Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 7. Dunia Siang dan Malam bag. 4



Kino melihat Ryou yang terdiam. Wajahnya sedikit tertunduk dan terlihat sedih. Kino tidak mengerti kenapa adiknya tiba-tiba diam seperti itu.


“Ryou, ada apa? Apa kamu sakit?”


“……”


“Ryou?”


Ryou tidak merespon. Kino menjadi cemas karena sikap itu tidak seperti sebelumnya. Dia memegang tangan sang adik dan tersenyum, berharap dia mau bicara.


“Ada apa? Kalau Ryou tidak bicara aku tidak akan tau apa yang kau pikirkan. Apa karena soal makanan tadi atau ada hal lain?”


“……”


“Apa kamu begitu terkejut dengan pertanyaanku pada Kaito-san tentang kemungkinan kita harus memiliki senjata? Aku mohon jawab aku, Ryou”


Ryou mulai merespon. Dia memandang wajah sang kakak dengan tatapan aneh. Seakan menunjukkan tatapan penyesalan.


“Aku menyadari sesuatu saat kau mengatakan pada Kaito bahwa kita tidak mungkin terus bergantung padanya. Kita harus menemukan cara agar bisa kembali. Apa kau lupa kalau kita terjebak di sini karena kesalahanku?. Aku yang membuat situasi kita dalam bahaya seperti ini”


“Ryou… itu bukan salahmu. Siapapun tidak akan mengira kebetulan seperti itu”


“Itu bukan kebetulan!!” Ryou mulai berteriak. Matanya mulai merah seperti menahan air mata


“Saat aku menyadari buku itu aneh, aku tau aku harus menahan diriku dan mengabaikannya tapi aku tidak bisa. Aku menjadi penasaran seperti sesuatu menarikku dan aku menujukkan semua yang kutemukan padamu. Jika aku tidak ceroboh dan tidak melukai jarimu saat itu, kita pasti tidak seperti ini”


Baik Kino atau Ryou memang tidak pernah menyangka akan terjebak dengan situasi ini. Tapi, bukankah sebelumnya mereka memilih untuk percaya pada kenyataan yang dikatakan Kaito? Untuk apa semua penyesalan itu datang sekarang? Mereka sudah menghadapi kesulitannya  dan yang terpenting mereka masih hidup.


Tapi ternyata Ryou tidak sepenuhnya menerima itu. Dia ingat pagi ini dia dibangunkan oleh sang ibu akibat terlambat bangun dan melempar jam alarm di kamarnya.


Dia ingat sang ayah mengantarkan mereka berdua ke sekolah dan ijin pulang terlambat. Dia masih ingat wajah orang tua dan teman-temannya di sekolah. Dia ingat bahwa mereka berdua baru saja makan malam bersama sambil menunggu orang tua mereka kembali. Dia mengingat semua itu dengan jelas.


Tapi sekarang dia menghadapi situasi tidak nyata yang cukup mengguncang mental keduanya. Dan semua itu adalah salahnya.


Ryou menyalahkan dirinya sendiri. Melihat wajah kakaknya, dia tidak bisa melakukan apapun pada air mata yang tiba-tiba keluar. Dia menangis.


“Aku tidak ingin seperti ini. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu dalam masalah. Aku mencoba sebaik mungkin bersikap normal dihadapmu dan Kaito karena sudah terlanjur terseret dalam masalah. Tapi, tidak ada jaminan untuk kita bisa kembali setelah ini. Hiks….”


“Ryou….”


Tidak ingin melihat adiknya menangis, Kino menghapus air mata dari wajah sang adik dan memeluknya. Pelukan lembut yang mendekap erat Ryou dan membuatnya merasa hangat. Sambil mengusap belakang kepala sang adik dalam pelukan, Kino berkata dengan lembut.


“Ryou… aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku senang kita masih bersama bahkan pada keadaan seperti ini. Semua akan baik-baik saja…”


“……”


“Lagipula, Ryou sudah melakukan hal hebat. Kamu berhasil menyelamatkan Kaito-san, kamu juga berhasil mengalahkan dark wolf saat di altar. Berkat dirimu, Kaito-san berhasil menemukan pedangnya kembali. Itu hal luar biasa dan semua itu hanya Ryou yang bisa melakukannya. Jangan berkata bahwa semua ini salahmu”


“……”


“Lihat aku. Kita akan baik-baik saja. Aku juga akan berjuang, jadi Ryou juga harus berjuang. Aku akan senang sekali kalau Ryou menjadi Ryou yang biasa kukenal”


Melepas pelukan eratnya, Kino mulai mengusap kembali air mata adiknya dan tersenyum. Melihat senyuman Kino, Ryou tidak bisa untuk tidak merasa tenang. Dia pun ikut tersenyum dan mereka bisa tertawa. Pemandangan yang hangat di pagi hari saat itu.


Kaito mendengarkan semua percakapan hangat antara kakak beradik itu dari balik sisi luar pintu ruangan dan tersenyum. Setelah itu, dia membalikkan badannya dan pergi menuruni tangga.


******


Di kota, terlihat mulai banyak sekali kios-kios yang telah buka. Kaito tengah berjalan menelusuri jalan sempit yang tidak banyak dilewati penduduk. Setelah keluar dari gang, akhirnya dia sampai di jalan besar di pusat kota. Keadaan di sana lebih ramai dari sebelumnya.


Bukan hanya pedagang di kios dan toko, ada penyanyi dan penari jalanan, pemain atraksi dan banyak lagi. Suasana cerah menyelimuti kota. Benar-benar pemandangan yang jauh berbeda dari semalam. Hatinya bergumam melihat semua hal tersebut.


‘Benar-benar dunia yang mengerikan. Hanya jika matahari terbit aku bisa melihat semua pemandangan ini. Setelah matahari terbenam, aku harus bertaruh nyawa hanya untuk berjalan keluar. Tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama. Apalagi….’


Dalam pikirannya, teringat kedua kakak beradik yang sekarang sedang bersamanya. Kaito sudah memutuskan untuk tidak melibatkan mereka dalam masalah meski sebenarnya itu semua sudah terlanjur. Dia masih harus mencari kepingan ingatannya di salah satu ‘dunia’ ini. Tidak mudah mendapatkan petunjuk jika perulangan terus terjadi.


‘Kakak beradik itu harus segera keluar dari sini. Jika saja kepingan ingatanku ada di tempat ini mungkin semuanya akan mudah. Yang jelas, aku harus menyiapkan semua benda yang kubutuhkan. Aku juga butuh senjata cadangan dan juga memikirkan kemungkinan terburuk’


Kaito sudah menentukan tujuannya. Sambil berjalan, dia sampai di sebuah toko senjata, [Magasin d'armes].


Kaito masuk ke toko tersebut karena penampilan luar toko itu terlihat meyakinkan. Pemandangan yang dilihat olehnya benar, banyak sekali senjata dengan kualitas tinggi dan tentu saja berharga mahal, namun bukan itu fokus utamanya. Tanpa basa-basi, Kaito mendatangi meja kasir dan meletakkan pedang yang terbungkus jubah tanpa membukanya kepada pemilik toko.


“Aku membutuhkan senjata yang kuat. Berikan semua yang terbaik yang kau punya padaku”.


Pemilik toko tersebut menjadi panik dan segera meminta karyawannya untuk mencarikan pesanannya. Kaito benar-benar terkesan seperti merampok daripada membeli. Karyawan toko itu menunjukkan beberapa senjata kepadanya. Setelah melihat detail senjata itu, pandangan Kaito tertuju pada sesuatu yang menarik perhatiannya.


“Benda ini…”


“Perisai ini bernama [Bouclier d'améthyste] tuan. Perisai ini memiliki batu berwarna ungu berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa di tengah sebagai intinya”


“Apa benda ini cukup kuat untuk menahan serangan?”


“Benda ini baru selesai saya buat dan ini masih model sampel, belum pernah diuji coba. Namun, material yang saya gunakan untuk membuatnya cukup langkah”


“Material langkah katamu?”


“Apakah tuan pernah mendengar logam bernama [Graphene]? Itu material terbaik untuk membuat senjata. Selain itu, senjata yang dibuat dengan graphene memiliki berat yang lebih ringan dari senjata pada umumnya sehingga mudah untuk dibawa, bahkan oleh pemula sekalipun”


“Apa seorang pemula yang belum pernah berburu atau bertarung dengan hewan liar juga bisa menggunakan perisai ini untuk bertahan?”


“Benar sekali. Saya rasa perisai ini cukup kuat untuk digunakan sebagai pertahanan dalam berburu”


“Seberapa yakin kau terhadap kekuatan benda ini?”


“Saya sangat yakin benda ini mampu menahan benturan sekeras apapun tetapi untuk batasan pemakaian saya rasa tergantung penggunanya. Jika tuan mau, saya bisa memberikanya secara cuma-cuma sebagai hadiah karena sudah membeli banyak senjata di toko ini”


“Aku ambil benda ini”


Sebenarnya bukan perisai itu yang menarik perhatiannya, tapi batu berwarna ungu yang ada di sana yang menarik perhatiannya. Sempat berpikir bahwa mungkin itu adalah salah satu kepingan ingatan miliknya. Namun saat disentuh, batu itu tidak masuk ke dalam tubuhnya.


Meskipun bukan seperti harapannya, tapi dia berhasil menemukan benda menarik untuk kedua kakak beradik itu.


‘Dengan perisai ini, setidaknya mereka bisa mempertahankan hidup mereka sendiri’


Kaito akhirnya selesai memilih semua senjata yang dia butuhkan lalu tiba-tiba berkata kepada pemilik toko “Aku membeli semua yang telah kupilih ini”


Pelayan itu nampak senang sekali mendengarnya. Namun tidak lama, Kaito menujuk pedang yang terbungkus jubah di atas meja kasir tersebut.


“Semua barang-barang ini akan kuambil nanti sore. Pedangku ini adalah jaminannya”


Pemilik toko awalnya sangat ragu. Namun, saat Kaito membuka jubah yang membungkusnya, pemilik toko itu melihat pedang miliknya dan tersenyum sangat lebar. Dia terkejut dengan keindahan pedang bermata ganda miliknya dan menyadari ukiran pada gagang pedang yang sangat detail, indah dan unik. Hal itu membuat sang pemilik toko tanpa ragu menerimanya.


“Oh, pedang ini benar-benar indah. Apa tuan yakin pedang seindah dan semahal ini digunakan untuk jaminan?”


“ Sangat yakin. Aku memiliki sedikit urusan lain setelah ini dan tidak mungkin membawa semua barang ini bersamaku, jadi aku akan membayarnya setelah aku selesai dengan urusanku yang lain. Saat aku datang tolong siapkan semua yang kupesan di atas meja”


“Baik, saya mengerti tuan. Saya akan menyimpan pedang ini. Untuk jubahnya, meskipun terbuat dari material yang sangat mahal dan indah tapi sepertinya toko saya tidak membutuhkannya. Saya kembalikan pada tuan. Silahkan”


“Terima kasih. Tolong lakukan seperti yang kukatakan barusan”


Setelah itu Kaito keluar toko dan pergi ke tempat lain.


Bersamaan dengan Kaito yang pergi ke kota untuk pergi membeli perlengkapan dan senjata, keadaan di tempat Yuki bersaudara menjadi lebih baik.


“Kino… apa menurutmu ayah dan ibu akan menyadari bahwa kita menghilang?”


“Aku tidak yakin. Mungkin saja mereka akan khawatir jika tau kedua anaknya menghilang”


“Aku ingat pagi ini ibu membangunkanku karena kau tidak mau melakukannya”


“Aku sudah bilang aku menyerah karena Ryou tidak mau bangun meski sudah kubangunkan tiga kali hari ini”


“Kalau dipikir-pikir, kita baru saja makan malam sebelum datang ke sini. Apa artinya di Jepang juga sudah pagi?”


“Aku tidak tau. Mungkin saja”


Di ruang kamar itu, mereka mulai berbicara banyak hal dan wajah kedua terlihat begitu menikmati waktu percakapan itu.


“Di anime-anime yang sering ku tonton saat di rumah, biasanya orang-orang yang terjebak di dunia lain memiliki aliran waktu yang berbeda dengan dunia mereka. Mungkin saja aliran waktu kita juga begitu”


“Tapi, bukankah anime yang Ryou lihat itu tentang orang yang pergi ke dunia lain setelah mereka mati di dunia asli mereka? Berbeda dengan mereka, Ryou dan aku masih hidup. Jadi, sulit membayangkan kalau memang benar seperti di anime”


“Oi… aku mencoba untuk positif di sini. Aku tidak mau menangis dipelukanmu lagi, mengerti”


Kino hanya tertawa mendengar ucapan adiknya itu. Sambil tersenyum, dia hanya berkata “maafkan aku” dan Ryou membalas dengan senyuman lebar yang ceria.


“Aku percaya pada semua yang kau katakan, Kino. Semua akan baik-baik saja. Ayah dan ibu pasti juga akan baik-baik saja”


Setelah bicara panjang, Kino melihat jam sakunya. Waktu pada jam itu menujukkan pukul 09.00. Mereka sudah tidak mau mengatakan apapun soal jam saku itu. Yang mereka tau adalah jam saku itu adalah sumber kekacauan yang menimpah mereka namun juga satu-satunya petunjuk untuk kembali ke tempat asal mereka.


“Nee, Ryou–” Kino menggenggam erat jam saku di tangannya


Setelah itu, Kino melanjutkan kalimatnya


“Jika jam saku yang ada pada Kaito-san adalah petunjuk untuk menemukan ingatan miliknya, bukankah ada kemungkinan kalau jam saku ini juga bisa mengembalikan kita ke Jepang?. Itu mungkin saja kan?”


“Kemungkinan begitu. Tapi bagaimana–” Ryou tiba-tiba ingat kejadian sebelum jam saku itu bersinar.


Seperti yang mereka tau, jam saku itu sempat terkena tetesan darah Kino saat dia terluka akibat sayatan yang tidak disengaja. Padahal hanya setitik namun bisa merubah kondisi mereka menjadi seperti sekarang.


Sebuah gagasan ide aneh muncul dari pikiran Ryou dan sudah dapat di tebak, seperti apa reaksi sang kakak mendengarnya.


“Kino, ingat kenapa kita bisa ada di sini? Jam ini tidak sengaja terkena darahmu saat itu. Mungkin saja jika kita meneteskan darah ke jam saku ini, kita bisa pulang ke Jepang!” Ryou bicara dengan begitu percaya diri


“Apa?! Tidak, Ryou. Kamu tidak bermaksud untuk melukai dirimu sendiri demi itu kan? Aku tidak mau Ryou melakukan hal aneh” benar saja, Kino menjadi panik atas gagasan ide cerdas sang adik


“Tapi layak untuk dicoba. Kau tidak perlu melakukannya, biar aku yang coba. Berikan jamnya padaku”


“Tunggu–”


Ryou mengambil jam saku itu dan mulai melukai ibu jari tangan kanannya dengan cara menggigitnya dengan kuat hingga terluka. Setelah itu dia meneteskan darah miliknya. Tapi, tidak terjadi apapun. Benar-benar tidak bersinar dan tidak ada yang berubah. Rencana Ryou gagal.


“Huh? Kenapa tidak terjadi apapun?”


“Ryou, tanganmu terluka. Sudah aku katakan jangan melakukan hal aneh” Kino merobek sedikit pakaiannya untuk menutupi luka Ryou


“Kino, kenapa kau merobeknya? Jangan lakukan itu”


“Ryou juga tidak mau mendengarkanku, kan? Jadi, aku tidak perlu mendengarkanmu. Selain itu, sesuai penjelasan Kaito-san bahwa ketika ‘dunia malam’ datang, semua yang terjadi siang ini akan kembali semula termasuk pakaianku dan lukamu ini. Tetapi tetap saja darahnya harus dihentikan”


“Ukh…. Maafkan aku. Kupikir cara ini akan berhasil” wajah Ryou menyesal seperti anak kecil


“Tidak apa-apa. Lain kali ‘jangan melakukan hal aneh’… tadinya ingin mengatakan itu tapi aku sangat mengenal sifatmu itu jadi kurasa aku hanya akan meminta Ryou untuk sedikit lebih tenang, mengerti?”


“……”


Satu informasi penting lain akhirnya diketahui oleh mereka. Mereka tidak bisa kembali dengan cara yang sama saat mereka datang.


“Sepertinya kita memang tidak bisa kembali ke Jepang karena suatu hal. Apa menurutmu Kaito-san harus tau hal ini?’ sambil membersihkan darah pada jam saku, Kino melihat ke arah Ryou


“Kurasa untuk sekarang tidak. Meskipun kita sudah memutuskan untuk percaya pada apa yang dikatakannya, tapi Kaito juga memiliki masalah serius. Berbeda dengan kita yang tidak sengaja datang ke tempat aneh ini tanpa tujuan apapun, Kaito memiliki tujuan dan demi tujuan itu dia rela menghadapi bahaya selama ini. Dia juga mengatakan bahwa dia sudah tidak tau sudah berapa lama dia terjebak disini”


“Kamu benar, tapi–” Kino terdiam sejenak dan suasana kembali menjadi hening


Dari kondisi yang terlihat, pengalaman Kaito jauh dari mereka berdua. Kemampuan bertarung dan informasi miliknya juga sangat berguna. Mungkin keberuntungan yang mereka miliki sekarang adalah karena mereka bertemu dengan orang yang hebat seperti Kaito.


Kino sadar bahwa tidak bisa terus mengandalkan informasi dari Kaito dan mereka harus bisa menemukan cara sendiri. Sejak mereka akan menghadapi masalah di ‘dunia malam’ bersama, selain senjata, informasi juga hal penting lain yang sangat dibutuhkan.


“Naa, Ryou… Bagaimana pendapatmu? Aku berpikir untuk sekarang kita harus memahami cara kerja ‘kedua dunia’ yang dimaksud Kaito-san ini. Seandainya kita sudah mengetahuinya, aku yakin kita bisa menemukan cara untuk kembali ke Jepang. Terburu-buru juga tidak akan memberikan dampak yang baik karena kita memiliki banyak sekali celah”


“Kita sudah tau secara garis besarnya. Memang apa lagi yang ingin kau pelajari?” Ryou memandang Kino yang memasang ekspresi serius di wajahnya


“Aku tidak yakin. Tapi aku merasa Kaito-san masih belum memberikan semua informasi yang dimilikinya pada kita”


“Kau curiga pada Kaito?”


“Aku tidak mencurigainya. Dia orang yang baik……dan entah kenapa berada di sampingnya membuatku yakin kita berdua akan aman. Hanya saja…”


Kali ini Ryou lah yang mencoba bersikap dewasa. Sambil memeluk kakaknya yang terlihat cemas, Ryou mengatakan hal yang sering dikatakan sang kakak padanya.


“Kurasa sekarang kau lah yang harus tenang, Kino”


“……” Kino cukup terkejut saat Ryou memeluknya. Tapi, kata-kata sang adik selanjutnya membuat hatinya menjadi tersentuh


“Tarik napasmu dan hembuskan. Setelah itu, jangan pikirkan hal rumit seperti itu. Kita sudah di situasi rumit, jangan membebani dirimu dengan pikiran rumit juga”


“Mmm. Terima kasih. Aku sudah lebih baik sekarang”


Melihat sang kakak tersenyum, Ryou hanya bisa menghela napas lega. Kedua kakak beradik itu memutuskan duduk tenang di dalam ruangan itu dan mengikuti kata-kata Kaito untuk menunggunya kembali.


******


Di tengah kota yang begitu ramai, Kaito yang baru saja keluar dari toko senjata membawa jubahnya memasukki sebuah tempat lain. Letaknya hanya tiga toko dari tempat sebelumnya. Toko tersebut adalah toko obat bernama [Magasin de drogue]. Kaito langsung bicara dengan perempuan yang diduga sebagai pelayan toko.


“Permisi”


“Selamat datang tuan, anda butuh sesuatu?”


“Aku membutuhkan beberapa obat-obatan, racun untuk membunuh hewan liar dengan efek paling cepat dan penawarnya”


“Sebentar. Berapa banyak yang anda butuhkan?”


“Lima puluh botol ukuran kecil untuk racunnya dan lima belas botol ukuran sedang untuk penawarnya juga berikan aku dua belas botol obat untuk luka”


Sungguh pesanan yang sangat banyak terutama untuk pesanan racun sehingga pelayan toko sedikit terkejut.


“Maaf tuan, untuk racun hewan kami hanya membatasi pembelian sebanyak dua puluh botol saja, karena untuk mengurangi tingkat resiko terhadap pengguna dan toko kami sendiri, sekalipun itu untuk berburu. Jadi…”


Pelayan itu sebenarnya takut mendengar pesanan Kaito, karena itu dia memberikan batas untuk pesanannya dan Kaito pun menyadari hal itu. Dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan sehingga mengubah seluruh pesanannya tadi.


“Baiklah, tolong masing-masing dua puluh untuk obat, racun hewan dan penawarnya. Tidak ada masalah kan?”


“Baik. Akan kami siapkan pesanannya”


Sebelum pelayan toko pergi untuk menyiapkan pesanan, Kaito memperlihatkan jubah yang dia miliki dan berkata “aku akan mengambil pesananku nanti sore. Sebagai jaminan, aku meninggalkan jubahku ini”


Pelayan kembali berbalik dan terkejut dengan benda yang dilihatnya. Sekilas jubah yang pernah disobek Kaito untuk mengobati lukanya itu memang tampak biasa saja. Tetapi, detail tidak biasa yang ada di sana sangat unik. Jika dideskripsikan, ada semacam warna keemasan pada bagian saku luar dan dalam jubah. Saat disentuh oleh pelayan itu, dia yakin bahwa jubah itu terbuat dari material mahal.


“Astaga… mungkinkah ini [Shahtoosh], kain termahal yang hanya didapatkan dari di daerah pegunungan langka di daerah Timur?!. Tuan, darimana tuan memiliki kain ini?” tidak disangka pelayan itu begitu terkejut dan terlihat berbinar dimatanya saat menyentuh jubah itu. Bahkan dia sendiri menebak jenis kain mahal yang dipakai sebagai material jubah.


“Jubah itu kudapatkan saat menukarkan hasil buruanku pada pedagang keliling. Aku bermaksud menjadikan ini sebagai jaminan karena aku tidak bisa membayar pesananku sampai nanti sore. Bagaimana?. Apakah ini bisa diterima?”


Tentu saja pelayan itu terlihat berbinar.


“Apa tuan yakin? Harga sepotong kain ini saja sudah sangat mahal. Jika dijual di toko pakaian di kota ini, tuan bisa mendapatkan uang yang sangat banyak, bahkan bisa untuk hidup tenang di kota ini untuk dua atau tiga tahun karena sangat langka di kota ini”


Siapa yang mengira jubah yang dikenakan Kaito bisa berharga semahal itu di tempat ini. Jika Yuki bersaudara ada di sana dan mendengarnya, mereka mungkin akan pucat sampai pingsan, mengingat kalau jubah itu sudah robek beberapa kali akibat pertarungan. Tapi, Kaito yang kelihatannya tenang tidak ragu dengan semua itu.


“Tidak masalah. Sore ini akan kuambil pesananku dan membayarnya jadi, anggap saja jubah itu kutitipkan di sini. Tidak masalah, kan?”


“Begitu. Baiklah. Akan saya siapkan pesanan tuan”


“Nanti sore aku akan mengambil pesanannya. Tolong langsung dibungkus dengan kantong kain secara terpisah untuk tiap pesanan yang kubuat. Apakah bisa?”


“Bisa. Dengan senang hati. Terima kasih banyak tuan. Kami tunggu kedatangannya sore ini”


Kaito keluar meninggalkan toko tersebut.


“Sekarang hanya tinggal yang terakhir dan paling penting. Kali ini aku harus menemukan petunjuk keberadaannya”


Kaito berjalan-jalan mengelilingi kota. Di sepanjang jalan, banyak kios di sepanjang jalan besar di kota. Kaito hanya mampir sambil melihat-lihat dari kejauhan, tapi tidak untuk kios batu antik dan permata.


Dia akan selalu memasuki kedua jenis toko tersebut. Tentu saja dia hanya masuk untuk  melihat batu-batuan itu dari dekat. Setiap kali melihat batu permata berwarna ungu dia selalu menyentuhnya, tetapi reaksi yang diharapkan tidak pernah terjadi. Hampir semua toko permata dan batu antik dia datangi namun semua berakhir sama seperti toko-toko sebelumnya.


Tidak ada kepingan ingatan miliknya di ‘dunia siang’ saat ini.


‘Bukan di sini. Berarti kemungkinan ada di ‘dunia malam’ atau di perulangan ‘dunia siang’ berikutnya. Aku harus mencobanya lagi setelah ini’


Kaito bicara dalam hati tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Dia melihat jam sakunya dan waktu sudah menunjukkan pukul 10.10. Dia pergi cukup lama dan berpikir untuk kembali karena dia tidak sendirian sekarang, ada orang lain yang menunggunya.


Sesampainya di kedai makan, Kaito bicara pada pelayan sebelum menaiki tangga untuk kembali ke ruangan. Lalu, setelah itu dia naik menuju lantai atas. Ketika mengetuk pintu, tidak ada yang membukakan pintunya dan akhirnya dia mencoba untuk masuk.


“Apa mereka tidak mengunci pintunya meski sudah kutinggalkan di meja?”


Pemandangan pertama yang dilihat oleh Kaito ketika membuka pintu adalah dua orang yang tertidur di tempat tidur. Mereka tidur di tempatnya masing-masing dengan nyenyak. Kaito berjalan setenang mungkin, mengambil kunci di meja dan mengunci ruangan.


Setelah itu, dia melihat keadaan kedua kakak beradik itu dan memastikan mereka baik-baik saja.


“Kurasa memang tidak terjadi apapun. Aku senang kalian menurut dan tidak melakukan hal yang merepotkanku. Kerja bagus, anak-anak baik” sambil tersenyum, Kaito berbisik memuji mereka


Setelah itu, dia melepas sepatunya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Waktu pada jam sakunya menunjukkan pukul 10.30, masih ada waktu tersisa sampai matahari terbenam di jam enam sore nanti. Kaito mencoba memejamkan mata perlahan dan akhirnya dia tertidur. Untuk sekarang, hanya ada tiga orang yang tertidur dengan lelap dan damai di dalam ruangan itu.


******