
Michaela dan anak-anak lain berhenti menangis sambil memeluk Theo.
“Jadi, Theo-niichan akan pergi juga?
“Umm” Theo mengangguk
Mendengar jawaban itu, semuanya termasuk Michaela merasa senang. Dua anak kecil lain yang belum mandi akhirnya mengambil pakaian baru mereka dan mandi. Anak-anak lain yang telah mandi duduk di kursi sambil menghapus air mata mereka dan tersenyum.
Theo yang melihat itu hanya bisa menghela napas dan tersenyum tipis. Dia mulai berdiri dan mencari pakaian baru miliknya dalam kantong belanja sebelumnya, sedangkan Michaela dan tiga anak lainnya duduk di kursi.
Keempat anak itu mulai berbisik satu sama lain.
“Tadi kita menangis untuk apa?” tanya salah seorang anak kecil laki-laki
“Kau ikut menangis juga tapi tidak tau kenapa?” bisik Michaela pada anak itu
“Aku melihat kalian menangis dan memeluk Theo-niichan jadi aku ikutan menangis juga. Memang kenapa tadi kita menangis?”
“Itu adalah cara agar Theo-niichan mau ikut ke kota dan belanja bersama kita!” jawab Michaela
“Jadi tadi kau hanya pura-pura menangis?”
“Itu bukan pura-pura, aku memang menangis sungguhan” jawab Michaela sambil berbisik
“Tapi demi bisa membuat Theo-niichan ikut dengan kita, kan?”
“Benar sekali!” Michaela menjawab dengan yakin
“Itu sama saja pura-pura tau! Namanya sandiwarna” jawab anak laki-laki itu dengan penuh percaya diri
“Ish! Sandiwara! Itu namanya sandiwara bukan sandiwarna!” Michaela mengoreksi ucapan temannya
“Itu tidak berbeda, namanya kamu telah membohongi–ouch!! Jangan mencubitku!”
Michaela mencubit lengan anak laki-laki itu dan berteriak kesakitan. Mendengar itu, Theo melihat dan menghampiri mereka.
“Kenapa?”
“Tidak ada. Kami hanya sedang bicara saja. Iya, kan?” Michaela tersenyum seakan tidak terjadi apapun
“Hmm. Ya sudahlah kalau begitu. Tunggu di sini–oh, mereka sudah selesai”
Theo melihat dua anak lain datang setelah selesai mandi. Mereka langsung berkumpul dengan Michaela dan lainnya.
“Aku akan mandi dulu sebentar. Kalian berenam tunggu di sini. Kalau paman mesum itu kembali, kalian bersamanya dulu ya. Tapi, ingat baik-baik! Jangan ikut-ikutan menjadi mesum seperti dia!”
Theo menasehati anak-anak itu dan memberikan penekanan pada kata ‘mesum’ yang membuat anak-anak itu menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Setelah itu, dia pergi ke belakang dan rapat anak-anak itu kembali dilanjutkan.
“Jadi, tadi sampai dimana obrolan kalian?” tanya anak laki-laki yang baru saja datang
“Kami sedang membicarakan soal Michaela yang pura-pura menangis untuk membujuk Theo-niichan ikut belanja bersama” jelas gadis kecil bernama Sienna
“Itu bukan pura-pura tapi sandiwara! Aku sudah bilang, kan?” Michaela kembali mengoreksi ucapan temannya yang lain
“Intinya kau melakukannya karena ingin Theo-niichan ikut dengan kita lagi, kan?” tanya Sienna
“Umm….” Michaela menunduk dengan mulut cemberut
“Pagi ini…pagi ini Theo-niichan tidak pergi dengan kita ke altar. Kemarin siang…kita juga tidak menemani Theo-niichan mencari uang karena kelaparan dan Theo-niichan pulang dengan luka di wajahnya seperti itu. Kalian lihat bekas memarnya masih terlihat jelas, kan?” Michaela berkata dengan wajah sedih dan mata merah seperti akan menangis kembali
“……” anak-anak lain menunduk sedih
“Aku ingin Theo-niichan tidak jauh dari kita. Karena kita tidak bisa melakukan apapun saat Stelani-neechan dan Fabil-niichan dibawa orang jahat, kita jadi terpisah dari mereka” lanjut gadis kecil itu
Anak-anak lain yang mendengarnya melihat satu sama lain dan menatap wajah gadis kecil itu.
“Michaela, jangan sedih. Kita akan membantumu, ingat? Saat keluar rumah, kami sudah bilang kalau kami akan membantu. Jadi kau jangan sedih lagi” ucap seorang anak laki-laki
Dari kejauhan, Joel melihat itu dan tersenyum. Dia menghampiri mereka semua sambil membawa tas kecil dengan tali panjang.
“Huwaa~lihat kalian…manis dan wangi sekali~”
Anak-anak itu menyambut Joel yang datang dengan ceria.
“Joel-ojichan!”
“Kalian suka baju barunya?”
“Suka~”
“Baguslah kalau begitu. Jadi, aku dengar kalau kalian semua…pintar bersandiwara” Joel mengatakannya sambil tersenyum
“Kami melakukannya agar bisa bersama Theo-niichan!”
“Aku tau itu, gadis kecil. Kakak kalian yang satu itu memang sangat keras kepala dan tidak ada manis-manisnya sama sekali. Padahal kalau dia tersenyum sedikit saja padaku, dia pasti akan lebih manis…hmm?”
Mendengar itu, Michaela dan yang lain melihat Joel dengan tatapan sinis. Reaksi anak-anak itu membuat Joel merinding dan panik.
“Apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?!”
“Theo-niichan bilang tidak boleh ikut menjadi mesum seperti Joel-ojichan” ucap Michaela dengan tatapan sinis
“Oi! A–aku tidak mesum! Kalian tidak lupa hubungan baik kita beberapa waktu lalu, kan? Ayolah…aku merasa seperti orang jahat kalau begini”
Semua anak-anak itu tertawa melihat wajah panik Joel yang terlihat lucu untuk mereka. Joel yang senang bercanda dengan anak-anak juga ikut tertawa. Setelah itu, Joel berlutut dan mengalungkan tas kecil yang dibawanya pada Michaela.
“Apa ini, Joel-ojichan?”
“Ini dalamnya uang yang sangat banyak”
“Uang? Benarkah?!”
“Tentu saja benar. Kalian semua akan belanja bersama, kan? Belilah semua hal yang kalian suka dengan uang ini. Jangan lupa untuk membeli bagian kakak perempuan dan kakak laki-laki kalian yang seorang lagi ya”
Joel tersenyum sambil mengusap-usap kepala anak-anak itu satu persatu. Mendengar hal itu, Michaela membuka tas kecilnya dan melihat banyak sekali uang koin di dalamnya.
“Huwaaa~uang sebanyak ini…benar-benar boleh dihabiskan?!”
“Tentu”
Dari belakang, Theo menghampiri mereka yang asyik berkumpul dan terkejut dengan apa yang ditunjukkan Michaela padanya.
“Eh?! Pa–paman mesum…kau memberi kami sebanyak ini?!”
“Memangnya kenapa? Kau akan menemani mereka belanja, kan?”
“La–lalu bagaimana dengan barnya?!” Theo bertanya dengan nada panik
“Aku akan menjaganya sementara waktu. Rencananya kalau kakiku ini tidak malas, aku bermaksud memanggil temanku dan memintanya memperbaiki tempat ini, jadi kalian pergilah sendiri”
“Tapi…kalau kami pergi sendiri, kau tidak khawatir kalau terjadi sesuatu pada kami semua?”
Joel berdiri dan menghampiri Theo.
“Kenapa aku harus khawatir? Kau kakak mereka yang akan melindungi mereka, kan?” Joel berkata dengan senyum percaya diri
“……” Theo terdiam
“Lagipula, sekalipun kau memiliki uang…sebaiknya kau simpan uangmu itu baik-baik. Kau bisa memakainya untuk nanti”
“……” Theo hanya bisa menundukkan kepalanya dengan senyum tipis
“Ini adalah waktu santai untuk kalian. Setidaknya untuk sekarang, nikmatilah waktu kalian tanpa rasa khawatir. Aku yakin, orang-orang yang pergi nanti juga akan kembali pada kalian dengan senyuman” Joel mengusap kepala Theo yang tertutup topi
Semua anak-anak terlihat senang dan memeluk Joel sambil mengucapkan terima kasih.
Pertama kali dalam kurang lebih 2 jam waktunya bersama anak-anak itu, dia tidak mendengar kata ‘mesum’ keluar dari mulut Theo. Ini adalah berkah lain untuk om-om bertubuh besar dengan wajah yang tidak kalah galak dari Justin.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pamit untuk pergi ke kota untuk belanja.
“Jangan pergi terlalu jauh dan kembali sebelum malam ya” pesan Joel kepada mereka
“Kami pergi dulu, Joel-ojichan~”
“Jangan hancurkan satu-satunya mata pencaharianmu ini ya, paman–“
“Ya ya ya, aku tidak mau mendengar kata terakhirnya. Cepat pergi sana!” Joel menggerakkan tangan seperti mengusir Theo agar pergi
“Cih! Kami jalan dulu” Theo menggandeng tangan Michaela dan pergi
Meskipun hanya sebentar, Theo melirik noda darah di sisi lain jalan dan mengabaikannya.
‘Justin sudah mati! Aku tidak perlu mengingat hal buruk yang disebabkan olehnya selama ini! Kami sudah bebas!’
Theo menggenggam erat bandul kalungnya yang ada di dalam kerah bajunya. Mereka berjalan dengan senang sambil tertawa. Hal itu juga membuat Theo terlihat bahagia.
Michaela melihat Theo dan berkata dengan senyumannya.
“Theo-niichan, sudah kubilang kalau Joel-ojichan baik. Sama seperti Kino-niichan, iya kan?”
“Dia baik. Tapi sedikit mesum”
“Tapi dia memberi kita banyak uang dan makanan enak”
“Iya, aku tau. Aku tidak membencinya. Meskipun wajahnya tidak bersahabat dan suka selingkuh, tapi selama dia baik pada anak-anak…aku akan tetap melihatnya sebagai orang baik”
**
Di bar, Joel yang sendirian akhirnya bisa duduk dengan tenang setelah mengantar kepergian anak-anak itu. Ketenangan itu sedikit berubah.
“Haa~akhirnya aku sendirian dan…haa…chuuuh!”
Joel terdiam tanpa berhenti berkedip.
“Apa ada yang mengutukku ya?”
Joel mengusap-usap hidungnya lalu menghela napas berat.
“Haaah! Aku harus memikirkan cara untuk pergi ke tempat Sean dan memintanya memperbaiki bar bobrok ini secepatnya tapi…haaah…malas sekali kakiku untuk berjalan”
Joel berpikir sejenak dengan wajah serius.
‘Aku benar-benar berharap Arkan berhasil menyelamatkan ketiga orang yang dibawa oleh pasangan suami-istri itu dengan selamat. Selain itu, aku ingin tau seperti apa wajah orang yang membunuh Justin sampai menyebabkan hal seperti ini di luar dan di dalam bar. Aku harap senyuman anak-anak yang tadi kulihat bukanlah senyuman terakhir mereka’
******
Di pasar gelap, Arkan berlari secepat yang dia bisa untuk sampai ke pintu gerbang.
‘Ada atau tidak, yang jelas aku harus memastikan dulu apakah mereka ada di sana atau tidak!’
Di depan, sudah terlihat pintu gerbang pasar gelap yang masih tertutup.
-Claang
Arkan langsung berhenti sambil memegang pagar gerbang dengan napas terengah-engah.
“Haaah…haaah…haaah…”
Dia berusaha untuk mengatur napasnya dan menarik gerbangnya sedikit untuk memastikan apakah gerbangnya terkunci atau tidak.
“Terkunci. Ternyata memang mustahil untuk membukanya tanpa kunci”
Gerbang tersebut tidak menggunakan gembok, melainkan kunci gerbang hanya perlu dimasukkan ke dalam lubang kunci pada gerbang. Sekilas, pertahanan gerbang tersebut memang sangat rendah. Tapi sepertinya itu bukanlah masalah sejak pemilik dan pengelola tempat itu adalah pembunuh.
Dari belakang, Seren melihat Arkan yang sedang bernapas terengah-engah sambil membawa kepala Will.
“Arkan~” seru Seren dengan santai
“Seren…-sama…” Arkan menengok ke belakang dan mencoba memperbaiki posture tubuhnya
“Masih dikunci, kan? Apa kubilang. Anak-anak itu masih di sekitar tempat ini dan belum keluar”
“Tapi…kemana mereka pergi? Apa aku harus kembali ke tempat Jack-sama?”
“Hmm…aku juga tidak tau. Selain itu, aku juga sebenarnya ingin sekali mencari orang bernama Kaito itu”
Melihat Seren yang tersenyum senang membuat bulu kuduk Arkan merinding. Dia tau bahwa wanita di depannya ini ingin bertemu dengan Kaito dengan maksud yang tidak baik.
‘Ayolah, Tuhan! Kalau kau memang baik seperti yang dikatakan oleh orang-orang di kota sampai mau berdoa padamu setiap pagi di altar, tolong sekali ini saja….lakukan tugasmu dan selamatkan kami semua beserta mentalku!!’
******