Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 144. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 5



Di penginapan [Hébergement Clarks], tepatnya di dalam ruangan saat ini. Kino dan Ryou masih bercerita mengenai kelanjutan dari beberapa hal yang terjadi ketika berada di rumah sakit waktu itu.


“Aku sudah katakan kalau setan-setan kecil itu sumber masalah! Berani sekali mereka berdoa agar kau tidak sembuh!” ucap Ryou dengan nada tinggi


“Tapi sikap Ryou saat itu benar-benar terlalu kasar. Mereka sangat baik padaku, kamu tau itu, kan?”


“Hmph!” Ryou memalingkan wajahnya dengan cemberut


Kino hanya bisa menghela napas dan bergumam pelan.


“Aku pikir aku akan lebih lama berada di rumah sakit karena kalian terus bertengkar setiap kali jam besuk tiba. Ryou dan mereka tampak sangat…dekat–”


“Aku tidak dekat dengan setan-setan kecil seperti mereka! Kalau sampai kau masuk rumah sakit karena terkena gangguan mental, itu semua adalah salah mereka!”


“Ryou ingin aku terkena gangguan mental karena mendengarkanmu bertengkar seperti anak kecil?” Kino mulai terlihat begitu lelah


“Bukan itu maksudku. Haaah~sudahlah. Lupakan saja. Intinya kau sudah keluar dari rumah sakit itu dan semua berakhir baik. Sekarang kita hanya perlu ke bar itu untuk mengambil senjata dan…”


“Ryou?”


Ryou tidak melanjutkan kalimatnya dan mulai terlihat serius. Kino sempat bingung karena sang adik tiba-tiba terdiam. Tapi menyadari bahwa saat mereka merasa harus kembali ke bar dan pergi untuk mendapatkan permata milik Kaito, keduanya menjadi diam.


‘Aku tidak bisa berkata pada Kino kalau aku juga memikirkan apa yang pernah dia katakan. Namun meski begitu, tujuan kami adalah pulang ke Jepang. Berpisah dengan Kaito bukanlah pilihan, akan tetapi jika memang itu diperlukan maka…’ Ryou sempat berpikir demikian dalam hatinya


‘Apakah kami benar-benar akan berpisah kali ini? Aku…aku masih berharap bahwa takdir masih menuntun kami meskipun aku dan Ryou juga ingin sekali kembali ke Jepang’ pikir Kino dalam hati


Pikiran dan keinginan mereka sangat bertolak belakang dengan kenyataan, mereka menginginkan satu hal yang menjadi tujuan namun juga tidak rela kehilangan hal lainnya.


Di saat seperti itu, Kaito keluar dengan membawa pakaian lamanya dan berganti dengan pakaian barunya.


“Ini cukup menyegarkan. Sebaiknya kalian mandi juga karena kita harus mengambil senjata kita di bar itu”


Kaito memasukkan pakaian lamanya ke dalam salah satu kantong belanjaan di meja. Ryou berdiri dan mengambil pakaian yang hendak dipakainya.


“Kalau begitu aku mandi duluan. Setelah kau mandi nanti, kita ganti perbanmu. Mengerti kan, Kino?”


“Aku mengerti”


Ryou pergi mandi dan meninggalkan sang kakak bersama Kaito yang menarik kursi untuk duduk di dekat Kino.


“Bagaimana perasaanmu, Kino?”


“Aku sudah lebih baik, Kaito-san. Aku tidak yakin obat yang dibeli olehmu berpengaruh banyak atau tidak. Tetapi, kenyataan bahwa lukanya sudah cukup banyak yang kering itu benar. Terima kasih banyak”


“Aku tidak menyangka perbedaannya bisa sampai sejauh itu. Padahal saat di ‘dunia malam’, obat itu bisa menyembuhkan banyak sekali luka sampai tidak berbekas”


“Itu hal yang wajar, Kaito-san. ‘Dunia’ ini menganut cara hidup seperti dunia umum yang normal tanpa makhluk mitos dan lainnya. Sudah sewajarnya jika obat dan racun bekerja normal di sini. Jika efeknya sangat cepat, justru harus dicurigai” jelas Kino sambil tersenyum


“Aku masih berharap sama seperti yang diharapkan Ryou” gumam Kaito pelan


“……” Kino hanya terdiam


Dia ingat hari di saat kenyataan berbeda harus diterimanya.


******


Ryou yang dipeluk oleh Kino saat itu menangis dengan suara pelan. Kaito hanya berpura-pura tidak mendengar hal itu dengan memejamkan matanya dan bersandar di kursi. Di saat itu, Kino melepaskan pelukannya dan menghibur sang adik.


“Aku tidak apa-apa. Bahkan jika luka ini meninggalkan bekas sekalipun, itu semua tidak masalah. Ryou sangat baik karena mau memikirkan semuanya demi kakakmu yang lemah ini. Terima kasih banyak”


“……” Ryou hanya terdiam saat itu


Kaito mencoba untuk membuka matanya kembali tanpa merubah posisinya saat itu. Dia masih mendengarkan hal yang dikatakan oleh kedua kakak beradik itu.


“Obatnya pasti akan menunjukkan efek. Jangan cemas” Kino mencoba menghibur sang adik


“Tapi tidak sesuai harapanku”


“Tidak masalah. Ini sudah lebih bagus. Aku benar-benar sudah merasa baikan”


“Kau bohong” seketika Ryou membantahnya


“Aku tidak berbohong”


“Benarkah?” Ryou masih tidak percaya pada ucapan sang kakak


“Benar. Aku tidak berbohong” Kino menghibur sang adik


Ryou hanya bisa menghapus air matanya dan mengambil botol-botol kosong itu untuk dibuang. Kino melihat ke arah kursi dan menyadari Kaito melihat semua itu. Dia mulai tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Wajah kecewa Kaito tampak jelas terlihat oleh Kino saat itu.


******


Kembali lagi pada kenyataan sekarang ini…


Semua itu masih sangat jelas di ingatan Kino.


“Maaf karena membuatmu merasa sia-sia setelah melakukan hal berat, Kaito-san”


“Tidak, aku juga merasa kecewa karena hasilnya tapi semua itu bukan salahmu. Ini adalah sebuah petunjuk penting. Akhirnya aku bisa percaya sepenuhnya bahwa semua tidak sama seperti sebelumnya”


Kino terdiam dan memberanikan diri untuk bertanya hal yang penting.


“Apakah Kaito-san sudah memikirkan apa yang pernah kita bahas bersama?”


“Kau bertanya mengenai pengakuan pada mereka semua demi mendapatkan permata itu?”


Kino mengangguk. Kaito terdiam sesaat tanpa mengatakan apapun. Tampaknya dia masih belum yakin dengan semua itu.


“Apakah masih ada keraguan lain?” tanya Kino


“Aku…aku hanya berpikir…mungkin kita bisa melakukannya dengan cara lain”


“Aku ingin berkata jujur padamu, Kaito-san…”


“Baik kami berdua maupun Kaito-san telah menghabiskan banyak waktu di tempat ini. Apakah, Kaito-san tidak lelah?”


Pertanyaan yang sangat jelas jawabannya. Tentu saja Kaito lelah. Tapi, dalam pikirannya sekarang, ada hal yang mengalahkan segalanya.


‘Aku tidak ingin merasakan perpisahan dengan kalian seperti saat berada di ‘dunia siang’ waktu itu’


Itulah yang terlintas dalam benak Kaito sekarang. Dia tidak masalah jika memang harus jujur pada semua anak-anak itu. Tapi, dia masih tidak ingin momen perpisahan itu datang lagi dengan cepat.


Tanpa diketahui oleh pihak masing-masing, tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan perpisahan seperti sebelumnya.


Keadaan itu masih terus berlanjut sampai Ryou keluar dengan gumaman khasnya yang berisik.


“Uwaah~memang mandi itu yang terbaik”


“Ryou?!” Kino dan Kaito kaget


“Hmm? Kalian kenapa?”


“Tidak. Kami…kami hanya kaget” Kino mencoba mencari alasan


“Lihat pakaian ini! Modelnya tidak berbeda dengan yang pernah dibeli oleh Kaito. Seleramu bagus juga” Ryou memuji Kaito


Kaito hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya. Bukan karena dia tidak senang, namun dia selalu mengetahui pola tersebut. Setelah pujian dari Ryou, biasanya kalimat caci maki yang pedas akan datang menyusul.


Ryou meletakkan pakaian kotornya yang penuh dengan noda darah itu ke dalam kantong belanjaan lain dan mengambil pakaian untuk sang kakak.


“Kino, giliranmu. Perlu kubantu atau tidak?”


“Tidak perlu. Aku bisa mandi sendiri”


“Kau yakin bisa melepas pakaianmu? Aku bisa saja membantumu melepaskannya” Ryou terlihat tidak yakin


Ini bukan saatnya malu sejak mereka adalah kakak adik dan sama-sama laki-laki. Tapi, kadang kepekaan itu diperlukan.


“Ryou, aku mohon jangan membuatku malu dan terlihat memalukan” Kino memerah karena malu


“Kau saja yang terlalu sensitif seperti perempuan”


“Kau tidak memiliki sopan santun rupanya. Aku ragu ada perempuan yang akan jatuh cinta padamu nanti” Kaito mulai mengejek Ryou


“Aku tidak butuh kalimat pujianmu!” Ryou memilih membalas sekedarnya


Dia mengabaikan Kaito dan membantu kakaknya berdiri sambil membawakan pakaiannya. Ryou masih terlihat cemas meninggalkan sang kakak yang masuk ke kamar mandi sendiri.


“Kino, kau yakin? Kau benar-benar bisa mandi sendiri?”


“Ini hanya luka di tangan kiri, Ryou. Aku bukan pasien yang sedang menjalani penyembuhan karena patah tulang”


“Tapi luka di perutmu? Memangnya kau tidak merasa sakit?”


“Ryou, aku mau mandi. Aku bisa sendiri. Aku mohon jangan membuat Kaito-san berpikir hal yang macam-macam pada kita” Kino menjadi sedikit malu


“Kalau dia berpikiran macam-macam, artinya dia yang tidak normal! Kau dan aku itu normal dan–”


-BRAAAK


“……!!” Ryou kaget


Kino tidak mau mendengarkan adiknya yang terus mengatakan hal memalukan dan tidak penting sehingga langsung membanting pintunya. Ryou hanya bisa terpaku selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali dengan perasaan aneh. Dia duduk di tempat tidur sambil bergumam.


“Kenapa Kino seperti itu?”


“Aku mendengar dia mengusirmu secara paksa dengan membanting pintu kamar mandi. Itu membuktikan kalau dia sendiri saja sudah lelah dengan kelakuan adiknya yan menjengkelkan” celetuk Kaito


“Diam kau! Aku tidak butuh pendapatmu!”


Kaito tidak mau membalas komentarnya demi kesehatan mentalnya yang rapuh.


Sambil menunggu sang kakak mandi, Ryou merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Kaito, sudah  memikirkan cara untuk mendapatkan permata ingatanmu dari bocah nakal itu?”


“Kino baru saja bertanya hal yang sama dan aku merasa bahwa aku juga harus memberikanmu jawaban yang sama”


“Jawaban aneh yang diputar-putar seperti sebelumnya? Kau mau aku caci maki lagi?” tanya Ryou dengan nada serius


“Aku sudah setuju dengan ide Kino sebelumnya. Berkata jujur pada anak-anak itu adalah langkah terbaik. Tapi, perasaan yang kurasakan bukanlah tentang itu. Ada hal lain yang menjadi pikiranku sekarang”


“Mengenai?”


“Aku merasa bahwa aku masih tidak ingin–”


Tiba-tiba terdengar suara dari arah kamar mandi.


“Ryou…bisa tolong ambilkan aku kantong belanjaan untuk meletakkan pakaian kotornya?”


Itu adalah suara Kino yang berteriak. Segera, Ryou langsung meninggalkan Kaito sendirian dan membawakan barang yang diminta sang kakak. Selang beberapa menit, ketiganya sudah menjadi lebih segar dan tidak lagi terlihat seperti seorang kriminal yang kabur dari penjara.


Untuk sepuluh menit selanjutnya, diisi dengan Ryou yang membantu sang kakak mengganti perbannya yang basah dan mengoleskan obat ke lukanya.


Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu telah menunjukkan pukul 12.00 di siang hari.


“Ini sudah siang hari. Apakah kita bisa pergi ke bar sekarang juga?” tanya Kaito sambil memasukkan jam sakunya ke dalam saku celananya


“Kurasa bisa. Tapi, aku ingin dengar keputusan semuanya. Aku ingin kita datang dan tidak melakukan hal yang setengah-setengah. Kita harus menyamakan pemikiran dan persepsi semuanya untuk menghindari masalah” tegas Kino


Sempat terdiam, Kaito memberikan jawabannya.


“Kau benar, Kino. Terlalu banyak waktu yang terbuang untukku. Aku akan mengatakan pada anak-anak itu tentang kondisi kita sesungguhnya dan meminta Theo memberikan permata itu. Sejak itu adalah milikku, aku ingin benda itu kembali”


******