
“Bola yang keluar itu…ingatan milik Kaito-san” tanya Kino dengan wajah terkejut
“Tepat. ‘Orang itu’ berkata bahwa dia sempat melihat bola itu bersinar dan menunjukkan sebuah rekam memori. Hampir semua memori terlihat olehnya. Tapi, ketika dia melihat semua rekaman itu…tiba-tiba bola permata itu retak dan pecah”
Kino mencoba memperjelas apa yang diucapkan oleh Kaito.
“Mungkinkah itu…adalah ingatan Kaito-san? Ingatan itu…menyebar dan pergi ke ‘dunia’ dan dimensi lain?”
“Benar. Itulah saat seluruh ingatanku hilang”
“……” kedua kakak beradik itu terdiam
“Kemudian, dia bercerita bahwa tidak lama setelah itu tubuhku terjatuh dan saat dia mencoba menolongku…”
“Saat dia mencoba menolongmu?” Ryou menjadi sedikit tegang
“Dia melihat ada banyak sekali sesuatu seperti pintu masuk ke ‘ruang dan waktu’. ‘Orang itu’ menyebutnya sebagai portal dimensi. Kemudian bersamaan dengan itu, dia melihat permataku masuk ke dalamnya”
“Karena itu…Kaito-san bisa mengatakan bahwa kepingan ingatanmu ada di ‘dunia’ lain?”
“Begitulah”
Ini adalah ketika Ru Lan bercerita pada pemuda itu tentang kepingan permata ungu.
‘Mungkinkah itu adalah permataku? Itu ingatanku? Apakah itu alasannya aku tidak bisa mengingat apapun dan siapa namaku? Haruskah aku bertanya sekarang?’ pemuda itu hanya bisa bertanya dalam hati
“Setelah permata itu semua menghilang bersama dengan portal dimensi tersebut, aku membawamu ke dalam. Itulah alasan kenapa kamu tidak bisa menyebutkan siapa namamu atau mengingat semuanya. Aku yakin rekaman yang aku lihat waktu itu adalah seluruh ingatan dan perjalanan hidupmu”
“Perjalanan hidupku…ingatanku…semua itu…”
Mendengarnya hal tersebut, pemuda itu cukup syok.
Ru Lan menceritakan tentang hal yang terjadi selama dia merawatnya. Dia bercerita bahwa selama pemuda itu tidur, dia selalu dihantui mimpi buruk. Selain itu, tubuhnya seperti memiliki hal yang disebut kutukan. Meskipun Ru Lan sendiri tidak yakin.
‘Kutukan?! Aku memiliki kutukan?!’ pemuda itu semakin syok namun hanya bisa berteriak dalam hati
“Aku sendiri belum mengetahuinya dengan pasti. Sepertinya sebelum terlempar, kamu mengalami sesuatu yang membuatmu harus kehilagan seluruh ingatanmu itu. Entah sengaja atau tidak, tetapi aku harus katakan berkat hilangnya permata itu darimu, luka di tubuhmu mulai menutup”
Pemuda itu berdiri lalu membentak Ru Lan dengan penuh emosi. Dia melupakan pesan dari Ru Lan sebelum ini.
“Itu mustahil! Aku masih merasakan sakit! Rasanya seperti tercekik dan jantungku seperti akan berhenti sewaktu-waktu! Apanya yang membaik!!”
“……” Ru Lan hanya bisa diam dengan wajah sendu
“Apa maksudmu dengan bola permata ungu itu adalah ingatanku? Apa maksudmu dengan aku yang terlempar dari dunia lain? Apa yang…” pemuda itu terdiam
Sedikit demi sedikit dia mencoba untuk menahan emosinya. Dia duduk kembali dan menundukkan kepalanya.
“Maafkan aku”
“Bukankah tadi aku sudah katakan untuk tidak bertanya dan percaya padaku selama aku bercerita?” Ru Lan menunjukkan senyum tipisnya
“Aku…aku hanya…”
Setelah terdiam sejenak, Ru Lan hanya memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan diri. Tidak lama setelah itu, dia membuka matanya dan tersenyum.
“Aku rasa untuk sekarang sudah cukup. Lagipula kamu baru saja bangun. Jika diteruskan mungkin kamu akan semakin parah. Sebaiknya kita kembali dan kamu harus tidur”
“Apa? Bagaimana dengan penjelasanmu? Aku masih belum mendengar semuanya!”
“Sudah cukup. Nanti akan aku ceritakan lagi. Kita kembali ya” Ru Lan berdiri dan berjalan lebih dulu
“Tunggu dulu! Aku masih ingin mendengarnya!” pemuda itu berteriak
Ru Lan berhenti dan melihat ke belakang. Dia tersenyum sambil berkata, “kita kembali dulu ya”
“……”
Pemuda itu hanya bisa terdiam. Dia hanya bisa pasrah dan tidak mengatakan apapun. Setelah itu, mereka benar-benar hanya duduk di ruang makan sambil minum teh.
Siang hari itu begitu cerah. Setelah minum teh, Ru Lan mengajak pemuda itu untuk berkeliling.
“Aku hanya tinggal sendiri di sini jadi jangan cemas”
“Di mana orang tuamu?”
“Sudah tidak ada”
“……” pemuda itu terdiam lagi
“Kenapa? Jangan sedih seperti itu. Bukan salahmu mereka tidak ada lagi, kan?”
“Kenapa kau tidak sedih?”
“Hmm…mungkin karena sudah terlalu lama sendiri jadi aku sudah lupa rasanya. Tapi aku senang kamu datang” Ru Lan tersenyum
Sosok perempuan cantik itu masih merupakan misteri untuknya. Dari pakaiannya, dia seperti seorang putri. Namun dilihat dari modelnya yang seperti pakaian kebesaran agama, dia mungkin seorang pemuka agama atau semacamnya.
“Apa rumah ini bagian dari tempat ibadah juga? Saat kau bercerita tadi, kau bilang kau menemukanku saat sedang berdoa, kan?”
“Benar. Bagian luarnya adalah semacam tempat berdoa. Banyak sekali yang datang. Kita akan coba melihatnya ya”
“Kita? Sekarang?” pemuda itu terkejut mendengarnya
“Benar. Kenapa? Wajahmu tampan jadi tidak perlu khawatir. Perban-perban itu tidak akan menghapus ketampananmu, percayalah”
“Jangan bicara santai seperti itu! Kau bisa dianggap wanita tidak benar jika membawa seorang laki-laki asing ke hadapan banyak orang!” pemuda
Ru Lan langsung berhenti sejenak. Setelah itu dia berbalik dan melihat pemuda itu dengan tatapan sangat manis.
“Kamu…mencoba untuk mencuri hatiku ini ya?”
“…Hah?”
“Kamu itu sudah kehilangan ingatan, tapi jangan sampai kehilangan moral juga! Aku tidak suka laki-laki tampan yang mesum! Dasar penjahat!”
Siapa yang menyangka kalau perempuan cantik bernama Shirogane Ru Lan itu adalah orang yang suka sekali melakukan drama dengan orang yang baru saja bangun dari koma selama tiga hari.
******
Di waktu saat ini, Kino dan Ryou yang mendengarkan cerita itu hanya bisa memasang ekspresi datar tanpa bisa berkomentar.
Terlihat Kaito yang kembali meminum teh herbalnya lalu membuka obat tidur yang ada di meja.
Ryou mulai tersadar dan memanggilnya.
“Kaito…”
“Hmm?” Kaito melirik setelah selesai meminum obat tidurnya
“Orang yang jadi penolongmu itu sepertinya telah menularkan sifat anehnya padamu”
“Aku tau. Tapi berkat dia aku bisa memiliki mental untuk menghadapi orang yang sejenis dengannya”
“Maksudnya?”
“Kau ini sedang menyindirku ya?” Ryou merasa tersindir
“Aku tidak menyindirmu tapi aku senang kau merasa”
“Kaito-san, bagaimana dengan ceritanya lagi? Apakah masih bisa dilanjutkan?” tanya Kino yang masih penasaran.
“Mungkin masih bisa sedikit sambil menunggu obatnya bereaksi”
Kaito mulai bercerita kembali.
“Saat aku dan ‘orang itu’ berkeliling, aku cukup terkejut bahwa rumahnya itu begitu luas. Mungkin…hampir seperempat dari wilayah pasar gelap yang pernah aku dan Ryou datangi”
“Seluas itu?!” Ryou terkejut
“Aku hanya memperkirakannya meskipun mungkin saja lebih dari itu. Rumah terdiri dari sebuah tempat ibadah umum pada bagian depan dan rumahnya. Karena itu aku mengatakan bahwa penolongku itu sangat agamis sekali”
“Tapi kau tidak. Kau bisa mencuri di altar” sindir Ryou
Kaito mencoba mengabaikannya. Sepertinya dia sudah cukup kesal dengan komentar itu dan berpura-pura tidak mendengarnya.
“Di hari itu aku benar-benar mengikutinya seharian. Dia mengajakku berkeliling rumahnya yang luas dan aku juga yang membuat makan siang dan makan malamnya”
“Karena Ru Lan-san yang memintamu melakukannya?” Kino sedikit penasaran
“Tidak. Karena aku khawatir dengan indera pengecapnya”
“……”
“Garam dan gula saja sulit membedakannya. Dia memiliki masalah serius dengan jumlah takaran jadi aku tidak membiarkan ‘orang itu’ untuk menyentuh dapur dan wajan sama sekali. Kesan pertamaku mencicipi masakan buatannya saat itu sudah membuatku percaya bahwa aku harus berdoa pada Dewa”
“Kaito-san…itu…sedikit kejam” Kino tersenyum tipis mendengarnya
“Tapi, pada akhirnya dia bisa memasak dengan sedikit perjuangan dan rasa masakan itu mirip dengan masakan buatanmu yang enak. Karena itu, aku cukup menyukainya” Kaito tersenyum
Kino dan Ryou cukup senang mendengar sedikit cerita tentang Kaito. Meskipun hal itu belum seluruhnya, tapi setidaknya ada petunjuk penting yang didapatkan.
Pertama, mereka sudah mengetahui bahwa orang yang menyelamatkan Kaito adalah orang yang memiliki kekuatan magis atau sihir dan juga berasal dari negeri yang diduga Jepang di masa lalu. Kedua, mereka juga telah mengetahui bahwa kepingan ingatan Kaito memang berupa permata saat terpencar.
“Kaito-san, jika permatamu memang berbentuk sebuah bola permata utuh…lalu bagaimana kamu tau jika ingatan itu telah didapatkan sepenuhnya?”
Kino menanyakan hal yang sangat tepat. Hal itu memang panta ditanyakan.
“Mungkin kami belum mendengar semua tentang cerita Kaito-san, tapi dari penjelasan itu bisa disimpulkan bahwa permata itu memiliki jumlah yang tidak sedikit dan pasti terpencar dengan segala bentuk. Bagaimana caranya kamu bisa mengetahui bahwa ingatan itu telah didapatkan sepenuhnya?” Kino melanjutkan kalimat dan pertanyaannya
“Orang itu mengatakan bahwa semua bisa diketahui dari jam saku yang kumiliki”
“Jam saku yang dimiliki?” Ryou menjadi heran
“Aku pernah mengatakannya kalau jam saku ini memiliki magis atau mantra dari penolongku, kan?”
“Umm. Kau pernah bilang itu, Kaito. Lalu?”
“Jika seluruh ingatanku telah ditemukan maka aku akan kembali ke tempat dimana ‘orang itu’ berada. Itulah yang dia katakan sebelum aku pergi”
“Kau yakin hanya itu saja?” Ryou sedikit tidak percaya dengan itu
“Dia hanya mengatakan hal itu. Aku tidak mendengar yang lainnya lagi jadi mungkin saja itu benar”
Terlihat bahwa kemungkinan Kaito memang tidak mengetahui hal lain. Mungkin masih ada yang disembunyikan oleh Shirogane Ru Lan pada Kaito. Setidaknya, hanya itulah yang ada dalam pikiran kedua kakak beradik itu.
Namun tanpa bukti dan cerita yang belum selesai, mereka memutuskan untuk tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat.
“Aku akan menceritakannya sedikit demi sedikit. Aku harap dengan ini, kalian bisa sedikit tenang dan tidak begitu penasaran lagi” sambung Kaito
“Tidak, ini sudah cukup. Paling tidak, kami bisa menebak bahwa Shirogane Ru Lan-san kemungkinan berasal dari Jepang atau tempat yang menganut budaya negeri kami” ujar Kino
Mendengar itu, Kaito sedikit lega karena sudah dapat terbuka dengan mereka berdua. Sedikitnya, dia sudah menyadari bahwa kedua orang itu memang memiliki nilai tersendiri untuknya.
Dia mengingat satu hal yang pernah dikatakan oleh penyelamatnya dulu.
***
Di malam sebelum Kaito memutuskan untuk pergi mencari kepingan ingatannya, dia duduk sendiri di balkon sambil melihat bintang. Ru Lan menghampirinya sambil membawakan teh hangat.
“Belum tidur?” tanya Kaito pada perempuan itu
“Belum. Aku ini selalu tidur malam. Tidak lupa kan?”
“Kau benar. Kau ini kan lumayan liar”
“Tidak lucu” Ru Lan cemberut
“Aku juga tidak sedang bercanda” Kaito menjawab dengan wajah datar
Ru Lan melihat Kaito dengan wajah penuh kecemasan.
“Kaito…kamu akan pergi besok?”
“Lebih cepat, lebih baik kan? Aku ingin menemukannya. Aku ingin tau siapa aku sebenarnya dan kenapa kepingan ingatanku hilang. Bukankah itu lebih baik?”
Mendengar itu, ekspresi Rulan berubah menjadi sebuah senyuman manis. Dia menyadari Kaito sudah yakin pada tekadnya dan tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun.
“Pedang baru dan jubahnya sudah dibawa?”
“Sudah”
“Aku sudah memberikan sihirku pada kedua benda itu juga. Jadi mereka tidak akan terpisah darimu” Ru Lan tersenyum
Kaito sempat terdiam dan memandangi langit berbintang saat itu. Ru Lan tiba-tiba saja mengatakan hal yang mengejutkan.
“Kamu tau apa?”
“Hmm?”
“Aku yakin nanti kamu pasti akan bertemu banyak orang. Dan ketika saat itu tiba, kamu akan menemukan orang yang dapat kamu percaya”
“……”
“Orang yang akan menyelamatkanmu dan orang yang bisa membantumu. Ketika itu tiba, maka kamu akan enggan berpisah dengannya dan mengerti bahwa kamu tidak lagi sendirian. Lalu, kamu akan tau bahwa takdir akan selalu menuntunmu pada hal yang tepat”
“Apa menurutmu aku bisa bertemu orang seperti itu?”
“Tentu saja bisa”
***
Saat ini, Kaito yang sedang memegang cangkir tehnya mulai tersenyum.
‘Kau benar, Lan. Aku sudah menemukan orang seperti itu di dunia lain. Jika ini adalah takdir yang kau maksud…maka aku ingin agar takdir ini selalu menuntunku pada hal yang tepat’
******