
Dari kejauhan, tepatnya di balik belokan, ketiga remaja dari dunia lain itu mencium aroma masalah.
“Mereka…tidak akur, benar kan?” tanya Kino, “Tidak bisakah kita melakukan sesuatu?”
“Aku juga inginnya begitu tapi itu tidak akan mudah kali ini, Kino. Alasan yang utama karena dia kapten divisi dan sudah jelas dia sudah tau siapa kita”
“Ryou benar, Kino. Saat ini, posisi kita tidak boleh sampai diketahui lebih banyak. Mereka sudah tau bahwa kita bukan berasal dari sini”
“Itu bukan masalah, Ryou, Kaito-san. Kita harus membantu mereka sekarang. Memangnya kalian senang melihat kedua orang itu terus salah paham begitu? Xenon-san masih peduli dengan kakaknya”
Ryou mengerti keinginan sang kakak dan berusaha berpikir untuk membantu Xenon juga. Tapi celah pertengkaran kakak adik itu bukanlah hal yang mudah seperti saat dia ikut campur dalam masalah di lobi beberapa waktu lalu.
“Akh, sial!” gumamnya
Tidak lama setelah itu, Kino ingat sesuatu.
“Kaito-san, kenapa kita tidak ke sana sekarang?”
“Kino, aku mengerti bahwa kau ingin–”
“Permata ingatanmu, Kaito-san!”
Kaito terkejut. Ryou yang mendengar kalimat sang kakak juga tidak kalah terkejut, “Kino?”
Kino memperkuat alasannya untuk membuat kedua orang itu mau setuju dengannya, “Rexa van Houdsen memiliki bros seperti yang dimiliki Xenon-san dan itu mungkin saja ingatanmu”
“Sekarang, orangnya sedang ada tepat di depan kita. Menunggu hanya akan menghilangkan kesempatan kita lagi”
“Apakah Kaito-san ingin menghilangkan kesempatan itu dan menunggu untuk waktu lain yang belum tentu pas seperti ini?”
Kino benar-benar pintar dalam hal memanfaatkan celah dan situasi. Dengan cepat, dia bisa membalikkan persepsi dan keraguan kedua orang itu sehingga mendukungnya sekarang.
“Baik, kita ke tempat mereka” kata Kaito tegas
Tentu saja hal itu membuat Kino senang.
Sementara itu, Xenon yang bingung mendengar pertanyaan Rexa tidak bisa menjawab apapun dan mengalihkan pandangan matanya dari Rexa.
“Kenapa? Kenapa tidak menjawabku?”
“Apakah di matamu, aku adalah orang lain sekarang?”
“Apakah hal itu yang kamu pikirkan selama ini? Apa kamu memang sudah tidak menganggapku sebagai saudaramu?”
Xenon mencoba melihat Rexa tapi bola matanya tertuju ke belakang Rexa. Seketika dia syok.
“Hah?!”
Ekspresi itu membuat Rexa penasaran dan melihat ke belakang.
“Kalian…”
“Kino, Ryou, Kaito…kenapa kalian ada di sini?” tanya Xenon dengan ekspresi bingung dan terkejut
Ryou dengan mulut ramah lingkungannya berkata, “Lucu sekali kau langsung melupakan kami setelah berjanji mau mengajak kami berkeliling, Xenon. Ingatanmu baik-baik saja, kan?”
Rexa tidak asing dengan wajah itu. Jelas, karena mereka adalah anggota yang baru diterimanya hari ini.
“Kalian…”
“Selamat siang, Rexa-san” Kino menyapa untuk membuat suasana membaik. Sambil melihat detail pakaian Rexa, Kino melihat sesuatu yang dipakainya.
Rexa melihat Xenon dan bertanya, “Apa kamu sedang bersama mereka?”
Xenon hanya mengangguk sekali dan bertanya pada mereka, “Kalian kenapa bisa di sini?”
“Aku pikir aku sudah bilang alasannya tadi” jawab Ryou
“Kalian bisa menunggu sebentar karena aku sedang ada sedikit…urusan”
Saat melihatnya, tidak ada perasaan apapun yang dirasakan oleh Kaito. Mendekati Rexa sedikit lagi sambil bertanya soal pembicaraan mereka, Kaito tetap tidak merasakan apapun.
‘Itu bukan permata ingatanku’ gumamnya dalam hati
Xenon melihat Kaito yang melirik ke arah permata Rexa dan dari reaksinya, Xenon sadar bahwa itu bukan benda yang dicari oleh Kaito.
Segera, dia langsung mengalihkan semua percakapan sebelumnya dengan bertingkah baik-baik saja di hadapan ketiga remaja dari dunia lain itu dan mengajak mereka pergi.
“Aku permisi, Rexa-sama. Soal tadi…kita akan bicarakan lagi lain waktu. Ayo, kalian bertiga”
Xenon kembali pergi. Melihat sang adik pergi, Rexa berusaha memanggilnya. Langkah Xenon sempat terhenti saat itu meskipun tidak menengok ke arah Rexa.
Rexa seperti tidak ingin menahan dirinya dan mengatakan sesuatu.
“Aku hanya ingin kamu tau bahwa aku sudah memutuskan pertunanganku dengan Misha hari ini dengan mendatangi kediamannya dan soal ini sudah kuinformasikan kepada ayah”
-Deg
Xenon langsung melihat ke arah Rexa dengan ekspresi syok. Bukan hanya itu, Xenon juga jadi pucat mendengarnya.
“A…pa? Apa katamu barusan?”
“Aku sudah memberitau ayah dan ibu bahwa Misha dan aku bukan lagi tunangan. Earl Midford sudah tau mengenai hal ini”
“Sebelum aku mengusir Misha dari akademi, aku sudah mendatangi kediamannya di pagi hari bersama Lucas dan Mark”
“Aku ingin kamu mendengar ini. Aku dan Misha bukan lagi tunangan sekarang”
Rexa kemudian berjalan melewati Xenon dan tersenyum pada ketiga temannya, “Aku titip adikku pada kalian ya”
Xenon terdiam membisu, sedangkan Ryou dan Kaito melihat satu sama lain sebelum akhirnya mereka menghampiri Xenon.
Kino melihat Rexa dan berbisik pada Kaito.
“Aku mau ke sana. Tolong tunggu sebentar di sini”
“Kino?”
Kino kemudian pergi mengejar Rexa.
Di lorong koridor menuju ruang kerjanya kembali, Rexa tentu merasa sangat kecewa. Seperti dugaannya, Xenon mungkin sudah melupakan semua hal yang dilakukan bersama dengannya saat masih kecil.
“Rexa-san!”
Dari belakang, Kino memanggil Rexa.
“Kamu…Yuki Kino, kan? Apa ada sesuatu?”
Kino bicara pada Rexa setelah ini. Dalam pembicaraan tersebut, terlihat ekspresi Rexa yang berubah. Ada perasaan kecewa, ada pula senyum lirih yang terlihat.
Namun pada akhirnya, semua itu berubah saat Kino mulai bicara.
Entah apa yang dibicarakan oleh keduanya, saat Kino pergi dari tempat itu, pandangan mata Rexa mulai berubah.
Hanya satu kalimat yang diingat olehnya dari Kino.
“Hubungan kalian masih dapat diperbaiki. Percayalah padaku, karena aku mengerti perasaanmu sebagai kakak”
**
Sementara itu, Xenon merasa bahwa dirinya mulai larut dalam bayangan kesalahpahaman lebih dalam lagi.
‘Ini…salahku. Semua ini karena aku…’
******