
“Kenyataan?” Kino begitu terkejut mendengar kalimat Song Haneul
“Ucapan yang menjadi kenyataan itu…apa maksudnya?”
Kaito melihat Song Haneul dengan tatapan tajam. Dia ingat apa yang dikatakan oleh Kino mengenai jawaban Song Haneul ketika di telepon.
‘Kino mengatakan bahwa wanita ini seakan sudah mengetahui bahwa seluruh zombie itu ada di depan pintu gerbang asrama. Artinya, memang ada sesuatu. Sebuah penjelasan logis yang harus didengar darinya. Ini pasti ada hubungannya dengan permata ingatanku’
Itulah yang ada dalam pikiran Kaito.
Song Haneul mengambil tas besar berisi sebuah laptop miliknya dan membukanya. Untuk beberapa lama, ketiga remaja itu menunggu sampai perempuan itu selesai.
Tidak lama kemudian, dia menujukkan layar laptopnya. Di sana ada banyak halaman yang terbuka. Mulai dari command prompt, bahasa pemrograman dan sebagainya. Termasuk artikel mengenai aplikasi [Event Horror Apps] dalam halaman website kampus.
“Itu…”
“Ini adalah coding yang kami pakai untuk membuat aplikasi [Event Horror Apps] dan aku adalah bagian maintenance program dalam aplikasi ini. Bahasa pemrograman yang digunakan oleh aplikasi ini dibuat sendiri oleh Jung Leon”
Kino dan Ryou melihatnya sejenak. Song Haneul memberikan laptopnya pada mereka agar bisa dilihat dengan jelas.
“Ini…benar-benar dibuat sendiri oleh Jung Leon? Sepintar apa dia?” Ryou begitu takjub melihat isi programnya
Song Haneul kemudian bercerita semuanya.
“Awalnya, kami bertiga adalah kelompok yang membuat aplikasi sebagai tugas akhir sebelum menghadapi penulisan dan sidang kelulusan”
“……” perhatian mereka tertuju pada cerita Song Haneul
“Jung Leon mengajak aku dan temanku. Lee Seung Chan untuk membuat sebuah aplikasi sederhana. Konsep pertama yang diinginkan oleh Jung Leon saat itu adalah sebuah aplikasi yang bisa digunakan untuk mengikat pertemanan antar mahasiswa dan staff kampus”
“Lalu, dengan adanya aplikasi tersebut pula, semua kalangan bisa ikut dalam partisipasi acara yang diadakan secara umum”
“Jadi, itu alasan pertama aplikasi ini dibuat?” tanya Kaito
“Benar. Dosen kami memberikan waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikannya. Kriteria kelulusannya adalah respon dari semua yang telah menggunakan aplikasi ini serta seberapa efektifnya setiap acara yang diadakan dengan menggunakan aplikasi ini sebagai pusatnya”
“Berkat promosi yang dilakukan oleh Leon-nim dan Seung Chan, hanya dalam waktu singkat kami berhasil membuat 70% mahasiswa dan staff di sini menggunakan aplikasi kami dan mengikuti tiap event yang kami adakan melalui informasi acara pada fitur aplikasi”
Semua penjelasan Song Haneul itu hampir sama seperti yang dikatakan oleh Seo Garam. Dia mengatakan bahwa aplikasi ini begitu terkenal karena event dan acara yang diadakan oleh tiga pembuatnya.
“Apakah setiap event itu memang diadakan hanya demi mendapat penilaian bagus atau…”
“Tidak, bukan begitu. Memang semua event yang kami lakukan awalnya untuk mendapatkan respon positif, tapi dengan aplikasi itu juga kami mendapatkan uang dan bisa menjalin pertemanan. Hingga akhirnya, ada keinginan dalam diri kami bertiga untuk membuat aplikasi ini semakin besar demi bisa menjalin pertemanan dengan semua mahasiswa lain”
Kaito hanya mengangguk. Kino dan Ryou masih melihat laptopnya dan membuka tab halaman berisi sebuah catatan.
“Catatan ini…” Kino membacanya baik-baik
Kedua kakak beradik itu terlihat begitu syok membaca isinya. Bagai sebuah cerita dalam novel sederhana, setiap isinya terasa tidak begitu asing.
Bersamaan dengan kedua kakak beradik itu yang sibuk membaca isi catatan tersebut, Song Haneul bercerita kembali.
“Jung Leon mengusulkan banyak hal kepada aku dan Lee Seung Chan untuk membuat banyak acara seru dengan tema horror seperti nama aplikasi ini”
“Dengan mengajukan sebuah proposal dan presentasi kepada Organisasi Perhimpunan Mahasiswa dan juga memberikan rancangan program sederhana milik kami kepada dosen, akhirnya kami mendapatkan izin untuk mengadakan event secara bebas”
“Setelah berhasil, kami mulai sering mengadakan acara dan lomba skala besar dalam kampus. Mulai dari acara lomba makan dengan tema pakaian horror, lomba menulis cerita horror, lomba drama dan sebagainya. Tentu saja akan ada item spesial dari Leon-nim sebagai hadiahnya”
Kaito mulai mencoba memancing sedikit informasi mengenai hadiah yang dimaksud dalam event kali ini.
“Hadiah? Aku ingat teman kami juga mengatakan bahwa ada hadiah yang akan diberikan oleh Jung Leon untuk event kali ini”
“Benar. Semua hadiah itu dibeli khusus oleh Jung Leon dengan harga fantastis. Uang tersebut kami dapatkan dari setiap mahasiswa yang menyumbang demi terlaksananya acara event. Itu diberikan secara sukarela dan tidak ada keharusan dari kami bertiga”
“Seperti apa hadiah yang selama ini diberikan?” Kaito semakin penasaran
“Lebih seperti emas, batu berharga, logam mulia dan beberapa benda seperti game portable dan smartphone. Karena banyak pihak yang memberikan sumbangan hingga menembus jutaan jadi kami mencoba memberikan hadiah yang pantas juga untuk mereka”
“Karena sepadan dengan uang yang kami keluarkan untuk membeli hadiah, uang yang masuk untuk kami juga semakin bertambah”
“Batu berharga…seperti apa jenis batu berharga yang kalian berikan?”
“Permata atau juga mutiara, safir dan semacamnya. Tapi, itu tidak murni dalam bentuk batu. Kami memberikannya sebagai hadiah pemenang event dalam bentuk perhiasan seperti cincin, gelang dan kalung. Semua memilik sertifikat resmi dan dapat dijual kembali”
Song Haneul berdiri dan mengambil kotak kecil yang ada di atas meja. Dia menunjukkannya pada Kaito. Begitu dibuka, Kaito terkejut dengan isinya.
“Itu adalah hadiah yang akan diberikan kepada pemenang kali ini”
“Ini…”
Ada perasaan tidak asing untuk Kaito. Jelas sekali bahwa itu adalah sesuatu yang dia cari. Tapi, ternyata ekspetasinya begitu tinggi.
“Sebuah kalung dengan liontin?”
“Eh?!” kedua kakak beradik itu langsung terkejut mendengarnya
“Benar. Itu kalung dengan liontin permata” kata Song Haneul
“Permata? Tapi…tidak ada…”
Kaito kembali melihat kalung liontin tersebut. Kino dan Ryou tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
‘Tidak mungkin?! Bukan permata milik Kaito? Lalu dimana permata ingatan miliknya itu?!’
‘Mungkinkah ada yang kami lewatkan? Padahal kami sangat yakin bahwa Song Haneul-san pasti memiliki permata milik Kaito-san. Tapi, kenapa jadi seperti ini?’
Kaito dan kedua kakak beradik itu jelas terkena serangan mental.
Untuk masuk dan bertemu dengan Song Haneul bukanlah hal yang mudah. Namun, setelah berhasil justru mendapatkan sebuah kejutan yang luar biasa sulit diterima akal sehat.
Kino memperhatikan bagian tengah liontin.
“Tidak ada permatanya, Song Haneul-san”
“Liontin itu tidak utuh karena item pentingnya ada pada Jung Leon”
“Apa?!”
Ketiganya kembali dibuat syok oleh Song Haneul. Sekarang, mereka mulai melihat sebuah harapan.
“Itu adalah liontin yang dibuat khusus atas permintaan Jung Leon untuk hadiah event. Permata pada liontin itu ada pada Jung Leon sekarang”
“Hah?! Ada pada Jung Leon?!” Ryou terkejut
“Benar. Hadiahnya adalah sebuah kalung liontin permata yang akan diberikan pada satu orang pemenang dan saat penyerahan kalung tersebut, niat awalnya Jung Leon yang akan memasangkan permata pada liontin tersebut”
“Apa…apa jenis dan warna permata tersebut?!” Kaito langsung bertanya pada Song Haneul dengan segudang harapan
“Warnanya ungu. Masuk dalam permata jenis *3)$(%(#! Dengan harga 350.000 Yeon”
“Yeon?”
Mata uang asing lain yang terdengar di telinga kedua kakak beradik itu. Tapi, bukan itu masalahnya.
“Lalu, dimana permata itu berada sekarang?”
“Itu…dibawa oleh Jung Leon bersamanya. Ketika kami berpencar pagi ini untuk mencari Lee Seung Chan, dia mengantonginya dalam saku celana miliknya”
-Deg
Bagaikan terkena serangan yang sangat tidak terduga. Mereka bahkan seperti sudah melakukan semua hal dengan sia-sia.
Sekarang, tampaknya mereka harus mulai bekerja ekstra demi menemukan permata Kaito dan menghentikan kegilaan ini.
******