Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 150. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 11



Setelah menunggu beberapa saat, Theo mulai berdiri dan memastikan bahwa ketiga remaja itu telah pergi.


Dia mengingat kembali apa yang Ryou katakan sambil melihat bandul kalungnya.


[Kita sudah sepakat untuk mendapatkan ingatanmu! Kau juga tau bahwa aku dan Kino harus kembali ke Jepang. Jika terlalu lama di sini, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada nasib kita!]


[Kita semua punya kehidupan, Kaito! Dan hidup di ‘dunia’ aneh yang nyaris membunuh Kino dua kali itu tidak pernah ada dalam daftarku! Kakakku bukan hanya hampir mati sekali, tapi dua kali! Bahkan kalau diingat saat pertama kali kita bertemu, kau sendiri nyaris menjadi mayat!]


[Aku tidak bisa melihat Kino terluka seperti ini lagi, Kaito. Aku tidak ingin dia terluka seperti ini]


[Aku tau aku egois karena memaksamu mengambil permata ingatanmu dari Theo, tapi pilihan apa yang kita punya sekarang?...]


[Dan Kino…Kino juga berpikir bahwa dia masih belum ingin berpisah denganmu dan anak-anak itu. Tetapi sejak awal tujuan kita berbeda]


Tanpa sadar, ada setitik air yang membasahi permata ungu itu. Itu adalah air mata Theo yang menetes. Dirinya berada dalam posisi yang sulit sekarang. Siapa yang menyangka bahwa kalung yang sudah dimilikinya bertahun-tahun justru akan membawanya pada hal seperti ini.


**


Di bar, mereka semua duduk dan mendengarkan semua apa yang diucapkan oleh Theo. Theo menceritakan semuanya pada mereka tentang apa yang dia dengar. Tidak ada yang memberikan tanggapan apapun kecuali wajah syok.


Arkan bergumam dalam hatinya.


‘Ternyata semua itu benar. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari tempat asing dan mereka tidak berbohong soal cerita itu’


Maggy memberikan teh hangat untuk anak itu dan mengelus-elus rambutnya.


“Jangan menangis lagi ya. Tenanglah tenang”


“Kino-nii…hampir mati juga. Itulah yang dikatakan oleh Ryou-nii tadi. Hiks…”


“Iya, kami semua sudah mendengarnya”


“Tapi…tapi aku juga tidak ingin berpisah dari mereka. Kalau aku memberikan permata ini…artinya mereka akan meninggalkan kami semua” ucapnya lirih


“Mama tau” Maggy memeluk Theo


Tidak ada satupun anak-anak itu yang ingin berpisah dari Kino, bahkan dengan Ryou dan Kaito juga. Akan tetapi, keadaan dan kenyataan memaksa mereka untuk melakukannya.


“Bocah kecil, seberapa berharga permata ini untukmu?” tanya Joel pada Theo


“Permata ini…permata yang sudah dimiliki olehku sejak aku kecil. Bahkan sebelum gorilla itu memungutku, aku sudah memilikinya. Ini mungkin saja merupakan satu-satunya peninggalan kedua orang tuaku”


“Begitu”


Joel mulai memikirkan situasi serius itu.


‘Dia bilang mungkin saja, itu artinya Theo hanya menganggapnya berharga karena berpikir bahwa itu adalah peninggalan milik mendiang kedua orang tuanya. Tapi Kaito berbeda. Dia sangat yakin dan mengenal permata itu sebagai miliknya begitu melihatnya. Mungkin terdengar sangat tidak masuk akal. Namun dilihat dari semua keterangan yang didengar anak ini, tampaknya tidak ada pilihan lain’


Joel melihat wajah anak-anaknya yang sedih. Bahkan jam makan siang mereka sudah berubah jadi momen yang penuh air mata.


“Sudah sudah, ayo kita hentikan semua ini. Kalau memang kau sudah yakin dengan keputusanmu, maka kita bisa–”


Sebelum Joel menyelesaikan kalimatnya, rengekan seorang anak memotongnya.


“Theo-niichan, bagaimana rencana makan bersama di restoran keluarga dengan Kino-niichan? Kita belum melakukannya. Aku tidak mau mereka pergi sebelum kita melakukannya!!” Michaela kembali merengek


“Aku juga tidak mau”


“Jangan berikan kalungnya dulu! Kita belum makan bersama di restoran”


Anak-anak lain ikut merengek sekarang. Joel dan Maggy melihat satu sama lain. Mereka mencoba menjadi orang tua yang dapat membahagiakan semua anak-anaknya.


“Papa mengerti. Serahkan semua pada Joel-papa. Nanti akan Joel-papa usahakan sesuatu. Sekarang berhenti menangis dan kita lanjutkan makan siang kita yang tertunda tadi ya”


“Aku tidak nafsu makan” kata Theo


“Aku juga sudah tidak ingin makan lagi, Joel-papa” Fabil juga ikut menjawab


“Oi, jangan begitu. kalian harus kasihan pada Maggy-mama yang sudah memasak ini”


“Maaf, Maggy-mama” Stelani melihat Maggy dengan wajah sedih


“Tidak masalah. Tapi sekalipun makan kalian tidak habis, kalian harus ceria kembali untuk makan hidangan penutup. Ada kue krim dan es krim segar untuk semuanya” Maggy tersenyum


Mendengar kata es krim, jiwa anak-anak itu kembali ceria. Meski matanya masih sembab, tapi senyuman sudah terlihat. Joel meminta Arkan untuk membantu Maggy mengambil kue dan es krimnya.


‘Sekarang, aku harus berpikir bagaimana caranya bisa menciptakan momen tepat’ pikir Joel dalam hati


******


Di jalan utama, banyak yang melihat ketiganya. Bukan karena pakaian Kaito yang basah, karena sepertinya hal itu tidak begitu menimbulkan kecurigaan. Tapi pedang tanpa sarung milik Kaito itu yang menjadi masalah.


Kino memperhatikan sekitarnya.


“Aku merasa sangat nostalgia sekali dengan pemandangan ini” gumam Kino pelan


Panggilan sang adik yang terdengar sendu dan lirih membuatnya sadar bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Kino mencoba cara terbaik untuk membuat keadaan dingin ini tidak berlangsung lama.


“Ryou, Kaito-san…bagaimana setelah kita kembali ke penginapan, aku membuatkan kalian makanan?”


“Aku tidak lapar, Kino” jawab Kaito dengan nada datar


“Tanganmu masih terluka” kata Ryou kepada sang kakak


“Tapi, ketika kita meninggalkan penginapan…aku sudah berjanji untuk membuatkan kalian masakan, kan? Aku ingat Ryou berkata bahwa kamu ingin sekali memakan masakanku. Tangan ini sudah tidak begitu sakit jadi tidak masalah”


“Kita tidak merasakan rasa lapar dan haus, Kino. Percuma saja melakukan itu” Kaito mulai terdengar dingin


Kino menghentikan langkahnya dan berkata pada dua orang yang sekarang berada di depannya.


“Tapi kita membutuhkan obat untuk memperbaiki hati yang sedih, Kaito-san. Kita semua…sedang tidak baik-baik saja sekarang”


“Kino…”


“Kaito-san juga belum pernah mencicipi masakanku. Seandainya kita benar-benar berpisah nanti, setidaknya sekali seumur hidupmu, kamu pernah mencicipi masakan dari remaja dunia lain” Kino tersenyum


Kaito terdiam. Dia merasa bahwa dirinya memang membutuhkan sesuatu seperti ketenangan saat ini. Akhirnya, sebuah senyum tipis terlihat.


“Aku mengerti”


“Kalau begitu, sebelum pulang kita belanja bahan masakan dulu ya. Bagaimana?”


“Aku yang akan membawa belanjaannya. Dan saat kau memasak nanti, aku yang akan memotongnya” ujar Ryou dengan wajah serius


“Aku mengerti. Ryou akan membantuku. Nanti akan kubuatkan masakan yang belum pernah dicicipi oleh Kaito-san”


Untuk sesaat, Kaito melupakan tentang kekacauan yang ditimbulkannya di bar. Dan Kino berhasil merubah suasana itu menjadi lebih hidup.


Ketiganya mulai pergi ke kawasan pertokoan di siang itu. Ryou mengeluarkan jam saku antik miliknya.


“Sekarang kamu yang memegangnya, Ryou?” tanya Kaito


“Hanya sementara sampai tangan Kino membaik. Meskipun sepertinya tidak begitu berpengaruh dengan kondisi tangannya. Tapi, mengingat kejadian yang lalu…”


“Aku mengerti, jangan bicara lagi” Kaito menghentikan Ryou


Ryou tidak mau ambil pusing dengan kalimat itu dan melihat jamnya. Waktu menunjukkan pukul 01.55 pada jam saku tersebut. Sudah nyaris dua jam berlalu sejak mereka meninggalkan penginapan. Terlalu banyak hal yang terjadi dan sudah saatnya mereka bertiga bersikap santai, walaupun untuk sementara waktu.


Setelah memasukkan kembali jam sakunya, Ryou menarik tangan kanan sang kakak.


“Kita pergi belanja dan semua Kaito yang akan membayarnya”


“Apa?” Kaito terkejut


“Kau tidak lupa kalau uang kami semua kau yang pegang, kan? Kau boleh saja amnesia, tapi jangan jadi alzheimer juga”


“……” Kaito berhenti berkomentar


Setelah semua perasaannya kembali semula, Kaito mulai menyadari bahwa Ryou tidak akan bisa dikalahkan dengan mudah. Apalagi seni maki memakinya itu bisa berevolusi kapan saja tergantung situasi.


Di wilayah pertokoan, mereka mulai melihat-lihat buah dan sayur. Tentu saja mereka bertiga masih menjadi pusat perhatian.


“Pedangmu itu mengganggu sekali” celetuk Ryou


“Kau tidak sadar kalau kau juga membawa pedang? Kino yang terluka juga memiliki tiga pisau di pinggangnya”


“Tapi milikmu tidak ada sarungnya! Kau tidak mau membuat yang baru di toko senjata?”


“Tidak perlu. Nanti akan muncul sendiri”


“Hah?” Ryou bingung dengan kalimat Kaito


“Tidak perlu dipikirkan. Kakakmu itu sudah sibuk di depan kita sekarang”


Kaito menunjuk Kino yang sudah mendatangi salah satu kios penjual sayur. Ryou langsung menghampirinya dan meninggalkan Kaito sendiri. Di sini, dia mulai merenung.


‘Aku terlalu terburu-buru. Seperti apa yang dikatakan Ryou, kami sudah terlalu lama di sini. Apalagi jika mengingat banyaknya malam yang kulalui di ‘dunia malam’, membuatku sempat berpikir kalau aku mungkin saja menjadi gila’


Dengan perlahan, dia mendekati kedua remaja itu dan membantu mereka memilih sayurnya. Namun, renungan itu masih belum selesai. Ekspresinya berubah menjadi sedih tanpa diketahui siapapun.


‘Tapi, ada perasaan ragu untuk meninggalkan mereka. Seandainya permata yang ada pada Theo adalah satu-satunya di sini, maka aku akan langsung berpisah dengan Kino dan Ryou’


Sebuah perasaan yang sangat wajar dimiliki olehnya. Mengingat semua hal sulit dia hadapi seorang diri.


‘Aku sangat percaya pada mereka berdua. Seandainya…’


Sebelum Kaito selesai dengan renungannya, Kino memanggilnya untuk membayar belanjaan tersebut. Seketika, kalimat terakhir dari renungan itu dilupakan begitu saja.


******