
Ryou dan Kaito yang terpisah dari Kino berlari mencarinya dengan berlari di koridor gedung itu.
“Ini…seperti sekolah untukku” ujar Ryou sambil berlari
“Sekolah?”
“Tidak ada pintu yang terdapat tulisan kecil di atasnya selain sekolah di Negara tempatku tinggal. Di Korea sebagian besar juga begitu”
Kaito berhenti berlari dan bertanya padanya.
“Jadi maksudmu gedung ini adalah sekolah?”
“Benar. Sejak kita melewati ruang musik itu, aku sudah menyadari bahwa ini memang sekolah. Tapi…sepertinya bukan sekolah biasa”
“Itu cukup untuk informasi awal. Permata ingatanku ada di suatu tempat di gedung ini”
“Benar. Dan bersamaan dengan itu, selalu ada masalah yang mengikuti. Aku ragu permatamu itu adalah benda keberuntungan”
“……” Kaito melihat Ryou dengan wajah datar
Tidak berubah memang. Mau di ‘dunia’ manapun, sejak bertemu dengan Ryou, sudah dapat dipastikan akan selalu ada caci maki yang mengikutinya. Ryou kembali bicara.
“Selain itu, aku masih penasaran kenapa pedangku bisa hilang. Dimana benda itu terjatuh? Padahal kalau ada itu, aku bisa membunuh semua zombie-zombie itu”
“Pedangmu tidak jatuh tapi memang hilang”
“Aku tau itu! Tadi aku bilang kan?” Ryou sedikit jengkel
“Tidak, maksudku pedangmu itu memang tidak ada di tempat ini. Mereka semua lenyap. Begitu juga dengan pakaian dan jam saku silver milikmu”
“Apa?!” Ryou terkejut mendengar ucapan Kaito
Dia langsung merogoh saku celananya dan syok.
“Tidak ada. Bagaimana bisa?”
“Itu karena semua benda itu milik ‘dunia’ asing itu”
“Apa maksud ucapanmu?!”
“Sekarang ingat apa yang kau bawa ketika pertama kali terlempar ke ‘dunia malam?’. Apa yang kau bawa dan apa yang kau kenakan bersama kakakmu?”
Ryou jelas mengingatnya. Dia dan sang kakak hanya memakai pakaian yang dipakainya saat ini dengan jam saku antik itu di tangannya. Dia mengatakannya pada Kaito dan respon dari Kaito benar-benar membuatnya syok.
“Aku tidak mengerti kenapa kalian bisa ikut denganku juga. Tapi, sekarang dugaanku sudah 100% yakin bahwa kalian akan terus terhubung denganku setelah ini”
“Apa itu?! Katakan yang jelas!”
“Ketika aku pergi dan berpindah ke ‘dunia’ yang lain, maka semua barang dan benda yang pergi denganku dari tempatku berasal akan kembali padaku berkat jam saku itu. Jadi kurasa, karena kalian juga terlempar dengan kekuatan aneh dari jam saku kalian…aku rasa aturan itu berlaku”
Ryou mengingat sesuatu yang rasanya tidak asing, yaitu saat mereka sedang berjalan untuk membeli sayuran di pusat kota.
[Pedangmu itu mengganggu sekali]
[Kau tidak sadar kalau kau juga membawa pedang? Kino yang terluka juga memiliki tiga pisau di pinggangnya]
[Tapi milikmu tidak ada sarungnya! Kau tidak mau membuat yang baru di toko senjata?]
[Tidak perlu. Nanti akan muncul sendiri]
[Hah?]
“Waktu itu…kau bilang kalau sarung pedangmu akan muncul sendiri. Jadi itu maksud ucapanmu?!” Ryou langsung tersentak dan menunjuk wajah Kaito
“Seperti itulah. Karena itu aku tidak mencari sarung pedangku. Tapi, aku sedikit menyesal karena aku tidak jadi menggunakan sabun cuci baju yang sudah kubeli”
“Bukan saatnya memikirkan sabun cuci, bodoh! Aku masih tidak terima! Kalau begitu, mau pergi ke ‘dunia’ manapun bersamamu, aku dan Kino akan berakhir tanpa senjata ketika tiba di sana!” Ryou sekarang dipenuhi dengan emosi
“Aku tidak akan menyangkal hal itu. Setidaknya aku sudah tidak akan meragukan dugaan bahwa kedua jam saku kita memiliki keterikatan”
“Aku masih tidak terima! Sudah tidak punya senjata, masuk ke tempat yang berbahaya juga. Sepertinya jam saku dan kau itu sama-sama pembawa sial ya”
-Jleb
Sebuah tusukkan berbentuk tulisan ‘pembawa sial’ menancap di hati Kaito.
‘Anak ini…berhubung kita sedang terjebak di sekolah, apakah ada tenaga pengajar yang bisa menyekolahkan mulutnya itu ya? Kalau ada, aku akan membayar berapapun untuk membuat mulut itu tidak bisa memaki orang lain’ gerutu Kaito dalam hati
Kaito hanya menghela napas dan berkata dengan wajah serius.
“Aku minta maaf karena membawamu ke tempat berbahaya dan juga–”
“Ya ya, simpan maafmu itu. Aku tidak membutuhkannya. Kau dan aku sama-sama memiliki hutang budi. Semuanya cukup untuk melunasi hutang satu sama lain. Sekarang, kita akan lanjutkan setelah aku menemukan Kino”
“Kau benar”
“Dia harus mendengarkan aku ketika memaki habis dirimu, Kaito”
“……” Kaito menatap Ryou dengan wajah aneh
Tidak mau membuang waktu, Ryou dan Kaito melupakan sejenak pembicaraan itu dan berlari lagi. Baru sebentar, Kaito menghentikan langkah keduanya.
“Berhenti”
“Ada a–”
“Ssst, diam. Mereka di depan sana” bisik Kaito
“Mereka?” Ryou ikut bicara dengan nada pelan
Dengan maju sedikit, mereka berbelok ke arah kanan dan melihat kawanan zombie berada di depan sebuah pintu besar yang tertutup. Ryou melihat tulisan di atasnya.
“Kantin…ruangan itu adalah kantin”
“Mereka tidak akan berada di sana tanpa alasan. Sejauh ini, aku melihat mereka memakan manusia. Sama seperti di ruangan yang aku datangi sebelum bertemu denganmu”
“Kalau begitu, besar kemungkinan ada manusia hidup di sana. Dan kalau kita beruntung…”
“Kino ada di dalam”
Meskipun mereka berdua tidak memiliki dugaan itu sebelumnya, tapi mereka harus menemukan seseorang yang hidup untuk menjelaskan situasi saat ini. Informasi akan menjadi hal terpenting yang dibutuhkan mereka.
“Aku akan menerobos ke sana dan membunuh mereka semua” ujar Kaito sambil berbisik
“Kau gila! Sehebat apapun kau, kalau lawannya zombie dalam jumlah banyak akan sangat berbahaya! Berbeda dengan serigala dan goblin yang tidak akan membuatmu terinfeksi. Kalau sampai terkena cakaran atau gigitan mereka, kau bisa jadi zombie dan kemungkinan menyelamatkanmu itu tidak ada!” Ryou berubah panik
“Kau terlalu meremehkan kemampuanku, Ryou” Kaito tersenyum
“Tuan amnesia, ini bukan saatnya pamer”
“Dan ini bukan saatnya berpikir” Kaito langsung lari dan mengeluarkan pedangnya dengan cepat
“Kaito! Aduh, si bodoh itu!” Ryou hanya bisa menepuk jidatnya
Mendengar langkah kaki yang mendekat, zombie itu menengok ke belakang dan mulai mengeluarkan suara.
-GRAAA
“Sungguh suara yang tidak enak didengar” kritiknya
Dengan cepat satu persatu kepala zombie itu ditebasnya. Gerakannya sangat cepat sampai-sampai Ryou yang bersembunyi di balik dinding belokan cukup terkesan dengan kemampuan bertarungnya.
“Untuk ukuran remaja dunia asing yang amnesia, dia memang hebat. Tapi, kenapa aku merasa dia itu ingin pamer ya?” sekarang Ryou justru curiga pada Kaito
Sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah. Niat Kaito memang ingin bertarung menghabisi para zombie itu dan pamer pada Ryou yang suka memakinya. Tapi, semua itu dipikirkan tanpa sepengetahuan Ryou.
Setiap dia memenggal kepala zombie itu, beberapa dari mereka banyak yang memuntahkan darah segar.
‘Menjijikkan’ pikirnya
Ryou sempat membayangkan beberapa hal yang sebenarnya tidak begitu penting dalam situasi ini.
‘Apa mungkin ini salah satu dari scene anime Gakkou Gurashi? Atau mungkin ini Highschool of the Dead? Rasanya setting tempat dan kejadian ini benar-benar menggambarkan kedua anime itu. Kino pasti akan terkejut kalau mendengarnya’
Dengan modal bersembunyi dan menengok ke belakang untuk memastikan dirinya aman, dia kembali melihat pertarungan Kaito.
“Psst…Kaito, jangan sisakan mereka ya” Ryou memanggil Kaito
Kaito menengoknya dan berkata, “tidak mau ikutan?”
“Kalau punya senjata aku juga mau!” Ryou keluar dari tempat persembunyiannya
Karena dia juga berisik, beberapa zombie mulai menghampirinya.
“Jangan kemari! Lawan kalian ada di sana! Akh, sial!”
Pergerakan zombie itu lambat sehingga Ryou bisa menghindari sentuhan mereka. Sesekali, dia bahkan menendang tubuh mereka. Kemampuan bertarung dengan tangan kosongnya cukup membuatnya berhasil menghindar.
Sekarang, dia ada di belakang Kaito.
“Dengar, aku punya firasat kalau kau itu ingin sekali pamer. Lakukan dengan cepat!”
Tanpa banyak bicara, Kaito menghabisi mereka semua. Suara gemuruh dari para zombie itu akhirnya semakin kecil hingga tidak menyisakan satu zombie pun di sana.
Setelah Kaito berhasil menghabisi semua zombie itu dan memasukan kembali pedangnya, sekarang bagian kesukaan Ryou, yaitu berteriak.
“Oi! Aku tau di dalam ada orang! Jawab aku dan buka pintunya sekarang!”
Tidak lama setelah itu, mereka berdua mendengar suara yang sangat mereka harapkan.
“Ryou…Ryou!! Ryou!! Aku di dalam! Ryou!! Apa kamu bisa mendengarku? Ryou!!”
“Kaito, itu suara Kino!”
“Kino?! Dia di dalam?” Kaito terkejut
“Kino!! Kino, jawab aku! Nii-san, ini aku!! Oi! Buka pintunya dan biarkan aku bertemu kakakku! Cepat buka sekarang!”
Ryou terlihat tidak sabar. Dia benar-benar memaksa untuk masuk.
“Buka! Kino! Apa kau selamat! Nii-san, Nii-san! Oi! Kalian yang bersama kakakku buka pintunya dan biarkan aku bertemu kakakku sekarang!”
**
Di dalam, Kino berusaha untuk meminta bantuan yang lain.
“Aku mohon, tolong bantu aku untuk membuka pintunya. Adikku ada di luar!”
“Adik?” Seo Garam terkejut
Mendengar itu, beberapa dari mereka mulai maju untuk membantu. Tapi Park Cho Joon berteriak.
“Jangan bantu dia!”
“……!!” semuanya terkejut
“Jangan tertipu! Bisa saja orang asing itu adalah dalangnya! Lihat apa yang dia perbuat padaku!” Park Cho Joon berusaha mencari pembelaan
“Di luar sana ada adikku! Aku harus bertemu dengannya!” Kino terlihat sedikit cemas
“Tidak bisa! Kalau kalian membuka pintunya, monster-monster itu akan membunuh kita!”
“……!!!”
Mendengar kalimat Park Cho Joon, semua orang kembali menjadi takut. Mereka yang awalnya maju untuk membantu Kino akhirnya mundur perlahan dan menatapnya dengan tatapan takut. Hanya Seo Garam yang tidak melakukannya.
Di luar pintu, Ryou terlihat kesal sambil menendang pintunya.
-BAANG…BAANG
“Buka! Aku harus bertemu kakakku! Kino! Kino! Aku bersama Kaito! Buka pintunya sekarang!”
Kino terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Ryou.
“Kaito-san…Ryou bersama Kaito-san…syukurlah” Kino terlihat senang sekali
Dengan sedikit pengamatan, Kino mulai berteriak untuk memastikan sesuatu.
“Ryou! Kaito-san! Aku selamat! Ada beberapa orang lain di dalam sini, tapi mereka tidak mengizinkanku untuk membuka pintu ini karena makhluk di luar!”
“Apa?! Maksudmu zombie? Mereka sudah dibunuh oleh Kaito dan sekarang kami berdua ingin bertemu denganmu! Di sini banyak darah dan menjijikan sekali! Buka pintunya! Suruh mereka lihat sendiri kalau tidak percaya!” Ryou berteriak dengan lebih keras
“Mereka tidak membiarkan kita masuk” ujar Kaito
“Aa…mereka terlalu takut. Aku tidak menyalahkan mereka dengan banyaknya makhluk ini. Tapi aku tidak peduli dengan mereka. Aku ingin bertemu kakakku! Kalau sampai dia tergores sedikit saja, akan kutendang pelakunya” Ryou sedikit terbawa emosi
Kaito melihat ke sekitar mayat para zombie yang telah mati.
“Apa kau berpikir bahwa aku sudah kehilangan sisi kemanusiaanku?”
“Bicara apa kau ini, Kaito? Untuk kita yang sudah pernah membunuh orang lain di ‘dunia’ sebelumnya, ini bukan masalah. Selain itu, zombie tidak dihitung sebagai manusia”
“Tapi mereka masih remaja seperti kita, Ryou. Mereka adalah manusia sebelum menjadi zombie”
“Mereka mantan manusia, Kaito. Jangan pikirkan mayat, pikirkan tentang para pengecut di dalam sana”
Ryou mulai menendang kembali pintu besi itu.
“Buka sekarang! Aku punya batas kesabaran dan jangan mengujiku!”
Kino yang berada di dalam berusaha meyakinkan semua.
“Aku mohon, tolong izinkan aku membuka pintu ini. Bukankah kalian sudah mendengarnya sendiri?”
“Tidak! Monster itu masih di luar! Kau ingin membunuh kami semua seperti yang dilakukan wanita sial itu ya!” Park Cho Joon kembali terlihat emosi
Mendengar pria pengecut itu terus berkilah, Kim Yuram yang memeluk Ha Jinan berdiri dan menendangnya dari belakang hingga jatuh.
-BRUUUK
“Cukup! Jangan menguji kesabaranku, pengecut! Kau sudah berani memprovokasi kami semua dengan emosi yang tidak stabil! Pakai otakmu itu! Kalau ada zombie di luar sana, mustahil ada orang yang bisa berteriak dan menendang pintunya! Jangan samakan tingkat kebodohanmu itu dengan kami semua!”
Kim Yuram berjalan dan mulai menyingkirkan kursi yang mengganjal pintu masuk. Dia melihat ke arah Kino.
“Di luar itu adikmu, kan?”
“Benar”
Kim Yuram berteriak ke arah pintu.
“Yang di luar sana, aku dan yang lain akan membuka pintunya. Tolong bersabar!”
Ryou dan Kaito tersenyum senang. Kino segera membantu. Melihat Kim Yuram, Seo Garam ikut membantu mereka berdua diikuti oleh yang lain. Ha Jinan pun berusaha berdiri dan segera berlari membantu. Hanya Park Cho Joon yang tidak melakukannya.
Setelah beberapa menit, pintu kantin itu terbuka.
******