Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 139. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 1



Theo terkejut melihat Kaito yang menangis. Matanya melebar dan membuatnya tidak bisa mengabaikan kakak di hadapannya.


“Kaito-nii…kenapa…kau menangis?”


“Eh?” Kaito terkejut dengan pertanyaan anak ditolongnya


Dia langsung membantunya berdiri. Ryou dan Riz yang ada di dekatnya langsung panik.


“Kaito, apa kau baik-baik saja?” tanya Ryou dengan wajah cemas


“Theo, apa ada yang terluka?” Riz memegang tangan anak itu


“Aku tidak apa-apa Riz-nii” Theo tersenyum canggung tanpa berhenti menengok ke arah Kaito


Kino dan anak-anak lain yang melihatnya cukup terkejut dengan kejadian itu. Akan tetapi sebenarnya, mereka lebih terkejut lagi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Theo barusan.


“Kaito-niichan, apa kau terluka? Apa Theo-niichan tidak sengaja melukaimu?” tanya Michaela yang menghampiri Kaito


“Aku…baik-baik saja. Maafkan aku karena sudah mengejutkan kalian” Kaito berusaha menghapus air matanya


Kaito sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa menangis. Tapi yang menjadi perhatiannya saat ini adalah bandul kalung milik Theo. Dia tidak akan pernah menangis karena hal sepele. Itu pasti sesuatu yang membuatnya begitu tersentuh.


‘Itu…milikku’


Hati kecilnya seperti berteriak. Seperti saat dia menemukan permata di dalam kolam air mancur di ‘dunia malam’, hatinya berteriak seperti telah menemukan sesuatu yang sangat dia rindukan. Permata itu adalah kepingan ingatan yang dia cari. Dia menemukannya di tempat yang tidak terduga seperti ini.


“Kaito, kau baik-baik saja?” Ryou berbisik pada Kaito


“Aku…aku tidak apa-apa”


Mata Kaito seperti melihat sesuatu meskipun dia menjawab Ryou dengan jelas. Ryou tidak mudah mengabaikan hal itu. Dia melihat sekitar Kaito dan Theo dan ada sesuatu yang tidak biasa.


‘Jangan bilang kalau itu…’ pikir Ryou dalam hati dengan ekspresi wajah terkejut


Ryou terus memperhatikan Theo yang mulai mengambil bingkisan kue di meja dan memberikannya pada Kino. Kino masih terlihat khawatir karena kejadian tadi.


“Kaito-san, Theo…kalian berdua tidak apa-apa?”


“Aku baik-baik saja, Kino-nii. Tapi…Kaito-nii, kau yakin kau baik-baik saja? Kau membuatku kaget”


“……” Kaito hanya terdiam melihat bandul kalung Theo


Theo tidak mengerti apa yang dilihatnya. Tapi ketika dia mulai menyadari bahwa bandul kalung itu menarik perhatian Kaito, dengan cepat dia memasukkannya kembali ke dalam kerah pakaiannya.


“Kau tidak tertarik pada benda mainan begini, kan?” ucap Theo setelah memasukkan bandul kalungnya


Ryou dan Kaito kaget karena anak itu langsung memasukkan bandul itu kembali. Kaito mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


“Tidak. Kalung itu bagus. Aku menangis karena mirip dengan sesuatu yang hilang dariku”


“O–oh…kalungku ini hanyalah sesuatu yang kupunya sejak kecil. Tidak ada yang istimewa dengan ini semua. Permatanya saja hanya kaca biasa” jelas Theo


“Begitu” Kaito hanya bisa mempercayai itu sementara


Kino menjadi sedikit penasaran dengan bandul kalung yang dimaksud. Sejak dia tidak begitu memperhatikannya karena terlalu panik dengan hal lain. Tapi, melihat reaksi Kaito yang seperti itu dia tidak mungkin menyangkalnya.


‘Mungkinkah Theo-kun memiliki kepingan ingatan Kaito-san sekarang?’ pikirknya


Semua keadaan berangsur normal. Kino mencoba menunjukkan senyumannya kembali. Bagaikan kejadian itu tidak memiliki pengaruh apapun, dia membuka bingkisan kuenya. Anak-anak itu tampak senang sekali menerima ucapan terima kasih darinya. Dia bahkan memeluk dan mengelus rambut mereka sebagai hadiahnya.


“Kita makan ini bersama ya? Aku tidak mungkin menghabiskan semua ini sendirian” katanya


“Kalau begitu potong yang ini dulu. Pisau kue dan piring dari Maggy-obachan ada di sini” Theo mengeluarkan benda lain dari bingkisan kue tersebut


“Biar aku yang bantu potong. Jangan membuat tempat tidur pasien jadi seperti meja makan ya”


Dengan cepat, Riz mengambil kue tersebut dan memotongnya menjadi bagian kecil yang bisa dinikmati banyak orang. Setelah itu, Stelani dan Fabil sibuk membagikan kue. Tentu saja potongan paling besar diberikan untuk Kino kesayangan semuanya.


Sementara semuanya merasakan kehangatan, Ryou dan Kaito keluar sebentar dengan alasan ingin membeli jus.


“Jangan kembali cepat-cepat ya! Kami akan memakan kue bagian Ryou-nii dan Kaito-nii!” teriak Theo dengan nada meledek


“Awas saja kau, bocah nakal! Akan aku kurung kau setelah aku kembali nanti!” Ryou masih meladeninya


Setelah menutup pintu ruangan, Ryou langsung bersandar di dinding dan bertanya dengan nada serius.


“Itu adalah permatanya kan?”


“Awalnya kupikir hanya perasaanku tapi–”


“Bukan perasaan. Itu adalah permatanya! Ternyata teori yang baru saja kita bahas benar. Kino tidak salah soal itu. Jam saku kami memang menuntun kita semua untuk terhubung dengan anak-anak itu. Dan alasan dibalik semua itu adalah permatamu. Tepat seperti yang kita bahas” ucap Ryou dengan nada serius


“Tapi aku tidak bisa langsung mengatakan bahwa itu adalah permata milikku. Anak itu bisa curiga nanti. Selain itu…”


Mereka berdua terdiam. Mereka tentu tidak lupa bahwa bersamaan dengan disentuhnya permata itu oleh Kaito nantinya, maka mereka akan langsung keluar dari ‘dunia’ aneh itu. Dan itu artinya perpisahan.


Bukan hanya perpisahan dengan semua orang yang mereka kenal tapi perpisahan Kaito dengan Yuki bersaudara.


“Kita pikirkan cara lain. Aku yakin kakakmu di dalam juga akan segera menyadarinya. Kino lebih peka dari apapun mengenai hal ini jadi aku akan membicarakannya lagi begitu semuanya selesai nanti” Kaito berjalan meninggalkan Ryou menuju tangga


Ryou yang berada di belakangnya hanya bisa terdiam.


‘Aku tidak menyangka akan secepat ini. Kenapa semua selalu terjadi di luar kendali kami bertiga?’ pikir Ryou dengan nada lirih


**


Di dalam ruangan, Kino sibuk dengan anak-anak yang mulai mencoba untuk ‘memberinya makan’.


“Karena tangan Kino-niisan sedang terluka, jadi aku yang akan menyuapimu. Buka mulutmu, Kino-niisan. Katakan ‘aaa’ yang lebar”


“S–Stelani-chan, aku yakin aku bisa memakannya sendiri” ucap Kino sambil tersenyum malu


“Tapi kau tidak bisa memegang piringnya. Biar aku saja yang menyuapimu” dan gadis kecil itu masih bersikeras dengan garpu dan piring kue di tangannya


“Aku juga mau menyuapi Kino-niichan” Michaela jadi ikut memegang piring dengan kue di atasnya


“Aku benar-benar bisa memakannya sendiri” Kino masih mencoba membela dirinya


Pemandangan itu belum berakhir selama beberapa menit dengan Riz yang menonton semua itu dari kursi sambil memakan kue di tangannya.


‘Dia benar-benar popular di kalangan anak-anak. Apa benar dia kakak dari Ryou yang bermulut pedas itu?’ gumam Riz


Dan sepertinya, Riz sedikit mempraktekkan apa yang pernah dilakukan oleh Arkan dengan sedikit improvisasi.


“Kino…” Riz memanggilnya


“Ah! Maafkan aku sudah mengabaikanmu seperti ini, Riz-san”


“Tidak tidak, jangan pikirkan itu. Aku ingin bertanya hal yang penting”


“Apa kau benar-benar kakak Ryou? Apa kalian benar-benar lahir dari wanita yang sama? Apa tidak ada kejadian seperti bayi tertukar atau semacamnya saat kalian lahir dulu?”


“…Eh?” Kino terdiam


Mendengar itu, semua anak-anak jadi ikut terdiam. Mereka saling memandang satu sama lain dengan Theo yang mencoba menahan tawanya.


Kino memerah karena malu mendengar pertanyaan Riz itu.


“R–R–R–Riz-san, apa yang sedang kamu bicarakan itu? Te–tentu saja Ryou adalah adikku! Ryou sangat manis bahkan dari sejak kecil”


“……” semua mendadak terdiam


Semua orang di dalam ruangan termasuk Theo menjadi bisu sementara Riz nyaris memuntahkan kembali kuenya.


“Manis? Dia kau bilang manis?” gumam Riz seakan tidak percaya


“Siapa yang manis? Ryou-niichan?” Fabil melihat Stelani


“Ryou-niichan galak nee, Kino-niichan” kata seorang anak kecil


“Tidak manis sama sekali! Dia memanggil kami setan-setan kecil padahal dirinya sendiri juga galak seperti setan!” Theo mulai protes


“Kalian semua…jangan bicara begitu tentang Ryou. Kasihan Ryou”


“Aku justru kasihan padamu, Kino” balas Riz dengan wajah penuh simpati


Mendengar perkataan Riz, semua anak-anak jadi tertawa karena senang. Kino juga jadi ikut tersenyum.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud tidak sopan sama sekali, sungguh” kata Riz yang berdiri dan menghampiri tempat tidur Kino


“Aku mengerti. Aku tau itu hanya candaan” jawab Kino sambil tersenyum


“Sebenarnya, soal pertanyaanku itu sungguhan”


“Eh?”


“……”


“……”


Seketika semua hening sesaat. Bahkan senyum kaku Kino masih terlihat di wajahnya.


“Ehem. Lupakan saja soal itu. Aku ingin membicarakan hal yang cukup penting denganmu” Riz langsung mengalihkan pembicaraan.


“Be–begitu”


“Tapi, Riz-niisan…Kino-niisan harus menghabiskan kuenya dulu. Ayo, buka mulutnya Kino-niisan” sekali lagi Stelani bersikeras untuk menyuapi Kino


Dan drama kecil di ruangan itu dimulai lagi dari awal.


**


Di bawah, Ryou dan Kaito keluar rumah sakit dan melihat Joel yang duduk di kursi di bawah pohon. Mereka menghampirinya.


“Sudah selesai merokoknya?” tanya Ryou


“Sudah. Aku hanya sedang mencoba memejamkan mata sebentar. Kenapa kalian ke bawah?”


“Kami ingin membeli jus untuk anak-anak itu. Sebaiknya kau ke atas dan temani mereka semua agar tidak mengganggu ketenangan kakakku. Mereka bahkan membangunkan dia yang baru saja tidur” gerutu Ryou


“Benarkah? Ahahaha, kakakmu jauh lebih populer ya” Joel tertawa dengan senang


“Diam kau, dasar om-om!”


Kaito mengeluarkan sebuah kantong kecil yang pernah diberikan oleh Joel tempo hari. Dia memberikannya pada Joel.


“Aku ingin mengembalikan sisanya. Terima kasih banyak untuk bantuanmu, tuan manager”


“Oi oi! Aku sudah memberikannya padamu kan? Untuk apa mengembalikannya lagi?”


“Tuan bartender juga mengatakan kalau aku mungkin harus menerimanya tapi aku tidak yakin. Jadi aku menyimpannya”


“Aku tidak akan menerimanya. Itu untuk kalian. Bagaimanapun juga, kalian telah menyelamatkan anak-anak itu. Ambilah” Joel menolak kantong kecil berisi uang itu


Karena sudah ditolak, Kaito terpaksa menyimpannya kembali sambil menundukkan kepalanya seraya berterima kasih. Ryou juga melakukan hal yang sama. Ketika dirinya bermaksud mengambil pedang yang ada di tangan Joel, pria itu mengatakan sesuatu.


“Pengelola pasar gelap tadi datang ke bar untuk mencari kalian lagi”


-Deg


Ryou dan Kaito langsung terlihat tegang. Wajah mereka langsung berubah dan sorot mata tajam ditunjukkan oleh keduanya.


“Apa maksudnya itu, paman?” Ryou bertanya dengan nada sinis


Joel menceritakan semua yang terjadi di bar. Dia juga menceritakan soal Jack yang memberikan uang demi mengetahui tempat keberadaan Kino dan yang lainnya.


“Iblis-iblis itu!!” Ryou terlihat emosi


“Aku berterima kasih karena kalian tidak memberitau keberadaan kami di sini” ucap Kaito


“Meskipun tidak diberitau sekalipun, tampaknya Jack sudah mengetahui dimana kalian berada. Dia mungkin hanya mengujiku dan Riz saat itu. Untung saja Arkan datang di saat yang tepat. Tapi aku yakin sekali, anak-anak itu sangat terkejut dan masih syok”


“Mereka tidak membahasnya di atas” Kaito mulai bicara dengan nada tenang


“Mereka mungkin tidak ingin membuat Kino khawatir” Joel memberikan senjata yang dipegangnya pada Ryou


Ryou yang memberikan pedang pada Kaito berkata dengan nada kesal.


“Jika mereka muncul lagi, akan kuberi pelajaran mereka. Aku belum sempat melakukan sesuatu pada wanita itu dan dia sudah menendangku!”


“Kau harus ingat perbedaan kekuatan kita dengan mereka. Mereka jauh lebih berbahaya. Benar begitu kan, tuan manager?”


“Kau benar, Kaito. Mereka berbahaya. Tapi tenang saja! Aku juga akan berusaha untuk tidak membuat kalian semua dan anak-anak itu dalam bahaya” Joel membalas dengan rasa percaya diri


Setelah itu, Ryou dan Kaito pergi untuk membeli jus seperti niat awalnya. Sedangkan Joel berkata akan menunggu mereka di tempatnya semula sampai mereka kembali.


Joel yang melihat keduanya pergi tiba-tiba teringat kalimat Riz.


[Kenapa kalian ingin mencari Kino dan Kaito kembali? Apakah ada hal lain yang masih ingin dibahas? Apakah karena keanehan itu?]


Joel kembali duduk di kursi di bawah pohon itu sambil terus berpikir.


“Apa yang masih tersembunyi di balik semua ini sampai-sampai pengelola pasar gelap mencari mereka? Aku merasa mereka memang bukan orang biasa. Kata-kata Riz membuatku sangat penasaran”


‘Di dunia ini, terlalu banyak misteri yang masih belum terpecahkan’


******