Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 81. Pasar Gelap bag. 8



Setelah mengingat rencana yang dikatakan olehnya kepada Ryou, Kaito mulai sedikit ragu untuk melakukannya.


Kalimat yang dia katakan kepada Riz seperti boomerang untuknya sekarang.


Dia tidak ingin Ryou benar-benar menganggap dirinya iblis berwujud manusia dengan melakukan transaksi tidak masuk akal ini.


Bahkan setelah membunuh manusia untuk pertama kalinya, dia sangat yakin Ryou mungkin mengalami gangguan psikis meskipun sekarang masih terlihat baik-baik saja.


‘Apakah aku benar-benar harus membiarkan dia melakukan rencana terakhir yang kubilang? Rasanya aku sedikit jahat ketika memanggil Riz iblis berwujud manusia tadi. Dan setelah mendengar dia mengembalikan kata-kataku barusan, aku merasakan sakitnya juga’ kata Kaito dalam hatinya dengan wajah tertunduk


Seketika suasana mereka berempat menjadi sepi. Hanya terdengar bunyi gemericit roda gerobak yang berputar melewati jalan berbatu.


Arkan menengok ke belakang sesekali dan bergumam dalam hati.


‘Ini tidak bagus sama sekali. Memikirkan aku harus melakukan transaksi gila di tempat yang gila juga sudah menurunkan tingkat keberuntunganku. Kenapa justru keadaannya jadi seperti ini juga?! Akh, sial sekali!!’


Arkan kembali melihat ke depan dan mempercepat sedikit langkahnya hingga sejajar dengan Riz.


“Berapa lama lagi kita akan sampai di sana?”


“Sebentar lagi. Aku sengaja memilih jalan ini agar lebih cepat” kata Riz


“Apa tempat itu benar-benar mengerikan?”


Arkan mencoba mencairkan suasana dengan bertanya pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Tidak mungkin pasar yang menjual potongan dan organ tubuh manusia bisa terlihat seperti toko bunga yang cantik. Tentu saja mengerikan dan semua orang tau itu.


Mendengar pertanyaan Arkan, Riz tersenyum sambil meledeknya.


“Memang kau berharap melihat toko bunga dan kedai makanan di pasar gelap itu? Kau tidak membayangkan ada banyak kios kue dengan aroma harum kan?”


“……” Arkan terdiam dengan wajah aneh


Dia sudah tidak mau mengeluarkan topik pembicaraan apapun lagi karena sudah terlanjur kehabisan kata-kata bagus.


Ryou akhirnya berhasil membuat suasana kembali hidup dengan obrolan serius.


“Kita belum selesai dengan pembicaraan kita sebelumnya. Aku masih ingin dengar beberapa hal sebelum sampai di sana”


“Kau benar. Apa lagi yang mau ditanyakan?” Riz meresponnya dengan nada santai


“Riz, mengenai pasar gelap itu apakah ada peraturan khusus untuk masuk ke sana?”


“Peraturan?. Memang ada yang seperti itu?” Arkan juga akhirnya bicara sesuatu dengan bertanya pada Riz di sampingnya


“Peraturan ya…sebenarnya tidak ada peraturan mengikat untuk para pembeli dan pengunjung. Selama kau minat dengan barang di sana, kau punya uang dan kau membelinya maka semua diperbolehkan. Seaneh apapun tempat itu di mata orang lain, tempat itu tetap saja sebuah pasar. Selagi masih terjadi transaksi di sana semua tidak dilarang”


“Begitu”


“Kecuali untuk pedagang seperti kami. Kami memiliki beberapa kewajiban. Ada kewajiban tertulis dan tidak tertulis. Salah satu yang tidak tertulis itu adalah harus mengetahui hal yang disukai atau yang tidak disukai dari pengelola tempat itu yaitu Jack-sama” lanjut Riz menjelaskan


“Sepertinya dia memang raja di tempat itu ya” gumam Ryou


“Bukan raja. Hanya saja karena wewenang tertinggi ada padanya maka semua harus mengetahuinya. Seperti yang kubilang tadi, minimal tiga atau empat demi keselamatan kami”


“Jangan bilang kalau kau tidak tau maka kau yang akan jadi dagangan. Tidak mungkin seperti itu kan?”


Ryou hanya menebak dengan nada dan wajah tidak percaya tapi tanggapan Riz sangat singkat.


“Tepat sekali”


“Hah?!”


“Seperti yang kau bilang tadi. Semua pedagang di bawah naungan mereka sudah menghafal setidaknya tiga sampai empat kebiasaan penting pasangan suami-istri itu. Kalau tidak mengetahuinya maka kau yang akan jadi dagangan. Kasus seperti itu bukan sekali dua kali. Bahkan karyawannya saja bisa jadi dagangan oleh Jack-sama”


‘Tidak masuk akal’ itulah yang dipikirkan oleh Ryou saat ini


“Intinya tetap saja mereka seperti raja. Apa susahnya mengatakan itu. Seharusnya tidak perlu berbelit-belit, Riz” kata Kaito dengan nada ketus


“Aku tidak mau menyebutnya begitu. Yang jelas seperti itulah. Sekarang berdoa saja kalau mereka sudah tidak minat dengan anak-anak yang dibawa oleh Seren-sama. Kalau mereka tidak lagi menyukainya, kita masih ada kemungkinan mendapatkan mereka tanpa tergores sedikitpun”


Ketiga orang lainnya terdiam mendengar kata-kata Riz.


Mereka terus berjalan lurus hingga mulai terlihat dari kejauhan sebuah gerbang besar dengan tembok penghalang yang tinggi.


“Ah, kita sudah hampir sampai. Itu gerbangnya!”


Ryou dan Kaito terlihat begitu serius. Mereka jelas melihat gerbang besar di sana dan ada beberapa bangunan toko yang tutup. Arkan yang awalnya tenang sekarang menjadi begitu gugup.


“Aku lupa, ini pertama kalinya kau ke sini ya, Arkan?” tanya Riz sambil tersenyum ke arahnya


“Aku akan menjadikan ini yang pertama dan yang terakhir, tenang saja. Setelah pulang dari sini, aku akan langsung menulis surat pengunduran diriku pada manager dan mengambil semua gaji serta bonusku”


“Ahahaha, jangan terlalu takut begitu. Selama ada aku, kalian bisa bertemu dengan Jack-sama dengan tenang” kata Riz sambil tertawa


Kaito melihat pedang yang dibawanya dan terpikirkan sesuatu. Dia bertanya kembali pada Riz sebelum mereka benar-benar sampai di depan gerbangnya.


“Aku belum dengar dari mulutmu mengenai senjata. Apakah pedang dan semacamnya diijinkan masuk?”


“Beberapa ada yang membawa senjata ke dalam. Kalian tidak lupa kalau tempat itu adalah tempat dimana iblis berwujud manusia berkumpul, kan? Kalau ada kasus seperti pembunuhan di sana, secara langsung akan jadi peluang untuk pedagang lain”


“Peluang?”


“Benar, peluang. Kalau ada pembunuhan dan korbannya mati maka pelaku pembunuhan bisa langsung menjual korbannya kepada pedagang atau pembeli lain termasuk ke pengelola seperti Jack-sama atau Seren-sama. Dengan kata lain terjadi transaksi langsung di sana”


Kaito cukup tertarik dengan penjelasan dari Riz dan mulai bertanya secara detail padanya.


“Benar. Siapapun pelakunya tidak masalah”


“Ada peraturan yang merujuk pada hal tersebut?”


“Dulu aku pernah mendengarnya langsung dari Jack-sama bahwa jika ada orang yang dibunuh lalu mati di dalam pasar dengan cara apapun dan terlepas dari siapapun yang melakukannya, maka mayatnya akan secara sepihak menjadi milik orang yang membunuhnya dan bebas digunakan untuk segala jenis transaksi”


“Jack yang mengatakannya? Kau yakin?” tanya Kaito dengan wajah tidak yakin


“Iya, Jack-sama yang mengatakannya. Hal itu sebagai langkah lain agar pasar tetap bisa berjalan dan pasokan barang terus masuk. Selama ini sudah ada beberapa kasus seperti itu di dalam. Hasilnya pembeli yang menang dapat menjual kembali korbannya. Pemikiran Jack-sama memang lain. Dia benar-benar menakjubkan! Sebagai sesama penjual mayat, dia adalah panutanku” kata Riz yang memuji Jack dengan wajah senang


Ryou yang mendengar itu langsung berkomentar dalam hati.


‘Panutan katanya, yang benar saja?! Ternyata benar, hanya orang gila yang menjadikan orang gila lain sebagai panutannya. Jika aku jadi dia, aku tidak akan pernah menjadikan orang seperti itu masuk dalam daftar panutanku!!’


Sorot mata Kaito semakin terlihat tajam dan ekspresinya semakin serius. Penjelasan Riz memicu rasa ingin tau serta keraguan Kaito di saat yang sama.


“Apa kata-katamu itu bisa kupercaya? Apa benar Jack yang mengatakan semua itu dan bukan hasil karanganmu?”


“Kau bisa percaya pada kata-kataku. Bagaimanapun juga aku menghargai kalian sebagai teman Arkan. Demi menjaga hubungan baik antara aku dengannya, aku tidak akan memberikan informasi  bohong” jawab Riz dengan serius


“Riz…” sorot mata Arkan berubah menjadi tenang


Arkan sedikit merasa lega meskipun dia sendiri tidak tau kenapa. Dia hanya merasa lega tanpa alasan setelah mendengar jawaban dari Riz. Tapi yang jelas, dia cukup tenang karena dia percaya nyawanya masih aman untuk saat ini.


“Selain itu, selama aku mengenal Jack-sama, dia selalu melakukan semua hal sesuai dengan apa yang dijadikan sebagai peraturan dan kebiasaan untuknya. Dia itu berkarisma meskipun sifatnya sangat sadis” lanjut Riz


“Begitu. Cara pandangmu cukup menarik untuk menggambarkan sosok pembunuh yang di dalam otaknya hanya dipenuhi dengan mayat dan organ manusia. Seleramu cukup unik, Riz” kata Ryou dengan nada dan tatapan sinis


Akhirnya, sebuah sindiran tajam keluar dari mulut pedas milik Ryou. Riz yang mendengarnya merasa sedikit tersinggung dan menjawabnya dengan wajah cemberut.


“Berisik!! Kau benar-benar senang mengkritik orang ya, dasar cerewet!”


“Memang begitu kenyataannya! Menurutku, Jack itu adalah sebuah gambaran penuh dari masa depanmu yang suram! Itu karena kau menjadikan dia sebagai panutan hidupmu terlalu lama!! Harusnya kau sadar itu, dasar orang gila! Maniak mayat! Aku yakin jodohmu itu kalau tidak berasal dari peti mati, bisa jadi dari tanah kuburan!”


“A…!!” Riz syok mendengar kalimat pedas Ryou yang menyakitkan itu


Ryou benar-benar mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya untuk menyadarkan Riz.


Semua orang langsung diam tanpa mengatakan apapun mendengar sindiran pedas dari mulut Ryou yang sudah tidak terkontrol. Kaito hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sudah menyerah menghadapi kebiasaan Ryou.


Kaito memilih untuk bersikap bijaksana dengan tidak peduli pada sindiran selama bukan dia yang menjadi korban.


Sebelum terjadi adu mulut hebat lainnya, Kaito mulai menekankan beberapa poin dan menyimpulkannya.


“Biar kusimpulkan. Terlepas dari para pedagang yang memang dinaungi oleh pengelola, itu artinya siapapun bisa menjadi pedagang atau pembeli tergantung situasi di pasar gelap. Benar begitu?”


“Benar”


“Sekalipun dia hanya pengunjung dan bukan pedagang asli di sana”


“Benar, karena tergantung situasinya”


“Hal itu berlaku juga jika pedagang yang langsung dinaungi oleh pengelola melakukan aksi pembunuhan secara sengaja atau tidak sengaja”


“Tepat. Seperti kataku barusan, semua diperbolehkan”


“Baiklah. Terima kasih. Aku sudah mengerti”


Sekarang Kaito sudah yakin sepenuhnya bahwa rencananya tidak akan bermasalah. Kemungkinan untuk merebut ketiganya jika transaksi ini mengalami kegagalan masih bisa diusahakan.


Ryou berbisik pada Kaito.


“Sudah mendapatkan lebih banyak rencana lain dari penjelasan Riz?”


“Sudah. Sekarang aku sangat yakin bahwa kita bisa melakukan rencana C dengan baik sekalipun terpaksa”


“Baguslah kalau begitu!” kata Ryou sambil tersenyum


“Tapi sebisa mungkin aku berharap kita benar-benar langsung bisa mendapatkan mereka dengan mayat itu”


“Kau jangan terlalu manja, Kaito! Kau sendiri yang bilang kalau ini akan menjadi pertukaran yang tidak adil jika dilakukan. Aku yakin orang bernama Jack itu juga tidak akan sebodoh itu. Kau dengar apa yang dikatakan oleh Riz barusan, kan? Dia bahkan membanggakan orang itu sebagai panutannya!”


“Kau benar. Bukan saatnya menjadi lemah. Kino harus selamat, begitu juga kedua teman Theo itu”


“Aa. Mendapatkan mereka dalam keadaan terluka atau mati tidak ada dalam pilihan yang kita punya! Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti kakakku!!” sorot mata Ryou yang tajam kembali terlihat


Gerbang besar itu mulai terlihat.


Arkan mundur dan berbisik pada kedua orang yang berada di dekatnya sekarang.


“Kalian berdua, dengar baik-baik. Kita sudah hampir sampai di depan pintu gerbang itu. Berdoalah semoga semua berjalan lancar dan berhasil, mengerti?”


“Tuan bartender, kuharap kau tidak lupa. Kita tidak memiliki pilihan selain berhasil. Kaulah yang harus mengingat hal itu dengan jelas” Kaito menjawab Arkan dengan nada serius


“……” Arkan hanya bisa diam mendengar jawaban Kaito


Seorang pria besar di depan gerbang menghadang Riz dan yang lain untuk maju.


“Apa urusan kalian datang kemari?”


“Kami ingin melakukan transaksi dengan pengelola sekarang”


******