
Di sebuah kediaman besar lain, seorang wanita yang begitu anggun dan cantik sedang duduk di sebuah tempat santai yang teduh di taman bunga mawar yang indah bersama dengan seorang pelayan wanitanya.
“Marie, teh buatanmu sangat enak. Terima kasih banyak”
“Syukurlah Anda menyukai teh itu, Nyonya. Marie membuatnya dari bunga mawar Roselia kesukaanmu”
“Aku tau Marie benar-benar sangat baik dalam hal mengolah teh mawar”
“Nyonya baik sekali. Marie tidak sehebat itu”
Sosok pelayan bernama Marie itu begitu senang berada di samping wanita cantik yang anggun di hadapannya.
Tidak seperti pelayan, gadis itu duduk bersama dengan wanita yang dipanggilnya dengan sebutan nyonya.
Wanita cantik itu bergumam sendiri, “Bagaimana kabar Xenon ya? Rasanya aku ingin sekali melihatnya”
“Nyonya jangan mengkhawatirkan Xenon-sama. Rexa-sama pasti selalu bersama dengan beliau”
“Begitu. Aku harap mereka tidak sering bertengkar”
“Marie juga berharap begitu, Nyonya”
Tiba-tiba, datang sesosok pria tinggi yang tampan dengan wajah dingin bersama seorang ajudannya.
“Kamu di sini rupanya, Axelia”
Wanita cantik dan pelayannya langsung berdiri dengan cepat dan memberi hormat pada pria tampan yang berwajah dingin itu.
“Revon-sama?!”
Wajah terkejut keduanya tidak bisa disembunyikan. Tampaknya, pria tampan berwajah dingin itu memanggil wanita bernama Axelia itu karena suatu hal.
“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Masuk sekarang”
Tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintahnya. Dari belakang, di jarak yang cukup jauh, wanita cantik bernama Axelia dan pelayannya, Marie berjalan di belakang sang pria dingin dan ajudannya.
Saat masuk, beberapa pelayan memang memberi hormat pada mereka, namun setelahnya selalu ada satu sampai dua orang yang berbisik.
Tentu saja bisikan itu sempat terdengar oleh telinga Marie, si pelayan.
“Nyonya, jangan dipikirkan ya” bisiknya kepada sang majikan
“Aku tidak apa-apa, Marie. Maafkan aku sudah membuatmu terlihat buruk” jawab Axelia
“Itu tidak benar, Nyonya!”
Dari arah depan, pria dingin itu bicara tanpa melihat kedua wanita di belakangnya.
“Jangan berisik”
Marie terkejut dan tertunduk takut sambil mengatakan, “Ma–maafkan aku, Revon-sama”
Mereka sampai di sebuah ruangan. Sang pria dingin bernama Revon memerintahkan ajudannya untuk menjaga di depan pintu.
“Kamu dan pelayan itu tunggu di sini”
“Mengerti, Revon-sama”
Marie awalnya khawatir dengan sang majikan, namun karena ini perintah tuan besarnya jadi tidak ada yang bisa dilakukan.
Wanita cantik itu masuk ke dalam dan terlihat seorang wanita lainnya yang duduk di sebuah sofa dengan memegang sebuah kipas lipat.
Betapa terkejutnya wanita itu melihat Axelia masuk bersama pria dingin bernama Revon itu.
“Kenapa wanita murahan itu ada di sini?!”
Axelia terkejut dan takut. Dia mundur ke belakang, tetapi tangannya dipegang oleh Revon.
“Re–Revon-sama…”
“Jangan berani keluar. Duduk di sana. Dan kamu…jangan berulah, Vexia. Ini masalah penting dan aku ingin kalian mendengarnya”
“Aku tidak sudi duduk berhadapan dengan wanita murahan itu!”
“Kalau begitu kamu boleh keluar”
“Apa?! Kamu tidak bisa melakukan hal seperti ini, suamiku!” bentak wanita bernama Vexia
Mata dingin Revon terlihat, dia seperti mencoba mendominasi semuanya.
“Aku adalah pemimpinnya. Jika kamu berisik, tidak peduli apakah kamu istriku atau bukan, aku akan mengusirmu dari sini”
Wanita itu terpaksa duduk kembali. Axelia berjalan bersama Revon dan duduk di sofa lain yang berada di sisi lain sofa tempat Vexia duduk.
Wajah bingung Axelia terlihat dan dia bertanya pada pria itu, “Revon-sama, apakah ada hal penting yang perlu dibicarakan?”
Revon yang berdiri mengambil sebuah surat yang ada di mejanya.
“Ada surat dari Rexa”
“Surat dari Rexa?!” wanita bernama Vexia itu begitu senang. “Apa isi suratnya, suamiku? Apa dia merindukan ibunya?”
“Dia mengatakan bahwa pagi ini, dia tiba di kediaman Midford untuk urusan pribadi”
Vexia terlihat begitu senang, “Begitu. Aku tau anakku tidak pernah mengecewakan ibunya. Syukurlah, akhirnya dia mau pergi ke sana setelah sekian lama. Aku tau, keputusanku untuk–”
“Dan dia memutuskan untuk membatalkan seluruh pertunangannya dengan Misha Diana Midford secara sepihak”
“Apa?! Tidak mungkin!”
Wajah terkejut terlihat dari ekspresi yang ditunjukkan Vexia dan Axelia. Tentu saja wanita bernama Vexia itu langsung berdiri dan merebut surat yang ada di tangan sang suami.
Dia membacanya sendiri lagi meremas surat itu.
“Tidak! Ini tidak mungkin! Rexa, kenapa?! Kenapa dia melakukannya!”
“Bukankah itu sudah jelas. Alasan kenapa dia membatalkan pertunangannya karena dia tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita yang sudah mempermalukan keluarganya di akademi”
“Eh?” Axelia terkejut mendengar ucapan itu. Entah kenapa, dia seperti mengetahui apa yang dimaksud oleh Revon. “Mempermalukan…keluarganya?”
“Rexa membatalkan pertunangannya dengan Misha karena gadis itu sudah beberapa kali mempermalukan Xenon di Akademi Sekolah Sihir dan tampaknya Rexa sudah lelah dengan sikap gadis itu. Begitulah isi suratnya”
Mata Axelia tidak bisa menyembunyikan rasa syok dan kagetnya. Tidak lama setelah itu, wanita cantik itu mendapatkan sebuah tatapan penuh kebencian dari Vexia.
“Ini semua karena kebodohan dan perbuatan anakmu! Dasar wanita murahan! Ibu dan anak sama saja!”
“Ve–Vexia-sama…”
“Hentikan itu, Vexia” kata Revon
Vexia membentak suaminya sambil memegang erat kipas di tangannya.
“Biarkan aku bicara! Aku tidak terima! Anakku yang memiliki masa depan lebih cerah dari semuanya harus membatalkan pertunangannya dengan keluarga baik-baik seperti Midford hanya karena membela anaknya yang tidak tau diri!”
“Alasan macam apa itu?! Aku tidak percaya Rexa melakukan ini karena membela anaknya! Xenon pasti menghasutnya agar membatalkan pernikahannya setelah lulus dan membuatnya seakan-akan–”
“Vexia-sama, Xenon bukan anak seperti itu! Aku mohon jangan bicara seperti itu tentang anakku!”
Axelia berdiri dan membela anaknya, Xenon. “Aku mohon, jangan bicara buruk mengenai Xenon. Aku yakin ini semua ada penjelasan yang benar. Rexa-sama pasti memiliki alasan untuk–”
“Berhenti memanggil nama anakku dengan mulut rendahmu!”
Vexia menghampiri Axelia dan hendak menamparnya dengan tangan yang memegang kipas. Namun sebelum hal itu terjadi, tangan wanita itu berhenti. Itu adalah Revon yang dengan cepat menghentikan gerakan tangan itu dengan sihirnya.
“Jangan berbuat hal yang seenaknya, Vexia. Aku tidak memberimu izin untuk melakukan apapun di sini. Duduk atau aku akan melemparmu keluar”
Vexia semakin kesal dengan ulah suaminya yang terlihat membela wanita yang ada di hadapannya itu.
“Suamiku, apa kamu tidak membaca surat itu? Ini semua adalah ulah anaknya! Darah kotor dalam tubuh Xenon dan wanita ini telah mencemari Rexa, anak kita!”
“Tidak akan aku maafkan wanita ini yang telah melahirkan anak kotor seperti Xenon!”
Mendengar hal itu, Axelia tidak bisa membendung air matanya. Jelas kalimat itu begitu menyakitinya.
“Kenapa…Vexia-sama bicara begitu?”
“Itu kenyataannya! Dasar murahan! Kamu dan anakmu yang kotor itu adalah aib bagi van Houdsen dan semua ini karena–”
-Braaak
“......!!”
Sebuah suara keras terdengar sampai ke luar pintu. Tentu saja ajudan dan pelayan Axelia, Marie terkejut dibuatnya.
Revon sudah cukup menahan diri dan memukul meja kerjanya sampai retak.
“Aku sudah cukup mendengarkan semua protesmu, Vexia. Duduk sekarang atau aku akan membuatmu menyesal”
Vexia yang pucat karena takut dengan kemarahan suaminya mulai tenang dan terpaksa kembali ke tempatnya. Sedangkan Axelia, duduk dan tertunduk sambil terus meneteskan air matanya.
******