
Seo Garam mematikan ponselnya dan melihat ketiga remaja itu.
“Jadi, bagaimana? Sudah jelas, kan?”
“Ini tidak bagus” gumam Ryou pelan
“Berapa banyak orang yang ada di dalam gedung ini saat hal itu terjadi? Apakah kalian bisa memperkirakannya?” tanya Kaito
“Kami tidak tau. Ketika serangan terjadi, kami semua yang berada di kelas langsung keluar begitu membuka video tersebut. Ketika kami keluar, ternyata sudah banyak zombie yang datang entah dari mana” jelas Seo Garam
Ini benar-benar sangat sulit. Bahkan sampai saat ini, Kino masih belum bisa mengambil kesimpulan.
“Apa kalian memiliki peta lokasi atau sejenisnya mengenai universitas ini? Misalnya letak air mancur dalam rekaman itu atau jalan menuju pintu keluar?” tanya Kino kembali pada ketiga mahasiswa itu
“Kami tidak memilikinya. Tapi kalau soal air mancur, letaknya di dekat taman yang ada di sebelah gedung Fakultas Ekonomi. Kalian dengar sendiri, kan? Dalam video tadi, lebih banyak suara perempuan”
“Begitu. Terima kasih banyak untuk penjelasan dan informasinya, Garam-san, Yuram-san, Jinan-san”
Setidaknya dari sini, ada sedikit gambaran untuk mereka. Sekarang masalah utamanya adalah bagaimana cara untuk keluar dari tempat ini dan mencari kepingan permata itu. Tapi, tampaknya ketiga remaja itu tidak bisa menunggu bersama dengan para mahasiswa itu.
Kaito berdiri mulai melihat sekelilingnya.
“Kurasa kita harus melakukan sesuatu terlebih dahulu, hari masih pagi dan kita juga sebaiknya harus bersiap untuk segala kemungkinan”
“Kau pikir bicara itu mudah?! Jangan bicara seolah-olah kau pemimpin di tempat ini, orang asing!”
“……” Kaito melihat siapa yang bicara
Park Cho Joon berjalan menghampiri Kaito dengan wajahnya yang terluka akibat tendangan Kino beberapa waktu lalu. melihat pria kasar itu datang, Ha Jinan langsung berdiri dan mundur karena takut.
Bukan hanya Ha Jinan, Kino dan Ryou serta dua mahasiswa itu juga berdiri di depan Ha Jinan untuk melindunginya.
“Cho Joon, jangan membuat keributan lagi” Seo Garam memperingatkannya
“Diam kau, pengecut! Hei orang asing, jangan berlagak seperti orang yang paling kuat hanya karena kau memiliki senjata dan berhasil mengalahkan semua zombie itu!”
Tampaknya, Park Cho Joon memang hanya orang yang senang mengusik orang lain. Kim Yuram tampaknya sudah cukup bersabar menghadapi pria itu.
“Cho Joon, kalau kau kemari hanya untuk menjadi orang yang berteriak seperti anjing yang menggonggong, lebih baik hentikan itu!”
“Berani sekali kau bicara begitu padaku, dasar wanita tidak berguna!”
“Kau yang tidak berguna! Aku senang pada akhirnya Kim Eunji tidak pernah menerima pria kasar sepertimu. Memang sangat disayangkan karena Eunji harus berakhir seperti itu, tapi aku jauh lebih kasihan jika dia harus menerima pria arogan sepertimu!” Kim Yuram membentaknya dari dekat
“Jangan pernah menyebut nama Eunji!!”
Park Cho Joon mencoba melakukan pukulan pada Kim Yuram, tapi dengan cepat Yuram ditarik mundur oleh Ryou dan menahan pukulan itu dengan lengannya. Kim Yuram terkejut dengan tindakan Ryou.
“Apa maumu! Minggir!” bentak Park Cho Joon
“Tadinya aku tidak mau meladeni orang tidak waras sepertimu, tapi biar aku luruskan sesuatu. Kau itu benar-benar memalukan”
“Apa kau bilang”
“Aku dengar saat Ha Jinan nekad mencari makanan untuk kalian semua, Kim Eunji memutuskan untuk menemaninya. Apakah kau mencoba untuk menghentikannya saat itu?”
“Kh…”
“Tampaknya tidak, benar kan?”
Ryou kemudian berteriak kepada semua orang di sana.
“Kalian semua yang hanya diam, apakah saat kejadian itu kalian mencoba menemani atau menghentikan gadis bernama Ha Jinan ketika dia nekad keluar untuk mencari makanan? Kalian hanya diam saja, benar kan? Tidak ada satu pun dari kalian yang mau ikut atau menemaninya karena kalian membutuhkan makanan yang akan dia bawa nanti”
“……” semua mahasiswa itu terdiam
“Memalukan. Aku bahkan dengar dari kakakku kalau saat Ha Jinan hampir mati, hanya pemuda bernama Seo Garam saja yang berusaha menolongnya selain kakakku. Itu artinya tidak ada dari kalian yang memiliki nyali untuk menyelamatkan nyawa orang lain”
Salah satu mahasiswa laki-laki tampaknya tidak terima dengan kalimat itu dan balas membentaknya.
“Hei, kalau bicara jangan sembarangan!”
Ryou menengok ke belakang dan melihat orang tersebut dengan tatapan rendah.
“Hmm? Ada orang lain rupanya. Kukira hanya pajangan yang bisanya membicarakan orang lain di belakang”
“Apa kau bilang!!”
Keadaan menjadi panas. Kino berusaha menghentikan sang adik yang menurutnya sudah keterlaluan, tapi sepertinya Kaito setuju dengan Ryou dan menghentikan tindakan Kino.
“Biarkan Ryou melakukannya. Percayalah pada mulut pedasnya itu”
“Aku tidak bisa membuatnya dibenci mereka semua, Kaito-san! Ryou memprovokasi mereka semua”
“Tapi aku setuju dengannya. Kau juga berpikiran sama kan, Kino?”
“Ini bukan saatnya untuk itu!”
“Tapi ini saatnya melihat sisi gelap mereka”
“Apa maksudmu, Kaito-san?”
“Kau akan segera tau” Kaito menatap sinis orang yang menghampiri mereka sekarang
Mahasiswa itu menghampiri Ryou yang sudah tidak lagi memedulikan Park Cho Joon.
“Hei, orang asing! Sejak kau datang, kau hanya membuat masalah! Apa maksud ucapanmu barusan?!”
“Aku tidak mencari masalah. Aku mengatakan kenyataan. Apa itu salah?” senyum Ryou dengan ekspresi merendahkannya
“Beraninya kau!”
“……”
“Ha Jinan nyaris mati karena kebodohan dan ketidakpedulian kalian semua. Tapi kalian masih mengharapkan makanan yang dia bawa dan memakannya tanpa mengucapkan rasa terima kasih”
“Kau tidak tau apa-apa, jangan bicara seenaknya! Kami ini teman satu kelas dan–”
“Teman satu kelas bukan berarti teman sebenarnya” Ryou mengoreksi kalimat mahasiswa itu
“Apa katamu!”
“Aku ingin tau, saat Ha Jinan mencoba membahayakan dirinya sendiri untuk mencari makan di luar, kau menawarkan diri untuk membantu tidak?”
“Kau gila ya! Mana mungkin aku mau membahayakan diriku untuk–”
“Lihat? Kau sendiri yang bilang, kan? Itu artinya kau itu hanya orang yang sekelas dengannya bukan temannya. Tidak mau menemani tapi tetap memakan coklat yang dicari Ha Jinan. Sudah begitu mengabaikannya juga. Kau sama saja dengan pria bodoh di belakang”
Ryou semakin menjadi-jadi. Mulut pedasnya itu sudah mencapai level maksimal.
“Beraninya kau–”
“Bukan hanya kau, tapi semua orang di ruangan ini sama saja bodohnya!”
“……!!!” semua orang tampak terkejut mendengar kalimat itu
“Oh, sedikit ralat. Kecuali Seo Garam, Ha Jinan, gadis liar teman Jinan dan kami bertiga, semua orang di sini sama bodohnya dengan pria bernama Park Cho Joon” Ryou tampak tersenyum sarkas ketika mengatakannya
“Dasar tidak berguna!” mahasiswa itu memakinya
“Dasar tidak berkaca” Ryou membalas dengan senyum menghina
Tampaknya mahasiswa itu sudah cukup kesal dan ingin sekali memukulnya, tapi sebelum itu terjadi sang kakak sudah menarik tangan adiknya.
“Aku mohon jangan bertengkar lagi! Ini bukan saatnya untuk itu!”
Ryou terdiam dan hanya melemparkan senyum merendahkan kepada mahasiswa itu. Setelahnya, Kino yang mengambil alih keributan yang diperbuat oleh sang adik.
Dia bicara pada mahasiswa itu.
“Siapa namamu?”
“Kang Ji Song!”
“Kang Ji Song-san, aku mengerti kalau kamu marah tapi kalau berdebat lebih dari ini…kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri”
“Hah?! Mau mencoba menceramahiku?!”
“Bukan menceramahi, tapi kamu hanya akan menunjukkan betapa tidak berhati nya semua orang yang membiarkan Ha Jinan mencari makanan sendiri sebelum ini. Termasuk dirimu sendiri, Kang Ji Song-san”
Mahasiswa lain yang mendengarkan itu hanya tertunduk malu dan tidak ada yang melihat mereka. Kang Ji Song, mahasiswa yang beradu mulut dengan Kino sekarang melihat ke arah teman-temannya yang lain.
“Kh…bocah…”
“Anggap saja yang terjadi sudah menjadi abu. Kalian bebas menjadi egois. Tapi, sebaiknya pikirkan bahwa kalian tidak mungkin bisa selamat jika menumpu hidup kalian pada satu orang untuk dikorbankan. Apalagi di situasi saat ini” ucap Kino dengan nada serius
“Apa maksudnya itu, Kino-ssi? Kim Yuram bertanya pada Kino
“Event ini tidak memiliki batas waktu dan event selesai jika ada yang berhasil keluar dari tempat ini dengan selamat. Artinya, tidak ada jaminan permainan akan selesai dalam waktu cepat”
“Selain itu, kalian memiliki masalah utama di sini” ujar Kaito
“Masalah utama?! Hah! Satu-satunya masalah di sini adalah sikap aroganmu!!: Park Cho Joon tampak tidak menanggapi Kaito dengan serius
“Kau mungkin masih belum menyadarinya, tapi masalah utama kalian itu adalah jumlah persediaan makanan. Bayangkan berapa orang yang tersisa dan berapa banyak jumlah makanan di setiap gedung"
"......"
"Selain itu, kalian juga tidak memiliki senjata untuk melawan kerumunan zombie di luar sana. Kalian tidak bermaksud untuk terus di sini, kan?” Kaito menambahkan
Semua orang menjadi takut sekarang.
“Kau menyuruh kami untuk keluar dan melawan monster itu?!”
“Jangan bercanda!”
“Pada awalnya event ini adalah kesalahan sunbae-nim! Jung Leon-sunbae yang harus bertanggung jawab!”
“Aku tidak mau mati!”
“Kenapa tidak kau saja yang melawan mereka dan melindungi kami semua?!
Sebuah teriakan terdengar dari salah satu mahasiswa. Sebuah ujaran agar Kaito mau melawan para zombie dan melindungi mereka. Lalu, mulai terdengar teriakan mahasiswa lainnya yang menyerukan hal tersebut serentak.
“Benar! Kau memiliki pedang dan kau juga yang mengalahkan mereka! Kau harus melindungi kami!”
“Itu benar! Kau yang bertingkah sok kuat harus membuktikannya! Lindungi kami semua dan bawa keluar kami hidup-hidup dari sini!”
“Buktikan kalau kau kuat!”
Keadaan jadi tidak terkendali. Kino mulai panik. Hatinya terasa sesak melihat kondisi ini.
‘Inikah yang dimaksud Kaito-san dengan kegelapan hati mereka tadi? Rasa takut mereka sekarang membuat mereka semua tidak segan-segan berpikir egois seperti ini’
Seo Garam, Kim Yuram dan Ha Jinan tidak jauh berbeda. Hanya mereka yang berusaha membela ketiga remaja asing itu. Sampai sebuah helaan napas terdengar.
“Haa~sungguh tidak tau malu”
******