Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 33. Kemungkinan Menjelang Akhir Waktu



Kedua kakak beradik itu terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Kaito. Ryou yang menelan roti di mulutnya dengan sekali telan langsung bangun dan berdiri di depan Kaito.


“Apa maksud ucapanmu barusan itu….Kaito?”


Tatapan mata Ryou terlihat sangat tajam dan sinis. Kino juga tidak bisa berbuat apapun sejak dia juga begitu terkejut mendengarnya. Kaito hanya terdiam dan menghabiskan roti di tangannya. Setelah itu dia bangun dan meminta mereka berdua untuk ikut dengannya.


Kaito membawa mereka ke jalan menuju anak tangga aneh yang dia temui. Kedua remaja itu hanya bisa mengikutinya. Tetapi semakin lama, mereka semakin tegang dan tangan mereka terasa berkeringat. Kino yang membawa kantong belanja berisi roti juga sempa hampir menjatuhkannya karena begitu tegang. Hal yang tidak biasa tentu bisa dirasakan oleh mereka.


“Aku yakin kalian belum pernah sepenuhnya mengelilingi jalan ini. Pertama kali aku membawa kalian berdua ke sini adalah tadi pagi saat kita baru saja kembali dari ‘dunia malam’. Tapi, aku ingin kalian juga mengetahuinya”


“Kemana kau mau membawa kami, Kaito?” Ryou bertanya dengan wajah serius


Kedua remaja itu terus melihat ke kanan dan kiri wilayah yang mereka datangi sampai akhirnya Kaito berhenti.


“Sebenarnya, tempat yang ingin aku tunjukkan adalah jalan ini. Anak tangga inilah yang kumaksud dengan hal baru yang masih belum kupahami”


“……”


Kino maju sedikit dan melihat anak tangga itu. Dia bisa melihat jarak anak tangga itu agak sedikit jauh satu sama lain. Selain itu, terdapat tempat tinggal penduduk yang memang sekilas tidak begitu ramai. Setelah anak tangganya habis, dia bisa melihat jalan yang lurus mengarah pada tempat yang lebih dalam.


“Kenapa Kaito-san membawa kami ke tempat ini?”


“Kuberitau hal menarik. Sampai kemarin, anak tangga ini dan jalan lurus ke bawah itu tidak ada sama sekali”


“Apa…katamu?!”


Wajah keduanya tampak sangat syok kali ini. Kaito sendiri tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat. Ryou berjalan dan melihat anak tangga itu lebih dekat dan berkata.


“Kaito, apa-apaan ini? Ini bukan lagi hal yang lucu”


“Ini yang kubicarakan. Aku sendiri juga tidak tau kenapa bisa ada hal seperti ini. Sudah kukatakan pada kalian, ini diluar dugaanku. Kurasa karena kepingan ingatanku yang ada di ‘dunia malam’ sudah kudapatkan jadi ‘dunia’ itu lenyap. Bersamaan dengan lenyapnya ‘dunia malam’, hal baru terjadi dan salah satu yang tercipta adalah ini” ucap Kaito menjelaskan pemikirannya


Tentu itu bukanlah hal mudah yang bisa diterima oleh mereka berdua begitu saja. Terlebih lagi, mereka bertiga juga mengalami hal tidak menyenang sejak pagi.


“Apakah Kaito-san tau apa yang ada di bawah sana?” Kino bertanya dengan wajah penasaran


“Aku sudah pergi ke sana dan itu bukanlah tempat yang menyenangkan. Tempat itu begitu lembab, kumuh, pencahayaan yang kurang dan penuh dengan orang-orang tidak ramah. Kurasa mereka bahkan tidak suka berhubungan dengan penduduk kota ini”


Mendengar penjelasan Kaito, mereka berdua terdiam dan melihat ke arah anak tangga menurun itu.


“Apa di sana berbahaya, Kaito-san?”


“Bisa jadi. Tapi, mengingat orang-orang itu tidak senang melihatku di sana, kemungkinan besar mereka benar-benar tidak suka berhubungan dengan penduduk kota ini”


Ryou melihat ke arah tubuh Kaito dan langsung mengeluarkan kalimat dengan nada meledek.


“Pasti mereka mengira kau penjahat atau kriminal yang kabur, iya kan? Siapapun pasti tidak akan mau mendekatimu dengan pedang tanpa sarung di sana itu. Seharusnya kau membeli sarung pedang seperti milikku ini”


“……” Kaito hanya diam karena sudah terbiasa dengan mulut Ryou


“Nee, Kaito…mau coba turun ke bawah lagi bersama aku dan Kino?” Ryou dan ide anehnya mulai muncul


Seperti tidak mendengarkan penjelasan Kaito, rasa penasaran darinya kali ini lebih kuat dari yang dikira. Sekarang, fokus mereka mengenai jam saku mereka yang hilang seperti sudah lenyap.


“Ryou?” Kino menatap wajah sang adik dengan tatapan kaget


“ Aku penasaran sekali dengan tempat itu. Apa kau tidak penasaran juga Kino?”


“Tapi, Kaito-san sudah mengatakan tempat itu berbahaya. Kenapa justru kamu ingin sekali ke sana. Aku yakin di sana tidak ada petunjuk tentang jam saku milik kita yang hilang”


“Ini bukan hanya soal itu. Ini tentang betapa anehnya perubahan ‘dunia siang’ saat ini. Bagaimana jika ternyata tempat ini memiliki petunjuk tentang ingatan Kaito. Nee, kau juga berpikir begitu, kan?” Ryou melihat ke arah Kaito


Kaito menggelengkan kepalanya dan berkata “sebaiknya kau hentikan semua itu, Ryou”


“Kenapa?!” dan sekarang wajah Ryou terlihat tidak senang


Kaito mengeluarkan jam saku miliknya dan menunjukkan waktu yang ditunjukan benda itu pada mereka. Sekarang mereka terlihat tegang. Waktu yang ditunjukan jam itu pukul 05.19, hanya tersisa 41 menit lagi sampai matahari terbenam.


“Sekarang…mengerti maksudku kan?”


“……” mereka berdua terdiam


“Kita tidak punya waktu untuk pergi ke tempat itu karena ini. Sampai kemarin, kita jelas mengetahui bahwa setelah matahari terbenam atau terbit pasti akan berganti ke salah satu dari ‘kedua dunia’. Tapi, dengan hilangnya ‘dunia malam’, aku tidak tau perulangan apa lagi yang terjadi di ‘dunia siang’ selanjutnya”


“……”


“Selain itu, aku tidak ingin kita melupakan tujuan awal kita yang ingin menemukan jam saku kalian berdua” lanjut Kaito


Sekarang, mereka akhirnya sadar bahwa mereka masih harus menemukan petunjuk mengenai jam saku mereka.


“Dalam waktu 41 menit, memang mau cari kemana lagi? Tidak mungkin mencari tanpa tujuan lagi seperti sebelumnya kan? Aku sudah katakan pada Kino beberapa waktu lalu kalau mustahil kita bisa menemukan jam saku itu hanya dalam waktu 12 jam” Ryou dan wajah yang menunjukkan sikap protes miliknya


“Itu masuk akal. Memang kenyataannya begitu, orang normal juga tau. Masalahnya kau dan kakakmu itu sudah keluar dari definisi ‘orang normal’ dalam kamusku sejak kalian terjebak di tempat ini. Jadi, pikirkan sesuatu yang aneh yang baru saja kalian alami”


Pujian yang sangat menyentuh sekali dari Kaito untuk kedua kakak beradik itu. Wajah memerah Ryou karena menahan kesal adalah buktinya. Bahkan, meskipun Ryou tidak mengatakannya tetapi wajah dan tangannya yang memegang gagang pedang itu sudah mewakili isi hatinya.


‘Aku ingin sekali membunuh anak ini. Dasar kriminal!’


Dan Kino mencoba sebaik yang dia bisa untuk menenangkan sang adik bersama kantong belanjaannya. Setelah semuanya tenang, mereka mulai memikirkan untuk meninggalkan tempat itu.


******


“Hari ini aku cukup mendapatkan uang. Dengan ini, aku yakin Stelani dan yang lain bisa makan malam. Syukurlah. Aku hampir tidak percaya aku bisa melakukan semua pekerjaan berat itu sendirian”


Theo mengingat apa saja yang dilakukannya selain membersihkan sepatu di taman dan memotong rumput liar. Mengangkat karung beras dan gandum berkali-kali, mencuci piring kotor di restoran bertumpuk-tumpuk, membantu mengangkat batu besar di toko bahan bangunan dan itu semua dia lakukan sendirian demi mendapatkan uang dari


orang-orang yang bersedia menggunakan jasanya.


Tapi, yang paling membuatnya senang adalah bertemu dengan orang baik yang memberikannya roti secara gratis.


“Kakak itu…sekarang ada dimana ya? Apa dia marah karena aku langsung kabur begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih padanya?”


Theo terus berjalan lurus di sepanjang jalan tersebut. Wilayah tempatnya berjalan adalah kawasan perumahan yang tidak terlalu ramai. Ketika dia melihat apa yang di depannya, matanya terbuka lebar. Itu adalah orang yang sudah memberi roti padanya.


“Itu…kakak yang tadi–”


-Deg


Dia melihatnya bersama dengan dua orang lainnya, satu yang sudah dia temui dan yang seorang lagi dia tidak mengenalnya. Tentu saja sejak pertama bertemu, dia sudah melihat orang yang dipanggil adik oleh orang yang memberinya roti membawa sebuah pedang bersamanya, tapi dia melihat yang seorang lagi dengan tatapan takut.


‘Perasaan apa ini? Entah kenapa aku tidak ingin mendekatinya. Tapi… kenapa? Apa karena dia membawa pedang tanpa sarung pedang?’


Perasaan ini tidak biasa. Hanya saja dia tetap melangkahkan kakinya saat melihat mereka hendak pergi menjauhi jalan dengan anak tangga. Mulutnya terbuka seperti ingin memanggilnya, namun dia tidak jadi melakukannya.


‘Jika pergi…aku tidak akan bisa berterima kasih pada kakak itu, tapi–’


Dia tidak membohongi dirinya, dia takut melihat orang yang berada di dekat kakak itu. Dia bukan hanya mengingat apa yang dikatakannya saat lari dari mereka. Kalimat bahwa dia telah berbuat jahat pada kakak itu, tapi dia jauh lebih takut pada pria berpedang tanpa sarung yang bersamanya. Ketakutan tidak biasa yang bahkan melebihi perasaan takutnya pada Justin. Semua pikiran itu membuatnya menjadi ragu dan membiarkan mereka pergi begitu saja. Dia melihatnya dari kejauhan, langkah mereka bertiga semakin menjauh dari tempat itu dan Theo hanya diam.


“Pada akhirnya…aku bahkan tidak sempat berterima kasih”


Theo menatap mereka dengan tatapan sendu dan kecewa.


******


Berjalan meninggalkan anak tangga itu, mereka kembali menelusuri jalan besar di kota. setelah beberapa lama dan sudah agak jauh, Ryou mengeluarkan jam miliknya dan menunjukannya pada Kaito.


“Kaito, coba keluarkan jam saku milikmu padaku”


“Hmm? Benda itu–” Kaito melihat ke arah tangan Ryou dan dia melihat jam berwarna silver


“Jam saku. Aku membelinya dengan penuh drama tidak menyenangkan dengan di gendut berkumis di tokonya. Aku sengaja membelinya karena saat berpencar denganmu tadi kami tidak mengetahui pukul berapa dan berapa lama lagi waktu yang tersisa”


“Awalnya karena sudah sepakat untuk berkumpul di kolam air mancur, aku berpikir untuk terus mencari di sepanjang jalan di kota. Karena Ryou tiba-tiba menemukanku, akhirnya kami memutuskan untuk mencari Kaito-san juga” kata Kino menjelaskan


“Aku tidak yakin apakah waktu yang ditunjukkan jam saku yang kau bawa dengan jam ini sama. Bagaimanapun juga jam saku milikmu itu memiliki kekuatan khusus, sama seperti milik kami”


Kaito membuka tutup jam sakunya dan saat disamakan dengan benda yang dibawa Ryou ternyata sama.


“Sepertinya waktu di ‘dunia siang’ ini mengikuti jam saku milikku juga” Kaito mengambil kesimpulan


“Syukurlah, ternyata tidak sia-sia aku berdebat hebat dengan si gendut berkumis itu!”


“Ryou…jaga sopan santunmu” Kino hanya bisa menasehati sang adik


Ini tidak benar-benar baik. Waktu menunjukkan pukul 05.35 begitu saja, Siapa yang menyangka setelah obrolan panjang yang mereka lakukan tadi, waktu yang tersisa hanya tinggal 25 menit lagi.


“Jadi, bagaimana rencananya? Mau nekad mencarinya lagi?” Kaito bertanya sambil memasukkan jam sakunya kembali


“Aku tidak tau. Aku dan Ryou sudah mencarinya terus menerus tapi sama sekali tidak ada petunjuk. Bahkan beberapa kali aku berasumsi hal yang mustahil”


“Hal mustahil ya, seperti apa misalnya?” sorot mata Kaito berubah tajam tiba-tiba


“Aku awalnya berpikir apakah mungkin jam saku itu dicuri…tapi aku tidak berpikir demikian saat memeriksa isi saku celanaku. Uang yang diberikan Kaito-san dari hasil menjual penawar masih ada jadi–” Kino bicara dengan nada sedih


“Dicuri…”


“Itu karena kami berdua mendengar rumor yang aneh sekali di altar”


Ryou menjelaskannya pada Kaito semua yang didengarnya secara detail. Kino memang tidak sempat mencari tau lebih saat itu tapi dia memang mendengar hal itu sebelum meninggalkan altar tadi siang. Di sini, sorot tajam dari mata Kaito mulai terlihat lagi.


“Apa kau tidak tau hal itu, Kaito?” Ryou bertanya


“Aku tau. Aku sempat pergi ke altar dari cara yang tidak terduga”


“……” kedua kakak beradik itu terdiam dengan wajah bingung


“Ini mungkin tidak masuk akal. Anak tangga tadi…meskipun aku tidak begitu ingat mana saja jalan yang kutelusuri, tapi satu dari sekian banyak gang sempit di jalan itu bisa membawamu tembus ke jalan di belakang altar. Menakjubkan sekali, bukan? Hal tidak terduga seperti itu”


Itu bukan pujian. Kaito mengatakan itu dengan sorot mata tajam dan serius sekali. Wajah syok mulai menghiasi kedua kakak beradik itu dan sekali lagi, penjelasan dari Kaito mulai membuat mereka kehilangan semua kata-kata.


“Ketika sampai di altar dan bertanya pada orang-orang di sekitar tentang jalanan itu, aku mendengar bahwa ada sekumpulan anak-anak yang sering meminta sumbangan di depan pintu masuk altar pulang melewati jalan itu”


“Pintu masuk?! Anak-anak kecil kau bilang?! Aku tau itu dari petugas penjaga. Petugas itu bilang mereka baru seminggu berada di sana” Ryou yang kaget dengan kata-kata Kaito akhirnya bicara


“Saat melewati tempat suram itu aku sempat melihat mereka walaupun tidak menyapa mereka. Dan hal yang lebih menarik dari semua itu adalah kasus kehilangan barang yang terjadi di altar. Kudengar itu baru terjadi seminggu terakhir. Apa kalian berdua berpikir ini suatu kebetulan?”


Mendengar apa yang dikatakan Kaito membuat mereka berdua berpikir tentang apa yang terjadi dalam waktu kurang dari 12 jam di hari itu.


******