Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 21. Permata di Dunia Malam bag. 6



Kaito berlari ke depan untuk menyerang satyr itu terlebih dahulu. Pedang Kaito mulai diarahkan untuk menebas makhluk itu. Tentu saja, satyr itu tidak tinggal diam. Dia berteriak dengan mata merah menyalah dan mulai bersiap melakukan pukulan tinju dengan mengepalkan tangannya.


-TLAAAANG


Pedang Kaito tidak bisa melukainya sama sekali. Bunyi keras dari pedang Kaito terdengar. Hanya dengan tangan kosong, satyr itu berhasil menekannya.


“Sudah kuduga dengan serangan dari depan memang tidak berhasil. Tapi jangan kau pikir aku tidak memikirkan cara lain!”


Kaito menarik pedangnya kembali dan melompat ke sisi samping. Mata satyr itu mengikuti pergerakan Kaito sehingga dia tidak menyadari serangan Ryou yang datang secara tiba-tiba dari arah depan. Ryou yang ternyata


mengikuti di belakang Kaito saat berlari, menyerangnya dengan melakukan tebasan ketika matanya mengikuti arah gerak Kaito.


“Rasakan ini, kambing!!!” Ryou berteriak sambil mengayunkan pedangnya


-SYAAAT


Serangan dilakukan Ryou. Berbeda dengan Kaito yang menyerang untuk mengalihkan perhatiannya, serangan Ryou terasa seperti dia memang mengincar bagian tubuh tertentu. Dia mencoba menyayat perutnya. Namun, hanya seakan menyayat perut. Pada kenyataannya, pedang Ryou tidak melukai perutnya sama sekali. Hal itu mungkin tidak disangka olehnya.


“Hah!! Lumayan untuk ukuran kambing. Dagingmu pasti tidak empuk jika dimasak!”


Satyr itu menahan serangan Ryou dengan memutar tubuhnya sedikit ke kanan sehingga bagian pinggang kanannya yang terkena sayatan pedang dan itu juga bukan luka yang dalam.


Dia mencoba menyerangnya lagi dan hal yang sama selalu terjadi. Serangan dari Ryou tidak ada yang membuat luka berarti untuknya. Tubuh makhluk itu seakan mengeras pada bagian yang diserang sehingga tidak membuat goresan sama sekali.


“Cih!”


Merasa bahwa ancaman dari depan terasa begitu dekat, dengan gerakan mendadak satyr itu langsung menendang Ryou dengan keras.


“Gagh!!” Ryou terkena tendangannya tapi dia tidak terhempas ke belakang


Darah keluar dari mulutnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ternyata, alasan Ryou berhasil menahannya karena dia menggunakan pedangnya dengan posisi horizontal sebagai penahan. Kakinya berusaha untuk tidak terdorong dan tentu saja, matanya yang menunjukkan kemarahan terlihat menyala.


“Kau…jangan kau pikir aku tidak tau tentang…tendangan mendadakmu itu, kambing sial!! Itu yang…kalian lakukan pada kakakku saat dia tidak dalam kondisi bertarung!!”


Ryou terlihat kesakitan tapi emosinya tidak bisa disembunyikan. Dia begitu marah melihat satyr di depannya sehingga meskipun mengalami luka serius dan darah terus mengalir, dia seakan tidak memedulikan hal itu.


Satyr itu juga tidak berniat membiarkan ancaman yang terlalu dekat denganya hidup. segera setelah tendangan dilakukan dia langsung mengepalkan tangan kirinya untuk meninju Ryou yang tidak bisa bergerak akibat serangan sebelumnya.


Dan sekali lagi, Kaito yang sudah ada di belakang makhluk itu melompat dan menebas lehernya tanpa satyr itu menyadarinya.


-SLAAAASH


-Pluk


Kepalanya jatuh dan berguling ke tanah. Disusul dengan jatuhnya tubuh makhluk besar itu dan suara kaki Kaito yang mendarat dengan sangat elegan. Ryou langsung menjadi lemas dan menggunakan pedangnya yang ditancapkan di tanah sebagai penopang tubuhnya.


“Pengalihan yang bagus, Ryou. Aku tau kemampuan bertarung dan tekadmu itu bisa berguna di medan pertempuran. Kau menakjubkan” Kaito memasukkan pedangnya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Ryou


Ryou melihat Kaito dengan mata bersinar dan tersenyum manis sambil memanggil nama “Kaito” dari mulutnya. Kemudian dia menepis tangan itu sambil berteriak.


“Dasar bodoh!!”


“….Hah?”


“Apanya yang ‘hah’?! Kenapa kau membunuh kambing sialan itu?! Kau sendiri yang bilang apapun yang terjadi, kita harus mengulur waktu agar bisa bertahan sampai matahari terbit. Tapi malah kau sendiri yang membunuh!! Kau tidak tau seberapa besar luka yang kambing sial itu berikan padaku, kan? Sekarang bagaimana kau akan bertanggung jawab karena membunuh kambingnya?!!”


Ryou langsung menggunakan mulut pedasnya yang masih mengeluarkan darah untuk melampiaskan emosinya pada Kaito. Dan jawaban Kaito seperti akan memperburuk tingkat keberuntungannya lepas dari amukan Ryou.


“Aa! Kau benar. Aku lupa itu”


Wajah tenang Kaito yang tanpa ekspresi membuat emosi Ryou memuncak.


“Jangan memberiku wajah menyebalkanmu itu dan mengatakan kau lupa dengan gampangnya!! Kau mungkin sudah terbiasa bertarung selama 12 jam non-stop. Tapi ini adalah pertama kalinya dalam 12 jam waktu hidupku, aku harus mempertaruhkan semua yang kupunya untuk melawan makhluk jelek tak berotak seperti mereka! Kau benar-benar ingin aku dan Kino mati menggantikanmu ya?!”


Sekilas siapapun akan berpikir bahwa Ryou tidak terluka dan masih memiliki energi lebih untuk bertarung.


“Aku benar-benar lupa. Naluriku untuk membunuh mereka saat ada kesempatan tidak bisa kuhentikan. Aku benar-benar tidak bermaksud melibatkan kalian berdua, aku sudah bilang kan?”


“Berhenti membela dirimu, dasar penjahat!!” Ryou membalikkan tubuhnya dan pergi mendekati Kino


“……Ini tidak akan berakhir dengan mudah……”


“Dan itu semua karena ulahmu!! Kalau ada pengadilan di ‘dunia malam’ ini, akan kutuntut kau sekarang, Kaito!! Akan kupastikan kau terkena pasal berlapis karena kebodohanmu itu!!”


“Haah….” Kaito hanya bisa menghela napasnya dan berjalan ke arah mereka berdua


Ryou memasukkan pedangnya dan menarik napas panjang sambil menahan sakit. Dia berusaha untuk menggendong Kino kembali, tetapi ditahan oleh Kaito yang berkata, “biar aku saja yang melakukannya”


“……”


Ryou tidak merespon tapi dia mengikuti kata-kata Kaito. Kaito menggendong Kino di punggungnya dengan hati-hati. Ketika Kino sudah digendongnya, Kaito baru teringat sesuatu yang belum dia pastikan.


“Ryou, apa kau bisa melihat jam saku yang Kino bawa di saku celananya? Coba lihat jam berapa sekarang?”


Ryou mengambilnya perlahan dan dia terdiam sesaat. Dia menarik tangannya dari saku celana Kino dengan jam saku di tangannya, tetapi ekspresinya menjadi serius.


“……Kaito, di dalam sini ada permata ingatanmu. Tidakkah kau ingin membawanya bersamamu? Ini adalah kesempatan yang paling tepat untukmu agar bisa lepas dari ‘dunia malam’ ini”


Emosi Ryou beberapa saat lalu lenyap seketika dan sekarang topik pembicaraan mereka sedikit berat. Ryou bertanya dengan wajah serius dan Kaito menjawab tersenyum.


“Ini bukan saat yang tepat untukku. Aku sangat berhutang banyak pada dua remaja yang kutemui tanpa sengaja kemarin malam. Aku juga masih harus melindungi mereka sampai berhasil keluar dari tempat ini. Meskipun ternyata aku justru melibatkan mereka dalam masalah serius”


“……”


“Selain itu, aku sudah diberi satu tamparan sebagai apresiasi, jadi aku harus melakukan tanggung jawabku dengan baik” Kaito melihat Ryou dengan senyum lebar


Pada jawaban terakhir yang dihiasi senyuman oleh Kaito yang seakan tulus itu seperti jawaban sarkas bagi Ryou. Sudah dipastikan sifat mereka sangat mirip.


Ryou melihat jam saku tersebut dan waktu menunjukkan pukul 05.23. Masih tersisa 37 menit sampai matahari terbit. Sisa waktu setengah jam di dalam sana terasa sangat lama. Selain itu, mereka masih belum bernapas lega. Setelah melihat jamnya, Ryou menyimpan jam itu di saku celananya. Mereka langsung berlari meninggalkan tempat itu.


“Ukh… “ Ryou menahan sakit pada tubuhnya saat berlari


Kecepatan Ryou berlari melambat perlahan. Kaito yang menyadari hal itu sengaja mengurangi kecepatannya dan menyesuaikan ritme berlarinya agar sejajar dengannya.


“Kau benar-benar terluka parah ya? Kukira hanya bualan saja”


“Jangan gila ya! Aku ini bukan karakter dalam manga yang overpower dan bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan semacam kemampuan unik. Kau harus rasakan sendiri tendangan kambing itu kalau penasaran. Tidak heran Kino sampai saat ini belum sadar”


“Justru karena aku sudah merasakannya sendiri, jadi aku bisa tau sesakit apa itu. Tapi untukmu yang menerima tendangan sekeras itu dan masih memiliki energi untuk mencaci maki serta masih sanggup berlari sudah menunjukkan kau berpotensi hidup abadi”


“Kau sedang mencari masalah ya”


“Aku hanya memujimu, Ryou. Kino akan terkejut saat aku menceritakan kisah heroik-mu nanti. Percayalah”


“……”


Ryou mulai berpikir untuk memberikan satu tinju miliknya yang tertunda saat berhasil selamat dari ‘dunia malam’ ini.


**


Mereka berlari tanpa tujuan untuk waktu yang cukup lama. Cukup mengejutkan ‘dunia malam’ belum mengirimkan ‘tamu tak diundang’ lain lebih dari sepuluh menit berlalu. Hal ini cukup menguntungkan bagi mereka untuk sementara. Meskipun begitu, mereka tetap belum keluar dari masa kritis.


Dengan semua luka di tubuh dan persediaan yang nyaris tidak tersisa, satu-satunya hal yang harus dilakukan selama lebih dari setengah jam ini adalah sembunyi. Mereka harus mencari tempat sembunyi yang terbaik yang bisa mereka temukan untuk mengulur waktu.


Selain itu, mereka tidak tau makhluk apa yang akan muncul untuk menghibur sisa keberuntungan mereka di sana.


“Masih kuat berlari?”


“…Aku tidak yakin. Tapi berhenti sekarang pun tidak akan banyak membantu. Karena itu… haa..haa..” Ryou berusaha berlari dengan napas terengah-engah


Wajah Ryou semakin lama semakin pucat. Kecepatan larinya pun semakin melambat dan terus melambat hingga terlihat seperti orang yang sedang pemanasan berlari. Kaito tidak punya pilihan lain selain berhenti di bangunan kosong yang mereka temui di depan nanti.


“Tubuhku hanya mampu membawa satu orang. Jika kau sampai pingsan juga, aku tidak bisa bertarung dengan leluasa untuk melindungi  kalian. Kita berhenti di bangunan kosong di sebelah kiri di depan. Setelah itu, aku yang urus sisanya”


“……”


Ryou tidak tau apa yang didengar dan dirasakannya. Sekarang seluruh tubuhnya mulai mati rasa sedikit demi sedikit. Langkahnya benar-benar seperti sedang berjalan sekarang dan hanya tinggal menunggu waktu sampai dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.


Akhirnya, mereka sampai di depan bangunan kosong tanpa pintu dan jendela dengan tanaman merambat yang layu dan akar yang telah menutupi sebagian bangunan. Mereka masuk ke sana perlahan-lahan lebih dalam.


Kaito membaringkan tubuh Kino di bagian paling pojok ruangan. Tidak lama setelah itu, Ryou yang berada di belakang Kaito langsung jatuh pingsan.


-Bruuuk


Kaito menengok ke belakang dan melihat Ryou yang sudah tidak sadarkan diri. Dia menggendong dan membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Kino. Kaito melihat keadaan mereka berdua. Tubuh Kino terlihat lebih baik dan luka di kepalanya sudah menutup, luka goresan di seluruh tubuhnya juga kembali menutup. Hanya saja ketika memeriksa kedua tangannya, Kaito menyadari patah pada tangan kanannya belum sembuh.


“Sepertinya jumlah obat yang diminum terlalu sedikit. Karena itu tulangnya yang patah tidak mengalami penyembuhan”


Di sisi lain, dia mulai memeriksa kondisi Ryou. Dia bisa melihat wajah Ryou yang berubah pucat. Dari mulutnya dia masih bisa melihat darah keluar meskipun tidak banyak.


“Aku masih tidak percaya dia masih bisa marah-marah bahkan berlari sambil mempertahankan kesadarannya sejauh ini. Dia benar-benar nekad. Orang normal akan langsung mati jika melakukan hal seperti ini”


Kaito meraba bagian dada Ryou. Dia bisa tau dua tulang rusuknya patah akibat menahan tendangan keras dari satyr sebelum ini dan luka di perut dalamnya juga akibat menahan serangan yang sama, karena itu dia memuntahkan banyak darah. Ditambah lagi dia masih nekad dan bertingkah seakan semua tidak apa-apa sambil berlari dan berusaha menggendong kakaknya, tentu sekarang kondisi Ryou lah yang mendekati kondisi kritis sekarang.


Jika bukan karena kekesalannya pada makhluk yang menyerang kakaknya, dia tidak akan berjuang dan memaksakan diri sampai sejauh ini.


“Saat ‘dunia siang’ datang, aku akan mengijinkanmu memukul wajahku sekali lagi, Ryou. Bagaimana pun, aku bertanggung jawab penuh atas semua luka yang kau dan kakakmu terima”


Kino mengelus rambut kedua remaja yang sedang pingsan itu dengan tatapan sendu seakan menahan sedih.


“Kalian tidak tau betapa beruntungnya aku bertemu kalian berdua. Aku menyesal membuat kalian harus seperti ini. Maafkan aku”


Dia menyadari bahwa kondisi Ryou adalah yang paling harus diperhatikan. Mereka sudah tidak memiliki persediaan obat sama sekali. Kaito memeriksa kantong kain milik Kino dan dia hanya menemukan empat penawar racun yang sama sekali tidak bisa dipakai di saat seperti ini. Selain itu, di kantong kain milik Ryou juga tidak jauh berbeda. Sekarang hanya tinggal Kaito seorang yang masih tersadar dan dengan sisa tenaga yang dimilikinya, dia bertanggung jawab menjaga tiga nyawa termasuk nyawanya sendiri.


Kaito melihat jam sakunya dan melihat waktu yang ditunjukkan jam tersebut.


“05.40 ya. Tidak kusangka ‘dunia malam’ memiliki rasa bosan dengan nyawaku setelah semua yang terjadi”


Kaito mulai menengok ke arah Kino. Di dalam hatinya, ada banyak perasaan yang memunculkan banyak pertanyaan.


‘Aku tidak menyangka benda yang kucari selama ini ternyata ada di ‘dunia malam’ dan sekarang sudah kudapatkan dengan bantuan mereka. Apakah ini takdir?. Apakah sejak awal memang mustahil untukku menemukan permata itu sendirian?’


Pertanyaan yang terus menyelimuti hatinya terus ada dalam pikirannya. Hanya jika memang benar dia memiliki waktu untuk itu. Pada kenyataannya, sisa waktu yang ada tetap harus membuatnya waspada. Selama malam belum berakhir, ‘dunia malam’ akan menjadi tempatnya untuk bertahan hidup.


Kaito terus melihat arah jam sakunya untuk beberapa detik sampai akhirnya menyimpannya kembali ke saku jubahnya.


“Hanya untuk berjaga-jaga…aku akan meminjam ini semua”


Dia mengambil pedang yang ada di sabuk pengikat dan kantong kain milik Ryou, melakukan sesuatu dengan semua itu dan membawa pedangnya bersamanya. Kaito berdiri dan mengeluarkan pedang miliknya. Dengan adanya dua pedang di tangan dan sorot mata tajam dia berbalik dan berjalan ke luar bangunan itu. Setelah di luar bangunan, dia langsung menghadap kiri dan telah banyak ‘tamu’ yang menunggu.


“Sudah kuduga ‘dunia malam’ sudah mulai bosan dengan nyawaku. Mengirim mereka semua dalam jumlah banyak hanya untuk mengambil benda yang bukan hak milik kalian itu namanya merampok”


Tamu yang menunggu adalah sekumpulan [Ogre], makhluk besar berwarna kecoklatan setinggi kurang lebih dua meter, membawa tongkat pemukul besar yang terlihat berat, mata merah menyala dengan taring ke atas. Mereka menyukai manusia, karena itu mereka senang membunuh dan memakan mayat manusia tanpa tersisa.


“Yo…selamat datang di pesta terakhir kita. Aku berharap setelah ini aku tidak akan bertemu dengan kalian lagi untuk selamanya”


******