
Di rumah sakit, Arkan keluar karena jam besuk telah habis. Dia berjalan menuruni tangga dan akhirnya sampai di luar. Setelah melihat kanan dan kirinya, dia menghela napas.
“Kurasa Riz ikut bersama manager ke bar” gumamnya pelan
Setelah itu, dia mulai berjalan ke jalan di pusat kota untuk kembali ke bar. Siang itu, dia memutuskan untuk membeli roti isi daging dan teh dingin di salah satu kios yang ada di pusat kota sebagai makan siangnya.
Sambil duduk dan makan di sekitar tempat itu, Arkan sedikit merenung.
‘Kalau kupikirkan lagi, kejadian dua hari itu benar-benar mengubah semua hari-hariku. Di tambah lagi…aku merasa dua hari terakhir ini sungguh berat’
Arkan berhenti memakan rotinya sebentar dan mengingat apa saja hal berat yang dialaminya.
Ini terjadi dua hari yang lalu, tepatnya di siang hari.
Saat itu, Arkan melihat Kaito yang turun dan bicara dengan bagian administrasi. Tidak lama kemudian, dia melihat pemuda itu berjalan menghampirinya di luar.
“Kaito, bagaimana?”
“Stelani dan Fabil sudah ditangani. Luka mereka ternyata tidak begitu parah, meskipun Stelani memiliki memar di kakinya. Ryou masih menemani Kino di dalam ruangannya. Dokter juga belum keluar sampai aku turun jadi aku tidak tau bagaimana keadaannya sekarang”
“Begitu. Tapi, aku senang kita tidak terlambat. Aku kaget kau bisa berlari secepat itu. Aku nyaris berpikir kalau kau memiliki satu atau dua kemampuan seperti milik Seren-sama”
“Oh” Kaito terlihat datar seakan-akan dia tidak menyukai nama Seren
Arkan memperhatikan pakaian Kaito yang terkena bercak darah. Warna merah tersebut cukup mencolok sehingga membuat orang-orang yang lewat memperhatikannya.
“Kau…tidak merasa terganggu dengan pakaian penuh darah begitu?”
“Ini bukan masalah besar. Aku ingin bertanya padamu. Di atas, aku bertemu dengan tuan manager. Apa dia yang kau maksud sebagai atasanmu, tuan bartender?”
“Benar. Meskipun begitu, kita lihat berapa lama lagi dia dan aku akan memiliki hubungan sebagai atasan dan karyawan. Hahaha” gumamnya pelan dengan wajah aneh dan tawa yang terpaksa
Arkan memberikan pedang milik Kaito padanya.
“Kenapa kau bicara begitu? Apakah itu berarti kau siap dipecat oleh tuan manager di atas?” tanya Kaito sambil mengambil kembali pedang di tangan Arkan
Mereka berdua memutuskan untuk melanjutkan obrolan ringan tersebut sambil duduk di sebuah kursi di dekat rumah sakit. Kursi yang berada di bawah pohon rindang.
“Dia sudah memberikan sedikit peringatan padaku sebelum naik tadi. Aku harus memiliki pembelaan untuk menjelaskan semua kekacauan di bar”
“Tapi, aku rasa Theo dan yang lain sudah bercerita banyak hal padanya. Selain itu, dia memberiku banyak sekali uang untuk membayar biaya rumah sakit ini”
“Serius?!”
Kaito menunjukkan kantong kecil berisi uang padanya. Jumlahnya sudah jauh berkurang dari yang sebelumnya karena telah digunakan untuk membayar seluruh biaya pengobatannya, namun masih tersisa cukup banyak koin sampai membuat Arkan tidak bisa berkedip.
“Ini…si tua itu yang memberikannya?! Hah?! Serius?!” tanya Arkan dengan nada tidak percaya
“Benar. Aku berpikir untuk mengembalikannya nanti”
Arkan menghela napas dan memegang pundak Kaito.
“Dengar, anak muda. Jangan pernah mengembalikan uang yang sudah diberikan padamu. Itu bisa jadi sebagai bentuk anugerah lain dari Tuhan karena kerja kerasmu hari ini”
“Begitukah menurut–“
“Tapi kau bisa membaginya denganku kalau kau memang bersikeras. Aku siap menerimanya. Lumayan untuk menutupi hutang Justin sebesar 5.000 Franc itu. Daripada gajiku yang dipotong”
“……” Kaito diam dengan wajah datar
Akhirnya, Kaito melepaskan tangan Arkan perlahan dan memasukkan kantong berisi koin uang itu ke saku jubahnya. Dia juga mengeluarkan sesuatu.
“Kalau kau mau, aku berikan pistol beserta peluru ini saja untukmu. Aku tidak membutuhkan senjata ini. Jika menjualnya ke toko senjata, kau mungkin bisa mendapat cukup uang untuk menutupi hutang Justin”
Arkan terkejut dengan pistol yang dikeluarkan oleh Kaito dari saku dalam jubahnya.
“Kau membawa benda itu ke dalam rumah sakit?! Bukankah senjata tajam tidak boleh dibawa masuk tadi?!”
“Tapi mereka tidak memeriksa pakaianku dan hanya memintaku untuk meninggalkan senjata yang terlihat. Bukan salahku jika aku masih mengantongi benda ini” jawab Kaito dengan santai
Sambil memberikan pistol dan pelurunya, Kaito tersenyum.
“Seperti yang aku katakan, aku tidak butuh itu. Jual saja untuk mendapatkan uang”
Arkan menerimanya dan bertanya.
“Kenapa tidak kau saja yang menjual benda ini?”
“Untuk alasan pribadi, aku benci dengan benda milik Justin dan anak buahnya”
“Hah?”
“Pistol itu kudapatkan saat lima orang anak buah Justin mencoba menyergapku dan Ryou di sebuah gang sempit. Mungkin saja bisa dijual dengan harga lumayan di kota, tapi senjata itu mengingatkanku pada makhluk menyebalkan itu. Dan hal tersebut sangat menjijikkan”
“Ji–jijik kau bilang?”
“Benar. Menjijikkan. Semua benda miliknya itu menjijikan jadi aku berikan saja padamu. Lebih baik aku memberikannya pada orang lain daripada menikmati hasil dari penjualan benda menjijikkan” Kaito bicara dengan nada dingin dan raut wajah jijik seperti katanya
“Ala–alasan yang bagus. Kurasa aku akan menerimanya. Te–terima kasih banyak”
Arkan menerima pistol tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong bekal yang masih setia dibawanya. Kaito cukup penasaran dengan kantong bekal itu dan bertanya padanya.
“Kenapa kau membawanya bersamamu, tuan bartender?”
“Oh ini. Umm…k–kau lapar tidak, Kaito?” Arkan bertanya dengan ragu-ragu
“Aku tidak lapar. Memang apa isinya? Makanan?”
“Begitulah. Tapi aku tidak berpikir akan memakannya. Kau boleh memakannya kalau mau”
“Tidak, terima kasih. Isinya pasti mencurigakan. Biar kutebak…ini kau dapat dari pengelola pasar gelap”
“……!!!” Arkan terkejut mendengar tebakan Kaito dan langsung menengok ke arahnya
“Dan biar kutebak lagi…kau bermaksud menjadikanku kelinci percobaan untuk memastikan apakah itu beracun atau tidak. Aku benar tidak?”
“I–itu tidak benar! Aku benar-benar berpikir kau mungkin lapar. Ahahaha”
“Hmm. Kau benar-benar ingin aku mati keracunan ya, tuan bartender. Tega sekali kau”
“Aku hanya tidak ingin berhubungan dengan wanita menyeramkan itu!! Untung saja kita bisa keluar dari sana. Tapi…semua kantong bekal beserta botol dan kotak bekalnya adalah miliknya. Aku yakin, benda terkutuk ini akan membuatku bertemu lagi dengan mereka!”
“Kalau begitu, kurasa kau tidak perlu menjual pistol yang kuberikan itu. Pakai saja untuk membela diri kalau bertemu dengan mereka lagi”
Arkan berpikir sejenak dan dia tampak terkejut.
“Hei, kau benar. Kenapa aku tidak berpikir sampai sejauh itu?! Kurasa aku akan menyimpan pistol ini untuk melindungi diri dari wanita itu kalau dia datang. Kau jenius, Kaito! Aku tidak percaya kau 7 tahun lebih muda dariku”
“Aku tidak percaya kau 7 tahun lebih tua dariku. Pemikiran anehmu itu membuatku berpikir…”
“Berpikir aku lebih muda darimu?” Arkan tersenyum senang seakan baru dipuji
“Berpikir bahwa kau sudah berusia lebih dari 30 tahun. Aku kira tuan manager dan kau itu seumuran, tuan bartender”
“……” wajah aneh dan mata Arkan yang menyipit sudah menjelaskan bahwa dia tidak mau berkomentar
Melihat wajah Arkan yang aneh, Kaito tersenyum tipis. Tidak lama setelah itu, terlihat Joel beserta anak-anak lain keluar dari rumah sakit. Stelani dan Fabil juga keluar dan segera pergi ke arah Kaito dan Arkan yang sedang duduk di kursi.
“Kaito-niisan, Arkan-niisan!” Stelani berjalan ke arah mereka
Kaito berdiri dan mendekati gadis itu. Theo serta anak-anak lain juga berlari menyusul Stelani.
“Kaito-niisan, terima kasih banyak” gadis kecil itu memeluknya
“Kau sudah baik-baik saja?”
“Aku tidak apa-apa”
“Kaito-niichan~” Michaela melompat dan memeluknya
Sambutan hangat lain juga diterimanya dari anak-anak lain. Dia hanya tersenyum dan mengusap-usap kepala mereka. Arkan memasang wajah tersenyum saat melihat pemandangan itu, namun dia sempat melihat wajah Theo sedikit cemas. Tidak lama, dia melihat anak itu ditarik oleh Joel untuk mendekatinya.
Di tengah-tengah pertemuan hangat itu, Joel menghampiri Arkan yang masih duduk di kursi itu. Dia berdiri di depan pemuda itu dengan senyum mengerikan.
“Jadi, karyawan durhaka…punya alasan bagus untuk menjelaskan semuanya?”
“Katakan manager, kau akan memotong gajiku atau memecatku?”
Joel menghela napas dan duduk di samping Arkan dengan wajah tertekan.
“Lupakan! Aku sudah tau semuanya dan aku tidak tau kalau akan begini jadinya”
“Apa bar-nya benar-benar kau tinggalkan, manager? Kau tau pintunya hancur, kan?”
“Aa. Aku sempat pulang dan memanggil istriku untuk menjaga tempat itu. Sean juga sempat kupanggil untuk memperbaiki bar. Mungkin dia sudah di sana”
“Kaito bilang kalau manager memberinya uang untuk biaya pengobatan semuanya?”
“Bagaimanapun juga, remaja bernama Kino dan Kaito itu sudah menolong kedua anak itu. Aku tidak bisa mengabaikan mereka. Selain itu, semua bocah-bocah itu juga telihat menyukai mereka. Anggap saja aku berhutang juga pada mereka karena telah membebaskan anak-anak itu dari Justin” Joel melihat kedekatan Kaito dengan semua anak-anak itu
Arkan melihat pemandangan yang sama dengan Joel. Kaito memang tidak begitu membuka dirinya pada kesembilan anak-anak itu, tapi dia tetap menatap mereka dengan tatapan penuh perhatian.
“Kaito adalah orang yang kuat. Bukan suatu kebetulan dia bisa membunuh Justin dan mengenal anak-anak itu. Pada dasarnya, dia berkata padaku kalau dia mencari barangnya yang hilang”
“Barang hilang?”
“Sebuah jam saku tua. Dia mengenal Theo untuk menemukan benda itu. Kebetulan saat datang ke bar, ternyata akulah yang membawanya. Itu terjadi tidak lama setelah Seren-sama dan penjaga gerbang pasar gelap keluar dari bar. Manager sudah mendengar beberapa ceritanya dari Theo juga, iya kan?”
“Ya, setidaknya semua yang dia tau sudah diceritakannya padaku”
Joel melihat Arkan dengan wajah serius.
“Riz datang siang ini dan menceritakan semua yang terjadi di pasar gelap. Tampaknya kau benar-benar sudah membuang wajah santai dan sikap dinginmu demi anak-anak itu ya”
“Apa boleh buat, manager. Semalam, tuan Nox datang padaku dan mengatakan bahwa aku tidak jauh berbeda dari Justin. Di mata pak tua itu, aku lebih jahat dari yang dia kira. Tapi…aku berpikir bahwa pada akhirnya aku tidak mau disamakan dengan makhluk kejam seperti itu”
“Kukira kau hanya suka dengan uang dan bonusmu saja”
“Aku suka uang dan bonusku. Tapi, disamakan dengan makhluk tidak beradab itu bukan tujuan hidupku. Apalagi…sejauh yang kau dan aku tau, manager…anak-anak itu telah melalui hidup yang tidak adil. Bukankah akan jauh lebih tidak adil lagi, jika mereka mati tanpa merasakan kebahagiaan?”
“……” Joel terdiam mendengar kata-kata Arkan
“Akhirnya, aku bisa membuktikan bahwa apa yang tuan Nox pikirkan tentangku adalah sebuah kesalahan. Aku bukanlah iblis seperti Justin. Aku masih manusia yang mencintai hidup dan uang”
“Ya, pertahankan hal itu”
Joel mengulurkan tangannya pada Arkan.
“Kerja bagus, karyawanku. Meskipun kau belum lulus dari kata durhaka karena aku harus menghitung kerugian bar, tapi kau sudah cukup bagus menangani semua ini”
“Hah, kau berkata begitu karena menyadari bahwa aku adalah satu-satunya karyawanmu sekarang, kan?”
“Ya, itu ada benarnya juga. Sekarang, tinggalkan saja senjata itu di sini. Aku minta kau untuk menjaga bar dan katakan pada istriku untuk pulang. Aku sudah berpesan padanya bahwa bar akan ditutup selama renovasi, jadi kau bisa sedikit bersantai”
“Ada potongan pada gajiku tidak?”
Joel menatap Arkan dengan tatapan datar.
“Tidak ada, tidak ada. Sudah cepat sana! Jangan sampai istriku terlalu lama menjaga tempat bobrok itu sendirian! Kalau ada Sean, bilang padanya besok suruh dia kembali lagi. Aku akan menemani anak-anak ini sedikit lebih lama”
“Baiklah”
Setelah Arkan memberikan pedang dan sabuk berisi tiga dagger di tangannya, dia berdiri meninggalkan Joel dan pamit. Dia tidak lupa menghampiri Kaito beserta anak-anak itu.
Dia memutuskan untuk berjalan kaki sebentar lalu naik kereta kuda yang masih ada di sekitar rumah sakit. Siapa yang mengangka bahwa setelah kembali ke bar, dia justru bertemu dengan pemandangan tidak ramah untuk matanya.
******