
Ryou yang berada di posisi paling dekat dengan dapur kantin mulai menyerang pada zombie yang datang ke sana.
“Makan ini, jelek!!”
Dia menusuk mulut zombie yang terjatuh dengan bagian bawah centong dengan keras dan memukul wajah mereka berkali-kali hingga hancur.
Kaito mencoba sebaik mungkin untuk menghentikan para zombie itu maju lebih dalam tapi sepertinya secepat apapun gerakannya, kalau mereka terus masuk seperti yang terjadi saat ini, tampaknya dia akan mulai mengalami kesulitan.
‘Ini tidak ada habisnya! Tapi kalau menutup pintu itu sekarang pun akan jadi hal paling mustahil. Mereka terus bermunculan dan hanya tinggal menunggu waktu sampai aku merasa kelelahan. Andai saja ada sesuatu untuk melenyapkan mereka lebih cepat’
Itulah yang dipikirkan oleh Kaito.
Tampaknya hal itu akan menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan.
Sementara itu, Kino dan Seo Garam mulai menghadapi sedikit kesulitan. Sambil melawan para zombie yang datang satu per satu, mereka terus memikirkan sesuatu.
“Apa kamu terluka, Garam-san?”
“Aku…aku baik-baik saja. Tapi Ryou-ssi pergi ke sana sendirian demi mencegah dapur kantin tersentuh oleh makhluk mengerikan itu. Apa tidak ada hal yang lebih cepat untuk membunuh mereka, Kino-ssi?”
“Itu mungkin akan sulit. Kemampuan dan kecepatan Kaito-san memang membantu kita untuk mencegah banyak dari mereka masuk ke area ini. Tapi, Kaito-san tidak bisa terus menerus melawannya seorang diri”
“Lalu, bagaimana?! Apakah harus menutup pintunya lagi?”
“Itu tidak membantu sama sekali. Mau tidak mau, kita harus menghabisi semua yang datang ke sini dan menerobos keluar untuk mencari temapat lain yang aman”
Kino benar-benar memahami kondisi saat ini. Mereka memang tidak bisa terus bertahan dengan kondisi sekarang. Selain itu, permainan tersebut tidak akan selesai jika tidak ada yang keluar dari wilayah kampus satu orang pun.
Sementara di dalam dapur kantin, Kang Ji Song mencoba melihat kondisi di luar.
“Tidak ada yang datang tapi aku tau para zombie sudah masuk ke tempat ini” bisiknya pelan
“Kau mau kemana, Ji Song-ssi?” Ha Jinan bertanya dengan wajah cemas
“Aku penasaran apakah mereka sudah pergi atau belum”
“Jangan coba-coba melakukan hal bodoh, Kang Ji Song! Kalau mereka semua belum kembali artinya para zombie itu masih di luar sana!” Kim Yuram menarik baju Kang Ji Song
“Oi! Lepaskan aku!”
“Daripada itu, kita harus melihat apakah ada informasi lain di chat grup. Aku yakin masih ada yang selamat di luar sana” Kim Yuram mengambil ponselnya dari saku celana
Dia mulai membuka aplikasi [Event Horror Apps] dan melihat ada lebih dari 250 chat di sana. Ketika dibuka, semua berisi permintaan tolong dan penuh dengan foto-foto mengenai zombie yang mulai menyebar.
Saat ketiganya melihat itu, mereka benar-benar sangat syok dan pucat.
“Ini…mustahil. Mereka sudah mengepung semuanya…” mata Ha Jinan mulai memerah
Mereka mencoba melihat isi chat lainnya dan ada sebuah foto buram yang dikirimkan oleh akun bernama ‘Song Haneul EHA’. Ketiga orang itu menyadari bahwa itu adalah salah satu dari teman sang pembuat aplikasi, Song Haneul.
“Ini…Song Haneul-sunbae!” ucap Kim Yuram kaget
Ada sekitar 8 foto yang dikirimkan dalam kondisi buram. Jika dilihat dari fotonya, kemungkinan dia mengambil semua foto itu dari luar dan diam-diam.
“Foto ini…foto pintu masuk tiap gedung fakultas kampus” ujar Kang Ji Song
“Ini…foto pintu utama gedung Fakultas Hukum. Dan ini Fakultas Ekonomi. Tampaknya sunbae mencoba memberitau semua yang berada di grup bahwa para zombie di luar mulai menerobos pintu masuk tiap gedung fakultas” Kim Yuram mulai menebak
“Tapi, semua foto-foto ini…bagaimana bisa sunbae mengambilnya tanpa ketahuan? Selain itu, jarak tiap foto hanya membutuhkan waktu 10-15 menit. Dengan banyaknya zombie di luar, mustahil mereka tidak mengejar sunbae?”
“Kau benar, Kang Ji Song. Mungkin ada yang tidak benar dengan event ini. Aku yakin ada penjelasan logis tentang semuanya”
Dalam hati Ha Jinan, dia hanya berharap satu hal.
‘Aku mohon, semoga tidak terjadi sesuatu pada Kino-ssi’
Sementara di luar, tampaknya keadaan mereka tidak benar-benar buruk.
Kino bersama Seo Garam dan mahasiswa lain mulai bisa menghadapi para zombie. Karena makhluk-makhluk itu tidak melakukan perlawanan berarti serta gerakan yang lambat, sepertinya mereka sudah mulai terbiasa.
Ditambah lagi serangan Kaito semakin cepat dengan memaksa para zombie itu untuk tetap berada di garis depan.
Tidak lama, Kaito berteriak.
“Kino, Ryou, aku akan menghadapi mereka yang datang dari luar”
“Apa?! Apa kau gila!” Ryou langsung berteriak ke arah Kaito setelah memukul seekor zombie lain
“Jika jumlah mereka terlalu banyak. Kalian semua tidak akan bisa menghadapinya terlalu lama”
“Kaito-san, itu terlalu gegabah!”
“Tapi kita tidak punya pilihan. Mereka tidak ada habisnya! Mau menerobos dari sini hanya akan membahayakan yang lain. Akan lebih cepat jika aku melakukan rencanaku sendiri”
“Aku tau kau gila! Tapi kalau kau jadi lebih gila dari ini, wajahmu yang akan aku lempar dengan penggorengan!” Ryou mulai terlihat kesal
“Lempar saja kalau kita sudah selesai dengan ini semua! Nanti kau yang atur” dan tenyata Kaito justru menantangnya
“Aku serius, Kaito!”
“Aku tidak ada waktu untuk berdebat! Dengarkan aku, siapapun bantu aku untuk menutup pintu kantin begitu aku sudah di luar. Dan untuk zombie yang sudah terlanjur masuk, kalian sendiri yang harus membunuhnya!”
Kaito mundur dan berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Kino dan Seo Garam. Dia sempat melirik keduanya sambil tetap mengalahkan para zombie tersebut.
“Kalian bisa melakukannya kan?”
Ini seperti dia meminta Kino dan Seo Garam yang menutup pintu kantinnya.
“Tapi Kaito-san…”
“Jumlah mereka mungkin bisa kita tekan sedikit, Kino. Tapi jika terus begini hanya akan membuat semuanya mati karena kelelahan”
“Aku tidak mau kau melakukan itu, Kaito-ssi” Seo Garam juga ikut menghentikannya
“Jangan mengkhawatirkanku. Tidak masalah, aku akan baik-baik saja. Selain itu, mungkin dengan aku yang melakukannya kita semua akan selamat. Aku tidak memiliki niat untuk mati di sini. Gerakan mereka lambat. Sekalipun mereka masih akan terus berdatangan, kemungkinan adanya jeda waktu itu cukup besar”
Kino berpikir sejenak dan terpaksa menyetujui hal itu.
“Aku mengerti. Aku mohon jangan sampai terluka, Kaito-san”
Kaito mengangguk dan berlari menerobos. Dia mengabaikan zombie yang berada jauh dari jangkauan pedangnya. Di belakangnya, Kino dan Seo Garam mengikutinya.
“Aku benar-benar akan melempar pria amnesia itu dengan penggorengan!” gumam Ryou kesal
Setelah memukul zombie yang mencoba mendekatinya, Ryou langsung pergi ke tempat Kino. Hal yang dilakukan untuk membuka jalannya yaitu dengan memukul mereka semua dengan penggorengan yang dia punya.
“Kino! Aku datang!” teriaknya
Kaito yang sudah memastikan tidak ada zombie yang mencoba mendekati kedua orang itu akhirnya sudah berada di luar kantin kemudian dia berteriak.
“Tutup pintunya sekarang!”
Dengan cepat kedua orang yang mengikutinya dari belakang segera menutupnya. Menyadari bahwa kedua orang yang berada dekat pintu dalam jangkauan zombie, Ryou langsung menyerang dengan serangan fisik.
Sebuah tendangan dilakukan olehnya hingga membuat beberapa zombie terjatuh.
“Oi, kalian yang di sana! Bunuh mereka dengan cepat seperti yang aku jelaskan sebelumnya!”
Ryou mulai menginjak wajah zombie yang terjatuh dengan hentakan keras berkali-kali hingga dia tidak bisa bergerak. Darah segar mulai mengenai sepatu dan celana panjang miliknya serta membuat semua mahasiswa itu merasa sangat jijik.
Namun tampaknya, Seo Garam bisa melakukan cara yang mirip seperti itu.
Dia mencoba meniru gerakan Ryou yang menendang zombie itu pada bagian perut dan berhasil. Setelah itu dia memukul wajah makhluk itu dengan penggorengan beberapa kali.
Ada sekitar 15-17 zombie di dalam ruangan kantin setelah pintu ditutup dan mereka masih harus menghadapi monster dengan jumlah yang cukup banyak.
Akan tetapi dengan cara seperti ini, jumlah zombie yang masuk bisa ditekan dengan mudah.
Sekarang, yang menjadi masalah adalah keadaan Kaito yang harus menghadapi mereka di luar.
******