
Riz berjalan menuju kios tokonya. Toko milik Riz di pasar gelap berada di tempat paling strategis yaitu pada bagian tengah yang menjorok sedikit lebih dalam. Tempat tersebut sedikit melewati kediaman Jack dan Seren. Sebagai ciri khas yang tidak hilang, tentu saja ornament tengkorak menggantung di depan pintu toko.
Riz mulai memasukkan semua barang yang dibawanya ke dalam tanpa membereskannya terlebih dahulu dan mengambil beberapa kantong plastik besar dalam jumlah banyak.
Setelahnya, dia langsung keluar dan mempercepat langkahnya untuk pergi ke tempat Seren berada. Hal itu dilakukan agar kemungkinan bahwa kepalanya ditawar oleh pengelola pasar gelap nyaris tidak terjadi.
‘Yang jelas, aku harus bisa membuat Jack-sama dan Seren-sama tidak mengungkit kejadian hari ini!’ pikir Riz dalam hati
Sesampainya di sana, Riz hampir terkena serangan jantung karena mayat yang tadinya utuh di jalan tersebut sekarang sudah menjadi 10 bagian.
“……” Riz terdiam karena syok
“Hm? Oh, Riz. Ayo bantu aku sekarang” Seren menengok ke arahnya sambil melambaikan tangannya
Wanita itu telah memotong tubuh Will menjadi 10 bagian tanpa noda darah yang mengenainya sedikitpun. Entah teknik apa yang dilakukan olehnya, namun yang jelas Riz masih merasakan dampak besar akibat pertukaran hari ini.
“Seren-sama, bukankah kau bilang akan menungguku? Kenapa justru dipotong sendiri?” Tanya Riz yang berjalan mendekati Seren
“Itu karena kau terlalu lama, Riz”
“La–la–lama kau bilang?! Tapi, aku sudah dating secepat yang kubisa!”
“Riz sayang, lima belas menit itu termasuk lama untukku. Apalagi mayat Will sudah didiamkan selama lebih dari satu setengah jam. Nanti kualitasnya jelek. Ini kan hasil dari barang yang kau jual padaku dan suamiku. Nanti kalau kami minta pengembalian dana, kau harus membawa pemuda itu ke tempat ini lagi”
“Se–Se–Seren-sama, barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan lagi. I–itu aturan di tempat ini, ingat kan? E–ehehehe” Riz mencoba tenang dan menjawab Seren
“Huwaa~aku kagum padamu. Selain mengingat semua peraturan tertulis dan tidak tertulis, kau juga berani menjawabku. Tidak mau bekerja saja di sini dan menjadi penjaga gerbang?” Seren tersenyum merona pada Riz
Ekspresi Riz langsung berubah panik dan dengan tegas menolaknya.
“Tidak, terima kasih! Aku masih mencintai hidupku! Meskipun aku suka memotong dan menjual mayat, tapi aku masih belum siap dipotong dan dijual sebagai mayat!!”
“Hmm…sayang sekali. Padahal gajinya besar”
‘Tapi resiko kepalaku melayang sama besarnya!’ teriak Riz dalam hati
Riz sudah tidak mau memperlambat hal itu dan mulai mengangkut mayat tersebut. Mayat itu masih mengeluarkan darah. Riz dengan cepat memasukkan mayat tersebut ke dalam kantong plastik yang dibawanya dan dibungkus dengan rapi.
“Fiuh, akhirnya selesai. Apa kita bisa pergi sekarang, Seren-sama?”
“Tentu”
Keduanya berjalan kembali. Riz mencoba untuk tenang dan tidak membahas apapun yang terjadi mengenai pertukaran tadi. Tapi sepertinya wanita cantik di sampingnya sangat suka membahas topik hangat terbaru.
“Jadi, apa remaja itu masih hidup?”
-Deg
Tangan Riz yang sedang mendorong gerobak menjadi sedikit gemetar dan jantung Riz berdetak lebih cepat karena tegang.
“Ke–kenapa dengan itu, Seren-sama?” Riz menjawab dengan gugup
“Habis aku masih sedikit penasaran dengan remaja itu. Kau tau, dia itu tidak sopan sekali saat bertemu denganku. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku dan berbalik mengusirku. Sungguh tidak sopan” Seren cemberut saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Kino
Riz hanya diam. Namun, hatinya tidak bisa melewatkan kesempatan untuk berkomentar.
‘Tolonglah, Seren-sama…istri cantik milik panutan hidupku. Dimana-mana, jika dirinya tiba-tiba diserang oleh orang yang tidak dikenal dan ditanya oleh si penyerang, tentu saja mereka tidak akan menjawabnya!! Ya Tuhan, aku beruntung akal sehatku masih ada. Kurasa aku sudah mulai tertular sifat Arkan karena kejadian siang hari tadi’
Riz mencoba terlihat tenang dan menjawabnya.
“Mu–mungkin saja karena dia belum mengenal kebaikan Seren-sama dan Jack-sama”
“Begitu. Dimana remaja itu dan Kaito pergi setelah keluar dari sini?”
“Mereka…”
Riz tidak melanjutkan kembali kalimatnya. Dia berpikir sejenak.
‘Eh, tungu dulu! Apa boleh aku memberitau keberadaan mereka pada orang yang nyaris membunuh mereka? Tidak boleh, kan? Aduh! Lalu bagaimana aku menjawabnya?’
Riz melirik Seren yang ternyata juga sedang melihat Riz dengan tatapan dingin. Seakan dia siap memakan pemuda di sampingnya itu.
“……!!!” Riz kaget dan tidak bisa mengatakan apapun
“Lalu? Apa kau tau dimana mereka?” Seren bertanya kembali padanya
“I–itu…aku tidak tau. Me–mereka dan aku memilih jalan yang berbeda. Kami berpencar karena aku harus pulang untuk menangis dan mempersiapkan barang daganganku”
“Hmm, aku lupa kau masih harus menangis karena kematian Justin. Kau tau, kepala Justin sepertinya sudah selesai oleh suamiku. Mau bertemu dan menyapanya?”
“Me–menyapa Jack-sama maksudnya?”
“Bukan, menyapa kepala Justin”
“……”
Sedikit informasi bahwa apa yang Seren katakan itu adalah bukan sebuah candaan dan tampaknya Riz mengetahui betapa 'bagusnya' selera humor dari istri panutannya tersebut. 'Terlalu bagus' sampai membuatnya sulit untuk tertawa.
“Mungkin saja kau merindukannya, Riz. Lagipula kita akan mengantar tubuh Will ke ruang pemotong juga jadi kurasa kau dan kepala Justin bisa mengadakan reuni bahagia” Seren tersenyum manis pada Riz
Melihat hal itu, Riz merasa perutnya yang semula sudah mual menjadi lebih mual lagi.
“Sepertinya itu hanya akan membuang waktu. Aku menolaknya” jawab Riz pelan
“Baiklah. Nanti kalau kau masih ingin merubah pikiranmu, katakan padaku atau suamiku ya”
Keduanya kembali terdiam karena Riz tidak merespon kalimat terakhir Seren. Riz mencoba untuk tidak mengatakan apapun dan akhirnya mencoba untuk memecah keheningan sebelum sampai di [La porte du Paradis].
“Tanya saja. Mau bertanya soal apa?”
“Kenapa Seren-sama bisa ada di depan pintu gerbang tadi? Sudah berapa lama Seren-sama di sana?”
“Aku berdiri di sana hanya sekitar 45 menit. Itu karena suamiku mengatakan ingin memotong Justin sendiri setelah selesai bicara banyak hal dengan mayat itu. Karena aku tidak mau mengganggu waktu terakhirnya, jadi aku meninggalkannya sendiri”
“Eh? Selesai bicara banyak hal itu…”
“Anggap saja suamiku mengantarkan saat terakhir tubuh Justin sebelum pembukaan malam ini”
“Begitu. Ahaha, unik sekali” ucap Riz dengan senyum yang dipaksakan
Keduanya sampai di bangunan toko yang berada di samping [La porte du Paradis]. Seren dan Riz membawa kantong-kantong itu satu per satu. Setelah menaiki tangga, Riz merasa begitu tegang ketika berjalan di koridor tempat tersebut.
‘Aku baru saja melewati tempat ini. Rasanya ada perasaan aneh. Dampak transaksi tadi cukup besar untukku rupanya’ pikir Riz
Noda darah di lantai masih terlihat jelas. Riz yang berjalan dengan mengabaikan semua itu mengikuti Seren yang masuk ke ruangan. Terlihat Jack yang sedang duduk di sebuah kursi di belakang meja dengan tiga kepala di atasnya.
“Jack~”
“Oh, sayangku Seren~”
Jack langsung berdiri untuk menghampiri sang istri lalu memeluknya. Dia terlihat begitu bahagia, walaupun pakaian yang terlihat santai itu telah memiliki corak warna merah dimana-mana.
“Seren cintaku, lihat itu. Temanku di atas sana. Menakjubkan, iya kan?” tunjuk Jack ke arah meja
“Benar, menakjubkan sekali. Lihat apa yang kubawa”
“Huwaaa~kau membawa Riz” Jack terlihat antusias melihat Riz di belakangnya
“Bukan aku!! Aku ke sini tidak untuk menyerahkan kepalaku, Jack-sama! Aku hanya membantu istrimu mengantarkan potongan tubuh paman Will”
Riz mulai terlihat emosi hingga berteriak kepada panutan kesayangannya itu. Tapi, pasangan suami-istri tersebut hanya memperhatikan wajah lucu Riz yang mirip serigala kecil di depan mereka.
“Oh, Riz sayangku. Kau manis seperti kue kecil yang telah kita makan beberapa jam lalu. Bagaimana kabarmu? Sehat?” Jack bertanya dengan wajah tersenyum
“Se–sehat. Tapi mungkin otakku yang sedikit sakit. Haha” jawab Riz dengan wajah penuh senyum keterpaksaan
Jack melepaskan pelukkannya dari Seren dan berjalan menghampiri Riz. Dia melihat bayangan serigala lucu yang sedang mengeluarkan suara “grr” imut sambil memegang kantong plastik di tangannya.
“Aww~kau lucu sekali. Apa yang ada di kantong besar itu William?”
“Be–benar sekali. Aku membawakannya sesuai dengan isi teriakan Jack-sama ketika aku pergi dari pasar ini beberapa saat lalu” jawab Riz sambil memberikan kantong tersebut
“Huwaa, kau baik sekali. Kukira kau tadi pura-pura tidak mendengarku karena lari bersama mereka semua”
“Ti–tidak mungkin aku mengabaikan panutanku sendiri”
‘Kalau aku mengabaikan dirimu, aku yakin setelah ini kepalaku yang akan pergi dari tempatnya’ gumam Riz dalam hati menambahkan kalimat yang keluar dari mulutnya sebelum ini
Riz bermaksud keluar dan mengambil kembali sisa kantong plastik yang belum dibawanya, namun sebuah pertanyaan dari Seren nyaris membuatnya menangis.
“Riz, aku ingin bertemu dengan pria bernama Kaito. Bisa antar aku ke sana besok?”
“Apa?!” Riz menengok dengan cepat
“Seren sayangku, kau ingin bertemu dengan pria yang membunuh William?”
“Habis dia kuat. Selain itu, aku ingin sekali bertarung dengannya. Dia tidak terlihat serius menghadapiku siang tadi dan aku ingin sekali bisa bertarung serius melawannya. Nee, Riz–”
“Aku harus mengambil bagian tubuh paman Will lainnya! Aku turun dulu, Seren-sama!” Riz langsung berlari keluar ruangan itu dan tidak memedulikan pasangan suami-istri tersebut
Sambil menuruni tangga, dia berpikir dalam hatinya.
‘Apapun yang terjadi, jangan sampai Seren-sama bertemu dengan Kaito! Kalau bisa, Jack-sama juga tidak perlu bertemu lagi dengannya! Jika benar Ryou dan Kaito memiliki keanehan yang sama dengan remaja bernama Kino itu, maka habislah sudah! Kemungkinan kedua pasangan suami-istri itu akan terus mengincarnya bukan lagi sesuatu yang mustahil!!’
******
Kembali ke waktu sekarang…
Riz yang berjalan dengan mengingat hal yang terjadi dua hari lalu terlihat begitu pucat.
‘Aku tidak menyangka kalau akan jadi seperti ini. Bahkan kemarin siang, Jack-sama dan Seren-sama benar-benar datang ke bar. Meskipun aku mendengarnya dari Arkan dan paman Joel sedang tidak ada di tempat ketika kejadian itu terjadi, tapi itu membuktikan kalau pengelola pasar gelap masih penasaran dengan mereka semua! Ini jadi lebih merepotkan dari sekedar transaksi pertukaran biasa!!’
Joel menengok ke belakang dan melihat Riz yang berjalan sendiri dengan wajah serius seperti memikirkan sesuatu. Joel berjalan mundur dan berbisik pada Riz.
“Apa yang kau pikirkan?” Joel bertanya pada Riz
“Aku tidak tau apakah paman Joel sudah dengar dari Arkan soal pengelola pasar gelap yang datang ke bar kemarin siang, tapi ini mungkin bisa lebih serius dari kejadian dua hari lalu” jawab Riz lirih
“Aku sudah dengar darinya. Untung aku sedang tidak ada saat itu. Kalau sampai aku ada di sana, aku mungkin akan menangis di pojok ruangan”
“Ini bukan main-main, paman Joel! Jika mereka datang lagi ke bar seperti kemarin siang, hanya tinggal masalah waktu sampai mereka menemui Kaito atau Kino!” Riz mulai terlihat panik
“Jangan cemas! Aku juga tidak serius mengatakannya. Aku sudah cukup menyukai semua anak-anak itu dan aku juga mencoba untuk melindungi mereka semua. Termasuk melindungi penyelamat mereka seperti remaja bernama Kino dan kedua rekannya. Kalau soal uang, aku tidak kalah dari pengelola pasar gelap”
“……” Riz melirik ke arah Joel
“Hanya saja, lain cerita jika mereka menggunakan kekerasan. Kita harus berharap mereka tidak melakukan sesuatu dengan kemampuan membunuh mereka yang kejam seperti tempo hari”
“Aku tau. Meskipun mereka adalah atasan tempatku berdagang, tapi aku masih menjaga hubungan pertemananku dengan Arkan. Aku tidak ingin berubah menjadi iblis sepenuhnya, paman Joel”
******