Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 383. Masa Lalu Xenon



“Aku adalah anak dari hasil perselingkuhan antara Marquis van Houdsen dengan pelayannya sendiri. Ibuku adalah pelayan keluarga tersebut sebelum akhirnya menikah dengan Marquis”


“Ibu adalah kalangan rakyat biasa. Aku tidak tau mengenai hal itu sampai di hari ulang tahunku yang ke-6”


Xenon sedikit menceritakan masa lalunya.


“Awalnya hubunganku dengan Rexa-sama baik-baik saja dan kami terlihat layaknya saudara kandung. Aku dan beliau berbeda 2 tahun”


“Bros yang aku miliki adalah hadiah ulang tahun dariku untuk Rexa-sama. Rasanya, setelah mengetahui kenyataan itu, aku selalu merasa begitu…sakit”


“Xenon-san…”


Xenon bercerita, “Awalnya aku dan Rexa-sama berpikir bahwa kami memang memiliki dua ibu. Tidak peduli siapa ibu kami, kami berdua sangat dekat. Nama ibu Rexa-sama adalah Vexia-sama”


“Beliau tidak pernah dekat denganku dan selalu menjauhiku tanpa bicara apapun. Ibuku bernama Axelia. Selama ini aku hanya tau bahwa ibu adalah istri kedua setelah Vexia-sama”


“Latar belakang ibu tidak pernah aku ketahui sampai akhirnya ketika pesta ulang tahunku yang ke-6, aku yang saat itu ingin memberikan kue kepada ayahku tanpa sengaja mengotori gaun Vexia-sama”


Xenon mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Vexia dari ingatannya.


[Dasar anak pelayan! Darah kotor tidak tau diri! Inilah kenapa aku sangat jijik dengan anak dari wanita murahan dan mantan pelayan kotor!] 


Kalimat itu adalah kalimat yang sampai sekarang menorehkan luka begitu dalam untuk Xenon. Karena kalimat itu juga, berita mengenai isu perselingkuhan menyebar di kalangan bangsawan, bahkan terdengar sampai ke telinga raja.


Pandangan sosial semua orang kepada Marquis mengalami kemunduran beberapa bulan sejak kejadian itu. Bagaimana tidak, semua itu dilakukan di depan umum saat pesta ulang tahun Xenon.


Kaum bangsawan tidak akan menolak undangan seorang Marquis yang sudah dipastikan beratus-ratus kepala keluarga dari pihak bangsawan maupun kerajaan yang datang.


Lebih tragisnya lagi, istri pertama sang Marquis-lah pelakunya. Tanpa pikir panjang dan emosi dia melampiaskan dan mengatakan semua itu di depan umum.


Xenon bercerita bahwa sempat terjadi pertengkaran luar biasa setelah pesta antara ayahnya dengan ibu tirinya itu.


Ibu kandung Xenon, Axelia hanya bisa memeluk dirinya di dalam kamarnya sambil menangis. Xenon bahkan mengingat kalimat sang ibu yang menangis tersedu-sedu.


[Xenonku sayang, kamu bukanlah darah kotor. Kamu adalah harta ibu yang paling ibu cintai di dunia ini. Kamu adalah permata, sayangku]


[Dunia ini indah karena kamu lahir sempurna untuk ibu. Hiks, jangan pikirkan semua itu ya. Jangan pernah berpikir kamu tidak dicintai]


[Biarpun mereka berpikiran buruk, ibu akan berada di pihakmu sampai kapanpun]


Saat menceritakan semua itu, ekspresi sedih dan mata yang berkaca-kaca terlihat. Xenon seakan menahan rasa sakit saat menceritakan semua itu kepada ketiganya.


“Sejak itu, hubunganku dengan Rexa-sama menjauh”


“Para pelayan kediaman itu awalnya hanya diam, namun setelah kejadian itu mereka mulai membicarakan ibuku sebagai wanita perebut suami orang dan wanita licik”


“Di dalam ingatanku, hanya ada satu pelayan yang begitu setia pada ibuku. Tapi aku tidak tau bagaimana keadaannya sekarang sejak aku tidak pernah pulang sekalipun ke sana”


“Hubungan persaudaraan kami berdua seketika berubah menjadi orang lain. Kami tidak lagi dekat dan Rexa-sama dikirim ke akademi beberapa tahun kemudian”


“Aku menyusul ke akademi karena paksaan dari ayahku melalui rekomendasi dari Rexa-sama dan meninggalkan ibuku di kediaman penuh neraka itu”


Ketiga remaja dari dunia lain itu mulai mengerti sekarang. Setidaknya Ryou jadi paham dengan apa yang dirasakan oleh Jessie dan Jene saat mereka memohon padanya untuk bisa dekat dengan Xenon di kantin.


“Aku mulai berpikir bahwa aku membenci kaum bangsawan” ungkap Xenon


“Tapi kau adalah putra bangsawan dari keluarga pahlawan” kata Kaito menepis


“Apa gunanya jika itu hanya akan membuatmu repot? Ibuku tidak pernah dipandang serendah itu dan ironisnya itu terjadi di hari ulang tahun anaknya sendiri”


“Ayahku adalah orang yang dingin dan tidak pernah menunjukkan ekspresinya pada kami berdua. Bahkan saat dia dan istri pertamanya itu bertengkar, hal yang mereka debatkan adalah status sosial dan pandangan keluarga lain terhadapnya”


“Mereka tidak pernah mendengar tangisan ibuku yang seperti kehilangan senyumannya sejak saat itu dan aku mulai menjaga jarakku pada semua kaum bangsawan”


“Itu berlaku pada Jessie-sama dan Jene-sama juga”


Semua terdiam. Hal ini berbeda dari dugaan mereka meskipun sudah ada tebakan yang belum pasti ketika melihat sikap Xenon kepada tunangannya sendiri.


Pada akhirnya,mereka bertiga bisa memahami rasa sakit Xenon. Anak berusia 6 tahun harus dipermalukan di depan umum oleh orang dewasa di hari spesialnya itu merupakan trauma seumur hidup.


Xenon bercerita kembali bahwa Misha adalah tunangan yang dipilihkan oleh ibunda Rexa ketika mereka merayakan acara pesta akhir tahun. Hal itu diumumkan mendadak yang bahkan Rexa sendiri terkejut mendengarnya.


“Pesta itu kebetulan diadakan di kediaman milik Misha-sama sendiri yang berarti tidak ada peluang bagi Rexa-sama untuk menolak. Itu adalah rencana Vexia-sama dengan Earl Midford yaitu Charles Andreas Midford dan istrinya, Countess Lilian Irisville-Midford”


Ryou langsung mengeluarkan celetukannya, “Jebakan cerdas dari wanita licik”


“Ryou, jangan bicara begitu” sang kakak menasehatinya


“Tidak, Ryou benar mengenai hal itu Kino. Itu memang sudah diatur dan ayahku tidak bisa membantahnya”


“Xenon-san…”


Ekspresi Kaito langsung berubah, “Aku turut berduka cita pada keberuntungan Rexa dalam mendapatkan jodoh hidup. Dia lebih sial dariku”


“Kaito-san…” Kino jadi semakin memelas mendengar ucapan Kaito


Xenon hanya tersenyum dan menjawab, “Kalian juga ya. Aku kira hanya aku yang berpikir demikian”


“Cih! Gadis seperti itu tidak akan pernah menjadi istri yang baik dan akan membantah pada suaminya. Sudah begitu dia tidak pernah akrab denganmu, benar kan?” tebak Ryou


“Kau tau juga?”


“Tentu saja! Kau sendiri yang cerita soal masa lalumu. Melihat dari ceritamu dan menyamakannya dengan sikap arogan gadis itu, dia pasti membencimu. Dia saja bisa dengan bangga memamerkan nama keluarganya di lobi saat aku beradu mulut dengannya”


Hal tersebut memang bukan hal baru untuk Xenon dan semua itu tidak mengejutkan. Kembali ke topik sebelumnya, kini Xenon harus berusaha kuat.


“Kau beradu mulut dengannya sampai mendorongnya itu…akan melibatkan aku dalam masalah juga” kata Xenon


“Kenapa?”


“Karena aku yakin dia akan marah-marah pada anggota divisi. Dan hal itu bisa mencoreng nama baik Rexa-sama nantinya”


Kalimat ‘mencoreng nama baik Rexa-sama’ menarik perhatian Kino.


“Xenon-san, bukankah itu artinya kamu masih peduli pada kakakmu?”


“......!!” Xenon langsung terdiam


“Aku benar kan? Xenon-san masih peduli padanya kan?”


Xenon tidak menjawab melalui mulutnya dan hanya terdiam. Namun dalam hatinya, dia berkata, ‘Aku sudah bersumpah untuk melindunginya. Dengan tidak adanya aku di dekatnya, Rexa-sama akan mendapatkan kebahagiaannya yang dulu’


******