
Di dalam cahaya putih, terlihat sesuatu.
“Ini…dimana?”
Kaito melihat dirinya berada dalam sebuah sisi lain hutan. Dia menyadari bahwa di depannya terdapat seorang anak kecil yang dia kenal.
“Itu…aku? Kemana aku yang ada dalam ingatan ini pergi?”
Kaito mengikuti anak kecil itu. Dia berlari menuju suatu tempat. Ketika hampir sampai, Kaito mendengar suara air.
‘Sungai?’ pikirnya
Saat melewati semak dan rumput hutan, akhirnya Kaito melihat anak kecil itu atau bisa dibilang dirinya yang lain dalam ingatan itu menghampiri remaja yang dilihatnya dalam ingatan.
“Itu…” Kaito terdiam
Kaito melihat dirinya yang lain bersama dengan remaja itu. Ada perasaan tidak asing dalam diri Kaito. Dia jelas menyadari dan mengetahui siapa remaja itu, tapi masih tidak bisa menjelaskannya karena ingatan yang didapatkannya pasti belum sepenuhnya lengkap.
Di dalam ingatan sebelumnya, wajah remaja itu terlihat jauh. Namun kali ini, Kaito bisa melihatnya dari dekat. Meski begitu, tidak merubah apapun karena wajahnya kali ini samar.
Seperti sebuah kekosongan di wajahnya, Kaito tidak dapat melihat wajah asli remaja itu.
“Wajahnya…mungkinkah karena isi kepingan ini bukan tentang dirinya? Lalu, ingatan macam apa ini?”
Di sungai itu, remaja tersebut sedang membersihkan tubuhnya. Dia belum menyadari kehadiran sang anak kecil di dekatnya. Sampai akhirnya ketika dia berdiri dan memakai pakaiannya kembali, dia melihat anak kecil di tepi sungai.
“Kau lagi…” ucapnya dengan senyuman
Ada percakapan yang didengarnya saat Kaito mendekati keduanya.
“Kenapa datang lagi? Di sini banyak monster yang bisa memakan anak manusia hidup-hidup”
“Kenapa kau tidak datang ke desaku? Di sana lebih aman dan tidak ada monster yang makan manusia hidup-hidup?” anak itu kembali bertanya pada remaja itu
Remaja itu hanya tersenyum sambil mengusap-usap kepalanya. Dari usianya, Kaito hanya menebak dia mungkin masih sekitar usia 20 tahun.
‘Apa ini? Aku tidak berbohong saat aku mengenalnya, tapi aku tidak mengingat wajahnya. Wajah yang samar itu…apakah karena kepingannya masih belum lengkap?’ pikir Kaito dalam hati
Kaito melihat apa yang dilakukan oleh anak itu bersama remaja tersebut lebih dekat.
“Kau sudah ada di tempat ini dua hari, memang kau tidak mau mampir ke desaku? Ada banyak makanan di sana?” kata anak itu
Remaja yang telah selesai dengan pakaian dan senjatanya mulai berlutut. Dia memandangi anak itu.
“Kau ini lumayan cerewet ya”
“Habis kau tidak pernah mau menjawabku dengan benar”
“Memang apa yang membuatmu begitu tertarik pada orang yang tidak memiliki apapun sepertiku ini?”
“Kau kuat!!”
Kaito sempat terkejut. Wajah anak yang diduga dirinya itu begitu semangat dan berbinar-binar saat memuji remaja di hadapannya. Bukan hanya itu, dia terlihat seperti begitu mengidolakannya.
“Aku tidak tau…apa aku memang seperti itu sejak dulu? Apa ini benar bukan ingatan orang lain?”
Sekarang Kaito meragukan ingatannya sendiri.
Kaito melihat ingatan itu dengan wajah aneh tapi akhirnya dia kembali ke dirinya yang tenang.
“Tenang, tenang…ini adalah bagian penting dari ingatanmu. Meskipun kau belum tau untuk apa ingatan ini ditunjukkan, tapi mungkin saja ada sesuatu di dalamnya”
Kaito mulai mendengarkan kembali.
Remaja yang berlutut di hadapan anak kecil itu tertawa dengan senang.
“Ahahaha, terima kasih. Aku senang mendengar pujian itu. Hei, kau sudah membuntutiku sejak aku membunuh giant serpent itu. Aku masih belum mengetahui siapa namamu”
“Namaku $&^&. Siapa namamu, kakak?”
Remaja itu tersenyum. Ucapan yang keluar di bibirnya membuat Kaito begitu terkejut. Dia mendengar dengan jelas siapa nama remaja itu.
Begitu mendengarnya, Kaito menangis tanpa disadarinya. Air mata keluar dan dia terlihat begitu merah.
Sebuah cahaya muncul dan memaksanya untuk pergi dari rekam ingatan itu.
**
Kaito melihat kembali apa yang ada di depannya. Dia melihat tiga pemuda yang dia kenal. Namun, anehnya pandangan itu dipenuhi dengan tetesan air mata. Kaito baru menyadari bahwa dia menangis.
“Kaito!”
“Kaito-san?! Apa kamu baik-baik saja?”
“Hei, kau bisa mendengarku? Tiba-tiba saja permata di bros milikku masuk ke dalam tubuhmu dan kau mulai terdiam! Apa kau bisa mendengarku?”
Itu adalah Kino, Ryou dan Xenon. Dari wajahnya, Kaito melihat mereka khawatir. Mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi dia masih cukup syok dengan ingatan yang dilihatnya.
Niat awalnya ingin mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, kalimat lain terucap dari bibirnya.
“Adler…Klaue…”
“Hah? Kaito, kau bicara sesuatu?” Ryou bingung dengan ucapan Kaito
Menyadari dirinya mengatakan hal yang sulit dipercaya, Kaito menghapus air matanya dan mulai mencoba terlihat baik-baik saja.
“Maafkan aku. Aku…tidak bermaksud membuat kalian khawatir”
“Kaito-san…”
Kino tidak percaya padanya. Dia jelas tidak terlihat baik-baik saja. Wajahnya pucat dan sesekali air mata itu keluar dari kedua matanya. Kaito tidak baik-baik saja dan mereka tau itu.
Xenon yang terkejut dan khawatir beberapa waktu lalu melihat bros elangnya.
‘Permata ungu pada bros ini menghilang. Ternyata begitu rupanya. Itu memang ingatannya dan hanya dia yang mengetahuinya’
‘Aku sempat tidak percaya, tapi begitu ada cahaya yang tiba-tiba menyelimuti dan Kaito tiba-tiba saja terdiam meski dipanggil
oleh kami semua menandakan dia sedang melihat ingatannya’
‘Penjelajah dimensi demi mendapatkan ingatannya ya…sungguh ajaib dan sulit dipercaya. Tapi ini sungguhan dan mereka ada di depan mataku’
Mata Xenon melebar. Dia menyadarinya.
“Kalian masih di sini…” ucapnya
Ketiga remaja itu melihatnya. Mereka baru menyadarinya setelah menenangkan diri. Mereka bertiga masih duduk di depan Xenon.
“Kalian bertiga masih di sini. Permata pada bros milikku sudah lenyap tapi kalian masih di sini. Itu artinya masih ada permata lain milik Kaito di duniaku”
“Xenon-san benar. Itu artinya…”
“Kita masih bisa melanjutkan kerjasama kita” ucap Xenon dengan penuh percaya diri
Mengejutkan. Lebih dari satu permata dalam ‘dunia’ yang sama. Ada takdir lain yang membawa ketiganya di ‘dunia’ tempat mereka berada sekarang.
“Aku tidak menyangka aku bisa tetap melanjutkannya. Sejujurnya aku sudah sangat takut dengan apa yang terjadi saat permata itu masuk ke dalam tubuh Kaito. Tapi aku percaya pada kalian sepenuhnya. Ini akan menjadi menarik” Xenon tersenyum
Ryou sepertinya sedikit jengkel dengan senyuman itu.
“Sedikit informasi untukmu, putra Marquis…ini bukan sebuah lelucon”
“Aku tau. Tapi, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Aku akan membantu kalian dan kalian harus membantuku. Jika memang ini berhasil, mungkin masalah yang kami hadapi ini berhubungan dengan kalian juga”
Ketiganya melihat satu sama lain dan mengangguk.
“Aku tidak akan merubah pikiranku. Kami akan membantumu dalam menyelesaikan kasus di tempat ini”
Xenon mengambil bros elang itu dan melihatnya.
‘Rexa-sama, meskipun tanpa hiasan…namun ini tetap akan menjadi benda berharga untukku’
Situasinya mulai berubah dan kini Xenon menjelaskan semua hal yang dihadapi Akademi Sekolah Sihir sepenuhnya kepada tiga remaja dunia lain itu.
******