
Waktu berjalan begitu cepat. Siang hari akhirnya berubah menjadi sore dan di Akademi Sekolah Sihir, Xenon bersama Jessie dan Jene keluar dari sebuah ruangan bertuliskan ‘Divisi Khusus’.
Mereka berjalan di lorong koridor. Ekspresi wajahnya terlihat biasa-biasa saja atau lebih tepatnya mereka seperti tidak memberikan jawaban yang mereka inginkan.
“Kenapa Mark-sama tidak mengatakan apapun pada kita meskipun kita sudah bertanya berkali-kali mengenai pelakunya?” Jene terdengar sedang menggerutu
“Aku mengerti, Jene. Tapi, kita tidak bisa memaksa Mark-sama untuk mengatakannya. Selain itu, apa yang Mark-sama jelaskan pada kita sudah cukup”
“Tapi aku masih penasaran. Meskipun timnya berhasil membawa bukti, tapi jika mereka masih merahasiakan sesuatu dari kita, itu sama saja mereka tidak percaya pada kita! Kita juga anggota Divisi dari Dewan Sihir!”
Xenon berhenti.
“Xenon?”
“Aku pikir mungkin ada hal yang masih belum pasti sehingga mereka belum bisa mengatakan hal itu pada anggotanya yang lain”
“Itu! Aku rasa begitu. Jene, bagaimana? Aku rasa apa yang dikatakan oleh Xenon itu benar”
Jene hanya bisa menghela napasnya dan mengalah. Dia sudah tau bahwa kembarannya itu tidak akan memihaknya jika sudah berhubungan dengan tunangannya tersebut.
Mereka memutuskan untuk benar-benar keluar dari gedung sekolahnya sekarang.
“Jadi, apa urusannya hanya untuk bertemu dengan Mark-sama?” tanya Jessie pada Xenon
“Bukan. Bertemu Mark-sama itu bukan bagian dari urusanku di awal. Aku ada urusan yang tidak bisa dijelaskan pada Jessie-sama dan Jene-sama”
“Kenapa tidak bisa? Kau tidak menganggap kami teman ya?” celetuk Jene
“Bukan begitu. Hanya saja, tidak semua hal harus diceritakan pada orang lain. Selain itu, ini menyangkut masalah pribadiku, bukan hal yang harus diketahui banyak orang termasuk pada teman sekalipun”
Ucapan Xenon terkesan sangat mengasingkan dirinya. Karena hal itulah, dia selalu mencoba menjaga jaraknya dengan keluarga bangsawan atau teman-temannya yang lain.
‘Kenyataan bahwa aku adalah anak yang lahir dari hubungan gelap Marquis van Houdsen tidak akan pernah berubah. Paling tidak, jangan pernah membuat malu Rexa-sama yang akan menjadi Marquis selanjutnya’ pikir Xenon
Saat sudah sampai di lobi, Xenon jadi sangat ingin kabur dari kedua saudara kembar itu. Tapi tampaknya akan sulit karena sebelum dan sesudah keluar dari ruangan Mark, Jessie terus menggandeng dan memeluk tangan Xenon.
‘Aku harus berpikir. Kalau sampai ketiga orang itu sudah ada di tempat tadi pagi dan melihatku begini, aku akan benar-benar ditertawakan!’
Sebelum keluar dari lobi, Xenon berhenti sekali lagi.
“Aku benar-benar sibuk dan tidak bermaksud tidak sopan, tidak bisakah kalian membiarkan aku mengurus masalahku?”
“Tidak! Kan kau sendiri sudah janji kalau kami boleh ikut. Ingat ya, kau masih berhutang maaf pada Jessie!”
“Haah, ya sudah. Tapi jika kalian berani bicara yang aneh-aneh, aku tidak akan segan-segan meminta Jessie-sama dan Jene-sama untuk kembali ke sini”
“Kami tidak akan membuatmu malu, kami janji!” Jessie tampaknya benar-benar tidak mau pisah dari tunangannya sekarang
Mata gadis itu terlihat sangat serius, seakan tidak ada cara yang bisa membuatnya pergi.
Xenon mencoba tersenyum, tapi di hatinya dia berkata sesuatu yang bertolak belakang dengan senyumnya.
‘Matilah aku’
Sesampainya di dekat gerbang, dia tidak menyangka akan melihat hal yang tidak terduga. Salah satu dari mereka menatapnya sambil membawa kantong belanjaan.
Salah satu dari mereka berteriak.
“Xenon!” teriak remaja itu
“……!!” Xenon hanya bisa syok sekarang
“Xenon, ada yang memanggilmu di depan gerbang sekolah. Apa itu temanmu?”
“Habislah aku” gumamnya pelan sampai tidak ada yang mendengarnya kecuali dirinya sendiri
******
Ketiga remaja dari dunia lain itu akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di dekat kawasan pertokoan sekitar gedung akademi.
Ryou masih menggerutu sendiri.
“Aku ingin kembali ke toko tadi, kenapa kalian menghalangiku?!”
“Kalau sampai Ryou membuat masalah lagi, aku dan Kaito-san tidak mau membantumu”
“Tapi aku ingin sekali membuat si gendut itu tidak banyak bicara!”
“Ryou, kamu harus tenang. Dengarkan aku, kita ke sini bukan untuk mencari masalah. Lagipula, dengan sihir yang ada sekarang ini, kita bisa bertarung tanpa senjata. Benar kan, Kaito-san?”
“Benar. Kalian sudah cukup hebat untukku”
“……” Kino hanya bisa diam memandang wajah sang adik dengan tatapan aneh. Tidak lama kemudian, dia mulai bicara dalam hati.
‘Jika kami berhasil kembali ke Jepang dan aku menceritakan kelakuan Ryou pada ayah dan ibu, mereka pasti akan menghukumnya’
Mereka hanya dia beberapa jam tanpa melakukan apapun. Kaito melihat jam sakunya.
“Sudah hampir jam lima sore. Tadi Xenon mengatakan kita bisa menunggunya di depan akademi jika ingin menginap di tempatnya, kan? Mau ke sana sekarang?”
“Aku rasa begitu. Aku sudah bosan duduk di sini tanpa melakukan apapun. Kita ke sana sekarang”
Ryou berdiri dan berjalan di depan meninggalkan Kino dan Kaito. Baru beberapa langkah, dia mencium aroma yang tidak asing.
“Aroma daging”
“Ini yang tadi pagi kita makan, kan?”
“Bagaimana? Mau membelinnya?” tanya Ryou
“Aku tidak lapar. Tapi, kita mungkin bisa membelinya untuk Xenon-san. Bagaimanapun juga, kita berhutang banyak padanya”
“Agar dia tidak curiga, aku akan beli untuk bagian kita juga ya. Yah, meskipun mungkin tidak akan kita makan juga karena kita tidak bisa merasa lapar di sini” kata Ryou membuat alasan
“Aku setuju”
Mereka mengantri makanan itu bersama. Saat rotinya berhasil didapatkan, Ryou membawa kantong berisi roti itu bersamanya. Ketiga remaja itu mulai berjalan menuju Akademi Sekolah Sihir.
Dari kejauhan, terlihat beberapa murid yang mulai keluar dari gedung. Tapi tentu saja, tidak ada satupun yang mendekati pintu gerbang.
“Mereka pasti tinggal di asrama” kata Kino
“Jika kita lulus dan berhasil masuk ke dalam, kita juga akan tinggal di dalam. Kesempatan untuk mencari permata akan terbuka lebih besar” Kaito menambahkan
Ryou melihat seseorang yang tidak asing untuknya, “Itu Xenon kan? Yang digandeng oleh anak perempuan”
Kino dan Kaito menengok. Tanpa pikir panjang, Ryou dengan kantong belanjaannya berteriak memanggilnya.
“Xenon!”
Yang dipanggil terlihat seperti sangat syok.
“Kenapa dia jadi begitu? Aku salah apa padanya?” tanya Ryou bingung pada sang kakak
“Entahlah. Tunggu sampai Xenon-san ke sini”
Mereka menunggu Xenon dan dua temannya itu datang ke depan pintu gerbang.
“Xenon-san, selamat sore”
“Sore. Sudah menunggu dari tadi?”
“Kami baru sampai. Kami membeli ini untukmu”
Kino melihat kedua orang di samping Xenon. ‘Mereka terlihat seperti bangsawan untukku. Apakah mungkin mereka berdua juga anggota Divisi yang sama dengan Xenon-san?’ pikirnya dalam hati
Ketiga remaja dari dunia lain itu melihat dua teman Xenon memiliki wajah yang mirip.
“Kembar?” tanya Ryou
“Xenon, apa kau punya urusan dengan mereka?” tanya pemuda di sampingnya
“Benar. Karena itu aku sudah katakan pada kalian bahwa aku ada urusan. Sekarang percaya dan masih ingin ikut?”
“Kami masih ingin ikut!” kata gadis yang memeluk tangannya
Ryou mulai tersenyum dengan wajah aneh.
“Jadi, apa itu pacarmu?”
“Ini–”
“Aku bukan pacarnya. Aku tunangan Xenon”
“Eh?” ketiga remaja dunia lain akhirnya hanya bisa melihat dengan wajah datar
“Ini tunanganku, Jessie Rottenburg”
******