Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 42. Tempat Asing di Kota Baru bag. 7



Kaito dan kedua kakak beradik itu berjalan menelusuri jalan di kawasan perumahan itu. Pagi itu, penduduk sudah mulai melakukan aktivitasnya. Sama seperti saat di ‘dunia siang’, tempat itu begitu ramai.


Kino melihat ke arah Kaito yang berjalan di sampingnya.


“Kaito-san, apa kamu benar-benar tidak lelah? Bukankah semalam Kaito-san tidak tidur semalaman? Jika memang lelah, sebaiknya kembali dan istirahat sejenak. Aku dan Ryou yang akan mencari jam sakunya” Kino terlihat mengkhawatirkan Kaito


“Aku tidak apa-apa. Perasaan semalam sudah menghilangkan rasa lelahku. Aku tidak bisa tinggal diam jika itu memang berhubungan dengan kepingan ingatanku”


Kaito melihat Kino dengan tatapan tanpa ekspresi, menandakan dia sungguh tidak lelah. Tapi Kaito sendiri merasa aneh. Rasa kantuknya akhir-akhir ini memang nyaris tidak dirasakannya. Dia bertanya dalam hati.


‘Apakah ini salah satu keanehan yang dikatakan Kino? Kami tidak merasa begitu lapar dan haus seperti layaknya orang normal, tidak melakukan defekasi dan tidak memiliki aroma tubuh. Meskipun aku masih bisa merasa lelah tapi aku justru bisa bertahan lebih lama tanpa tidur’


Kaito melirik ke arah kakak beradik yang berjalan di sampingnya dan berpikir kembali.


‘Mereka masih bisa tidur, itu artinya mereka masih merasa mengantuk. Apakah aku sudah kehilangan rasa kantuk karena sudah terlalu lama di ‘kedua dunia’? Aku merasa aku tidak begitu membutuhkan tidur walaupun lelah’


Sejenak, dia memikirkan apa yang dikatakan Kino pagi ini.


[Kedengarannya memang lebih mudah begitu tetapi aku merasa seperti bukan manusia lagi]


Semakin lama dia berada di dunia itu, semakin banyak kebiasaan ‘manusia’ yang dilupakannya. Kaito mulai berpikir, selain ingatannya yang hilang apakah dia benar-benar sudah jauh dari kata manusia sekarang.


“Apakah aku bukan manusia normal lagi sekarang?”


“Eh?”


Kaito bergumam sendiri tanpa sadar dan didengar oleh kedua kakak beradik itu. Mereka langsung melihat Kaito dengan tatapan aneh dan heran. Ryou melanjutkan olahraga mulutnya kembali.


“Aku senang kau bertanya. Mungkin kau memang sudah tidak normal lagi karena itu aku mengucapkan selamat datang di perkumpulan orang tidak normal. Aku dan Kino akan menunjukmu sebagai ketua tim karena kau yang tertua dan paling berpengalaman”


Kino mencubit tangan Ryou sedikit agar sang adik berhenti bicara seperti itu.


“Auch! Apa yang kau lakukan?!”


“Aku sudah katakan pagi ini kalau aku akan mengawasi Ryou lebih keras. Tidak boleh bicara begitu pada orang yang lebih tua”


“Aku bicara sopan padamu!”


“Tapi, Ryou selalu mengatakan hal kasar pada Kaito-san”


“Ish!” Ryou hanya bisa cemberut melihat kakaknya


“……”


Kaito yang melihat itu tersenyum ke arah mereka berdua. Dia sudah terbiasa dengan semua itu. Masih terasa dalam ingatannya saat pertama kali mereka bertemu. Dia memutuskan berjalan bersama orang asing yang tidak dikenalnya dan sekarang dia bisa dengan percaya diri mengatakan mereka berdua adalah orang yang terpenting sekarang.


Setelah berjalan beberapa menit, mereka sampai di bangunan altar. Di samping bangunan tersebut, tampak kolam air mancur itu masih di sana.


“Ternyata memang bukan ‘dunia siang’ lagi. Sekarang kita benar-benar di kota normal. Atau aku bilang di ‘kota baru’ lain yang diciptakan ‘dunia’ ini” Ryou menyipitkan matanya dan menatap tajam dengan serius ke arah kolam air mancur


“Sudah jelas sekarang. Berarti memang di sinilah ingatanku berada. Kepingan ingatanku berada di suatu tempat di kota ini”


“Kita tidak punya banyak waktu” Ryou menambahkan


“Kasus kehilangan kemarin juga cukup menarik perhatianku. Kino, kuharap kau bisa mencari tau lebih banyak tentang kasus itu di lingkungan altar ini” Kaito menunjuk kino


“Aku?!” Kino terkejut mendengar Kaito menunjuknya


“Aku bisa percaya pada kemampuan analisismu. Aku yakin kau bisa menemukan sesuatu yang bisa dijadikan informasi. Kita bisa berpencar sekarang”


“Aku mengerti. Aku tidak akan mengecewakan Kaito-san”


“Berhati-hatilah Kino. Apapun yang terjadi jika memang dibutuhkan, lakukan apapun untuk melindungi dirimu sendiri” Ryou terlihat mencemaskan sang kakak


“Aku mengerti. Ryou juga berhati-hatilah”


“Kino” Kaito memanggil Kino sebelum dia pergi


“Ada apa lagi, Kaito-san?”


“Ini. Bawalah sebagian uang ini bersamamu. Aku sudah memasukkannya dalam kantong kecil yang kubeli semalam ini. Seandainya kau selesai mencari informasi di altar lebih cepat, pergilah belanja ke kota. Kita akan berkumpul lagi di altar jam lima sore”


“Aku mengerti, tapi jam saku milik Ryou ada padaku. Bagaimana dengan Ryou? Apakah Ryou akan ikut bersama Kaito-san?”


“Tentu saja tidak. Kaito sudah memberiku uang juga sebagai bekal. Meskipun tidak mengetahui waktu tapi aku bisa langsung datang ke sini sebelum kau datang”


Ryou berbohong pada sang kakak. Dia merasa bersalah karena kali ini dia benar-benar meninggalkan kakaknya sendiri dan tidak membiarkannya mengetahui rencana Kaito dengan dirinya.


Kino yang dengan senang hati menerima tugas dari Kaito langsung pergi menuju bangunan altar. Setelah Kino pergi, hanya tinggal Ryou dan Kaito di kolam air mancur.


“Kau sengaja memintanya mencari informasi di altar untuk mengalihkan perhatiannya, kan?”


“Awalnya aku ingin bantuan pihak ketiga. Anggap saja petugas penjaga altar itu adalah pihak ketiganya”


“Tapi apa gunanya meminta Kino mencari informasi yang jelas-jelas sudah kita ketahui jawabannya?. Kau sendiri yang bilang sekumpulan anak-anak di altar itu ada hubungannya dengan anak yang mengambil jam saku kami. Kau sudah memikirkan semuanya baik-baik kan, Kaito?” Ryou bertanya dengan heran


“Aku sengaja mengirimnya ke sana. Kalau boleh jujur, aku masih merasa dia masih menyalahkan dirinya sendiri”


Ryou menunduk dengan tatapan sendunya.


“Kino adalah orang yang seperti itu. Aku tau karena aku adiknya. Sejak dulu sifatnya itu benar-benar membuatku kesal. Padahal dia mungkin menyadari itu bukan salahnya tapi dia tidak akan berhenti menyalahkan dirinya sendiri”


“Karena itu, akan lebih baik begini. Aku ingin dia berpikir ini semua bukan kesalahannya. Dengan begitu, dia tidak akan merasa kalau kita hanya menghiburnya saja”


“Lalu setelah itu, apa kau pikir Kino akan tinggal diam? Bukankah kalau dia tau anak-anak di altar ada hubungannya dengan hilangnya jam saku kita, dia akan mencari tau lebih dalam? Dia bisa saja mencari ke tempat asing itu juga!”


Ryou yang tiba-tiba berubah emosi langsung memegang kerah jubah Kaito.


“Kaito, kau tidak bermaksud membuat Kino terlibat masalah kan?! Aku sudah bilang aku tidak mau dia ikut dalam rencana kita hari ini dan kau bilang akan mencari cara terbaik. Kalau ini cara terbaik yang kau punya, aku benar-benar ingin sekali memukulmu!!”


“……” Kaito hanya diam


“Dengarkan aku, jika dia akhirnya tau hubungan anak-anak itu dengan kasus kehilangan di altar maka dia akan mencari tau dari mana asal mereka. Setelah dia mengetahui mereka berasal dari jalan aneh yang kau bilang, kemungkinan besar Kino akan ke sana. Kau harus memiliki penjelasan bagus agar aku tidak memukulmu sekarang!”


Kaito mendengarkan dengan baik kata-kata penuh amarah dari Ryou. Dia juga merasa bertanggung jawab dengan semua tindakan yang dia lakukan dengan meminta Kino ke altar. Dia paling tau seberapa jenius otak milik Kino. Akan tetapi semua itu tentu sudah dipikirkan dengan matang olehnya.


“Ryou, aku memintanya ke sana untuk membuatnya berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya dia mengetahui kebenaran dari kasus kehilangan di altar, aku tidak pernah bilang dia akan langsung tau”


“Itu pembelaan terbaikmu?”


Kaito menghela napas dan menatap Ryou dengan tatapan serius.


“Kino mungkin akan mengetahui anak-anak itu memiliki hubungan dengan kasus kehilangan di altar, tapi–”


“Tapi apa?” Ryou menatap tajam wajah Kaito dengan penuh kekesalan


“Tapi dia tidak akan berpikir mereka adalah pelakunya”


“Apa maksudmu?” Ryou bingung dengan jawaban Kaito


“Aku hanya ingin dia berpikir bahwa jam saku itu memang hilang karena dicuri seseorang dan bukan dia yang


menghilangkannya”


“Itu tidak membantu sama sekali Kaito. Dia akan tetap menyalahkan dirinya sendiri sambil bertanya pada dirinya kenapa bisa membuat jam saku itu dicuri. Alasanmu tidak cukup bagus untuk menyelamatkanmu dari pukulanku” Ryou sudah mengepalkan tangannya


“Kau yakin? Kalau korbannya hanya dia seorang mungkin, tapi kau harus ingat bahwa korbannya bukan hanya dia. Jadi, kurasa dia tidak akan berpikir kalau itu sepenuhnya adalah kesalahannya. Selain itu Ryou–”


“Apa? Mau mengatakan pembelaan lagi?”


“Aku ingin bertanya padamu. Dari alasanku mengirim Kino ke altar barusan, kapan aku bilang dia akan menyadari sekumpulan anak-anak atau anak yang menabrak kalian itu memiliki hubungan dengan kasus kehilangan di altar?”


“Apa?!”


“Sampai kemarin dia sendiri yang mengatakan bahwa jam saku miliknya itu masih ada di saku celananya. Dia juga terus meyakinkanku dengan penjelasannya itu. Aku juga tidak membantahnya. Kau tidak lupa itu kan?”


“……” Ryou terdiam


Cengkraman Ryou di kerah jubah Kaito mulai dilepaskan dan kali ini dia mendengarkan dengan baik.


“Aku senang kau melampiaskan emosimu padaku di pagi hari, dengan begitu aku bisa tau kau sehat secara mental. Mental emosianmu itu sangat kubutuhkan setelah ini”


“Jelaskan apa maksudmu tadi!” emosi Ryou sudah lebih baik tapi dia tetap menatap Kaito dengan tajam


“Aku ingin kau menjawab pertanyaanku barusan, kapan aku mengatakan dia akan menyadari anak di altar itu punya hubungan dengan kasus kehilangan yang terjadi di sana?”


“…….”


Ryou terdiam dengan wajah penuh kekesalan. Kaito tersenyum padanya sambil memberikan jawabannya.


“Benar sekali. Terima kasih sudah menjawabku. Sejak aku meminta Kino ke altar barusan aku tidak pernah mengatakannya, iya kan?. Semua itu kau yang bilang dengan penuh emosi”


“……”


“Dengar, yang memiliki pemikiran seperti yang kau katakan itu hanya kau dan aku. Kino berusaha meyakinkan kita berdua bahwa jamnya masih ada padanya sampai keluar altar. Sekalipun dia menyadari benda itu dicuri, mustahil baginya untuk mengaitkan semua itu dengan sekumpulan anak-anak di altar”


“Kenapa kau bisa berpikir begitu?”


“Karena kakakmu itu terlalu baik. Dia terlalu lembut untuk menyalahkan orang lain. Selama ini dia menyalahkan dirinya sendiri karena dia tidak ingin orang lain merasa bersalah, seperti yang kau bilang. Meskipun sifatnya itu akan membuatnya dalam masalah tapi itu adalah hal yang sulit untuk diubah”


“Aku hanya ingin dia mulai berpikir kemungkinan lain. Aku ingin dia mulai berprasangka bahwa bendanya itu dicuri, dengan begitu fokusnya akan tertuju pada kasus kehilangan itu. Dia akan tertahan di tempat itu untuk sementara sampai dia yakin memiliki informasi cukup yang bisa dia bawa pada kita berdua”


“Itu tujuanmu?”


“Benar. Aku tau kau takut dia akan menyadari semua itu saling berkaitan”


“……”


“Sejujurnya, soal kata-kataku tadi pagi itu serius”


“Yang mana?”


“Tentang betapa berbahayanya kakakmu itu”


“……?” Ryou menatap Kaito dengan tatapan bingung


“Sampai tadi pagi aku merasa bahwa dia bisa dengan mudah membaca apa yang kita pikirkan. Karena itu aku sempat takut kita mungkin akan ketauan lebih cepat dari dugaan”


“……” Ryou masih mendengarkan kalimat Kaito


“Tapi akhirnya aku berpikir, bukan berarti kita tidak bisa mengalihkannya dengan hal lain. Seandainya dia memang menyadari hubungan kasus kehilangan dan anak-anak di altar itu saling berkaitan nantinya, kita hanya perlu memikirkan cara agar dia tidak terlibat dalam masalah”


“……” Ryou benar-benar diam dan tertunduk mendengar kata-kata Kaito


“Kau terlalu sensitif jika sudah menyangkut kakakmu” Kaito tersenyum sambil mengatakannya pada Ryou


“Memang itu masalah buatmu?” Ryou sedikit cemberut mendengar kalimat itu


“Aku sudah mengatakannya sampai mulutku hampir berbusa. Aku akan mencoba sebaik mungkin untuk melindungi kalian berdua. Kita juga sudah sepakat untuk tidak melibatkannya dalam bahaya. Pencarian ke jalan asing itu hanya kau dan aku yang akan melakukannya”


Ryou sudah tidak mau mengatakan apapun lagi kecuali kata “maaf”dari mulutnya. Kaito mendengar itu hanya memberinya dua tepukan di pundak untuk membuatnya tenang.


Hari masih pagi dan drama ‘kucing liar saling mendesis di jalan’ sudah terjadi antara mereka berdua. Meskipun semua berakhir baik, tapi setelah ini mereka harus bersiap untuk mengeluarkan energi lebih besar. Sekarang, mereka hanya perlu diam dan menunggu.


Kaito mengambil jam saku miliknya dan dia melihat waktu yang ditunjukkan jam tersebut.


“Sudah jam 07.10, seharusnya mereka sudah datang dan ada di depan altar”


“Perlu aku yang mengeceknya ke sana?”


“Tidak perlu, kakakmu nanti akan….mereka datang!”


Kaito melihat anak-anak kemarin. Dia juga melihat anak perempuan yang menabraknya di kolam air mancur ada di antara mereka.


Sambil menunjuk ke arah kumpulan anak-anak itu, Kaito memfokuskan telunjuknya pada anak perempuan paling tua di antara mereka semua.


“Anak perempuan berambut pendek dan memakai dress merah muda di sana…itu anak yang kemarin tidak sengaja menabrakku di sini. Kemarin siang saat aku pergi menelusuri jalan sempit di tempat asing itu, mereka juga ada bersamanya”


Ryou melihat anak yang ditunjuk oleh Kaito. Dia memperhatikan semua anak-anak itu. Jumlah mereka ada delapan orang, tapi dia tidak melihat anak yang kemarin menabraknya di altar.


“Tidak ada. Anak yang kemarin menabrak aku dan Kino tidak ada di dalamnya. Kenapa bisa?”


Kaito memperhatikan kembali anak-anak yang melangkah menaiki tangga menuju pintu masuk altar. Dia menghafalkan semua ciri-ciri yang mereka miliki.


Dia cukup kaget saat melihat dua orang anak yang kelihatan paling tua di antara mereka menengok ke arah air mancur.


Seperti mata mereka bertemu dengan matanya, Kaito dengan jelas melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan mereka ketika melihatnya. Lalu, entah kenapa mereka semua berjalan menuju pintu altar sedikit lebih cepat setelahnya.


Kaito tidak bisa melupakan ekspesi wajah itu.


‘Kenapa mereka sepertinya ketakutan? Apa hanya perasaanku saja?’ Kaito bergumam dalam hati


Setelah dia selesai mengingat ciri-ciri semua anak-anak itu, dia bertanya pada Ryou.


“Anak yang kemarin menabrakmu, sekitar berusia 10-11 tahun dengan rambut hitam, baju orange dan topi coklat adalah anak yang duduk bersama dengan Kino di tangga kemarin”


“Yap, tepat sekali. Seperti yang kubilang kemarin sore” Ryou membenarkan perkataan Kaito


“Tampaknya dia cukup pintar. Aku yakin dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan penduduk kota yang berdoa di altar. Kemungkinan dia mencari tempat lain untuk mencuri”


“Jadi bagaimana? Mau mencarinya anak itu saja atau tetap mengikuti mereka ke jalanan asing saat mereka akan pulang?”


Kaito berpikir sejenak. Jika dia mengikuti anak-anak itu, kemungkinan mereka akan bertemu dengan anak yang dicurigai sebagai pelaku pencurian jam saku tetapi itu akan memakan waktu lama. Mereka juga tidak tau kapan anak itu akan berkumpul dengan teman-temannya.


Jika dia nekad mencari sosok yang diduga pelakunya ke kota, tidak ada jaminan akan bertemu langsung dan petunjuk jam saku mereka akan semakin lama ditemukan.


“Siapa yang mengira akan jadi seperti ini. Haah…” Kaito menghela napas.


Tidak lama kemudian dia berkata pada Ryou.


“Sepertinya tidak punya pilihan. Kita akan mencari anak yang kemarin menabrakmu di kota. Jika ketemu, kita bisa langsung mengintrogasinya di tempat untuk mendapatkan jam saku kalian kembali”


“Kau yakin dengan keputusan itu, Kaito?”


“Aku bukan peramal jadi aku tidak tau apakah akan berhasil atau tidak. Tapi, rencana awalnya kita akan mengikuti mereka jika anak kemarin ada dalam kelompok itu. Kenyataannya sekarang, anak itu justru tidak ada di dalamnya. Otomatis rencana kita harus diubah. Target utamanya adalah anak itu. Jika dia benar pencurinya, berarti jam saku itu masih ada padanya”


Ryou tidak bisa berkata apapun untuk memberikan saran yang lain. Dia sudah sepenuhnya mempercayai Kaito setelah drama barusan. Sudah tidak ingin memperburuk keadaan, dia akhirnya memutuskan untuk mendengarkan semua yang Kaito katakan padanya.


Mereka berdua langsung berlari meninggalkan kolam air mancur menuju kota.


**


Ada lima orang bertubuh besar dan bertato yang datang berjalan menuju toko-toko di dekat kolam air mancur. Mereka tidak begitu menarik perhatian penduduk kota pagi itu. Setelah berjalan, mereka berhenti sebentar di dekat kolam.


“Kita sudah mencari pengguna pedang tanpa sarung pedang itu semalam namun masih tidak ditemukan”


“Dia pasti berada di salah satu penginapan di kota ini. Jika dia pemburu atau petualang dari kelompok tertentu, seharusnya dia sudah keluar pagi ini”


“Kemana kita harus mencarinya? Jika kembali ke tempat Justin-sama, nasib kita akan seperti Fred dan Loki kemarin”


“Tidak, kita tidak boleh kembali sampai menemukan pria pengguna pedang tanpa sarung pedang itu”


“Kalau begitu kita cari lagi. Kita tidak boleh gagal demi nyawa kita!”


Mereka berlima akhirnya memilih berpencar untuk menemukan orang yang mereka cari.


******


Stelani dan anak-anak lain yang sudah berpisah dari Theo berjalan menuju altar.


“Kita benar-benar kesiangan. Kalau begini kita harus lebih lama berada di sana agar mendapatkan banyak sumbangan dari penduduk yang datang” ucap Fabil


“Meskipun sudah berlari, tapi kalau memang sejak bangun tadi kita sudah terlambat tetap saja akan siang sampai di sini” kata salah satu anak di kelompok tersebut


“Karena itu kita harus lebih lama berada di sana sebelum kembali ke tempat Justin-sama”


“Fabil, jangan bicara begitu. Kau membuat mereka sudah tertekan sebelum memulai” Stelani menasihati Fabil


“Ma–maafkan aku. Yang jelas kita akan mendapatkan banyak uang untuk sarapan hari ini. Ayo semangat!”


“Ooh!!” semuanya berteriak meskipun tidak begitu keras karena masih lelah setelah berlari


Mereka semua menaiki tangga menuju pintu masuk altar. Di tengah-tengah saat sedang menaiki anak tangga, Stelani dan Fabil merasa seperti ada yang menatap mereka dan melihat sisi samping altar.


Wajah mereka langsung berubah pucat ketika melihat siapa yang menatap mereka.


“Oi, itu!” Fabil berbisik pada Stelani


Stelani yang juga melihatnya berubah sedikit pucat dan takut lalu meminta anak-anak lain untuk menaiki tangga lebih cepat.


Setelah sampai di depan pintu masuk altar yang besar, Stelani dan Fabil terdiam sesaat dan berbisik satu sama lain.


“Kau lihat itu tadi, Fabil?”


“Mana mungkin aku tidak melihatnya!. Orang itu memiliku pedang yang tanpa sarung pedang. Walaupun hanya sekilas tapi pantulan cahaya dari pedang itu terlihat jelas olehku”


“Itu orang yang dicari Justin-sama. Bagaimana bisa dia berada di tempat ini?!” Fabil menunjukkan wajah takutnya


“Tenangkan dirimu, Fabil. Jika anak-anak lain melihat kita panik, mereka akan ikut menjadi panik. Kita harus tetap tenang”


Stelani yang juga panik mencoba menenangkan Fabil. Tapi, dia sendiri juga merasa takut hingga kedua tanganya gemetar.


“Aku ingat anak buah Justin-sama mencarinya. Mereka sepertinya akan mencarinya ke pusat kota dan jalanan di kota ini juga. Jika sampai mereka menemukan pria pengguna pedang tadi, akan terjadi keributan besar di kota” kata Stelani gemetar


“Stelani,kita tetap harus menjaga anak-anak ini. Kurasa pria itu juga tidak mengenali kita. Sebaiknya kita bersikap biasa. Jangan sampai terlibat masalah dengan pria itu”


“Aku tau. Kau dan aku harus tetap bersama anak-anak ini. Aku yakin Theo tidak tau tentang ini. kuharap dia tidak bertemu pria berpedang tadi atau anak buah Justin-sama. Meskipun kita tidak memiliki hubungan dengan pria itu tapi alangkah baiknya jika Theo tidak bertemu salah satu dari mereka”


Anak-anak lain bertanya apa yang keduanya lakukan sampai berbisik-bisik seperti itu. Dengan cepat, Fabil mengarahkan anak-anak untuk langsung berjaga dan meminta sumbangan di depan altar.


Stelani berdoa dalam hatinya.


“Kumohon, semoga Theo tidak terlibat masalah. Semoga pria berpedang tadi dan anak buah Justin-sama tidak bertemu dengannya. Semoga dia tidak terlibat dalam masalah serius. Aku mohon”


******