Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 68. Awal Pertarungan di Tempat Asing bag. 2



Amarah Kaito mulai tidak terbendung mengingat bukan hanya jubah kesayangannya yang kotor karena goblin saat di ‘dunia malam’ namun pedang kesayangannya juga ikut dipegang oleh makhluk yang dia anggap jelek.


Dengan cepat Justin berlari sambil mengayunkan pedang mata dua milik Kaito. Kaito menghindari serangannya dengan cara melompat ke belakang.


-CRAAAASH


“……!!!” Kaito terkejut


Siapa yang mengira bahwa pedang yang diayunkan Justin bisa memberikan dampak kuat. Pedang itu memang tidak mengenai tubuh Kaito dan mendarat di tanah tempat awal dia berdiri, namun dampak serangannya mampu menghancurkan jalan itu hingga membentuk lubang.


Kaito bahkan tidak bisa berhenti memikirkan hal yang ada di depannya.


‘Apa dia terbiasa menggunakan senjata seperti pedang? Dampak serangannya benar-benar di luar dugaanku. Meskipun caranya sangat kasar, akan tetapi melihat kekuatan yang disalurkan ke dalam pedang itu menunjukkan dia memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Tampaknya dia hanya bermain-main sebelumnya untuk membuatku lengah’


Justin tertawa bahagia seakan-akan keadaannya telah berbalik.


“Ahahahaha, ada apa?! Kau takut menerima serangan dari senjatamu sendiri?! Ah, kau mungkin tidak tau kalau seranganmu di awal tadi itu memang cukup menyakitkan. Tapi, jangan kau pikir hanya dengan satu atau dua sayatan tipis seperti ini bisa membuatku mati!!”


Sekarang semuanya sudah jelas. Pria besar berotot bernama Justin ini tidak hanya omong besar. Kenyataan bahwa dia memang cukup kuat itu benar.


“Kau sengaja memperlihatkan sisi lemahmu padaku untuk mengukur kemampuanku?” tanya Kaito dengan nada sinis


“Hah! Untuk apa aku mengukur kemampuan sampah lemah sepertimu? Pada akhirnya semua yang berani mengganggu tempat ini dan masuk seenaknya ke wilayah kekuasaanku akan mati!!”


“……”


Justin langsung berlari dengan mengayunkan pedang milik Kaito.


Agak mengejutkan memang, mengingat gorilla bisa memegang pedang dengan kuda-kuda yang berantakan namun bisa mengayunkannya dengan kuat sampai membuat manusia terus menghindari serangan tersebut.


Selain itu yang tidak kalah mengejutkan, Justin bisa berlari seakan-akan tembakan dari Kaito yang sebelumnya sama sekali tidak berdampak apapun. Padahal jika dilihat baik-baik, darah masih mengalir dari lubang paha dan kaki kirinya.


Sekarang, Kaito mengerti kenapa Arkan memperingatkan dirinya ketika di bar sebelumnya.


Kaito terus menghindari serangan tersebut bukan tanpa alasan. Dia terus menganalisa lawannya dan lebih dari itu, Kaito sedang bertarung dengan dirinya sendiri.


Sejak dia melihat wajah Justin saat menyerang dirinya dan Arkan, perasaan amarah yang hebat menyelimuti Kaito. Setiap kali dia melihat Justin, hanya perasaan benci dan hawa membunuh yang selalu dikeluarkan olehnya.


[Aku akan sebisa mungkin menahan diriku untuk tidak membunuhnya]


Itu adalah kalimat yang dikatakan oleh dirinya sendiri kepada Arkan sebelum menendang Justin keluar dari bar.


Dia memang benar-benar sedang menahan diri untuk tidak membuat lubang di kepala Justin.


‘Ini benar-benar merepotkan. Bukan hanya aku harus menghindari serangannya yang amatiran itu, tapi aku sendiri harus menahan diriku agar kata-kataku barusan tidak menjadi boomerang untukku sendiri. Tapi kenapa? Kenapa perasaan ini muncul lagi?! Perasaan benci yang kurasakan ini tidak normal, seperti ada sesuatu yang memicunya. Aku benar-benar merasa harus membunuhnya sekarang atau aku akan menyesal!’


Seperti bertarung dengan pikirannya sendiri, Kaito tetap bergerak menghindari serangan tersebut dengan melompat ke belakang, memanfaatkan dinding bangunan untuk melompati tubuhnya dan menghindar.


“Ahahaha, ada apa?! Kau sudah tidak bisa melakukan sesuatu dengan benda di tanganmu itu, hah!! Jangan coba-coba untuk lari dan terima seranganku ini!!”


-CRAAAAASH


-SLAAAASH


Sayatan pedang dari serangan yang dilakukan Justin tampaknya lebih memiliki tenaga dibanding yang sebelumnya. Kali ini dia bisa membuat sebuah bekas sayatan cukup dalam di dinding dan mampu memotong banyak sekali kotak barang yang ada di sisi samping gang saat Kaito memanfaatkan kotak-kotak itu sebagai tumpuannya untuk melompat memunggungi Justin.


“Aku sudah muak melihat pedangku digunakan sembarangan seperti itu. Jangan harap kau akan bisa mati dengan tenang, gorilla”


-Dor…Dor…Dor


Kaito melancarkan tembakan ke arah Justin dengan cepat. Serangan tersebut awalnya memang terlihat seperti dilakukan secara sembarangan dan tidak memperhatikan keakuratannya. Tetapi, ada maksud di balik semua itu.


Semua tembakan itu dilakukan untuk pengalihan agar kecepatan Justin dalam melancarkan serangan bisa sedikit berkurang beberapa detik dari yang seharusnya. Sekarang Kaito dikejar oleh Justin.


Dia berlari menuju ke arah bar kembali dengan kemampuan berlarinya yang lebih cepat dari Justin.


Sambil berlari, Kaito mengambil kantong kecil berisi peluru di saku luar jubahnya dan dengan kecepatan tangannya dia memasukkan enam buah peluru lainnya ke dalam pistol yang dipegangnya.


“Aku sudah cukup bersabar dengan permainan konyol ini. Lebih sulit kabur dari kawanan dark wolf dibandingkan bertarung dengan kemampuan anak kecil seperti dia. Akan kupotong kedua tangannya itu seperti saran Ryou saat kami dikejar kelima orang itu!”


Mata Kaito menunjukkan bahwa dirinya kesal.


Dari arah belakang, Justin terus mengejarnya sambil mengayunkan pedang yang ada di tangannya dan menyerang Kaito. Ketika sampai di depan bar itu lagi, Kaito berhenti dan dengan cepat membalikkan tubuhnya.


Dia melihat kantong sampah besar yang ada di bangunan kosong di depan bar dan langsung mengambil kantong tersebut.


“Waktu bermain telah selesai!!. Matilah kau, sampah!!” Justin yang masih membutuhkan beberapa meter lagi untuk sampai ke tempat Kaito berteriak


“Aku juga berpikir begitu. Sudah saatnya orang sepertimu berlutut di tanah dan merintih seperti anak kecil” kata Kaito dengan mata tajam dan sinis


Tangan kanan Kaito yang telah memegang kantong sampah besar itu langsung melemparnya dengan kuat ke arah Justin. Sontak Justin yang melihat benda itu menuju ke arahnya langsung dengan cepat memotongnya dengan pedang di tangannya.


-SLAAAASH


Kantong plastik itu akhirnya berhasil tersayat sempurna dan seperti taburan bunga yang hendak menghujani Justin sebagai bentuk penghormatan, seluruh isi dari kantong tersebut keluar.


Pada dasarnya, kantong yang diambil Kaito itu adalah benda yang dibuang oleh Arkan beberapa jam sebelumnya ketika dia bertemu dengan Stelani dan Fabil. Isi dari semua tumpukan kantong sampah itu adalah sisa botol kaca yang dibersihkan Arkan dari ruangan Justin.


Siapa yang menyangka bahwa ternyata itu bisa berguna di saat seperti ini.


“Kau tidak akan bisa menghalangiku dengan benda seperti ini!!”


Justin berteriak sambil mencoba berlari ke arah Kaito tanpa memedulikan semua botol yang ada di tanah.


-Dor…Dor…Dor…


Suara tembakan terdengar begitu kuat menggema di seluruh jalanan dengan banyak bangunan di sana.


“Aaakh!!!” Justin berteriak sekeras-kerasnya kali ini


Tetesan darah mulai terlihat mengalir dari tangannya dan pedang yang dipegang Justin akhirnya jatuh ke tanah.


Kaito menatap Justin dengan tatapan dingin bagaikan ingin membunuhnya kali ini. Rupanya, tembakan Kaito berhasil mengenai tangan Justin dengan menggunakan plastik sampah itu sebagai pengalihannya. Sungguh cerdas.


Tiga tembakan terakhir yang dilakukan oleh Kaito setidaknya berhasil mengenai tangan dan lengan kanan Justin.


Dengan berjalan santai sambil memberikan komentar, Kaito menatap dingin pria besar yang akhirnya hanya bisa memegangi tangan kanannya.


“Aku merasa Theo dan tuan bartender itu terlalu melebih-lebihkan kemampuanmu. Ternyata kau lebih lemah dari sekawanan anjing liar di malam hari yang pernah kulawan sebelumnya”


“Kh….kurang…ajar kau!!” kata Justin dengan tatapan marah


“Terima kasih pujiannya. Aku sudah terlalu kesal menahan perasaan aneh di dadaku ini dan kupikir aku bisa melampiaskannya sedikit”


Kaito mengambil kembali pedangnya dan menatapnya dengan tatapan jijik.


“Pedangku yang cantik…kau jadi terlihat begitu kotor dengan banyak benda kecil menggeliat bertuliskan kalimat ‘ini sidik jari orang bodoh’ dimana-mana. Kau jadi menjijikkan, pedang cantik milikku”


Imajinasi Kaito tentang penggambarannya terhadap kuman-kuman di tangan begitu unik. Begitu detail sampai-sampai dia membayangkan wajah makhluk menggeliat itu seperti Justin.


“Ukh, kau benar-benar jelek ya” ucap Kaito sambil melihat wajah Justin dengan nada merendahkan


Sekarang bisa dipastikan ilmu sarkas Ryou menurun pada Kaito hanya dalam waktu kurang dari tiga hari.


Justin yang tidak terima langsung mencoba bangkit dan menyerang Kaito. Namun karena sudah terlanjur kesal dengan apa yang dilakukan Justin pada pedang kesayangannya, Kaito tidak memiliki persediaan belas kasih yang tersisa dan langsung memotong lengan kirinya yang mencoba menyerangnya.


Mungkin persediaan belas kasihannya itu telah habis karena pengaruh dari rasa benci dan nafsu membunuh yang menyelimuti dirinya tiba-tiba.


-SPLAAAASH


“Aaakh!! Tanganku!! Tanganku!!!”


Teriakan Justin terdengar lebih keras lagi karena efek gema. Bersamaan dengan rintihannya, dia terus bergerak dan darah yang keluar semakin banyak.


“Dasar kurang ajar! Sampah tidak berguna!! Jangan jadi pengecut dan lawan aku sekarang!!”


Justin mulai hilang kendali dan berteriak tidak jelas ke arah Kaito.


Dada Kaito terasa begitu sesak dan seperti ada perasaan kuat yang mendorongnya untuk menjadi lebih kejam dan sadis.


[Mereka bersenjata. Tapi sebenarnya kita masih bisa membuat mereka bicara dengan mematahkan kedua tangan mereka. Dengan begitu mereka tidak akan bisa memegang senjata]


Kalimat Ryou yang diucapkan saat di gang sempit beberapa jam sebelumnya seperti merayunya dan menghasut Kaito untuk berubah sedikit lebih kejam.


‘Mematahkan tangannya agar mereka tidak bisa memegang senjata ya. Sepertinya dibandingkan dengan mematahkan tangannya, akan jauh lebih efektif jika memotongnya seperti tadi’


Mata Kaito berubah dingin dan warna biru indah yang bercahaya berubah gelap. Kedua mata indahnya menjadi segelap samudra yang dalam. Seperti tubuhnya telah dikendalikan oleh kebencian yang tidak pernah dia miliki, dia mengangkat pedang di tangannya ke atas dan langsung menebas lengan kanan Justin dengan cepat.


-SPLAAAASH


“Aaakh!!!” Justin lagi-lagi berteriak dengan keras


Kali ini, suara Justin terdengar sangat keras hingga mungkin pita suaranya akan putus setelah ini.


Sebuah kata-kata yang tidak terduga diucapkan oleh mulut Kaito dan semua itu dikatakan tanpa disadari oleh dirinya.


“Aku mengutuknya!! Aku tidak akan pernah memaafkannya! Aku tidak akan memaafkannya! Dia iblis, dia pantas mati. Dia pantas mati!!. Aku berharap dia mati!!”


“Aakh!! Dasar sial, akan kubunuh kau! Akan kubunuh kau!!”


“Aku mengutuknya!! Aku tidak akan pernah memaafkannya! Aku tidak akan memaafkannya! Dia iblis, dia pantas mati! Dia pantas mati!! Aku berharap dia mati!!”


Bersamaan dengan kalimat itu, pistol yang ada di tangan Kaito lainnya siap untuk menembak kepala Justin.


Seseorang dari belakang Kaito berteriak.


“Kaito, hentikan sampai di situ! Kau akan benar-benar membunuhnya! Kau belum mengetahui informasi untuk menolong Theo dan teman-temannya. Selain itu, gorilla itu masih berhutang 5.000 Franc pada bar ini!!”


“……” Kaito terdiam tanpa ekspresi mendengar itu


Meskipun sorot matanya tidak berubah, dia terlihat akan tetap mendengarkan suara di belakangnya bicara.


“Jangan bunuh dia, kumohon! Kalau sampai dia mati dan hutangnya tidak dibayar, gajiku yang akan dipotong! 5.000 Franc itu tidak sedikit! Itu setara dengan biaya sewa kamar ditambah makan makanan lezat selama satu bulan! Aku bisa mati kalau gajiku menghilang sebanyak itu, aku akan langsung miskin!!!”


Alasan rasional bagi Arkan yang benar-benar menjunjung tinggi hukum pekerja dibandingkan nyawa manusia.


Gaji lebih penting dari apapun di dunia ini, setidaknya untuk dirinya.


“Aku tidak tau kalau kau bisa sedingin itu, tuan bartender. Kau mirip dengan teman baik yang kukenal” ucap Kaito


“Terima kasih sudah memujiku. Yang jelas jangan membunuh dia atau kau yang harus membayar hutangnya!!”


******