaatkannya untuk meminjam ruangan kosong. Tanpa banyak bicara pemilik toko ini langsung mengantarkan aku dan Kino ke ruangan ini. Lalu, mereka juga memberikan semua sarapan mewah ini”


Kaito bicara sambil meneguk teh yang baru selesai dituangkan oleh Kino. Mendengarkan penjelasan Kaito, Kino hanya tersenyum pasrah dan tidak banyak mengatakan apapun. Sedangkan Ryou mulai terlihat memerah seperti kepiting rebus yang sudah matang.


“Dasar bodoh!! Jadi kegaduhan yang terjadi itu karena ulahmu!! Apanya yang memohon kepada pemilik toko!!. Ini seperti kau sudah mengancam mereka, dasar tidak tau diri!!”


Dalam bayangan Kaito saat melihat Ryou, dia melihat kalau kepiting rebusnya berubah menjadi wajah kucing liar yang akan mencakar wajahnya. Desisan dari kucing itu juga terdengar di telinga Kaito saat melihat wajah Ryou.


‘Aku sudah bilang aku akan punya ailurophobia karena anak ini’


Mencoba menyingkirkan bayangan dan pikirannya, Kaito menjawab dengan sangat santai.


“Tapi, bukan aku yang meminta mereka membawakan kita sarapan. Lagipula ini semua gratis. Kau tidak boleh menyia-nyiakan makanan gratis yang diberikan dengan sepenuh hati oleh mereka”


“Kau pikir mereka memberimu dengan senyum ceria di pagi hari?! Katakan padaku seperti apa wajah mereka saat mengantarkan ini?”


“Mereka menangis”


“Sudah ku duga kau mengancam mereka, dasar sosiopat!! Akh, ini membuatku gila. Padahal menghadapi makhluk tidak jelas dan kambing sialan itu saja sudah membuatku kesal. Ternyata menghadapi makhluk sosiopat sepertimu bisa membuat umurku pendek!!”


Kino berusaha menenangkan emosi adiknya.


“Ryou, kamu baru saja bangun. Habiskan sarapannya dulu. Setelah ini, ada hal penting lain yang harus dibicarakan”


“……” Ryou hanya menatap kakaknya dan diam


Kaito melihat jam saku yang ada di saku dalamnya dan waktu menunjukkan pukul 07.05. Jam saku itu tidak disimpan kembali melainkan diletakkan di atas meja. Setelah selesai sarapan, Kino menarik napas panjang dan mengambil permata dalam sakunya.


“Kaito-san, ini permata milikmu”


Kino mengeluarkan permata ungu tersebut dan meletakkannya di depan Kaito. Kaito melihat permata itu tanpa menyentuhnya.


“Permata ini adalah ingatanmu Kaito-san. Sebelumnya, Kaito-san mengatakan bahwa setelah menyentuhnya maka permata itu akan masuk ke dalam tubuhmu dan Kaito-san akan langsung pergi dari tempat ini menuju lokasi kepingan lainnya berada. Aku merasa sekarang adalah saatnya kita untuk berpisah” Kino tersenyum sambil menatap mata Kaito


Ryou yang terdiam melihat itu akhirnya bicara.


“Kau sudah berjuang selama ini. Kami memang hanya mengenalmu selama kurang dari dua hari, tapi berkatmu aku dan kakakku masih hidup sampai sekarang. Kau harus cepat pergi dari tempat berbahaya ini dan mengembalikan seluruh ingatanmu”


“Lalu, bagaimana dengan kalian?”


Kaito melihat kedua remaja yang ada di hadapannya tanpa ekspresi. Tapi, di lubuk hatinya dia merasakan sesuatu yang membuatnya sesak. Dia tau bahwa kedua remaja itu bahkan belum menemukan cara untuk kembali ke tempat asal mereka. Berkat taruhan nyawa mereka pula permata ini bisa didapatkan. Kaito merasa dia memiliki hutang budi yang terlalu besar untuk ditinggalkan dan rasa bersalah menyelimutinya jika itu diabaikan. Kino tersenyum dan mengeluarkan jam saku miliknya di atas meja itu.


“Kami tidak akan apa-apa. Pada dasarnya, jam saku inilah yang membawa kami. Jika jam saku ini bisa membawa kami ke tempat yang tidak diketahui seperti ini, itu artinya pasti ada cara untuk kembali”


“Selain itu meskipun aku sudah muak dengan ‘dunia malam’ itu, jika memang petunjuknya ada di sana, suka atau tidak, aku dan Kino harus melakukan yang terbaik untuk menemukannya dan selamat”


Mendengar hal itu, Kaito langsung berdiri dari tempatnya dan bicara dengan nada tinggi.


“Kalian hampir mati karena permata ini!!. Jika saat itu kalian mati, kalian tidak tau betapa beratnya beban yang harus ku tanggung!! Aku… untuk pertama kalinya aku bisa mempercayai orang lain. Selain itu, kalian adalah orang yang sudah menyelamatku. Aku tidak ingin kalian terus mempertaruhkan nyawa seperti yang sudah kualami!”


“Lalu kau mau menyia-nyiakan usahaku dan kakakku untuk permata ini, hah!!. Asal kau tau, di mataku permata ini hanya sebuah batu tidak berarti yang nyaris membuat nyawa kami berdua melayang, tapi ini berbeda di matamu. Benda kecil ini sangat berarti bagimu sampai kau mau terus menerus terjebak di tempat mengerikan itu dan bertarung dengan taruhan nyawa. Jangan mencampur masalahmu dengan kami!”


Ryou jadi ikut tersulut emosi. Pada dasarnya, mulutnya itu memang pedas. Tapi argumennya kali ini adalah kenyataan yang harus diterima mereka bertiga.


Dalam hati ketiganya, pertemuan mereka yang tidak terduga itu adalah suatu takdir yang sangat berarti. Mereka menjadi dekat, saling berbagi masalah bersama, saling percaya, saling tolong menolong dan itu semua dilakukan tanpa adanya maksud dan tujuan selain rasa peduli satu sama lain. Di dunia manapun, tidak akan pernah ditemukan suatu ikatan seperti ini dan mereka tau itu. Sejak awal kedua kakak beradik itu sangat mempercayai Kaito, begitu pula sebaliknya. Kaito begitu mempercayai mereka hingga rela melakukan apapun untuk melindungi keselamatan mereka.


“Jangan mencoba menjadi pahlawan di saat kau sendiri membutuhkan pertolongan, Kaito. Kau seharusnya mengetahui hal itu lebih baik dari kami”


Ryou mulai tenang dan menatap mata Kaito dengan serius. Kata-kata itu seperti tusukkan pisau yang membuat dadanya terasa sesak. Kaito mengakui dia tidak akan bisa mendapatkan permata itu tanpa bantuan mereka. Dia membutuhkan pertolongan mereka untuk itu. Semua yang Ryou ucapkan itu benar. Kaito terdiam dan duduk kembali tanpa membalas perkataan itu. Wajahnya tertunduk tanpa kata dan Ryou tidak mau mengatakan apapun lagi. Wajahnya tampak begitu kesal. Di saat seperti ini, Kino mencoba menenangkan Kaito.


“Kaito-san, ini tidak seperti kami ingin berpisah denganmu. Aku sudah mengatakannya sejak awal bahwa aku dan adikku merasa sangat aman bila bersamamu. Tapi, Kaito-san juga tau bahwa kita semua memiliki tujuan yang berbeda. Sekalipun jam saku ini memiliki suatu hubungan dengan Kaito-san, kurasa hal itu sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi”


“……”


“Kaito-san mengatakan bahwa kami menyelamatkanmu, tapi justru kami berdua yang selalu diselamatkan olehmu. Kaito-san melakukan yang terbaik untuk kami, bahkan mau mendengarkan permintaan egoisku. Semua itu benar-benar berarti. Seperti yang dikatakan Ryou, jangan membuat semua usaha kami sia-sia”


“……”


“Selain itu, mungkin saja jika Kaito-san pergi ke lokasi lain, kami juga akan ikut pergi ke tempat dimana petunjuk untuk kami berada. Semua kemungkinan itu pasti ada, kan?”


Kaito mulai mengangkat kepalanya dan melihat ke arah mereka. Hal pertama yang dilihatnya adalah senyuman dari wajah Kino kemudian dia melihat ke arah wajah kesal Ryou yang menatapnya lurus.


“Kau dengar baik-baik Kaito, yang mengalami hal aneh ini bukan hanya kau seorang sekarang. Kau sudah bertemu dengan dua orang lainnya yang memiliki masalah serius untuk menemukan cara pulang. Artinya kau sudah memiliki rekan senasib. Kalau memang seperti yang pernah kau katakan bahwa jam saku ini ada hubungannya denganmu, percaya saja bahwa kau akan melihat kami lagi.”


“Ryou benar, Kaito-san. Jika takdir bisa menuntun kami bertemu denganmu sekali, takdir pasti akan menuntun kami lagi padamu”


Hati Kaito menjadi tenang. Kalimat itu adalah kalimat yang ingin didengarnya.


[Jika takdir bisa menuntun kami bertemu denganmu sekali, takdir pasti akan menuntun kami lagi padamu]


“Aku…mengerti. Kuharap kita bisa bertemu lagi. Tolong…jaga diri kalian sampai kita bisa bertemu lagi”


Senyuman terlihat dari mata Kaito. Kino dan Ryou membalasnya dengan senyuman hangat. Ini seperti sebuah perpisahan indah tanpa penyesalan. Dan roda takdir mereka mulai berputar.


**


Kaito memasang sabuk pengikat pedangnya lagi. Pada akhirnya pedang miliknya dibiarkan tanpa sarung pedang sejak miliknya yang pertama hilang. Kino dan Ryou berdiri untuk mengantarkan kepergian Kaito. Kaito melihat jam saku miliknya sebelum dimasukkan kembali ke dalam saku dalam jubahnya. Waktu menunjukkan pukul 07.30 saat itu. Setelah Kaito selesai dengan barang-barangnya, tibalah waktu mereka mengucapkan salam perpisahan kepada kedua kakak beradik itu.


“Jika pemilik toko ini mencariku–”


“Kami akan mengatakan Kaito-san pergi dengan melompat dari jendela. Jangan khawatir”


“Kalau kalian kelaparan, bagaimana dengan uangnya?”


“Yang jelas aku tidak akan melakukan tindak kriminal seperti yang kau lakukan selama di sini. Ingat itu!. Aku tidak ingin disamakan dengan sosiopat sepertimu!” Ryou langsung menjawab dengan ketus


Kaito hanya tersenyum masam. Ryou menghampiri Kaito dan mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Kaito.


“Terima kasih untuk semuanya, Kaito. Dan kau juga harus ingat, aku akan memberikan satu pukulan dan satu tinju padamu ketika kita bertemu kembali. Kau catat itu, Kaito”


Ryou menjabat tangan Kaito sambil memasang senyum sinis. Kaito tersenyum senang dan menjabat tangan itu sambil menjawab dengan nada meledek.


“Aku berharap kau hilang ingatan saat kita bertemu lagi nanti”


“Cih!”


Kaito melihat Kino yang hanya tersenyum sambil menahan air matanya.


“Aku ingin mengantarkan Kaito-san dengan senyuman. Setelah itu, aku akan menangis bersama Ryou”


“Aku tidak mau menangisi dia!”


Ryou dengan wajah memerah berteriak sambil menunjuk wajah Kaito dengan jarinya. Kaito hanya bisa tertawa dan memeluk mereka berdua.


“Aku sangat senang bisa bertemu dengan kalian. Kalian adalah orang yang berharga untukku. Terima kasih untuk semuanya, terima kasih banyak”


Kino dan Ryou tidak bisa membohongi diri mereka. Tentu perpisahan itu begitu menyedihkan, mengingat mereka menghadapi situasi hidup dan mati bersama, saling beradu argument dan saling mendukung satu sama lain.


“Su–sudah hentikan itu. Jika kau terus berlama-lama di sini, kau hanya akan membuang-buang waktu. Lagipula, aku dan Kino harus tidur untuk menghadapi malam yang menyebalkan dan menyusun rencana. Cepat pergi sana!” Ryou mendorong Kaito dan duduk di atas tempat tidur


Kaito hanya tersenyum dan berjalan ke depan meja kayu di sampingnya. Permata ungu itu ada di atas meja. Kaito sudah mempersiapkan mentalnya. Kino memanggilnya sebelum Kaito menyentuh permata itu.


“Kaito-san…”


“……”


“Jangan lupakan kami dan jaga dirimu baik-baik, ya”


“Kalian juga. Jaga diri kalian. Terutama kau, Kino. Aku berharap kau bisa bersabar menghadapi adikmu yang galak seperti kucing liar dengan mulut pedasnya itu”


“Jangan sembarangan kau, ya! Cepat pergi sana sebelum kulempar kau dengan sepatuku!!”


Ini tidak akan ada habisnya. Seperti, Kaito memang sengaja mengulur waktu untuk berpisah. Tapi, pada akhirnya dia harus melakukannya. Kaito menyentuh permata itu dan cahaya yang terang tiba-tiba saja menerangi seluruh ruangan itu.


Ada bayangan yang dilihat Kaito dalam cahaya tersebut. Seorang anak kecil yang sedang bermain di sebuah kota yang ramai. Banyak sekali orang-orang yang tersenyum mengelilingi anak tersebut sampai akhirnya ada sepasang suami istri yang menjemput anak itu dan menggandeng tangannya untuk pergi bersama mereka. Pada awalnya, wajah kedua suami istri itu terlihat buram hingga semakin lama wajah keduanya semakin jelas. Lalu, tidak lama setelah itu seluruh bayangan ingatan itu menghilang.


“Ini… ingatanku? Ingatan tentang masa kecil…ingatan tentang kedua orang tuaku?”


Permata ungu itu adalah kepingan ingatannya tentang saat dia bermain bersama kedua orang tuannya. Kaito berhasil mengingat kembali wajah kedua orang tuanya. Kaito diam di tempat dan tanpa disadari, air matanya jatuh dari kedua matanya. Ada perasaan yang sangat dirindukan olehnya. Itu adalah kedua orang tuanya. Dia tidak ingat apakah mereka masih hidup atau tidak, tapi dia berhasil mengingat wajah mereka. Momen yang sangat mengharukan untuk Kaito, sampai sebuah suara terdengar dan menghancurkan momen itu.


“Oi!! Apa yang kau lakukan di sana? Kau jadi pergi ke tempat ingatanmu berada atau tidak? Kaito!”


“……!!!”


Kaito mendengar suara Ryou dan dengan cepat menengok ke sisi kiri. Dia jelas melihat kedua kakak beradik yang harusnya sudah ditinggalkan olehnya masih berada di dekatnya. Dia masih berdiri di ruangan itu dan melihat ke atas meja. Permata itu telah hilang. Tapi, wajahnya hanya bisa menunjukkan ekspresi syok.


“Kaito-san? Kenapa masih di sini?” Kino menatap wajah Kaito dengan bingung


“……”


Kaito terdiam beberapa saat dan menyadari sesuatu. Hal yang sangat mustahil terjadi hampir di setiap perjalanannya itu sekarang terjadi.


“Sepertinya…kita akan bersama sedikit lebih lama lagi…”


“Jangan bercanda! Kami sudah mengusirmu kan? Kaito, apa kau masih mau mengulur waktu lagi?”


“Bukan. Kupikir hal yang aneh kenapa aku masih ada di sini setelah permata itu masuk ke dalam tubuhku. Tapi sekarang aku mengerti. Sepertinya, masih ada permata ingatanku yang lain di tempat ini dan aku masih harus menemukannya”


“…Eh?” kedua kakak beradik itu terkejut dan tidak bisa berhenti menatap Kaito dengan tatapan aneh


“Sepertinya, pencarianku di ‘kedua dunia’ ini masih belum selesai. Karena itu aku masih di sini”


Pikiran kedua kakak beradik itu langsung kosong. Memang benar, permata di atas meja sudah hilang. Kaito sendiri juga mengatakan bahwa setelah permata itu masuk ke tubuhnya, dia akan secara otomatis berpindah ke lokasi lain. Karena dia masih berdiri di hadapan mereka, artinya memang ada lebih dari satu kepingan ingatan Kaito di tempat ini. Seketika keadaan di ruangan itu menjadi sangat hening. Hanya suara dalam pikiran Ryou yang menggambarkan suasana aneh tersebut.


‘Untuk apa drama yang tadi kita semua lakukan? Kembalikan semua rasa malu itu padaku sekarang’


******