Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 367. Keputusan Rexa



Di ruang rapat Dewan Sihir…


-BRAAAK


“Rexa!” Lucas memanggil Rexa yang keluar membanting pintu ruang rapat. Dia keluar dengan penuh emosi pada wajahnya.


Lucas melihat Emily, “Benar itu terjadi di sini sebelum kami kembali?”


“Emily tidak bohong. Dia memang mempermalukan Emilia dan menamparnya di muka umum. Sepertinya dia juga membentaknya”


“Emily tidak bisa mendengarnya tapi Emily bisa menebaknya. Dia mencoba mempermalukan Emilia dan Emily tidak terima” Emily terlihat kesal dan marah


Lucas terdiam dan mencoba menenangkan dirinya.


“Apakah Emilia baik-baik saja?”


“Emilia ditolong oleh Ryou, adik Kino dan Ryou sudah memberi Misha pelajaran”


“Ryou? Penjelajah dimensi itu?”


“Benar. Emily berhutang padanya karena membantu Emilia. Tapi Emily tetap akan membuat Misha menyesal sudah menampar Emilia. Emily tidak mau Lucas melarang Emily”


Lucas hanya diam melihat sang adik seperti itu. Di dalam hatinya, dia berkata, “Aku rasa aku harus serius. Misha mungkin mencoba mempermalukan Xelhanien”


**


Rexa berjalan menelusuri koridor untuk menemukan Misha.


“Aku tidak percaya dia bisa berbuat seperti itu. Aku sudah cukup bersabar kali ini”


“Tidak ada yang perlu kutahan. Aku akan mengirimnya kembali ke kediaman Midford”


Di saat Rexa berjalan penuh amarah, dia melihat Emilia dan Tatiana yang membawa beberapa berkas.


Rexa langsung memanggil dan menghampiri keduanya.


“Kalian berdua!”


“Rexa-sama”


Rexa berhenti dan melihat wajah Emilia yang sedikit memerah.


“Aku…”


Tatiana melihat wajah Rexa baik-baik. “Mungkinkah Rexa-sama baru saja kembali?” tanya Tatiana


“Iya. Ada sedikit urusan dan aku mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan saat kembali”


Tatiana terkejut. Dia melihat Emilia yang tampak biasa-biasa saja. Dengan mengambil tumpukan kertas di tangan Emilia dengan bantuan sihir, Tatiana langsung pamit meninggalkan mereka berdua.


Sekarang hanya ada Rexa dan Emilia. Rexa terlihat begitu menyesal.


“Maafkan aku”


“Ini bukan kesalahan Rexa-sama. Ini hanya sebuah kesalahpahaman”


“Aku mendengar semuanya dari Emily”


“Emily?”


“Dia diperintahkan Lucas untuk mengawasi seluruh tempat ini selagi dia menemaniku pergi bersama. Dia melaporkan semuanya padaku dan aku benar-benar malu sekali padamu, Emilia-sama”


Emilia hanya terdiam dan melihat Rexa yang sedang murung. Gadis itu dengan wajah datarnya mencoba menghiburnya.


“Rexa-sama, Misha-sama melakukan hal ini untukmu. Dia begitu mencintaimu dan aku mengerti hal itu”


“Misha-sama mungkin hanya khawatir karena Rexa-sama selalu baik padaku dan semua orang sehingga beliau merasa tidak diperhatikan olehnya”


“Aku rasa Rexa-sama harus mengatakan semua perasaanmu padanya dan…lebih memperhatikan tunanganmu”


Di sisi lain jendela gedung seberang, Misha lewat dan tidak sengaja melihat Rexa yang seperti bicara dengan seseorang.


“Rexa-sama! Huh?”


Dari jendela di lorong koridor tempat Misha berada, terlihat bahwa di sisi lain ada Rexa yang sedang bicara dengan seseorang. Tapi saat dia maju beberapa langkah dan melihatnya kembali, Misha terlihat seperti naik pitam.


“Dasar gadis murahan tak beradab”


Dengan cepat Misha langsung berlari menuju tempat keduanya berada. Saat dirinya belok ke arah kiri, dia mendapati bahwa Rexa memang hanya berdua saja dengan Emilia.


Misha berteriak, “Rexa-sama! Menjauh dari perempuan murahan seperti dia!”


Rexa menengok dan tentu saja ekspresinya saat melihat Misha dipenuhi dengan emosi.


Misha berhenti dengan penuh kemarahan, bahkan dengan beraninya dia menggunakan nada tinggi untuk bicara dengan Rexa.


“Rexa-sama, apa maksudnya ini! Aku tau bahwa kalian memiliki hubungan di belakangku! Aku yakin bahwa dia yang menghasutmu, benar kan?!”


“Dasar tidak berguna! Gadis beban yang tidak bisa menjaga diri dan menggoda tunangan orang lain harus enyah dari sini!”


Saat Misha mencoba mendekati Emilia dan mengangkat tangannya untuk menyerang, Rexa langsung menangkap tangan itu.


“Rexa-sama?! Akh!!”


Rexa langsung mendorongnya hingga terjatuh.


“Kenapa?! Kenapa Rexa-sama melakukan ini kepadaku?! Aku ini tunanganmu! Aku adalah gadis yang dipilih oleh Vexia-sama untukmu!”


“Misha Diana Midford, aku ingin mengatakan bahwa mulai hari ini kamu bukanlah tunanganku”


-Deg


Misha seperti terkena serangan jantung. Emilia yang awalnya tidak membuat ekspresi apapun langsung berubah syok.


“Jangan…jangan bercanda. Ini tidak lucu. Tidak mungkin hal itu bisa terjadi!”


“Kenapa tidak? Menurutmu dari mana aku pagi ini?”


“Eh?”


“Aku pergi menemui Earl Midford dan memintanya secara langsung untuk membatalkan pertunangan kita. Aku juga sudah mengirimkan surat kepada ayahku, Marquis van Houdsen selaku kepala keluarga untuk menindaklanjuti semuanya”


“Aku sudah muak dengan sikap angkuhmu dan yang lebih tidak bisa aku maafkan…kamu sudah menghina satu-satunya adik yang paling berharga untukku”


“Ti–tidak…”


“Aku sudah mencoba memberimu kesempatan berulang kali untuk memperbaiki diri dan memberitau bahwa Xenon adalah orang yang berharga untukku. Dia adalah adikku dan aku tidak bisa memaafkan siapapun yang menghinanya”


“Kamu pikir aku tidak tau apa yang kamu katakan kepadanya? Darah kotor…”


-Deg


Misha seperti terkena sebuah serangan mental lain dan melihat mata dingin Rexa.


“Aku sudah cukup dengan semua ini, Misha Diana Midford. Aku tidak bisa lagi memaafkanmu. Selain itu, aku mendapatkan laporan bahwa kamu mempermalukan dirimu sendiri dan Emilia-sama di muka umum”


“Aku rasa sudah saatnya kamu pergi dari–”


“Bohong!” Misha berdiri dan berteriak. Emosi penuh kekesalan membuatnya seperti dibutakan oleh semuanya, “Bohong! Bohong bohong bohong! Semua bohong! Rexa-sama tidak bisa membatalkan pertunangan kita!”


“Vexia-sama memilihku! Dia memilihku untuk menjadi istri Keluarga van Houdsen saat Rexa-sama menjadi Marquis nanti! Kamu tidak bisa memutuskan semuanya!”


“Pembatalan tidak bisa dilakukan! Ini tidak sah! Aku masih tunanganmu!”


Rexa masih mencoba bersabar, “Bermimpilah”


“Aku tidak salah! Semua bukan salahku! Xenon, dia juga pengganggu dan aib bagi van Houdsen!”


“Dia dan darah kotornya itu–”


-Plaak


Mungkin ini bukanlah hal baik yang dilakukan seorang putra bangsawan, namun Rexa melakukannya. Dia menampar wajah Misha.


“Rexa…-sama”


“Jangan menyebut adikku dengan sebutan itu!” Rexa membentak Misha, “Sampai kapanpun, Xenon adalah putra Marquis van Houdsen dan juga adikku yang berharga! Dia dan ibunya, Axelia-sama adalah keluargaku yang paling berharga!”


“Kamu pikir aku akan menikahi orang yang tidak bisa menghargai orang-orang yang paling aku cintai di dunia ini?!”


“Bermimpilah sampai kamu mati!”


“Aku sudah cukup dengan sikap aroganmu dan kesabaranku sudah mencapai batasnya. Jangan kamu pikir aku tidak bisa berbuat hal nekat”


“Lady Misha Diana Midford, dengan wewenangku sebagai Kapten Divisi Eksekutor Dewan Sihir, aku mengeluarkanmu dari Akademi Sekolah Sihir”


“Mulai saat ini, kamu bukan lagi murid di akademi dan Keluarga Midford akan menerima skor untuk mendaftar kembali sampai laporan dariku dicabut”


“Rexa-sama…kamu tidak…kamu tidak serius, kan?” Misha menjadi pucat dan mulai menangis. Dia tersungkur dan tidak percaya. Matanya seperti orang yang setengah mati karena syok.


Rexa menatap Misha tanpa rasa belas kasihan.


“Tuntutan yang aku ajukan adalah menghina salah satu anggota Divisi Eksekutor Dewan Sihir dan tindakan tidak menyenangkan kepada wakil kapten dari Divisi Penyerang Jarak Jauh”


“Aku akan meminta Dewan Sekolah mencabut semuanya darimu per hari ini dan mengirimkan surat kepada keluargamu untuk menjemputmu hari ini”


Misha langsung memegang kaki Rexa sambil menangis histeris.


“Tidak! Tidak, semua ini hanya salah paham! Aku bisa menjelaskan semuanya!”


“Ini…ini tidak seperti yang terlihat! Aku tidak bersalah, Rexa-sama! Aku tidak bersalah!”


“Semua ini adalah kesalahan Xelhanien dan–”


-Buuuk


“Akh!”


Rexa menendang Misha hingga terjatuh, “Jangan menyentuhku”


“Aku tidak akan menarik ucapanku dan aku minta kamu kemasi barang-barangmu sekarang. Jika memang butuh bantuan, aku akan meminta pihak asrama wanita untuk membantu mengemasinya”


“Sudah cukup dengan semua yang kamu lakukan pada adikku dan sudah saatnya ini semua berakhir”


Rexa melihat Emilia, “Emilia-sama, kita pergi sekarang”


Emilia tidak berani menjawab dan hanya mengikuti Rexa di belakangnya. Misha yang masih terus memanggil Rexa diabaikan bagai sesuatu yang tak berarti.


“Ini tidak benar, ini tidak benar, ini tidak benar! Aku tidak akan pernah mengakuinya. Rexa-sama tidak bisa melakukan ini padaku, tidak mungkin…tidak!!!”


Jerit tangis dan teriakan terdengar dan Rexa menganggap semua itu tidak pernah ada.


******