Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 258. Satu Hari Sebelum Ujian bag. 6



Di sisi lain, di waktu yang sama sebelum pertarungan Mark dan beastman terjadi, Kaito dan kedua kakak beradik itu sedang sibuk ‘menari’ dengan Xenon dan pasukannya.


“Jangan hanya diam saja! Tidak perlu ragu untuk menyerang! Pedang bambu buatanku itu terbuat dari sihir elemen dan tidak akan mudah patah hanya karena kalian memukul golem berukuran kecil itu!”


Xenon yang masih berdiri dengan santai di pinggir area pertarungan berteriak memberikan arahan.


Hal yang paling melekat dalam pikiran Ryou yang sedang melawan ninja tanah itu adalah kalimat menyebalkan milik Xenon beberapa saat lalu.


[Kau kan punya otak! Pakai sedikit otakmu!!]


“Menyebalkan!”


Ryou berlari untuk mengalahkan monster ninja di hadapannya. Dengan beberapa kunai dan shuriken, monster ninja itu berusaha untuk melukai Ryou.


Ryou menghindari serangan itu, walaupun tidak begitu mulus. Ada satu sampai dua sayatan yang terlihat akibat terkena serangan tersebut, namun tidak begitu dalam.


“Cih! Mereka bermain dengan jarak jauh ya. Kalau begitu, kita lihat apa yang akan mereka lakukan jika aku mendekati mereka”


Ryou berlari dengan semua kecepatan yang dia miliki dan memukul tangan serta perut monster tersebut.


Berbeda dengan golem yang memiliki tubuh keras, monster ninja itu memiliki tubuh yang persis seperti manusia, jadi lebih mudah untuk didorong dan dijatuhkan dengan tendangan.


Xenon memperhatikan gerakan Ryou yang bertarung memanfaatkan senjata di tangan dan gerak tubuhnya yang kuat.


‘Dia terlatih. Aku tidak bisa bilang kalau itu gerakan yang halus, tapi dia benar-benar terlatih dan sudah terbiasa menggerakkan tubuhnya. Aku rasa mereka sungguhan pernah mengalami pertarungan di dunia aneh itu’


‘Melihatnya menyerang monsterku seperti itu membuatku yakin bahwa dia memanfaatkan setiap gerakannya dengan baik’


Xenon sempat bergumam pelan.


“Aku pikir dia itu hanya orang yang cerewet tanpa berpikir panjang. Rupanya dia cukup pintar”


Xenon mengalihkan pandangannya sedikit ke sisi lain dan betapa terkejutnya dia ketika melihat dirinya nyaris ‘mencium’ ujung pedang tajam yang mengarah dari sisi samping.


“……!!” Xenon terkejut dan melompat ke belakang


Dia tidak memiliki kesempatan untuk melihat ke depan karena sisi pedang lainya nyaris menyentuh wajahnya.


“Itu…”


Xenon saat ini sedang berusaha menahan serangan Kaito.


“Kenapa menyerangku lebih dulu? Tidak mau mengurus golem yang ada di sana?”


“Golem yang mana?” ucap Kaito dengan tatapan serius


“Golem yang mana, katamu? Apa maksud…” Xenon melihat ke belakang Kaito


Dia nyaris tidak bisa berkata apapun melihat semua golemnya ternyata sudah tidak ada.


“Bagaimana bisa?” ucapnya dengan nada terkejut


“Kau mungkin ingin membodohiku dengan tubuh keras monstermu itu. Tapi sedikit informasi, aku pernah melawan yang seperti itu dulu dan aku mengetahui bahwa inti dari monster seperti itu kebanyakkan ada di bagian mata atau perutnya”


“Yang pernah kulawan memiliki semacam inti yang disebut ‘core’ berbentuk bola sebagai jantung yang menggerakkan makhluk seperti itu”


“……”


“Bagaimana? Aku tidak salah, kan?” ucap Kaito dengan senyumannya


“Tampaknya kau memang memiliki tingkatan yang berbeda dengan mereka berdua ya, Kaito. tidak heran batu elemen sihir langsung melebur dan menyatu di tubuhmu”


Xenon merasa bahwa jika dia tidak serius menghadapi Kaito, dia mungkin akan terkena masalah serius.


“Aku mungkin baru soal sihir, tapi kalau hanya beradu pedang denganmu, aku masih bisa menyebut diriku lebih unggul”


Kaito langsung berlari dan dengan penuh kekuatan, dia menyerang Xenon.


“Kh!!”


Xenon berusaha menahan pedang Kaito dengan kekuatannya.


‘Levelnya sudah berbeda! Aku yakin kalau ini pertarungan sungguhan, aku akan mati karena serangan ini! untuk pedang bambu ini terbuat dari sihir. Jika terbuat dari bambu sungguhan, dia akan langsung patah!’


Kaito tidak menurunkan sedikit pun kekuatannya. Dia kembali menyerang Xenon dengan serangan fisik.


Sebuah tendangan dilakukan olehnya. Tendangan tersebut tampak seperti mengenai perut Xenon, tapi tidak. Rupanya Xenon menghindar sebelum perutnya terkena tendangan itu.


Dia melompat dan mulai menjaga jarak dari Kaito cukup jauh.


“Kenapa jadi menjauh seperti itu? Bukannya tadi kau sendiri yang mengatakan ingin menguji kemampuan bertarung kami?” tanya Kaito sebagai basa-basinya berlari dan menyerang Xenon


Sementara itu, Kino sedang sibuk dengan earth armor ninja yang ada di hadapannya.


Kino menyerangnya dengan teknik berpedang yang dia ingat ketika melihat pertarungan singkat dengan golem beberapa waktu lalu.


‘Tapi, aku sedikitnya telah mempelajari banyak hal dari Kaito-san. Mereka semua hanyalah sihir dan bukan makhluk nyata. Ada sesuatu yang menggerakkannya’


‘Kaito-san mengincar titik yang sama yaitu perut. Namun, makhluk yang aku lawan ini bukanlah makhluk yang memiliki titik kelemahan yang sama. Artinya, mau tidak mau aku harus melukainya untuk membuatnya berhenti menyerangku’


Di saat Kino menghindari serangan itu dan mulai mencoba mendekat, dia mendapat sebuah lemparan kunai yang melukai pipinya. Hanya sebuah goresan kecil namun cukup membuatnya berpikiran buruk.


Kino melihat kunai yang menancap di tanah itu sambil berpikir yang bukan-bukan.


“Hampir saja aku mati. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika benda itu mengenai mataku dan…hmm?”


Kino berpikir sejenak. Sebelum selesai berpikir, serangan lain datang dan dia tampak terpaksa menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Dia berguling dan berdiri kembali. Setelah itu dia mengambil kunai serta shuriken yang ada di tanah.


“Ini pasti bisa!” gumamnya


Kino mulai berlari kencang mendekati ninja tersebut. Ninja itu mulai menyerangnya dari jarak dekat. Ninja itu berlari ke arah Kino.


“Aku akan menggunakannya untuk pengalihan!” katanya


Dia melemparkan dua shuriken ke arah ninja yang datang namun dengan mudah ditepisnya.


Mereka mengeluarkan dua kunai untuk menghalangi shuriken yang dilemparkan Kino ke arah mereka. Tapi,


hal itu sudah dipikirkan dengan matang.


Dengan kunai lain di tangan, Kino memiliki dua senjata selain pedang bambu. Dia mulai melancarkan serangan. Satu tangan dengan pedang untuk memberikan serangan agar lawan mundur dan kunai di tangannya yang lain dipakai untuk melukai lawan.


Ryou yang masih sibuk dengan lawan di depannya memperhatikan sang kakak.


“Kino…”


Dengan wajah penuh keseriusan, dia memperhatikan bahwa sang kakak memegang sesuatu dan melemparkan sesuatu.


“Itu kan…”


Ryou mengingat kalimat menyebalkan dari Xenon kembali untuk yang kedua kalinya.


[Kau kan punya otak! Pakai sedikit otakmu!!]


Ryou tersenyum dengan wajah senang seperti mendapatkan sebuah pencerahan.


“Bodohnya aku sampai lupa bahwa senjata lawan yang jatuh bebas digunakan untuk kita! Terima kasih kakakku yang jenius untuk jawaban darimu!”


Ryou mundur ke belakang dan mengambil kunai di tanah.


Dengan cepat dia melemparkan beberapa ke arah earth armor ninja itu. Memang bisa ditepis dengan mudah.


“Bukan armor ninja kalau tidak dilengkapi armor, iya kan?” gumam Ryou sambil tertawa licik


Tapi, hal itu sudah sangat dipikirkan. Apalagi pecinta game dan anime seperti dia.


“Hah! Selamat datang di pelajaran pertama dalam dunia fantasi. Selalu jadikan hal tidak masuk akal sebagai senjata utama!”


Ryou bangun dan langsung melakukan sebuah serangan. Meskipun terlihat seperti bukan serangan mematikan, namun ini cukup unik.


Tendangan yang dilakukannya ini tidak mengarah ke bagian lain kecuali bagian paling vital di antara kaki bagian atas.


“Hah?! Kau kira apa yang kau lakukan, Ryou!!” Xenon yang melihat itu berteriak


Mendengar Xenon berteriak nama Ryou membuat Kino dan Kaito ikut melihat apa yang dilakukan anak itu.


Terlihat armor ninja itu memegangi bagian vital tersebut dengan tangannya dan dengan segera, Ryou menggunakan kunainya untuk menusuk lehernya.


“Ahahaha! Lihat itu! Meskipun monster, tapi dia memiliki kelemahan yang tidak kalah dari manusia! Aku tau aku jenius! Ahahaha, terima kasih pada kejeniusanku dan pencerahan dari kakakku”


Kino yang melihat dan mendengar tawa jahat sang adik menjawabnya.


“Aku…tidak memberikan pencerahan seperti itu, kan? Kenapa jadi terdengar seperti aku yang merencanakannya?”


Di momen seperti itu, tampaknya Kaito dan Xenon saling bertukar pikiran sementara.


“Dia…bodoh ya?” tanya Xenon dengan nada serius


“Tidak. Dia pintar. Dengar dia menyebut dirinya jenius kan?”


“Tapi orang jenius tidak pernah menyebut dirinya itu jenius”


“Tidak, aku serius. Dia itu jenius. Terlalu jenius sampai terkadang kuanggap bodoh”


“Aku rasa aku bisa setuju dengan itu”


******