
Hoshigaoka, di siang hari.
Terdapat banyak sekali murid-murid yang melakukan aktivitas mulai dari makan siang, bermain bola sampai bermain musik di dalam ruang musik.
Seorang remaja laki-laki sedang berjalan cepat di dalam koridor sekolah dan sampai di sebuah ruangan. Dia berdiri di depan pintu ruangan bertuliskan ‘ruang konseling’.
-Tok…Tok…
“Permisi Sakizawa-sensei, Yuki di sini” ucapnya dari balik pintu
Di dalam, telah duduk seorang remaja lain dan seorang pria pendek dengan tubuh gemuk dan berkacamata yang menjawab remaja di luar pintu.
“Masuklah, Yuki-kun”
Remaja itu membuka pintu.
“Selamat siang, Sakizawa-sensei”
“Oho, duduklah Yuki-kun” sambutnya dengan senyum ramah
“Pe–permisi” remaja itu masuk dan menutup pintunya
Terlihat wajahnya cukup panik ketika melihat remaja lain yang duduk di ruangan tersebut. Setelah dirinya duduk di samping remaja yang seorang lagi, dia menghela napas sebentar lalu berbisik.
“Aku mohon, semoga tidak sama seperti tiga hari yang lalu”
“Sayangnya ini sama seperti tiga hari yang lalu” jawab remaja lainnya dengan santai
“Bisa ganti masalahnya dengan hal baik saja tidak? Aku tidak tau harus berkata apa lagi” respon lirih dari remaja itu sambil memegang kepalanya dengan satu tangan
“Inginnya ganti masalah yang satu ini dengan masalah lainnya saja, tapi apa boleh buat. Sudah terjadi. Tolong bantu aku ya”
“Kenapa wajahmu santai sekali?”
“Karena dia akan segera kalah dengan pembelaanmu jadi aku tidak perlu mengeluarkan kemampuanku” jawab remaja lain itu dengan senyum licik
“……”
Setelah selesai berbisik, remaja itu dengan tenang bicara pada pria gemuk yang dipanggil Sakizawa-sensei.
“Sa–Sakizawa-sensei, ada masalah apa kali ini?”
“Seperti yang kau tau, Yu…tunggu, karena nama kalian sama-sama Yuki jadi aku akan memanggil nama depan kalian saja ya”
“Tidak masalah, Sensei. Jadi…ini…”
“Seperti yang kau tau Kino-kun, adikmu yang ‘terlalu energik’ ini sepertinya memiliki hobi yang sangat tidak biasa”
“Um…”
“Hobi aneh yang kusebut memecahkan kaca jendela sekolah. Ini sudah yang ketiga kalinya!!” ucap Sakizawa-sensei dengan nada tinggi
“Sensei, aku minta maaf atas kesalahan Ryou. Sebagai kakaknya, aku juga merasa sangat bersalah pada pihak sekolah ini. Akan tetapi, bisa saja ini sama seperti tiga hari lalu”
“Apa maksudmu? Apa kau membela kesalahan adikmu lagi?” tanya pria gemuk itu dengan nada tidak suka
“Begini, apakah Sakizawa-sensei sudah bertanya kejadian lengkapnya lagi pada Ryou?”
“Kenapa aku harus bertanya pada orang yang sudah jelas-jelas melakukannya!!”
Kino mulai terlihat serius dan menjawab pria gemuk itu.
“Tiga hari lalu, dia memang bersalah karena memecahkan kaca jendela sekolah. Tetapi itu dilakukan secara tidak sengaja dan demi melindungi siswi kelas lain yang hampir terkena tendangan bola sepak dari tim sepak bola”
“……” pria itu terdiam dengan wajah kesal
“Sensei, Ryou kebetulan ada di dekat lokasi kejadian menyadari hal tersebut lalu menendang bola sepak itu ke sisi lain yang ternyata justru mengenai kaca jendela sekolah hingga pecah”
“Tapi itu tidak merubah kenyataan bahwa dia tetap memecahkan kaca jendelanya!” tegas Sakizawa-sensei
“Meskipun begitu, kalau Ryou tidak melakukannya maka siswi tersebut akan terluka? Selain itu, bukankah siswi tersebut tiga hari lalu juga sudah datang ke ruangan ini untuk memberi kesaksian padamu, Sakizawa-sensei? Sensei tidak lupa kalau aku juga ada di sana, kan?” jelas Kino membela sang adik
“Eii!! Ini bukan masalah sengaja atau tidak disengaja tapi tentang sikapnya yang–”
“Sikap seperti apa yang salah dari adikku yang menolong orang tiga hari lalu? Apa jika siswi tersebut terluka, sensei akan memanggil orang yang menendang bolanya?”
“Tentu saja!” jawab Sakizawa-sensei dengan yakin
“Sensei yakin mereka akan mengakui kesalahan mereka secara langsung?”
“Apa maksudmu, Kino-kun?”
“Ryou tidak kabur setelah memecahkan kaca jendela sekolah karena adikku jujur. Dia bahkan ikut dengan sensei sampai harus masuk ruang konseling. Sensei juga bahkan memanggilku yang merupakan kakaknya”
“Itu karena kau adalah kakaknya dan kau seharusnya–”
“Ryou bukan anak kecil yang harus selalu diatur. Dia sudah bersikap dewasa dengan mengakui kesalahannya. Kalau orang lain, aku yakin mereka akan saling menyalahkan. Tidak ada anak di sekolah ini yang ingin masuk ke ruang konseling dan dihakimi oleh Sakizawa-sensei. Percayalah padaku”
Kino seakan begitu percaya dengan semua kalimatnya sampai tidak segan mengatakan hal yang sangat menakjubkan. Ryou yang di sampingnya merasa sangat kagum dengan pembelaan sang kakak padanya. Bahkan dia seperti menikmatinya seakan sedang menonton film bioskop.
Kino melanjutkan kembali kalimatnya.
“Satu lagi, Sakizawa-sensei. Aku tidak pernah dengar ada anggota tim ekskul sekolah atau murid lain yang sampai dipanggil ke ruang konseling karena melakukan kesalahan. Selama dua tahun aku sekolah di sini, yang menjadi perbincangan hangat hanya Ryou dan aku”
“Aku tidak bermaksud mengetahui semua hal, sensei. Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Selama aku sekolah di sini, tidak mungkin ada murid yang mengabaikan sebuah kejadian di sekolah, sekecil apapun itu. Apalagi hal itu tengah menimpah murid lainnya”
“Kau bisa bicara begitu, tapi apa kau punya buktinya?”
“Sensei tau yang namanya grup chat dan Line? Aku yakin guru di sini pasti juga memiliki grup seperti itu, walaupun fungsinya mungkin hanya untuk memberi kabar atau materi akademik. Para murid di sekolah ini memiliki hal semacam itu, sensei. Bahkan aku yang jarang sekali ikut berpartisipasi di dalamnya saja tau bahwa baru-baru ini ketua osis kita telah putus dari wakil ketua tim basket kemarin”
Ryou yang mendengar kesaksian polos sang kakak nyaris tidak bisa menahan tawa.
“Kau yang sedang disidang di sini. Kenapa kau terlihat senang begitu, Ryou-kun!!” pria gemuk itu membentak Ryou yang terlihat seperti akan tertawa
“Oh, bukan. Maaf maaf, aku hanya sedang…menyesali perbuatanku. Silahkan dilanjutkan kembali, Sakizawa-sensei. Aku akan mencoba menahan air mata kesedihan dan penyesalanku. Silahkan balas argument Kino”
Ryou benar-benar seperti sedang meledek dan menantang sang guru dengan ucapan santai tersebut. Tampaknya bukan hanya urat takutnya yang sudah putus, tapi urat malunya juga telah lepas dari sirkuitnya.
Pria gemuk itu kembali melihat Kino dan bertanya kembali padanya.
“Kenapa kau malah mengatakan hal tidak masuk akal begitu?”
“Aku hanya bicara kenyataan. Itulah kenapa aku bisa mengatakan kalau aku tidak pernah dengar ada siswa lain yang dipanggil ke ruang konseling. Sensei mungkin tidak tau, tapi kabar bahwa Ryou dipanggil tiga hari lalu ke tempat ini sudah diketahui semua orang”
“Siswi yang merupakan korban kemarin juga pasti mengadukannya sehingga menyebar ke seluruh sekolah!” pria gemuk itu kembali berargumen
“Karena Sakizawa-sensei mengatakannya, berarti ucapanku benar, kan? Tidak terdengarnya kabar mengenai murid lain masuk ke ruang konseling ini, karena sejak awal tidak ada murid lain yang masuk ke ruangan ini selain aku dan Ryou”
Pria gemuk berkacamata itu merasa sudah kesal dengan argumen Kino yang membantahnya berkali-kali.
“Sensei, aku tidak mengatakan bahwa Ryou tidak bersalah. Akan tetapi, aku hanya menyampaikan kebenaran bahwa kejadian tiga hari lalu bukan sepenuhnya kesalahan adikku. Seharusnya Sakizawa-sensei tidak menyalahkan semua pada Ryou. Hal itu juga berlaku pada kejadian hari ini” Kino dengan tegas kembali mengatakan pembelaannya kepada pria gemuk itu
Pria gemuk itu mulai terlihat begitu kesal karena semua kalimatnya dijawab oleh Kino, sedangkan Ryou yang sedang dihakimi hanya tersenyum meledek ke arah guru konseling itu.
“Sekarang, izinkan aku bertanya pada adikku, Ryou” Kino meminta izin untuk bertanya pada sang adik di sampingnya
“Hmph!” pria gemuk itu dengan kesal memberi respon singkat sebagai tanda setuju
“Jadi, um…apa yang terjadi sebenarnya, Ryou?”
“Tidak ada yang istimewa. Kejadiannya persis seperti kemarin. Salah seorang tim sepak bola lagi-lagi nyaris mengenai murid lain. Kali ini hampir mengenai siswa kelas satu. Sebagai kakak kelas yang baik dan dekat dengan lokasi kejadian, sudah seharusnya aku menolongnya”
“Hah! Kau hanya mengada-ada saja kali ini, kan?” pria gemuk itu seakan tidak percaya
“Apa itu benar?” tanya Kino
“Tentu saja be–“
-Tok…tok…
“Permisi, Sakizawa-sensei”
Dari luar pintu, terdengar suara wanita yang mengetuk pintu.
“Ya, masuklah” kata Sakizawa-sensei
Saat dibuka, terlihat ada dua tiga orang yang datang. Pertama seorang wanita dengan pakaian seperti guru di sekolah tersebut, lalu ada seorang anak perempuan dan seorang remaja laki-laki yang mengenakan pakaian dengan nomor punggung di dadanya. Kemungkinan itu adalah tim ekskul sepak bola.
“Permisi Sakizawa-sensei, ada dua orang murid yang ingin bertemu denganmu. Ayo kalian masuk”
Kedua orang tersebut masuk dan terlihat takut. Guru wanita itu ikut masuk ke dalam ruang konseling menemani kedua murid tersebut.
“Ada apa?” tanya pria gemuk berkacamata tersebut
Anak perempuan itu mulai bicara dengan takut.
“Begini…aku…aku ingin mengatakan bahwa…senpai yang duduk di sana tidak bersalah. Dia menolongku saat hampir mengenai tendangan bola di halaman sekolah tadi dan…”
“Aku yang menendang bola tersebut hingga nyaris mengenai kouhai ini. Maafkan aku, sensei. Yuki, aku juga minta maaf karena sudah membuatmu terkena masalah”
Remaja laki-laki itu membungkukkan tubuhnya ke arah mereka bertiga di hadapannya. Ryou hanya mengatakan “tidak apa-apa”, sedangkan Sakizawa-sensei berdiri dan menghampiri anggota tim sepak bola untuk menasehatinya.
Dibandingkan menasehati, hal yang dilakukannya seperti melakukan ceramah atau pidato yang panjang.
Guru wanita yang berdiri di sana mencoba untuk menenangkan pria gemuk pendek berkacamata itu dan Ryou hanya melihat mereka semua berargumen seakan kembali menonton musim kedua dari film di bioskop.
Setelah beberapa menit, Sakizawa-sensei kembali duduk dan mulai bicara kembali.
“Baiklah, ini memang bukan sepenuhnya kesalahan Ryou-kun. Tapi dia memang bersalah karena memecahkan kaca jendela” tegasnya
“Aku tau itu. Karena itu, sejak awal aku sudah bilang kalau sensei harus mendengarkan penjelasan Ryou” celetuk Kino
“Tapi percuma saja karena dia yang salah!!”
“Meskipun begitu, itu bukan kesalahan Ryou sepenuhnya. Dia melindungi murid lain. Seandainya mereka berdua yang ada di sini tidak datang, sensei mungkin tidak mau mendengarkan penjelasan Ryou dan aku sama sekali, benar kan?”
“Apapun itu, tetap saja tidak–”
Tidak disangka, sebelum pria gemuk itu menyelesaikan kalimat yang memojokkan Ryou, mulut pedas Ryou mulai mengeluarkan kemampuannya.
“Keras kepala dan main hakim sendiri tanpa mendengarkan penjelasan dari orang lain dulu bisa membuat rambutmu semakin botak, Sakizawa-sensei”
“Eh?”
******