
Song Haneul memegang sebuah kunci kecil berwarna kuning keemasan dengan gantungan bulu di tangannya. Dia mengangkat tangan yang memegang kunci itu untuk menunjukkannya pada Kino dan Kaito.
“Ketemu! Dengan ini kita bisa mengakhiri permainan!”
Kino dan Kaito yang melihat benda di tangan Song Haneul tersenyum.
“Kalau begitu, kita buka segera pintunya dan akhiri permainan bodoh ini!” kata Kaito sambil menebas zombie yang datang di luar.
“Aku mengerti, aku akan membuka pintu gerbangnya!”
Baru saja Song Haneul mendapatkan kepercayaan diri untuk melakukannya, tiba-tiba saat dia keluar dari pos, sosok zombie lain melompat dari sisi kirinya dan nyaris menggigitnya.
Kino dengan cepat mendorong Song Haneul kembali ke dalam pos dan menusuk mulut zombie itu dengan ujung pisau di tongkat pelnya.
Song Haneul terjatuh dan sempat menjatuhkan kuncinya.
“Aaa!”
“Maafkan aku! Sementara diam di dalam dulu, Song Haneul-san! Aku dan Kaito-san akan mencoba mencari celah untukmu pergi!”
“Kuncinya hilang!” teriak Song Haneul panik
“Apa?!” Kino dan Kaito teriak bersamaan
“Aku yakin benda itu ada di tanganku sebelumnya!”
“Aku mohon jangan melawak di saat ini, Song Haneul! Kalau kau benar-benar menghilangkannya, aku tidak akan peduli padamu lagi dan akan aku korbankan kau kepada mereka!” ancam Kaito
“Jahat sekali mulutmu itu, Kaito!”
“Kalau begitu cari yang benar!” bentak Kaito
Tampaknya Kaito mulai kehabisan kesabaran. Itu hal yang wajar karena siapapun yang ada di posisi hidup dan mati seperti itu, pasti akan lebih sensitif dibandingkan ibu-ibu di pasar yang mencoba menyelak antrian.
Song Haneul merangkak dan mencari kunci itu. Akhirnya dia menemukan kembali kuncinya di bawah meja.
Dia berusaha mengambilnya bahkan sampai kepalanya membentur meja.
“Aduh!”
“Song Haneul-san?” Kino mendengar suara kepala Song Haneul yang terbentur meja
“Aku baik-baik saja! Aku sudah menemukan kuncinya”
Mendengar perempuan itu menemukan kuncinya, Kaito langsung masuk dan mengambilnya.
“Kau bantu Kino urus yang di luar. Aku tidak mau kau menghilangkan satu-satunya kesempatan kita untuk mengakhiri kegilaan ini”
“Kaito, kamu mau pergi sendiri?”
“Itu lebih cepat dilakukan!” Kaito pergi keluar
Sebelum keluar, dia bicara pada Kino.
“Kino, tolong urus yang ada di sini. Aku akan mencoba menerobos barisan itu sendirian”
“Kaito-san, bagaimana dengan mayat Jung Leon-san? Dia ada di dekat pintu gerbangnya”
“Itu akan aku urus. Seperti kata Ryou sebelumnya, prioritas kita adalah menyelesaikan event. Aku akan melakukannya. Tolong aku ya”
“Aku mengerti. Aku akan berusaha”
Kaito pergi meninggalkan Kino dan Song Haneul. Dengan cepat Kaito berlari menuju pintu gerbang.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Ryou melihat Kaito berhasil menyelamatkan sang kakak dan berlari menuju pintu gerbang. Dia tidak ingin membuang waktu untuk mengurusi ‘tamu kehormatan’ yang terlalu agresif.
“Kesempatan terakhir, aku harus bisa menghentikan mereka yang akan menyerang Kaito. Sebaiknya aku sedikit ke tengah agar bisa membantu Kino juga” gumamnya
Sedikit demi sedikit, jumlah zombie-zombie itu mulai berkurang dan jalan Ryou semakin terbuka.
Kino melihat sang adik berlari ke arah tengah.
“Ryou!”
“Aku mengerti! Ryou harus hati-hati!”
Song Haneul yang ada di dalam pos penjaga berusaha keluar namun Kino melarangnya untuk kedua kalinya.
“Jangan keluar, Song Haneul-san!”
“Tapi aku berjanji akan membantu!”
“Tidak, kamu sudah sangat membantu kami. Biarkan kami yang melakukannya. Song Haneul-san harus tetap aman!”
“Kino…” Song Haneul melihat Kino menutup pintu pos dan maju ke depan
Ini adalah pertarungan terakhir sebelum matahari terbenam.
‘Aku mohon, semoga Kaito-san bisa melakukannya. Langit sudah semakin gelap dan aku tidak yakin kami semua akan bisa bertahan jika malam tiba’ pikir Kino dalam hati
Kaito yang sudah hampir sampai ke pintu gerbang akhirnya berhasil menyentuh pintunya, dia mencoba untuk memasukkan kunci gerbangnya, namun sebuah serangan datang dari arah samping.
Di saat kunci sudah berhasil dimasukkan ke lubang kunci dan hanya perlu diputar, zombie Jung Leon yang awalnya menjauhi Kaito justru malah mendekati dan mencoba memukulnya.
“Ini lucu. Tadi kau begitu keras menolakku dan sekarang justru mendatangiku. Inikah yang disebut tsundere oleh Ryou waktu itu?” senyum Kaito
Mayat Jung Leon yang dikendalikan kepingan permata Kaito mulai kembali menyerangnya. Namun, Kaito tidak lemah dan bodoh. Hanya mayat tanpa kepala bukanlah masalah.
Dengan cepat dia mengayunkan pedangnya dan berhasil menjatuhkannya. Pedang tersebut membelah perut bagian tengah mayat itu menjadi dua dan segera Kaito memutar kuncinya.
-Ckreek
Pintu gerbang berhasil dibuka dan Kaito menginjakkan kakinya keluar gerbang universitas tersebut. Karena hal itu pula, tepat sebelum matahari terbenam, permainan dinyatakan selesai.
Secara tiba-tiba, ponsel Song Haneul bergetar dan ada notifikasi yang terkirim di aplikasi [Event Horror Apps].
“Aku tidak pernah memprogram pesan seperti ini” Song Haneul bingung
Tanpa basa-basi, dia langsung membukanya.
[Selamat kepada pemain bernama ‘Kaito’ yang telah menjadi orang pertama yang keluar dari wilayah *$&%*# University. Permainan berakhir pada hari *$&%$ pukul 17.24 sore waktu setempat]
[Hadiah berupa item khusus akan diberikan oleh ‘Song Haneul’ dan dengan ini, event [Zombie akan mengambil alih Negara ini! Selamatkan diri kalian sebelum kalian mati!] dinyatakan selesai. Terima kasih untuk partisipasinya]
Bersamaan dengan itu, semua zombie berhenti bergerak dan terjatuh. Mereka menjadi mayat yang bertebaran dengan warna merah yang mulai keluar dari tubuh dan lukanya.
Ketika Kaito melihat apa yang ada di luar gerbang itu, terdapat banyak sekali polisi, orang-orang dengan kamera, ambulans dan banyak lagi.
Mereka langsung panik dan masuk untuk melihat sendiri keadaan di dalam.
******
Di gedung arsip, semua orang yang masih memiliki ponsel di tangannya melihat notifikasi yang dikirimkan oleh sistem aplikasi [Event Horror Apps].
“Ini…berhasil?”
“Berhasil!!!”
Semuanya bersorak. Semuanya saling berpelukan, menangis bahkan berteriak. Kang Ji Song melihat keluar jendela dan mendapati semua zombie-zombie itu telah terjatuh ke tanah. Mereka menjadi mayat kembali.
“Aku masih hidup…hiks…terima kasih banyak Tuhan!”
“Eunji, terima kasih karena menyelamatkan aku saat itu” Ha Jinan menangis mengenang mendiang temannya
Semua orang tidak berhenti sampai di sana. Mereka langsung bergerak cepat menyingkirkan semua kursi dan meja serta rak yang mengganjal pintu lalu berlarian keluar dari gedung arsip.
Bersamaan dengan itu, ada orang-orang yang datang. Mereka semua beramai-ramai, membawa tandu dan kamera layaknya reporter dan ada juga warga sekitar kampus yang masuk dan syok melihat banyaknya mayat di sana.
Keadaan menjadi sangat tidak terkendali, namun semua yang keluar dari gedung arsip hanya bisa mengikuti arahan petugas medis yang menghampiri.
Di sore itu, tragedi yang menewaskan kurang lebih 30.000 jiwa berakhir dengan menyisahkan 31 orang yang selamat. 28 mahasiswa dan 3 ‘mahasiswa asing’.
******