Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 200. Menuju Perpisahan untuk Memulai Rencana Baru



Kaito menatap kedua kakak beradik itu dengan serius sambil mengatakan hal yang sudah dapat ditebak oleh keduanya.


“Kurasa ini saatnya kita pergi dari sini”


“Aku sudah tau kau akan mengatakan hal itu, Kaito. Melihat perilaku zombie yang sebelum ini dan yang sekarang adalah bukti bahwa event ini sedang mencapai masalah utama”


“Misteri kenapa event sederhana berubah menjadi bencana dan sebenarnya apa yang terjadi pada Lee Seung Chan-san sebelum event berlangsung…hubungan semua ini dengan permata ingatan Kaito-san…”


Kaito melirik orang-orang di belakangnya yang sedang pucat dan dipenuhi rasa takut. Bahkan, teman-teman Baek Hyeseon yang masih hidup juga tidak kalah pucat.


“Kino, Ryou, kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang. Gedung arsip ini sudah bisa kita sebut aman untuk mereka. Tidak ada keharusan bagi kita terikat dengan mereka lagi”


“Kau benar, Kaito. Kali ini, kita harus melakukannya sendiri”


Ryou membenarkan ucapan Kaito. setelah itu, Kino melihat jam saku miliknya.


“Jam 02.15, itu artinya sudah jam dua siang. Kurasa akan lebih baik jika kita menyelesaikannya sebelum malam”


Ketiganya telah sepakat untuk pergi menuju sumber yang dituju kawanan zombie itu.


Ryou sempat ingin memanggil Kino yang berjalan sambil memasukkan kembali jam sakunya dan hendak bertanya mengenai kejadian sebelumnya, namun sang kakak bicara terlebih dahulu.


“Ryou, untuk saat ini jangan membahas yang sebelumnya. Kita akan membahas masalah itu setelah semua selesai. Aku tidak akan merubah sikapku kepada Ryou, jadi jangan pikirkan masalah itu sekarang, mengerti?”


“……” Ryou terdiam


Hal yang membuat Ryou terdiam adalah karena ekspresi wajah Kino yang memperlihatkan senyuman pada sang adik.


Seolah dia benar-benar menutupi perasaan kesal dan kecewa itu dengan sempurna dan berganti dengan ekspresi lembut yang biasa ditunjukkannya.


Hal itu membuat Ryou sedikit menyesali perbuatannya dan menyalahkan dirinya sendiri.


Akan tetapi, melihat sang kakak berusaha keras untuk menutupi kekecewaannya terhadap adiknya sendiri membuat Ryou mencoba sebisa mungkin bersikap normal.


“Aku mengerti”


Itulah satu-satunya respon yang diberikan oleh Ryou. Senyuman juga ditunjukkan olehnya sebagai bukti bahwa dia menutupi semuanya.


Kaito berjalan menuju para mahasiswa yang terlihat panik dan pucat di belakang.


“Kalian semua…tunggu, kenapa mereka tidak jadi diikat?” Kaito melihat ke arah teman-teman Baek Hyeseon


Keenam mahasiswa yang terluka itu berusaha membela diri mereka sambil menahan sakit.


“Ka–kami sudah bilang padamu kalau kami tidak akan melakukan sesuatu yang buruk lagi sekarang!”


“Kami juga masih ingin hidup!”


“Hmm, jadi setelah melempar orang lain sebagai makanan zombie…kalian masih ingin bernapas rupanya. Kupikir itu sebagai referensi kalian yang ingin mencobanya setelah ini. Cukup hebat juga urat malu kalian. Tampaknya masih belum putus sampai sekarang ya” sindir Kaito


Sungguh menakjubkan, Kaito yang biasanya terkena serangan mental akibat sindiran Ryou sekarang justru bisa menyindir seseorang.


Tapi, bukan itu bahasan utamanya.


“Ya, lupakan saja. Setidaknya kali ini jadilah sedikit lebih berguna sebelum kalian berakhir seperti yang di pojok ruangan itu atau yang di luar sana” lanjut Kaito sambil menunjuk dua mayat yang belum dipindahkan sama sekali


“……!!!” mereka tampak ketakutan


Seo Garam dan Kang Ji Song mendekati Kaito. Kino dan Ryou yang sebelumnya ada di belakangnya mendekati semua orang yang berkumpul di belakang.


“Kaito-ssi, apa yang terjadi?! Benarkah di luar sana banyak sekali zombie yang keluar?!” Seo Garam menjadi panik


“Ryou, benarkah itu?!” Kang Ji Song juga ikut menjadi panik


“Dengar, ini sudah semakin berbahaya. Di luar sana, ada banyak sekali zombie. Tidak jelas kenapa mereka bisa muncul dalam jumlah banyak, tapi mungkin saja ini ada hubungannya dengan penyebab kondisi ini bisa terjadi” Kaito menjelaskan


“Jadi, kita harus bagaimana?!”


Semuanya menjadi semakin panik. Kino mencoba menenangkan.


“Memang ada banyak zombie di luar, tapi sepertinya mereka menuju suatu tempat. Untuk sementara, selama tidak berisik dan tidak ada yang terlihat maka semua akan baik-baik saja”


“Karena itu, kusarankan apapun yang terjadi…jangan ada dari kalian yang berani mendekati jendela” Ryou ikut memperingati


“Selain itu, aku dan kedua kakak beradik ini bermaksud untuk keluar dari sini”


“Apa?!” semua orang terkejut


Mendengar Kaito bicara seperti itu, Ha Jinan dan Kim Yuram langsung mendekati Kino dan Ryou dengan wajah panik.


“Kino-ssi! Kenapa?! Kenapa kalian ingin keluar?!”


Ha Jinan sudah cukup histeris dengan menunjukkan wajah panik dan mata merah menahan tangis. Tapi rupanya, Kim Yuram tidak kalah histeris dengan Ha Jinan.


“Kau! Kau ingin cari mati ya! Aku akui kau hebat tapi bukan berarti kau dan kakak serta Kaito-nim keluar dari sini untuk mempertaruhkan nyawa!!”


“Aku dan kakakku harus melakukan ini!”


“Kenapa?!”


“Harus ada seseorang yang menghentikan kegilaan ini dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah memiliki pengalaman bertarung” Ryou menegaskan penjelasannya


“Tapi–”


“Ha Jinan-san, Kim Yuram-san…” Kino mencoba menenangkan kedua gadis itu


Ha Jinan memegang kedua tangan Kino seraya memohon. Air matanya sudah menetes karena dia menyukai Kino dan tidak ingin dia pergi menantang bahaya.


“Jinan-san, ingat apa yang tertera pada penjelasan event?”


“Penjelasan event? Aku…aku ingat itu…”


“Di dalam sana, tertulis dengan sangat jelas bahwa tidak ada batasan waktu untuk event ini dan satu-satunya cara menghentikannya adalah dengan adanya satu orang yang berhasil keluar dari wilayah kampus”


“Itu artinya, jika tidak ada orang yang keluar dari sini maka semuanya tidak akan berakhir. Dan jika tidak ada yang selamat di antara kita semua, maka seluruh wilayah ini hanya akan berisi zombie” Ryou menambahkan


“Akibat terputusnya seluruh komunikasi yang ditujukan keluar wilayah ini membuat kejadian ini tidak diketahui. Bahkan aku ragu akan sesuatu. Seandainya kalian mati di tempat ini, besar kemungkinan keluarga kalian tidak ada yang menyadarinya” Kaito mengatakannya dengan wajah serius


“……” semua orang terdiam dan panik


Seo Garam mengambil ponselnya dan membuka aplikasi [Event Horror Apps]. Betapa syoknya dia begitu melihat tidak ada lagi notifikasi di ponselnya.


“Tidak ada…yang mengirimkan pesan lagi…”


“Eh?”


Kang Ji Song langsung membuka ponselnya juga dan menunjukkan ekspresi yang sama.


“Ini…mungkinkah di luar tempat ini…tidak ada lagi yang selamat? Bahkan…bahkan yang telah sembunyi di gedung lain juga…”


Ketiga remaja itu semakin yakin bahwa hanya yang ada di gedung arsip itulah yang selamat.


Ryou menegaskan kembali kondisi mereka semua pada Kim Yuram dengan wajah santai.


“Lihat? Kalau memang itu benar, berarti manusia yang tersisa hanya ada kita semua di dalam sini. Mau menunggu sampai ada yang datang adalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud”


“Tapi…tapi itu kan–”


“Pilih salah satu. Mau selamat dari sini atau mati konyol?”


“Kami semua ingin selamat. Tapi kalau sampai kalian yang harus menghadapi bahaya…itu sama saja…”


Kim Yuram memegang pakaian Ryou dan kali ini dia yang menangis sambil memohon padanya.


“Jangan pergi”


“……” Ryou terdiam


Terlepas dari perasaan suka kepada kedua kakak adik itu, Ha Jinan dan Kim Yuram jelas tidak ingin siapapun mati.


Kaito sudah lelah dengan


semua itu.


“Kami sudah kehabisan banyak waktu. Dengan kalian berdua mencoba menghentikan kami untuk keluar, berarti menghalangi satu-satunya kesempatan kita untuk keluar dari situasi ini. Kecuali jika ada di antara kalian semua yang cukup percaya diri untuk melakukan sesuatu”


Kali ini semua terdiam.


Melihat reaksi semuanya, pernyataan Kaito tidak lagi dibantah oleh semuanya.


“Tepat. Itulah jawaban kalian”


Tidak lama kemudian, dia menatap kedua gadis itu sambil menghela napas.


“ Haa~sekarang, aku akan memberikan kalian waktu lima menit untuk memberikan pesan-pesan terakhir kepada kedua kakak beradik itu sebelum kami bertiga pergi”


Kaito meninggalkan mereka dan berjalan menuju tumpukan meja dan kursi yang menghalangi pintu.


Ini seperti mereka akan pergi ke medan pertempuran dan tidak akan selamat. Sungguh sangat mengharukan.


Kino dan Ryou masing-masing harus memikirkan cara terbaik untuk membuat gadis itu mau melepaskan tangan mereka dari pakaian keduannya.


“Kino-ssi…hiks…hiks…”


“Ha Jinan-san. Aku mohon jangan menangis seperti ini. Kalian sudah aman sekarang. Selama kalian tidak mencoba keluar dari sini, semua akan baik-baik saja”


“Tapi…Kino-ssi akan…Kino-ssi akan…”


Ha Jinan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya dan langsung memeluk Kino dengan erat.


Tidak ada dari semua orang yang berpikir bahwa itu adalah pelukan karena rasa suka atau semacamnya. Hal ini dikarenakan mereka yang melihat itu hanya dapat berpikir bahwa kedua remaja itu mempertaruhkan nyawanya demi bisa membebaskan semuanya dari situasi ini.


Kim Yuram tampaknya tidak kalah dari Ha Jinan. Dia juga memeluk Ryou sambil menangis.


“Kau bisa mati nanti! Kau kuat tapi kau bisa mati! Hiks…”


“Siapa yang bilang aku tidak bisa mati? Aku ini manusia juga” jawab Ryou santai


Sungguh di luar akal. Di saat ada gadis yang memeluk mereka, kedua kakak beradik itu tidak merasa malu atau berdebar sama sekali.


‘Ini benar-benar seperti aku dan Kino akan mati setelah ini. Kenapa mereka histeris sekali?’ gumam Ryou dalam hati


‘Aku tidak bisa melihat seorang perempuan menangis. Tapi, kami harus melakukan prioritas utama. Permata Kaito-san harus ditemukan atau semua tidak akan berakhir’ Kino juga ikut berpikir


Kedua kakak beradik itu secara bersamaan langsung melepaskan pelukan itu dan saling melihat satu sama lain. Mereka secara bersama-sama mengatakan hal yang sama.


“Kami tidak akan mati semudah itu”


******