
Ryou dan Kaito melihat gerbang yang ada di depan mereka. Sebelum sempat berbisik satu sama lain, seorang pria bertubuh besar dengan tato dan memegang pisau daging menghadang mereka.
“Apa urusan kalian kemari?”
“Kami ingin melakukan transaksi dengan pengelola sekarang”
Riz dengan senyum melihat ke arah pria besar itu. Pria itu dengan mudah mengenal wajah remaja yang menarik gerobak itu.
“Kau datang lagi Riz. Rajin sekali. Ini sudah yang kedua kalinya kau datang sebelum pembukaan nanti malam”
“Ayolah paman Will, ini bukti aku cinta bisnis dan pekerjaanku sekarang. Hahaha” Arkan menjawabnya sambil tertawa
Sebenarnya tawa yang dibuat olehnya itu sedikit dipaksakan untuk membuat kesan bersahabat dan agar pria besar bernama Will itu tidak mencurigainya.
“Hmm? Kenapa banyak sekali teman yang kau bawa? Apa mereka ingin masuk juga? Dan bartender bar juga ikut datang ke tempat ini. Apa barnya baik-baik saja?”
“Ah…” Arkan sedikit bingung dengan pertanyaan itu
Will menatap mereka semua dengan tatapan tajam meskipun bibirnya tersenyum, seperti mempelajari maksud tujuan mereka semua. Dia bahkan lebih mengutamakan dua remaja laki-laki yang berdiri di belakang Arkan. Senjata pedang itu yang paling menarik perhatiannya.
Riz yang bingung karena respon lambat Arkan langsung menengok ke arahnya dan memberinya isyarat dengan mata.
“Oi, Arkan kenapa kau diam saja!. Cepat, kau bilang sendiri padanya sana!. Cepatlah!”
“……” Arkan terdiam
Dia sempat menengok ke belakang dan dua remaja di belakangnya hanya mengangguk pelan sambil menatapnya dengan serius seakan mereka tidak bisa bersandiwara dan berpura-pura baik sekarang.
Arkan menghela napas dan bicara pada pria besar itu.
“Aku…Namaku Arkan dari bar [Barre des Noirs]. Sebenarnya aku yang ingin melakukan transaksi dengan Seren-sama sekarang, Will-sama”
“Dengan Madame? Apa benda yang ada di gerobak Riz itu milikmu, bartender?”
“Benar”
“Baiklah. Silahkan masuk. Kurasa Madame masih ada di dalam bersama Monsieur. Mereka akan pergi setelah makan siang tapi karena mereka belum melewati gerbang ini jadi kemungkinan mereka masih ada di rumah. Riz, kau masuklah untuk mengantar bartender itu bertemu Madame”
Pria bernama Will itu langsung membuka gerbangnya dan mempersilahkan kedua orang itu masuk.
“Baiklah. Ayo kalian juga masuk” kata Riz sambil menengok ke belakang
Dia mengajak Ryou dan Kaito untuk masuk juga bersamanya namun ternyata pria bertubuh besar itu menodongkan pisau dagingnya ke arah dua pemuda di belakang sambil tersenyum. Sontak Arkan dan Riz yang melihat itu langsung berhenti dan kaget.
“Paman Will!. Apa yang kau lakukan?!” Riz berteriak sambil berlari menghampirinya
“Kau dan bartender itu boleh masuk tapi kedua orang itu harus menunggu di luar” katanya sambil tersenyum
Ryou tampak kesal sekali dan bermaksud untuk membuka mulutnya itu, namun Kaito menahannya. Dia maju dan berdiri di depan Ryou.
Arkan dan Riz yang panik melihat tindakan yang dilakukan oleh Kaito.
Awalnya, kedua orang itu berpikir bahwa Kaito bermaksud untuk bicara baik-baik dengan pria besar di hadapannya. Akan tetapi, hal yang dilakukannya justru berbanding terbalik dengan pikiran mereka berdua.
Sekarang, Kaito bukan hanya berdiri tepat di depan pria besar itu tapi juga berdiri di hadapan pisau daging besar yang diarahkan kepadanya seakan menantang pria itu.
‘Si bodoh itu!!’ teriak Arkan dalam hati sambil menunjukkan wajah panik
‘Dasar gila, apa yang dilakukan oleh pria bernama Kaito itu?! Apa dia ingin mati di sini!!’ kata Riz dalam hati dengan wajah yang tidak kalah panik dari Arkan
Wajah panik kedua orang itu tidak dihiraukan sama sekali oleh Kaito. Pandangannya lurus dan hanya tertuju pada pria besar bernama Will.
“Kenapa kami berdua tidak boleh masuk? Aku datang bersama Riz untuk bertemu dengan pengelola ini juga” kata Kaito dengan wajah datar
“Anak muda, di tempat ini ada peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap pengunjung dan kurasa kau harus tau itu” Will tersenyum sambil menggoyang-goyangkan pisau dagingnya di depan wajah Kaito
“Riz sudah memberitauku mengenai beberapa hal yang harus dipatuhi di dalam dan aku sudah memahaminya. Memang peraturan apa lagi yang harus kupahami?”
Will melirik dan menunjuknya benda di pinggang Kaito dengan menaikkan kepalanya sedikit sebagai tanda. Kaito menyadari hal itu dan melihat pedangnya.
“Apa pedangku adalah masalah untukmu?” tanya Kaito sambil melihat wajah pria itu kembali
“Kurang lebih begitulah. Aku senang kau menyadarinya. Ahahahaha” Will tertawa tanpa menurunkan pisau dagingnya
“Aku dan temanku sudah diberitau oleh Riz bahwa tidak ada peraturan khusus mengenai senjata. Bukankah harusnya ini juga tidak masalah?”
Tatapan Kaito berubah tajam seolah mencoba memprovokasi pria besar di hadapannya. Namun ternyata pria besar itu juga menyadarinya dan menjawab pertanyaan tersebut dengan wajah serius seakan menjawab tantangan dari pemuda di depannya.
“Apa yang dikatakan Riz itu benar, tidak ada peraturan membawa senjata di sini. Semua dibebaskan membawa senjata apapun yang mereka miliki ke dalam pasar gelap…”
“Kalau begitu–”
“Hanya di saat setelah pembukaan dimulai!”
“……” Kaito terdiam mendengarnya
Riz terkejut mendengarnya. Dia merasa aneh dan bicara dengan Will.
“Tunggu sebentar! Aku tidak ingat itu! Paman Will, kenapa kau mengatakan itu? Aku sudah mengingat semua perkataan Jack-sama dan tidak pernah ada aturan yang–”
-Deg
Riz tidak sempat menyelesaikan kalimat terakhirnya karena tatapan membunuh yang dikeluarkan Will saat melihat ke arahnya. Seketika Riz terdiam dengan wajah takut.
Arkan melihat Kaito melirik ke arahnya dan dia menyadari apa maksud tatapan itu. Kaito meminta Arkan untuk menarik Riz menjauhi pria besar itu dengan tatapan sebagai isyarat dan Arkan melakukannya. Dia menarik Riz kembali untuk membawa gerobaknya.
Ryou yang sudah sangat kesal akhirnya berteriak.
“Riz, cukup! Jangan pikirkan kami! Masuk saja dan antarkan barang penting itu kepada pengelola tempat ini. Kami akan menyusul kalian nanti”
“Oh ho…” Will merasa terkesan dengan ucapan pemuda yang satu lagi
“Aku…mengerti. Ayo masuk Arkan”
“……” Arkan diam dan melihat Kaito
Kaito hanya mengangguk sambil menggerakan bibirnya tanpa suara.
"Pergilah"
Itu adalah satu kata yang diucapkan oleh bibir Kaito tanpa suara. Arkan mematuhinya dan pergi ke dalam. Tidak lama setelah itu, Will menurukan pisau dagingnya dan menutup pintu gerbang. Lalu dengan cepat dia melihat kembali ke arah dua pemuda itu lagi.
‘Ini merepotkan! Sepertinya aku tidak bisa masuk dengan cara halus’ kata Kaito dalam hati
**
Di dalam pasar gelap, banyak ruko dan kios yang masih tutup dengan barang dagangan yang digantung di etalase toko.
Arkan melihat tiap sisi tempat itu sambil tersenyum.
‘Jadi ini neraka yang hanya dimasuki oleh iblis berwujud manusia, ya? Selamat Arkan, kau sudah masuk ke habitat barumu. Semoga kau betah selama berada di sini dan cepat bertobat setelah keluar dari tempat terkutuk ini. Itu juga kalau kau bisa keluar hidup-hidup tanpa kehilangan anggota tubuhmu’ gumam Arkan dengan senyum manis yang bertujuan menghina dirinya sendiri
Arkan menengok ke arah Riz dan bicara dengan nada serius.
“Sebaiknya kau tidak perlu memikirkannya terlalu serius”
“Tapi aku tidak tau kenapa paman Will bisa bicara begitu”
“Kalau kau menyimak baik-baik ceritaku dan keterangan mereka di bar tadi, kau harusnya tau bahwa orang yang datang bersama Seren-sama ke bar adalah dia”
“Tepat sekali. Aku tidak tau kenapa Ryou juga ikut ditahan di luar tapi kalau Kaito aku tidak akan heran. Alasannya sudah sangat jelas. Ciri-ciri miliknya itu paling mencolok dan sekarang pria besar itu sudah mendapatkan satu orang yang paling cocok dengan target yang dicari”
“Tapi kalau begitu Kaito dalam bahaya sekarang!” Riz semakin panik dan menghentikan langkahnya
“Kita tidak punya waktu untuk itu! Aku memintamu untuk menemaniku ke sini bukan untuk mengkhawatirkan Kaito! Kita harus mendapatkan kembali ketiga orang itu atau semua akan terlambat!”
Arkan menunjukkan wajah penuh amarah. Dia serius mengenai pernyataannya untuk menolong anak-anak itu. Dia juga sudah minta tolong pada Kaito saat di bar dan remaja itu telah membantunya lepas dari Justin selamanya. Sekarang hanya tinggal melakukan rencana terakhir yaitu pertukaran.
Riz terdiam mendengar ucapan Arkan dan memutuskan untuk berjalan kembali.
Dari kejauhan, keduanya melihat sesuatu. Dua sosok laki-laki dan perempuan yang saling bergandengan tangan berjalan lalu berhenti. Riz mengenali kedua sosok itu dan tersenyum senang.
“Jack-sama! Seren-sama!” Riz berteriak sambil berlari menarik gerobaknya
Kedua sosok itu melihatnya dan bertanya satu sama lain.
“Hmm? Kenapa dia datang lagi?” tanya wanita itu
“Sepertinya semangat bisnisnya sedang tumbuh. Pagi ini dia juga semangat sekali ketika memberikan laporan dan meminta bantuan mengatur harga barangnya, kan? Biarkan saja anak muda seperti dia bersemangat” kata pria yang digandeng wanita itu sambil tersenyum
Arkan melihatnya Riz berlari menghampiri mereka berdua dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dia terlihat takut dengan kedua sosok itu.
Dengan menelan ludahnya, Arkan mengepalkan kedua tangannya dan berjalan sambil bergumam dalam hati.
‘Semua sudah di depan matamu, Arkan! Sedikit lagi anak-anak itu akan selamat. Kau harus bisa melalui hal ini!’
Arkan berdiri di belakang Riz dan mendengar percakapan kecil yang dilakukan oleh ketiga orang di depannya.
“Selamat siang Jack-sama, Seren-sama. Syukurlah aku bertemu dengan kalian berdua di sini”
Seren menyapa mereka berdua dengan senyum
“Selamat siang Riz. Oh, Arkan juga datang. Selamat siang”
“Selamat siang, Seren-sama. Selamat siang, Jack-sama”
“Oh!. Kau bartender yang bekerja dengan Joel itu, kan? Ini kedua kalinya kita bertemu empat mata seperti ini. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Joel. Apa dia sehat?”
“Manager sangat sehat dan masih bersemangat bersama semua pacarnya. Yang jelas, selama dompetnya masih terisi penuh artinya dia sehat secara fisik dan mental”
“Ahahaha, kalimat yang bagus. Aku suka pemikiranmu itu. Uang memang penting dan itu kenyataannya. Aku setuju dengan pernyataanmu itu. Lihat, istriku semakin hari semakin cantik karena uang di brankas-ku terus bertambah. Iya kan, sayangku?”
Sepertinya sang istri begitu sensitif dengan kata ‘cantik’ yang keluar dari mulut suaminya. Dia dengan cepat membantah penyataan itu.
“Tapi aku sudah cantik sejak lahir, Jack”
“Kau benar, Seren cintaku. Kau cantik sejak masih dalam kandungan ibu mertuaku yang masih kalah cantik denganmu. Akhir bulan nanti kita kunjungi mertua kesayanganku itu ya?”
“Oh Jack~”
“Oh Seren~”
Arkan merasa pembicaraan tidak masuk akal ini akan semakin tidak terkendali jika diteruskan. Dia dengan cepat memotong pembicaraan pasangana itu dengan wajah serius.
“Jack-sama, Seren-sama…aku ingin mengadakan transaksi dengan kalian dan ini mendesak. Aku mohon, tolong bantu aku untuk memprosesnya sekarang juga”
Keduanya langsung diam dan melihat wajah Arkan dengan tatapan serius. Jack bahkan berniat menolaknya secara halus.
“Transaksi? Aku minta maaf. Biasanya aku akan menerimanya tapi kami sedang sibuk. Kami ada urusan lain jadi–”
Arkan bicara dengan meninggikan suaranya
“Yang kami bawa ini adalah mayat Justin-sama!”
“……!!!”
Seketika, wajah kedua suami-istri itu langsung berubah serius. Mereka tidak terlihat bercanda sekarang. Seren bahkan mendekati gerobak milik Arkan dan mengeluarkan pisaunya untuk merobek kantong plastik besar itu. Dia juga sempat melihat sisi dalam gerobak. Ada dua lengan di sana yang sedikit tertindih mayat dalam kantong plastik.
Matanya menjadi lebar dan menengok ke arah suaminya.
“Jack, dia tidak berbohong. Ini mayat Justin dan dia sudah mati sekitar satu sampai dua jam lalu. Bahkan kedua lengannya ada di sini. Sepertinya terpotong oleh senjata sejenis pedang”
Jack tidak bisa mengabaikan hal ini. Sikap dan pose tubuhnya langsung berubah dari yang terlihat santai di awal menjadi begitu formal. Tangan kanan di dada dan tangan kiri di belakang sambil membungkuk sedikit sebagai tanda hormat.
“Silahkan lewat sini, pelanggan terhormat. Akan kuantar kalian. Mari”
Arkan melirik ke arah Seren yang membuat sikap dan pose serupa dan langsung menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya.
‘Ini adalah hal yang harus dilakukan dengan keyakinan penuh. Tidak ada waktu untuk ragu atau semua akan sia-sia!’ ucapnya dalam hati
Kedua pasangan suami-istri itu berbalik dan berjalan di depan mereka. Riz menarik gerobaknya kembali dan berjalan mengikuti mereka di belakang bersama Arkan.
Arkan sempat melirik ke belakang dengan wajah cemas sambil bergumam dalam hati.
‘Kaito, aku sudah masuk dan berhasil meyakinkan kedua orang ini untuk melakukan pertukaran. Kuharap kau dan temanmu tidak terjebak dalam masalah sekarang. Aku berdoa kalian bisa masuk ke tempat ini secepatnya’
******
Fabil yang menarik tubuh Kino sudah masuk ke dalam ruangan tempat dia dan Stelani berada sebelumnya.
“Tinggal sedikit lagi. Ah...!”
-BRUUUK
Tubuhnya jatuh ke lantai dan langsung mencoba mengatur napasnya karena kelelahan. Itu wajar karena dia menarik tubuh orang dewasa sendirian.
Fabil berusaha berdiri dan akhirnya dia tersenyum dengan wajah penuh keringat.
“Kino-niichan, setidaknya kau tidak berada dalam ruangan menakutkan itu lagi”
Setelah mengusap-usap rambut hitam Kino, Fabil tanpa sadar mengeluarkan air mata karena sedih. Dia ingat beberapa waktu lalu kakak baik yang terbaring dengan penuh luka itu tersenyum sambil melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan sekarang. Tapi kini orang itu terbaring dan hampir mati dengan darah yang keluar dari lukanya yang lebar.
“Kino-niichan…hiks…kumohon jangan mati…hiks”
Dengan mengusap rambutnya, Fabil terus menangis. Dia menghapus air matanya dan bertekad untuk pergi dari tempat itu untuk mencari bantuan. Setelah keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya, Fabil pergi ke tempat Stelani.
“Sudah selesai?” tanya Stelani sambil melihat ke bawah tangga
“Kita sudah selesai. Sekarang kita turun dan pergi mencari bantuan. Apa kau bisa berjalan, Stelani?”
“Aku akan mencoba menuruni tangga ini pelan-pelan. Jangan pikirkan aku dan bawa pisau ini juga”
Stelani memberikan sebuah pisau yang dia bawa kepada Fabil.
“Aku akan sebisa mungkin menolong diriku sendiri dan tidak menyusahkanmu, Fabil. Jika aku memperlambat langkahmu maka hanya tinggal menunggu waktu sampai wanita itu kembali dan benar-benar menghabisi kita”
“Kau benar. Situasi kita juga sangat mencurigakan karena wanita itu tidak mengunci pintunya sama sekali. Aku takut ini hanyalah pancingan untuk kita agar kita mencoba meloloskan diri dan dia bisa membunuh kita setelahnya”
“Aku juga berpikir begitu tapi kita tidak punya pilihan lain. Tidak masalah jika memang ini hanyalah jebakan. Yang jelas kita bisa keluar dari sini dan meminta bantuan!” ucap Stelani dengan wajah serius
Fabil juga berpikiran hal yang sama, meskipun kedua anak itu tidak tau seburuk apa tempat mereka berada dan seberapa banyak peluang mereka untuk lolos dari tempat itu.
Kedua anak itu tidak lagi memikirkan apapun kecuali pergi dari sana. Mereka dengan tenang menuruni tangga itu pelan-pelan sambil mengawasi setiap sudutnya.
Usaha meloloskan diri dari tempat itu akhirnya dimulai.
******