Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 108. Akhir dari Pelarian dan Awal Masalah Baru



Arkan yang sudah mulai panik dan tidak bisa mengendalikan dirinya setelah Seren menunjukkan senyumnya itu, hanya bisa berdoa dengan sungguh-sungguh sambil memejamkan matanya. Sedangkan Seren hanya mendengarkan doa Arkan sambil melihat sekeliling tempat itu.


Namun, tidak beberapa lama setelah itu perhatian Seren mulai teralihkan.


‘Hmm? Sepertinya ada yang mendekat. Mungkinkah itu…’


Seren melihat Arkan yang serius berdoa dan berjalan mendekatinya.


“Nee, Arkan…” Seren mendekat dan memanggilnya dengan nada pelan


Arkan hanya terus mengatakan semua doa dan harapannya tanpa merespon Seren.


“Aku mohon selamatkan nyawa kami semua dan mentalku, Tuhan. Selamatkan gajiku bulan ini beserta bonusku. Selamatkan anak-anak itu dari iblis yang menari dengan kepala karyawannya. Selamatkan…”


“Arkan!” Seren menepuk pundak Arkan


“Waa!! Menjauhlah dariku ib–eh? Seren-sama?”


Dengan wajah panik dan senyum yang dipaksakan, Arkan berhenti berdoa dan menelan ludahnya sambil mengucap syukur dalam hati.


‘Hampir saja aku kelepasan memanggilnya iblis tadi. Kalau sampai dia dengar aku memanggilnya begitu, aku sudah bisa membayangkan kepalaku dipeluk olehnya juga. Syukurlah, aku tidak jadi mengatakannya’


Arkan mencoba kembali ke topik pembicaraan dan melihat Seren dengan wajah bingung.


“Seren-sama, ta–tadi kenapa kau memanggilku?”


“Ada yang datang ke sini. Coba tebak, menurutmu siapa yang datang?”


“Eh?!” Arkan terkejut dengan wajah panik


Arkan langsung melihat ke arah depannya dan dengan wajah pucat dia mencoba mengeluarkan suaranya.


“Ti–tidak…mungkin. Ke–kenapa…”


******


Di jalan sempit di wilayah terasing, Theo dan anak-anak lain berjalan sambil mengobrol. Anak-anak itu membuka topik pembicaraan dengan hal yang menyenangkan, misalnya tentang kue dan makanan yang baru mereka makan.


“Theo-niichan, kita beli daging dan kue seperti tadi ya~”


“Aku juga suka kue strawberry yang dibeli Joel-ojichan tadi”


“Aku juga. Daging yang ditusuk tadi juga enak. Aku suka yang pedas manis tadi”


“Aku ingin kita beli baju yang bagus lagi. Yang ada kotak dan garis di kanan”


Theo hanya mendengarkan anak-anak itu mengatakan hal yang mereka suka dan ingin mereka beli.


“Theo-niichan…” Michaela yang menggandeng tangan Theo memanggilnya


“Ada apa?”


“Kita akan beli baju yang bagus untuk Stelani-neechan dan Fabil-niichan juga, iya kan?”


“Tentu saja. Sekalipun uang dari paman mesum itu kurang, aku masih membawa uang yang diberikan Kino-nii dan Kaito-nii. Kita akan membeli banyak hadiah untuk mereka ketika mereka semua pulang nanti”


“Kita beli yang banyak ya, Theo-niichan~”


“Iya”


Theo berusaha untuk berpikir positif. Dia masih terus berdoa untuk keselamatan semuanya. Tanpa disadari, dia mengeluarkan bandul kalungnya dan melihatnya.


‘Aku masih belum mengetahui kenapa bisa muncul cahaya aneh dari permata ini, tapi kurasa aku harus memikirkan hal yang lebih penting. Apapun itu, sekarang yang paling penting adalah mereka semua kembali dengan selamat’ kata Theo dalam hati sambil memegang dan melihat bandul kalungnya


Theo yang tiba-tiba terdiam menarik perhatian Michaela yang memperhatikannya. Gadis keci itu menjadi sedikit penasaran dengan apa yang dilihat oleh Theo bertanya padanya.


“Theo-niichan, apa yang kau pegang itu?”


“Ini? Hanya kalung. Bukan hal istimewa”


“Huwaa~tapi dia bercahaya nee~”


“Bercahaya?”


Theo yang terkejut melihat bandulnya. Terlihat cahaya kecil menyala dari permata tersebut, membuat Theo teringat apa yang dia alami ketika berada di bar saat sedang mengepel.


“……!!!”


‘Ternyata bukan dugaanku! Permata ini bisa bersinar!’ ucap Theo dalam hati dengan wajah terkejut


Theo mencoba untuk menenangkan dirinya dan tersenyum untuk membohongi gadis kecil itu.


“I–ini hanya terkena pantulan sinar matahari”


“Begitu. Tapi tetap saja cantik, Theo-niichan. Aku menyukainya” Michaela memberikan senyuman saat menjawabnya


Anak-anak lain yang melihat itu hanya bisa bertanya apa yang kedua orang itu bicarakan, kemudian mereka semua kembali ke topik menyenangkan soal makanan lagi setelahnya.


Theo yang mendengarkan obrolan kecil mereka mulai terlihat sedikit khawatir. Bukan hanya tentang misteri bandul kalungnya saja, namun juga tentang keselamatan mereka yang memutuskan untuk pergi ke tempat berbahaya demi menyelamatkan orang-orang yang diculik.


‘Ryou-nii, Kaito-nii…kalian sudah berjanji untuk kembali dengan Kino-nii. Aku masih harus minta maaf pada Kino-nii mengenai jam saku yang kucuri. Kumohon, kembalilah dengan selamat!’


Setelah berjalan lurus akhirnya mereka sampai di jalan belakang altar. Seperti semua yang terjadi di dalam bar terasa lama sekali, sinar matahari dan keramaian di jalan tersebut membuat Theo meneteskan air mata dari sebelah matanya.


“Ayo kita ke–“


Salah satu anak kecil yang awalnya bicara antusias, tidak melanjutkan kalimatnya lagi setelah melihat Theo mengeluarkan air mata. Anak tersebut justru bertanya pada Theo.


“Theo-niichan, kau baik-baik saja?”


“Ah…” Theo yang menyadari air matanya keluar langsung menghapusnya. Dia memandang anak tersebut dan tersenyum sambil mengatakan “tidak ada apa-apa” kepadanya.


Tidak ingin menghancurkan suasana bahagia, Theo langsung pergi bersama anak-anak itu ke kawasan pertokoan untuk berbelanja.


Di kawasan tersebut, mereka mulai melirik beberapa toko pakaian termasuk toko sepatu dan toko pakaian dalam.


“Tadi, kami pergi ke toko di sekitar altar bersama Joel-ojichan. Di sana mereka punya banyak sekali pakaian bagus dan murah, Theo-niichan” Michaela menceritakan momen belanjanya bersama Joel beberapa waktu lalu


“Begitu. Mau kembali ke sana saja?” tanya Theo sambil melihat sekitar toko di kawasan tersebut


Michaela menunjukkan dress cantik yang dia pakai pada Theo.


“Kalau begitu kita pergi ke toko yang kalian suka. Setelah itu kita pergi membeli makanan. Sebaiknya jangan terlalu jauh karena situasi kita sekarang ini. Mengerti?”


“Mengerti~” jawab semua anak-anak serentak


Theo dan anak-anak lain akhirnya mulai berburu hal menyenangkan yang mereka bicarakan selama di jalan tadi. Sedangkan di sisi lainnya, mereka sedang memburu waktu dan diburu oleh ketidakberuntungan.


Ryou yang berlari dengan mendorong gerobak berisikan tubuh Kino mulai terlihat kelelahan hingga akhirnya langkahnya mulai melambat.


“Ryou, kalau memang lelah sebaiknya berhenti dan gentian denganku!” seru Kaito sambil mencoba menyusul Ryou di depannya


“Aku…baik-baik saja. Kino harus keluar dari sini atau nyawanya…. Ah! Kalian semua, berhenti!!”


“Apa?!” Kaito terkejut mendengarnya


Ryou tiba-tiba saja menghentikan langkah dan menarik gerobaknya agar berhenti, begitu pula dengan dua orang di dekatnya yang ikut berhenti mendadak setelah dia berteriak. Bukan tanpa alasan kenapa Ryou meminta semuanya untuk berhenti.


Dari kejauhan terlihat sosok yang tidak asing untuknya. Pria tinggi berpakaian bartender di hadapan mereka melihat ke arah Ryou dan lainnya dengan wajah pucat dan putus asa. Dia berjalan perlahan ke arah mereka sambil menggerakkan mulutnya seperti bergumam.


Kaito menyadari sosok tersebut dan dia melihat sosok wanita dengan aura mengerikan di belakangnya.


“Kaito-niichan, wanita itu…dia memegang benda mirip kepala! Bagaimana ini?!” Fabil mundur ke belakang dan bersembunyi di belakang tubuh Kaito karena takut


Dengan cepat, Kaito meminta Fabil untuk menggendong Stelani menggantikan dirinya.


“Dengar, kalian harus tetap bersama. Jika kau memang lelah berlari karena menggendong Stelani, gunakan pisau milik Kino untuk melawan. Ini tidak akan menjadi pemandangan yang sehat untuk mata anak-anak, jadi bila memang ada kesempatan–“


“Kami akan sembunyi. Jangan khawatir” jawab Fabil


Kaito mengangguk dan maju ke depan dengan sorot mata tajam. Ryou yang tidak mundur sama sekali bicara dengan Kaito yang sudah berdiri di sampingnya.


“Kaito, wanita itu…”


“Aa…itu Seren” jawab Kaito dengan wajah serius dan ekspresi penuh kebencian


Pria berpakaian bartender itu meningkatkan kecepatannya dan berlari menuju ke arah mereka sambil berteriak.


“Stelani! Fabil!”


Kedua anak itu memang melihat siapa yang ada di hadapan mereka, namun sampai beberapa saat lalu perhatian mereka masih tertuju pada sosok wanita di depan mereka. Setelah mendengar nama mereka dipanggil oleh pria itu, mereka seperti melihat sebuah harapan lain.


“A–Arkan-niichan!!”


“Arkan-niisan, kami di sini!!”


Arkan, pemuda yang berlari ke arah mereka akhirnya mulai mendapatkan perhatian dari Ryou dan lainnya. Ryou bahkan bertanya padanya ketika pemuda itu berdiri di depan gerobak yang dibawanya.


“Arkan! Kenapa kau bisa–“


“Ini…apa ini adalah kakak yang kau maksud?” tanya Arkan panik


“Benar!” jawab Ryou dengan sorot mata serius


“Arkan-niichan!”


Fabil yang berada di belakang berlari mendekati Arkan. Setelah berdiri di dekatnya, Fabil langsung menurunkan Stelani. Hal tersebut langsung mendapat sambutan hangat dari Arkan.


“Kalian berdua! Syukurlah kalian selamat!” Arkan langsung menyambut mereka dengan pelukan


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arkan menunjukkan perasaan peduli dan prihatin pada anak-anak. Ketika memeluk keduanya, Arkan memperhatikan bahwa Stelani terlihat tidak baik-baik saja.


“Kenapa dengan kakimu?”


“Terkilir, tapi aku lebih baik dan bisa berjalan meskipun masih harus menahan rasa sakit” jawab gadis kecil itu


Perhatian Arkan mulai teralihkan ke remaja yang terluka di dalam gerobak itu.


“Jadi itu teman yang kalian cari, Kaito?” tanya Arkan pada Kaito yang berada di hadapannya


“Itu bukan lagi hal penting sekarang. Jawab pertanyaanku, kenapa kau bisa bersama dengan iblis wanita itu, tuan bartender?”


Mendengar itu, Arkan mulai panik dan menengok ke belakangnya. Seren terlihat berjalan mendekat dan tersenyum ke arah mereka. Melihat hal itu, Arkan langsung berbalik. Dia berhenti di depan wanita itu dan merentangkan tangannya.


“Seren-sama, aku ingin bicara dulu dengan mereka semua!! Tolong, jangan dekati mereka sebelum aku selesai bicara! Aku mohon padamu!!”


“Setelah itu, aku boleh bertemu dengan yang bernama Kaito?”


“Itu…tergantung…situasinya…” Arkan menjawab dengan ragu-ragu


“Kalau begitu, aku tidak perlu menunggumu selesai bicara dengan mereka semua. Aku akan ke sana sekarang dan–“


“Aku mengerti, aku mengerti! Seren-sama bisa bertemu dengan Kaito setelah ini! Jadi kumohon, jangan bergerak dari sini sebelum aku selesai!”


“Baiklah kalau begitu” Seren tersenyum senang mendengar jawaban Arkan


Jawaban Arkan diberikan dengan teriakan yang tentu saja terdengar sampai ke telinga orang yang dimaksud.


“Bertemu denganku?” gumam Kaito pelan


Arkan menengok ke belakang dan terlihat tertekan. Dia memperlihatkan ekspresi sedih dan seakan mengatakan sesuatu dengan gerakan bibirnya.


[Maafkan aku]


Itu yang terlihat di mata Ryou dan Kaito. Sontak saja tatapan dingin langsung diperlihatkan oleh keduanya pada Arkan.


Arkan lalu menghampiri mereka dan bicara dengan wajah pucat dan panik.


“Aku akan jelaskan pada kalian berdua tapi kumohon kalian juga harus menjelaskan semuanya padaku!”


“Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan penjelasanmu itu, Arkan!. Berikan jawaban dalam 5 kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat…sekarang!” Ryou menatap dingin Arkan


“Baiklah. Dengarkan aku baik-baik. Nyawa Kaito dalam bahaya sekarang, puas?”


“Apa maksudmu, tuan bartender?” Kaito bertanya dengan ekspresi bingung


“Ini semua karena kau membunuh penjaga gerbang itu!”


******