
Kaito sesekali melirik lagi ke belakang untuk memastikan orang-orang itu tidak mengikutinya. Sambil berlari dan melihat jamnya dia menyadari bahwa hari sudah semakin siang. Dia masih belum menemukan petunjuk dimana jam tangan kedua kakak beradik itu berada.
‘Kurasa aku tidak perlu menyelidiki seluruh tempat ini sekarang. Prioritas utamaku adalah menemukan jam saku milik mereka. Jika sampai matahari terbenam dan kami sampai ke perulangan pagi lagi maka hanya akan menimbulkan masalah baru. Tidak ada jaminan jam saku itu akan kembali pula. Aku harus…Ah!’
Kaito langsung melompat di belakang kotak barang-barang di sisi kiri gang kecil di sebelahnya. Dia melirik dari tempat dia bersembunyi.
‘Anak-anak? Apa yang mereka lakukan di sini? Ini bukan tempat yang baik untuk anak-anak?!’
Kaito begitu terkejut karena dia melihat sekumpulan anak-anak berjalan melewati jalan yang tadi dia lewati. Jumlahnya sekitar delapan anak, terdiri dari lima anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Diantara mereka ada sosok anak yang tadi pagi ditemui oleh Kaito di dekat air mancur.
“Anak perempuan itu…yang tadi pagi tidak sengaja menabrakku di kolam air mancur? Apa yang dilakukannya di sini dan apakah itu teman-temannya?” Kaito bergumam dengan suara pelan
Dia telah memastikan area tempatnya bersembunyi itu aman. Dia memperhatikan kemana anak-anak itu pergi, namun dia tidak mengikuti mereka lebih jauh. Di jalan yang baru saja dilewati Kaito terdapat dua buah belokan. Anak-anak itu mengambil belokan ke kiri lalu sosok mereka tidak terlihat lagi. Setelah memastikan mereka telah pergi, Kaito melihat arah mereka datang tadi.
“Mereka datang dari arah sini ya. Hmm?” Kaito melihat sedikit ke atas dan dia baru menyadari bahwa bangunan altar terlihat dari sana
“Itu…bangunan altar? Mungkinkah mereka habis mendatangi altar lewat jalan ini? Tapi, kenapa bisa ada anak-anak di tempat kumuh dan tak terjamah begini?”
Kaito memikirkan semua kemungkinan.
‘Apa yang sebenarnya terjadi pada ‘dunia siang’ ini? Kenapa bisa ada jalan baru yang terbentuk? Apa penyebab hilangnya jam saku milik kedua kakak beradik itu dan apakah ini semua ada hubungannya dengan hilangnya ‘dunia malam’? Kenapa masih ada kepingan ingatanku di sini? Aku semakin tidak mengerti’
Di saat Kaito sudah terlalu banyak memiliki pertanyaan yang sulit dijawab, dia memutuskan untuk pergi ke arah tempat anak-anak itu datang tadi. Dia sudah berasumsi bahwa jalan itu akan membawanya keluar dari tempat itu tanpa bertemu dengan orang-orang bertubuh besar itu.
******
Di [Barre des Noirs], tepatnya di ruangan milik Justin dan para wanitanya, mereka terlalu terlena dengan kesenangan dunia yang mereka rasakan. Alkohol, permainan judi dan **** menjadi pemandangan biasa di sana. Bukan hanya Justin, semua orang yang ada di sana terlalu mabuk dengan emas dan permata yang dimiliki oleh pemimpin mereka.
“Ahahahaha…tambah lagi minumnya dan biarkan kita berpesta sampai puas!!”
“Sayangku, aku mencintaimu” para wanita penggoda milik Justin terus menempel dan menggodanya dengan rayuan maut
Justin terus memesan banyak sekali alkohol di sana. Di ruangan itu, terdapat dua orang anak buahnya yang segera membereskan semua botol-botol kosong dan merapikan semua sampah-sampah yang berserakan sehingga tempat itu tetap terlihat cukup rapi. Salah seorang anak buahnya melihat jam saku aneh dengan rantai tergeletak di pojok ruangan.
“Justin-sama, jam tua ini…apakah anda membuangnya?”
“Ah, benda itu hanya sampah yang tidak sengaja dipungut oleh si bocah sialan Theo. Kau bisa membuangnya ke tempat sampah. Lagipula, benda tidak bernilai itu hanya akan merusak pemandangan. Segera buang jam tidak berguna itu!”
“Aku mengerti”
Anak buahnya segera memasukkan jam saku itu ke dalam sebuah kantong hitam besar bersama sampah-sampah yang lain.
Tiba-tiba dari arah pintu, ada dua orang bertubuh besar dan bertato masuk ke ruangan dan melapor pada Justin.
“Justin-sama, kami melapor”
“Ada apa?” Justin terdengar sedikit emosi dan sempat hampir membuang botol kaca yang baru saja dia ambil
“Beberapa waktu lalu ada pria yang mencurigakan masuk ke dalam wilayah ini”
“Pria mencurigakan?” sekarang Justin terlihat cukup sangar dan sorot matanya berubah tajam
“Pria itu memakai jubah dan membawa pedang tanpa sarung di pinggangnya. Sorot matanya juga sangat tajam. Sepertinya dia adalah petualang atau pemburu”
“Lalu, apa saja yang kalian lakukan?! Seharusnya kalian menangkap dan membawanya padaku atau kalian bisa juga membunuhnya di tempat jika dia benar-benar mencurigakan. Kenapa justru datang ke sini tanpa apapun!!” Justin mulai berteriak kesal karena laporan mereka berdua
“Soal itu…kami sudah berusaha mengejar dan menangkapnya, tapi dia berlari dengan sangat cepat, begitu cepat sampai-sampai kami tidak bisa mengimbanginya. Saat kami sudah hampir berhasil, dia menghilang di sebuah belokan. Kami kehilangan jejaknya. Maafkan kami”
Justin berdiri dan tanpa aba-aba dia langsung memberikan sebuah hadiah penuh cinta berupa kepalan tinju yang mendarat di wajah mereka dan dua tendangan ke tubuh besar mereka hingga terluka dan mengeluarkan darah.
“Dasar tidak berguna!! Untuk apa kalian melaporkan hal tidak berguna itu padaku!! Jika kalian masih sayang pada nyawa kalian, sebaiknya lakukan tugas kalian dengan benar dan temukan orang mencurigakan itu. Bawa dia ke hadapanku dan akan kuhakimi dia jika berani mengganggu wilayahku”
******
Dari arah anak-anak itu datang, Kaito tidak lagi berlari. Dia berjalan sambil memperhatikan setiap jalanan itu. Kanan dan kiri bangunan nyaris memiliki tampilan yang sama seperti saat berada di ‘dunia malam’. Banyak bangunan kosong dan rusak, beberapa tidak memiliki pintu dan kaca jendela, tidak memiliki sumber penerangan dan aroma tidak sedap seperti sebelumnya.
“Semoga aku benar-benar akan sampai di dekat altar”
Kaito tidak berhenti bergumam hal itu. Ini benar-benar siang penuh kejutan untuknya. Setelah beberapa menit dia mulai merasa bangunan di kanan dan kirinya sedikit memiliki hawa kehidupan. Tidak begitu ramai tetapi jauh lebih baik dari yang tadi.
Mulai dari sana, jalanannya sedikit lebih bersih dan semakin berjalan ke depan semakin bersih, aroma tidak sedap dan kesan kumuh mulai berubah, matahari siang yang tidak begitu terasa di wilayah sebelumnya sekarang terasa sangat terik dan benar-benar mencerminkan siang hari yang cerah. Dan bagian paling menyenangkan dari semua itu adalah dia mulai melihat kawasan pertokoan dan penduduk yang ramai. Hingga bagian puncaknya, dia melihat bagian belakang dari bangunan altar.
“Ternyata benar, tempat ini tembus ke bangunan altar. Sudah begitu, langsung ke bangunan bagian belakang. Dari tempatku menemukan anak tangga aneh itu, setelah berputar-putar di tempat yang seperti labirin itu akhinya membawaku kembali ke tempat ini”
Sungguh kejutan yang cukup aneh. Kejutan indah ini langsung membuat sorot mata Kaito berubah tajam dengan ekspresi serius. Akhirnya dia yakin bahwa ‘dunia siang’ ini sudah bukan tempat yang dia kenal lagi.
“Sepertinya aku harus mengatakan pada kedua kakak beradik itu untuk menghadapi situasi tidak terduga”
******
Theo berjalan di jalan utama yang lebar di kota. Untuk saat ini dia masih berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan uang agar mereka bisa makan hari ini. Di dalam hatinya, dia hanya berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan uang.
‘Jika aku mencuri lagi di altar, Stelani pasti akan marah. Tapi, aku juga tidak bisa melakukannya sembarangan ketika di kota yang ramai seperti ini. Terlebih, aku tidak tau apakah ada penjaga keamanan atau tidak. Yang jelas sekarang, aku harus menemukan cara untuk mendapatkan uang!’
Theo hanya berjalan dengan sesekali berhenti di dekat bangunan, termenung dan berpikir untuk mencuri dompet orang yang lewat. Setelah membulatkan tekad akhirnya dia memutuskan untuk melakukan niat awalnya mencuri. Satu, dua, tiga penduduk yang dilewatinya tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Siang itu, Theo telah mendapatkan setidaknya tiga dompet dan dua gelang emas mahal dari penduduk yang lewat.
‘Hee~tidak kusangka akan semudah itu’
Dia mengambil semua uang di dalam dompet-dompet itu dan membuang dompet kosongnya ke tempat sampah yang ada di pinggir jalan. Sejauh ini semua sesuai dengan perkiraannya. Akan tetapi itu tidak lama. Setelah beberapa lama dia merasa seperti ada yang mengikutinya di belakang dan dia mulai berlari. Dia berlari secepat yang dia bisa. Saat dia melewati belokan ke gang, dia disekap oleh orang yang menunggunya dan selanjutnya sudah bisa ditebak.
**
-BUUK…BUUKK
“Ugh!”
Theo dipukuli oleh tiga orang remaja di dalam gang itu. Gang itu sempit dan cukup gelap jadi hampir tidak ada yang menyadari apa yang terjadi di sana.
Ketiga remaja itu memukulinya hingga dia tidak bisa bangun. Setelah Theo babak belur, mereka mengambil semua hasil curiannya hari ini.
“Dasar bocah tidak tau diri! Beraninya kau masuk ke daerah kami! Heh, inilah akibatnya jika berani melakukan hal yang tidak-tidak di wilayah orang!”
“…Kh…” Theo menahan sakit di seluruh tubuhnya
“Kali ini kau harus berterima kasih pada kami karena masih membiarkanmu lolos, bocah sialan!”
“Lain kali, jika kami melihatmu melakukan hal yang tidak-tidak di wilayah kami...” salah satu remaja itu menendang perut Theo lagi dan berkata “…akan kupastikan kau tidak akan bisa mencuri apapun”
“Kami akan patahkan tangan dan kakimu itu, bocah!! Kita pergi dari sini”
Ketiga remaja itu pergi setelah merampas hasil curian Theo dan menghajarnya habis-habisan. Theo yang masih terkapar di tanah masih belum bisa berdiri dan hanya terdiam menahan sakit di seluruh tubuhnya. Selain tidak bisa melawan karena kalah jumlah, dia juga tidak memiliki tenaga yang cukup. Setelah tidak makan selama tiga hari, makanan pertama yang masuk pagi ini hanyalah sepotong roti yang kotor.
“Kugh…sial”
Theo mencoba mengambil topinya yang ada di depannya dengan merangkak perlahan. Setelah berhasil mengambil topinya dan berdiri, dia berjalan perlahan-lahan sambil memegangi perutnya. Saat keluar dari gang itu, tentu saja tidak ada orang-orang di sana yang memedulikan kondisinya itu.
“Siapa yang akan peduli pada anak dari daerah kumuh sepertiku, heh….” Theo bicara pelan dengan nada meremehkan dirinya sendiri
Theo duduk di salah satu anak tangga sebuah bangunan sambil menahan perutnya yang sakit. Dia juga sesekali memegangi bagian kerah bajunya seperti ada sesuatu yang dikalungkan di lehernya. Pikirannya benar-benar kacau siang itu. Tentu dia khawatir dengan keadaan Stelani dan teman-temannya yang kelaparan, tapi di sini dialah yang sedang berjuang sendirian untuk mendapatkan uang.
“Kalau begini, gorilla itu tidak akan memberi kami makan lagi nanti malam”
Theo kelihatan menahan air matanya. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya walaupun tanpa sadar air matanya tetap keluar.
‘Aku harus melakukan sesuatu. Setidaknya aku harus bisa membawa makanan untuk kami makan nanti malam’
Saat Theo menghapus air matanya, ada seseorang yang memberikan sepotong roti padanya.
“Apa kamu baik-baik saja?”
******
Kino dan Ryou sudah meninggalkan tempat sebelumnya dan berjalan perlahan-lahan di kota. Ryou melirik beberapa toko yang ada dan sesekali berhenti untuk memperhatikannya dari kaca jendela.
“Apa ada yang ingin Ryou beli?” Kino bertanya pada Ryou
“Hmm…apa kau tidak penasaran Kino? Sejak jam saku kita hilang, kita jadi tidak bisa mengetahui jam berapa sekarang. Aku melirik ke arah toko untuk memastikan jam mereka sama satu sama lain”
“Apa menurut Ryou ada perbedaan waktu dengan yang kita miliki? Kurasa selama ini jam saku itu memberitaukan kita waktu yang sama dengan ‘dunia siang’ ini”
“Aku tidak tau. Selama ini yang menjadi acuan untuk waktu yang kita miliki adalah jam saku itu. Aku tidak berpikir ‘dunia’ ini memiliki waktu yang berbeda, tapi kau tau betapa mencurigakannya tempat ini sejak awal, iya kan? Aku mulai berpikir semua orang yang lewat di sini sebenarnya adalah monster ‘dunia malam’ yang menyamar di siang hari”
Pikiran jenius Ryou yang bisa dengan mudah mengatakan hal yang sebenarnya adalah salah. Tapi, wajar saja dia berpikir begitu sejak di tempat itu tidak ada yang bisa sepenuhnya dipercaya. Kino yang mendengar hal itu hanya tersenyum memaklumi pemikiran unik sang adik. Untuk membunuh rasa penasarannya, Ryou memutuskan untuk pergi ke toko jam.
“Aku akan membeli sebuah jam untuk kita. Hanya untuk sementara, tapi masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Selain itu, kita jadi bisa tau berapa lama lagi waktu yang tersisa sampai matahari terbenam”
Ryou langsung berlari menuju toko jam yang letaknya tiga toko dari tempatnya berdiri tadi. Dan sekarang Kino ditinggal seorang diri dengan kantong roti bersamanya. Sambil menunggu, Kino berjalan-jalan di sekitar area tempat itu.
‘Apa dia baik-baik saja?’
Kino melihat kantong berisi beberapa roti yang tadi dibeli Ryou dan mulai berpikir untuk memberikan satu pada anak itu.
“Kurasa dia lapar. Aku harap dia akan menyukai ini”
Kino mendekatinya saat dia seperti sedang mengusap air matanya. Dia memberikan sepotong roti pada anak itu dan bertanya “apa kamu baik-baik saja?”
Anak itu menengok dengan wajah terkejut. Kino memperhatikan wajah dan pakaiannya.
‘Wajah dan pakaiannya kotor. Selain itu, memar di pipi dan bibirnya itu tidak seperti terjatuh. Orang lain pasti menyadari bahwa itu luka akibat dipukul. Apakah dia mengalami kekerasan dari orang tuanya? Kasihan sekali’
Anak itu hanya menatap ke arah wajah Kino sebentar dan selebihnya menatap roti yang dipegang oleh Kino. Kino tersenyum dan mengatakan “ambilah” kepada anak itu. Tentu saja tanpa ragu dia mengambil dan memakannya. Kino hanya melihatnya makan sambil berdiri di sebelahnya. Anak itu meliriknya dan bergeser sedikit ke sisi samping, memberikan kode agar Kino duduk di sampingnya juga.
“Terima kasih” Kino duduk di samping anak itu
Dia melihatnya makan dengan lahap dan itu membuatnya senang. Saat rotinya habis, anak itu sempat melirik kantong yang dibawa olehnya lagi.
“Ada apa? Apa kamu masih lapar?” Kino menyadari hal itu dan bertanya pada sang anak
“……” anak itu hanya memerah dan menunduk malu
“Begitu. Ini, satu lagi. Makanlah. Kalau kamu masih lapar, kamu boleh memintanya lagi”
Kino memberikan satu roti lagi pada anak itu. Sambil memakannya, anak itu mulai melirik lagi ke arahnya. Kali ini dia melihat Kino dari atas sampai bawah dan berpikir dalam hatinya.
‘Dari pakaiannya, dia terlihat bukan dari kota ini. Sepertinya dia juga memiliki banyak uang di sakunya. Tapi–’
Anak itu merasa sedikit bersalah jika berpikir ingin mencuri uang milik pemuda yang sudah berbaik hati memberinya roti.
Kino melihatnya dan bertanya pada anak itu.
“Apa luka itu baik-baik saja?”
“Ini? Um…sudah tidak begitu sakit”
“Kalau boleh tau, kenapa kamu bisa mendapatkan semua luka itu?”
Kino merasa tidak enak hati karena merasa sedang bertanya hal yang mungkin tidak sopan, tapi melihat keadaan anak itu dia menjadi sedikit penasaran. Tidak disangka anak itu menjawabnya.
“Aku hanya menabrak sesuatu dan terjatuh. Sudah tidak apa-apa. Terima kasih sudah bertanya”
“Begitu”
Tentu saja Kino tau kalau itu semua bohong. Dia hanya meresponnya agar anak itu tidak curiga padanya. Selain itu, Kino juga tidak memiliki niat buruk. Sepertinya anak itu juga tertarik dengan Kino dan mau mengajaknya bicara.
“Apa yang kakak lakukan di sini? Ini bukan seperti kau sengaja melihatku dan memberikan roti ini kan?”
“Aku sedang menunggu adikku. Dia sedang berada di toko jam di sana dan karena dia langsung berlari meninggalkanku, kupikir aku akan menunggunya di luar. Aku tidak sengaja melihatmu memegangi perutmu. Karena kupikir kamu sakit jadi aku mencoba mendekatimu”
“……” anak itu diam dan memakan rotinya lagi
Setelah rotinya habis, Kino menawarkan sepotong roti lagi untuknya tapi dia menolaknya.
“Tidak, terima kasih. Aku hanya tidak enak jika semua roti itu habis karena kakak memberikannya pada anak sepertiku”
“Jangan khawatir. Sebenarnya adikku yang membeli ini. Jika kamu masih lapar, kamu boleh memintanya lagi. Aku hanya akan minta maaf padanya saat dia kembali nanti”
“Tapi–”
-Kruuuuk
Suara perut yang seperti sedang mengadakan ‘konser’ di siang hari tidak bisa membohongi siapapun yang mendengarnya. Anak itu lapar. Tentu saja setelah itu, wajah memerah seperti tomat muncul bersamaan dengan suara tawa kecil dari Kino. Akhirnya setelah suara ‘konser’ itu semakin keras, dia menerima sepotong roti lagi dari Kino.
“Maafkan aku” anak itu memegangi rotinya dan minta maaf pada Kino
“Tidak apa-apa. Aku sudah katakan kalau masih lapar, kamu boleh memintanya lagi. Makanlah sampai kenyang”
Ada perasaan sedikit bersalah pada anak itu. Dia berpikir dalam hatinya.
‘Bukankah tidak adil jika hanya aku yang memakan semua ini sedangkan mereka menahan lapar di rumah’
Kino melihatnya terdiam meskipun sudah memegang roti di tangannya. Kino bertanya padanya tapi anak itu tidak menjawabnya. Tidak lama setelah itu, Ryou keluar dari toko dan melirik kanan kiri untuk mencari sang kakak. Ryou akhirnya menemukan Kino sedang duduk di dekat anak tangga dan sepertinya dia sedang bicara dengan seseorang.
“Kino!!” Ryou berteriak sambil berjalan mendekati Kino
Kino dan anak itu menengok bersamaan. Kino melambaikan tangannya ke arah Ryou. Setelah mendekat, Ryou langsung memasang pose tolak pinggang yang akhir-akhir ini menjadi pose kesukaannya.
“Kenapa tidak mengikutiku? Kau tidak tau aku berdebat sangat panjang dengan paman berkumis di toko jam itu! Dia tidak mau menurunkan harganya sama sekali dan akhirnya aku menggunakan jurus andalan ibu dengan….hmm?. Siapa anak ini?”
Sebelum Ryou selesai menceritakan kisah kepahlawanannya melawan penjaga toko jam tadi, dia melirik ke anak yang duduk di sebelah Kino.
“Aku melihatnya duduk di sini dan memberinya roti. Itu karena Ryou tiba-tiba saja meninggalkanku sendiri jadi kupikir aku akan menunggumu”
“……”
Anak kecil itu melirik ke arah Ryou. Dia cukup kaget dengan wajah Ryou yang menatapnya dengan tatapan lurus, seakan dia sedang melihatnya dengan teliti. Ryou yang menatapnya mengingat sesuatu pagi ini. Diat mengenali ciri-cirinya dan langsung bertanya pada anak itu.
“Kau anak yang tadi pagi menabrak kami di altar kan?”
-Deg
Jantung sang anak langsung berdetak kencang sekali. Wajahnya pucat seketika dan tangannya gemetar. Ryou menatapnya cukup tajam seperti sedang berpikir sesuatu.
“Aku ingat dengan jelas. Dia yang menabrak kita dan kau yang membantunya berdiri tadi pagi”
“Benarkah? Aku sama sekali tidak menyadarinya. Apakah itu benar?” Kino kaget dan melihat anak itu sekali lagi
“Nee…apa yang terjadi pada wajah itu? Kemana semua teman-temanmu?”
Mendengar pertanyaan Ryou, anak itu menjadi semakin pucat dan keringat dingin keluar dari keningnya. Dengan panik anak itu langsung lari tanpa mengatakan apapun pada kedua remaja itu.
“Oi!!” Ryou berteriak memanggil anak itu
Kedua kakak beradik itu melihatnya dari kejauhan dan saling menatap satu sama lain dengan wajah bingung.
******
Kaito akhirnya kembali ke kolam air mancur dan altar lagi. Siapa yang menyangka bahwa dia akan ke tempat itu lagi setelah pergi jauh sejak pagi hari untuk mencari jam saku milik kedua remaja itu.
Dia masih memperhatikan jalan tempat dia berhasil keluar dari daerah kumuh itu.
‘Jelas ini tidak masuk akal. Dengan adanya daerah kumuh yang tidak terjamah oleh penduduk kota ini, menandakan bahwa ini memang bukan lagi ‘dunia siang’ yang kutau. Selain itu, petunjuk tentang kepingan ingatanku kali ini mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama agar bisa ditemukan. Kondisi ini benar-benar diluar kendaliku’
Kaito bermaksud untuk kembali ke jalan asing itu sekali lagi tetapi dia masih belum mengenal seluk-beluk jalan tersebut. Sekali lagi, semua fokusnya bercabang. Dia mulai bertanya kepada penduduk sekitar tentang jalan yang dia lewati sebelumnya.
“Jalan itu jarang sekali dilewati”
“Tempat itu katanya dikuasai oleh orang-orang mengerikan karena itu hampir tidak ada yang mendekatinya”
“Mereka bilang di dalam sana terdapat pasar illegal yang menjual barang-barang aneh hasil curian atau selundupan”
Beberapa keterangan dari orang-orang yang ditemui oleh Kaito hampir semuanya memberikan satu kesan yang sama, tempat itu penuh dengan komen negatif. Namun, seorang ibu dengan anak memberikan sedikit informasi yang menurut Kaito cukup berguna.
“Aku sudah seminggu ini melihat sekumpulan anak-anak yang meminta sumbangan di depan pintu altar. Petugas penjaga altar beberapa kali bertanya dari mana asal mereka tapi mereka tidak pernah mengatakannya. Sebenarnya, setiap pagi setelah selesai berdoa, aku beberapa kali melihat mereka pulang melewati jalan itu. Sepertinya itu adalah tempat tinggal mereka”
Kaito ingat sekumpulan anak-anak yang dia temui di tempat itu.
‘Mungkinkah yang dimaksud adalah mereka? Kalau dingat-ingat, anak yang tidak sengaja menabrakku juga terlihat di sekitar kolam air mancur pagi ini. Berarti bukan tanpa alasan mereka ada di tempat kumuh itu’
Kaito menaikki tangga menuju altar dan melihat keadaan sekitarnya tempat itu.
‘Aku tau ini bukan saatnya untuk mengurus jalan itu. Tapi, mengingat jalan itu sama anehnya dengan kolam air mancur di sana, kurasa tidak akan masalah jika aku sedikit mencari tau lebih dalam. Bisa saja ini adalah petunjuk untukku. Perubahan ‘dunia siang’ ini sudah tidak normal. aku juga tidak bisa menjamin apakah ini pertanda baik atau buruk’
**
Theo berlari sekuat tenaganya. Setelah itu dia berhenti di bawah pohon dengan napas terengah-engah. Semua energinya tiba-tiba terkuras habis. Di tangannya masih ada roti yang belum dimakan olehnya. Dia melihatnya dan mengingat wajah orang yang memberikan roti itu untuknya.
“Jadi…kakak itu yang tadi pagi”
Ada perasaan sedih dan wajahnya menunjukkan wajah penyesalan saat dia melihat roti di tangannya.
“Aku sudah berbuat jahat pada kakak itu”
******