
Bagaikan sebuah kenyataan buruk, apa yang dikatakan oleh ketiga mahasiswa itu benar-benar sulit membuat Kino dan yang lainnya percaya.
“Sunbae-nim menjadi zombie di luar" jelas Ha Jinan
“Itu kalian sempat bertemu dengannya?”
“Kami tidak bertemu dengannya tapi kami tau. Dan orang yang terinfeksi oleh Lee Seung Chan-sunbae adalah Jung Leon-sunbae”
Jawaban Ha Jinan membuat ketiga remaja itu syok. Bukan hanya syok, tapi juga tampak tidak percaya sama sekali.
Ryou langsung berdiri dan berteriak seakan tidak percaya.
“Apa?! Jung Leon yang terinfeksi pertama kali?! Bagaimana bisa justru dia yang mati dan menjadi zombie saat dia sendiri yang mengadakan event gila ini!!”
Semua orang mendengar itu dan hanya bisa tertunduk. Seo Garam memperlihatkan sebuah video. Ryou kembali berlutut untuk melihatnya.
“Video? Video apa ini?” tanya Ryou
“Ini adalah rekaman yang sempat diambil dan dibagikan oleh salah seorang saksi yang kebetulan saat itu berada di dekat Lee Seung Chan-sunbae. Kejadian ini terjadi di dekat kolam air mancur yang ada di taman kampus ini” jawab Seo Garam
Mereka bertiga melihat video berdurasi 4 menit lebih itu. Dalam video, terlihat bahwa perekam berada dekat dengan Lee Seung Chan.
Di detik awal video tersebut, terlihat Lee Seung Chan hanya tertunduk diam tanpa melakukan apapun.
Tidak ada orang lain yang mendekatinya. Alasan yang paling masuk akal dikarena mereka yang men-download aplikasi [Even Horror Apps] pasti telah membaca notifikasi yang mereka terima dalam grup.
“Video ini dikirim pagi ini” kata Seo Garam
“Waktu video ini dikirmkan pukul 08.02. Ada kemungkinan waktu orang yang merekam ini sekitar pukul 07.56-07.58 pagi. Tergantung situasi saat mengambil video ini” Kino menebak
Kemudian, ketiga remaja itu melihat ada perubahan pada Lee Seung Chan. Dari arah belakang, terlihat sosok tidak asing yang sepertinya baru saja mereka lihat.
“Jung Leon!” ketiganya remaja itu terkejut
Terlihat di video, pemuda tampan itu tersenyum menyapa Lee Seung Chan lalu berdiri di samping kirinya. Setelah melihat jam tangannya, Jung Leon bicara.
“Sudah hampir dimulai event kali ini. Ada item spesial lagi dariku untuk pemenangnya. Dan…sudah jam 08.00! Ini saatnya event dimulai!!”
Terdengar suara sorak-sorai dalam video. Tidak berapa lama, tiba-tiba Lee Seung Chan mendekati Jung Leon seperti memeluknya.
Sorak-sorai lain terdengar. Mereka berpikir bahwa itu adalah pelukan antar teman biasa. Tapi, keanehan terlihat dalam video. Ketiga remaja itu berubah pucat.
“Oi…ini kan…”
“Benar…kemungkinan besar…”
“Lee Seung Chan-san sedang menggigit Jung Leon-san…saat itu…”
Pelukan Lee Seung Chan dilepaskan bersamaan dengan jatuhnya tubuh Jung Leon ke tanah. Semua teriakan sempat menjadi hening. Kemudian, teriakan lain terdengar histeris ketika Lee Seung Chan berbalik.
Darah segar di mulut Lee Seung Chan dan tubuh Jung Leon yang berada di tanah membuat semua orang langsung berlari menjauhi tempat tersebut, termasuk si perekam video tersebut.
Si perekam masih menyalahkan fungsi rekam pada ponselnya sehingga rekaman itu mulai terlihat berantakan.
Untuk beberapa menit, video tersebut hanya memperlihatkan jalan yang dilaluinya dan mendengarkan suara histeris di sekitar tempat itu.
Lalu, si perekam tampaknya sempat bebalik dan berlari ke belakang kembali. Terdengar sebuah teriakan dalam video.
“Jung Leon-sunbae bangun kembali!"
"Sunbae, kau baik–ah!!”
“Suara apa itu?!”
“Sang Woo digigit oleh Leon-sunbae!”
“Berdarah? Apa yang–akh!!”
Video berakhir. Tampaknya di sini, si perekam segera menekan tombol kirim dan bagikan kepada semua orang.
Ketiga remaja itu mematung dengan wajah pucat.
“Karena rekaman inilah, kami bisa mengetahui bahwa Jung Leon-sunbae adalah orang yang terinfeksi pertama kali. Awalnya, kami tidak percaya. Tapi, suara histeris itu semakin keras dan menyebar ke seluruh gedung” Kim Yuram ikut menjelaskan
“Lalu, kenapa tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari kampus ini? Dengan orang sebanyak itu, bukankah seharusnya sudah ada yang keluar dari tempat ini ketika kejadian itu terjadi?”
Pertanyaan Kino itu sangat masuk akal. Tapi, sepertinya itu hanya berlaku jika keadaan di tempat itu benar-benar normal.
“Coba kalian geser ke bawah lagi. Di sana ada satu video lagi yang dikirimkan salah satu mahasiswa pengguna aplikasi itu” kata Seo Garam yang menunjuk ponselnya
Kino menggeser kembali layar ponsel itu ke bawah dan terdapat satu video lagi berdurasi 1 menit 14 detik.
Ketika video dibuka, terlihat si perekam video memperlihatkan kondisi pintu gerbang universitas tersebut.
“Apa ini?!”
“Oi, oi, oi…ini bukan Resident Evil 1 dan 2, kan? Apa-apaan ini?!”
“Kalau begini, mustahil bagi kalian untuk keluar dari sini” ungkap Kaito
Dari dua video tersebut, Kino mulai membuat hipotesis miliknya.
‘Ini hanya tebakanku, tapi ada kemungkinan Jung Leon-san bukanlah orang yang terinfeksi pertama’
‘Jika melihat dari konteks permainannya, Lee Seung Chan-san mungkin bisa disebut sebagai zombie pertama, tapi bisa jadi dia telah menggigit orang lain dan hal itu terus terjadi berulang-ulang sehingga banyak sekali zombie di pintu gerbang tempat ini’
‘Meski begitu, masih ada yang tidak benar. Jika gerbang besar itu telah dikepung oleh para zombie, bukankah itu berarti ada kemungkinan bahwa Lee Seung Chan-san telah menjadi zombie sebelum event ini dimulai?’
‘Atau mungkin, bisa saja bahwa zombie pertama dalam event ini justru bukanlah Lee Seung Chan-san? Ini mungkin berlebihan tapi aku merasa bahwa penjelasan event ini sendiri sangat aneh. Mungkinkah ada penjelasan event yang mengecoh semua peserta?’
Pada akhirnya, Kino masih belum bisa memikirkan kemungkinan lainnya. Namun, setidaknya dia sudah memiliki beberapa gambaran mengenai hal ini.
Dia melihat Ryou dan Kaito dengan tatapan serius dan sepertinya kedua orang itu tau maksudnya.
Seo Garam melanjutkan penjelasannya.
“Karena hal inilah kami tidak bisa keluar. Di luar sana telah banyak zombie dan kami juga tidak tau berapa banyak zombie yang akan masuk ke dalam tempat ini”
Kesulitan utama mereka adalah bahan makanan dan senjata. Tapi, ada sesuatu yang mungkin bisa dipakai.
“Garam-san, bagaimana dengan jaringan internet? Apakah kalian sudah menghubungi pihak luar dengan melakukan chat atau membagikan video tersebut? Bukankah kalian bisa menghubungi pihak berwajib untuk menyelamatkan kalian?”
“Kami sudah mencobanya, tapi tidak terhubung” Seo Garam menjawab dengan menundukkan kepalanya
“Tidak terhubung? Bagaimana bisa? Bukankah video itu bisa dikirim ke grup chat melalui aplikasi sial ini?” Ryou bertanya dengan wajah kesal
“Kalian mungkin belum tau, tapi entah kenapa kami hanya bisa melakukan hubungan komunikasi dengan semua orang yang berada di dalam wilayah kampus ini saja” Ha Jinan menjelaskan
“Apa?”
Ha Jinan mengeluarkan ponsel miliknya juga dari saku celananya dan menunjukkan beberapa chat. Tertulis ‘ayah’ di atas chat tersebut yang menandakan bahwa Ha Jinan mencoba mengirimkan pesan pada sang ayah. Namun, terlihat tanda seru merah di samping pesan yang ingin dikirimkan.
“Kino, apa itu?” tanya Kaito
“Pesan tidak terkirim”
“Entah kenapa, aku sudah mencoba menghubungi ayah dan ibuku serta kakakku. Aku juga sudah mencoba membagikan video yang kami terima ke social media, tapi tidak ada satupun yang berhasil”
“Mustahil…kenapa bisa begitu?” Ryou terlihat tidak percaya
Kim Yuram mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor telpon. Tiba-tiba ponsel Ha Jinan bergetar.
“Panggilan masuk?!” Kino terkejut
Bukan hanya Kino, Ryou dan Kaito juga sangat heran dengan semua itu. Di layar ponsel Ha Jinan terlihat tulisan ‘Kim Yuram memanggil’.
“Apa ini sudah membuat kalian percaya?”
Kim Yuram melakukan itu untuk membuktikan semua penjelasan Seo Garam dan Ha Jinan.
Untuk semakin meyakinkan ketiganya, Kim Yuram mematikan panggilannya dan terlihat mencari nomor lainnya. Dia menunjukkan layar ponselnya dan mengaktifkan fitur speaker pada ponsel.
“Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar. Silahkan lakukan pengecekan kembali”
Terdengar suara operator pada ponsel. Pada layarnya, terlihat nama kontak ‘Ayah Sarang-hae’ di sana.
Sekali lagi, dia mematikan ponselnya dan mencari kontak lain. Kali ini, dia menghubungi nomor telpon darurat polisi 112.
“Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar. Silahkan lakukan pengecekan kembali”
Dia kembali menghubungi nomor darurat pemadam kebakaran, ambulans, bencana alam dan nomor telpon adik serta ibunya. Namun yang terdengar lagi-lagi suara operator.
“Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar. Silahkan lakukan pengecekan kembali”
“Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar. Silahkan lakukan pengecekan kembali”
“Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar. Silahkan lakukan pengecekan kembali”
“……”
Sepertinya suara operator itu sudah membuat ketiga remaja itu mulai syok sampai tidak bisa berkata apapun.
Terakhir, dia kembali menghubungi Seo Garam dan…
-Tuuut…Tuuut…
“……!!!” ketiga remaja itu terkejut
Seo Garam mengangkat panggilan tersebut dan bicara melalui ponselnya.
“Kalian sudah percaya pada penjelasan kami, kan?”
Sekarang semua sudah jelas. Mereka benar-benar tidak bisa melakukan komunikasi apapun ke dunia luar.
******