Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 138. Sebuah Momen



Di ruang perawatan Kino, pintu terbuka dan memecah semua pikiran berat Ryou.


“Aku kembali”


“Kaito”


Kaito kembali dari kota dengan kantong belanja di tangannya. Setelah masuk, wajahnya tampak sangat mewakili rasa lelah.


“Kau kenapa? Wajahmu seperti habis bertemu dengan ibu-ibu yang berburu barang diskon di pasar” Ryou bertanya dengan wajah aneh


“Aku nyaris terkena serangan men–”


“Serangan?! Bagaimana bisa ada yang menyerangmu?! Apa itu pengelola pasar gelap itu lagi?! Katakan!” Ryou dengan wajah panik langsung bangun dari kursinya


“Aku nyaris terkena serangan mental dari semua orang yang melihatku”


“……” Ryou terdiam dengan wajah datar sekarang


Jawaban Kaito benar-benar di luar dugaannya. Dengan wajah anehnya, Ryou kembali duduk di kursi dan memandangi Kaito dengan mata tajam.


“Sebaiknya kau keluar saja sebelum kulempar dengan sepatuku”


“Kau sendiri yang seenaknya memotong pembicaraanku. Jangan selalu…hmm?”


Perhatian Kaito tertuju pada Kino yang terbaring di tempat tidur. Dia menghampirinya dan melihat wajah tenang remaja itu.


“Dia tidur?” tanya Kaito dengan nada pelan


“Sepertinya efek obat yang diberikan dokter baru bekerja”


“Begitu ya. Syukurlah kalau begitu”


Kaito meletakkan kantong belanja yang dia pegang di atas meja dekat tempat tidur pasien dan mengeluarkan botol obat yang dibelinya.


“Ini obatnya” Kaito memberikan satu botol pada Ryou


“Aku lihat sebentar”


Ryou menerimanya dan membukanya. Dia mencium aromanya dan mencicipinya sedikit.


“Rasanya tidak berbeda dengan yang pernah kita minum di ‘dunia malam’. Ini benar-benar sama seperti obat yang pernah kita pakai untuk mengobati luka dan tulang yang patah” jelasnya setelah merasakan obatnya sendiri


“Yang jadi masalah adalah apakah efeknya sama seperti saat kita ada di ’kedua dunia’ itu atau tidak. Masalahnya di ‘kedua dunia’ itu, ada banyak aturan yang berbeda dengan tempat ini sekarang” ucap Kaito sambil memegang botol obat lainnya


“Aku tau. Di ‘dunia’ ini, tidak ada monster seperti goblin atau kepala kambing itu. Aku sempat merasa obat yang kita minum di ‘dunia malam’ itu seperti potion dalam dunia game yang bisa memberikan efek penyembuhan pada pemain. Tapi, tempat ini lebih mirip dunia nyata seperti di tempat asalku”


“Begitu. Jadi, bagaimana pendapatmu? Aku tidak yakin kita bisa bergantung pada obat ini”


“Kalau hanya mencoba tidak masalah, kan? Selain itu, jika memang benar berpengaruh atau tidak nantinya bisa langsung diketahui saat itu juga”


“Terserah saja kalau begitu. Mau langsung membangunkan Kino?”


“Jangan!” ucap Ryou pelan


“Hmm? Kalau tidak dibangunkan, bagaimana bisa kita–”


“Pokoknya jangan dibangunkan! Ini adalah langkah tepat untuk bisa mengusir para penjajah itu dari ruangan ini!”


“Penjajah?” Kaito tidak memahami maksud dari kalimat itu


Ryou melihat jam saku di tangannya lalu menunjukkannya pada Kaito.


“Lihat jam berapa sekarang!”


“01.47?”


“Benar! Sekarang jam 13.47 siang yang artinya hanya tersisa tiga belas menit sampai para penjajah itu datang menjenguk!”


“Maksudmu…Theo dan kawan-kawan?”


“Tepat sekali! Para penjajah kecil itu, bocah tidak sopan dan setan-setan yang senang sekali mengganggu ketenangan Kino!”


“Rasanya hanya kau saja yang tidak senang mereka ada di sini, Ryou” gumam Kaito pelan


“Kau bilang apa tadi?”


“Bukan apa-apa. Ya sudah. Kalau begitu kita simpan saja obatnya. Nanti jika memang sudah menemukan waktu yang tepat, kita berikan obatnya pada Kino”


Kaito mengambil obat yang ada di tangan Ryou dan menyimpan semua obat itu dalam kantong belajaan kembali. Dia memasukkannya ke dalam laci bawah tempat pakaian Kino berada.


Sekarang, keadaan hening sesaat. Kaito memilih untuk bersandar di dekat jendela sambil melihat keluar. Sedangkan Ryou terus melirik Kaito dengan wajah aneh. Ekspresi wajah cemas atau seperti merasa bersalah.


‘Aku tidak percaya dia datang di saat aku sedang berpikir hal yang rumit. Untung saja aku tidak kelepasan mengatakan sesuatu’ pikirnya dalam hati


Kaito memperhatikan Ryou yang sepertinya sedang melihatnya.


“Kau kenapa, Ryou?”


“Eh?! Ah! A–aku…aku hanya lupa mendengar ceritamu soal terkena serangan mental yang tadi itu. Tadi kenapa dengan orang-orang yang melihatmu di jalan?” Ryou berusaha mencari topik pembicaraan


“Oh, soal itu. Sepertinya pakaian ini harus diganti karena orang-orang di kota mulai melihatku dengan wajah aneh. Ini adalah pakaian yang kita pakai sejak kembali dari pasar gelap. Noda darahnya mungkin tidak akan hilang dengan mudah sekarang”


“Tadi Kino juga berkata begitu. Dia memintaku untuk membeli pakaian baru untuk sementara. Padahal pakaian ini adalah pakaian yang baru saja kupakai setelah aku selesai mandi dan makan malam sebelum tiba di ‘dunia malam’ waktu itu”


Kaito mulai bertanya pada Ryou dengan wajah serius.


“Sebentar, kalau kuingat lagi kau dan Kino hanya datang dengan berbekalkan jam saku itu saja. Benar begitu, kan?”


“Yap. Karena saat itu aku dan dia berada di kamarku untuk melihat buku aneh yang membungkus jam saku ini” Ryou menunjukkan jam saku yang dipegang di tangannya


Kaito mulai menutup wajahnya dengan satu tangan sambil menghela napas panjang.


“Benar juga. Kalau begitu, semoga nantinya kalian tidak mengalami masalah” gumamnya pelan


“Hah? Kau bicara apa? Aku tidak mengerti”


“Bukan apa-apa. Aku hanya berdoa, itu saja” Kaito mencoba untuk tidak membahasnya


Jelas ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kaito di balik kalimatnya itu. Namun untuk sekarang, tampaknya dia tidak ingin mengatakan apapun mengenai hal itu. Tentu saja dia juga menyadari bahwa Ryou menyembunyikan sesuatu.


Ryou membalas ucapan Kaito barusan.


“Berdoa ya. Orang yang pernah menjadi pencuri di altar saat di ‘dunia siang’ ternyata bisa berdoa rupanya. Kupikir kau atheis, ternyata percaya adanya Tuhan juga rupanya”


“Atheis? Apa itu?”


“Tidak percaya Tuhan maksudnya”


“Aku tidak pernah mengatakan kalau tidak percaya Dewa atau semacamnya. Itu karena orang yang menolongku adalah salah satu dari orang yang percaya adanya Tuhan. Dia seseorang yang agamis sekali”


“Hoo, jadi kau juga punya agama ya” Ryou cukup terkesan dengan itu


“Seperti itulah. Mungkin kepercayaan yang diajarkan oleh orang yang menolongku itu adalah agamaku sekarang. Sejak aku tidak ingat apakah aku yang dulu memiliki agama atau tidak”


“Begitu ya. Ya sudah. Abaikan saja itu. Agama itu privasi setiap orang jadi aku sendiri tidak begitu peduli tentang hal itu. Di dunia asalku, bahkan di Jepang juga banyak yang tidak percaya adanya Tuhan. Bahkan ada yang namanya satanisme di berbagai tempat di dunia asalku”


“Satanisme? Penganut ilmu sesat?”


“Semacam itulah. Tapi lupakan saja. Itu bukan topik yang bagus untuk dibahas, percayalah padaku. Kita ubah pembicaraan ini” Ryou mulai mengalihkan topik obrolan


Kaito hanya diam dan melihat jendela lagi. Tidak lama setelah itu, dia mengatakan sesuatu.


“Aku baru ingat, senjata kita dibawa pergi oleh Riz”


“Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi! Bagaimana dengan pisau milik Kino?”


“Tampaknya dibawa juga oleh mereka”


“Aduh! Hadiah kakakku yang paling bagus…” wajah Ryou tampak sangat depresi sekali


Kaito hanya diam melihat wajah depresi Ryou dan mengambil jam saku miliknya. Segera setelah melihat jam sakunya, Kaito langsung berjalan ke arah pintu sambil memasukkan kembali benda tersebut ke saku dalam jubahnya.


“Apa? Mereka itu jangan-jangan…” Ryou terkejut dan melihat jam saku di tangannya juga


Bersamaan dengan itu, Kaito dengan santai membuka pintu ruangan dan langsung terdengar suara pemandu sorak yang masuk.


“Kami datang~”


“Ukh, para penjajah datang” ucap Ryou dengan nada kesal


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 siang dan jam besuk selanjutnya sudah dibuka. Ini adalah momen dimana semua orang yang ingin membesuk pasien dipersilahkan untuk masuk.


Kaito langsung membuka pintu sebelum mereka membukanya. Theo yang berdiri di depan pintu bersama Michaela dan Fabil cukup terkejut dengan itu.


“Bagaimana bisa Kaito-niichan melakukannya?” tanya Fabil yang masih berada di luar ruangan


“Ayo masuk. Jangan pikirkan hal itu”


Michaela masuk dengan senang. Setelah anak-anak itu masuk, Riz mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruangan.


“Kau yang menemani mereka sekarang?” tanya Kaito


“Paman Joel ada di bawah dengan senjata kalian. Dia bilang ingin mencari udara segar sambil merokok. Selain itu, aku memiliki beberapa hal untuk dibicarakan” jawab Riz dengan senyum


“Silahkan masuk”


Di dalam, Ryou sudah berdiri dengan pose tolak pinggangnya di dekat tempat tidur Kino. Jam sakunya sudah dimasukkan ke dalam saku celananya dan sekarang dia terlihat seperti seorang penjaga.


“Jangan mengganggu kakakku, kalian setan-setan kecil”


“Apa Kino-niichan sedang tidur sekarang?” tanya seorang anak kecil


“Benar sekali. Dia baru tidur kurang dari setengah jam dan aku tidak akan membiarkan kalian membangunkannya”


Michaela menyerahkan bingkisan kue yang dibawanya kepada Ryou dengan penuh senyum.


“Ryou-niichan, ini kue untuk Kino-niichan! Nanti kita makan sama-sama~”


Ryou hanya bisa menghela napas panjang dan tersenyum pada anak itu sambil mengucapkan terima kasih padanya. Setelah menerimanya, dia baru saja ingin mengubah pandangannya soal mereka. Tapi sepertinya dibatalkan.


Tepat setelah dia menerima kue itu, anak-anak itu langsung berkerumun di tempat tidur Kino. Bahkan seorang anak kecil laki-laki mengusap-usap pipi Kino hingga dia mulai terbangun.


“Mmm…”


“Oii!!! Apa yang kalian lakukan, dasar setan-setan kecil yang nakal! Pemberontak! Penjajah tidak tau diri!!” teriak Ryou


“Kami hanya melihat Kino-niichan~”


“Ryou-niichan yang berteriak seperti pasar”


“Benar”


“Kakakku jadi terbangun!!” Ryou langsung meletakkan kuenya di atas meja di samping tempat tidur pasien dan mulai menarik tangan anak-anak itu


Kaito dan Riz saling melihat satu sama lain dengan wajah aneh.


“Kau benar-benar berteman dengan orang yang miskin adab begitu?” tanya Riz sambil berbisik


“Sejak aku bertemu dengan mereka berdua, aku hanya tau bahwa masih ada harapan yang bisa kugunakan sebagai penolong yaitu Kino. Percayalah padaku, aku selalu jadi korban” Kaito menjawab dengan wajah datar


“Arkan cerita padaku kalau hanya Kino yang bisa membuatnya diam”


“Benar. Aku rasa kau harus melihat bagaimana hal itu bekerja”


Di dekat tempat tidur pasien anak-anak itu sedang beradu dengan Ryou. Kino mulai membuka matanya dan melihat sekelilingnya.


“Kalian…sudah datang ya?”


“Kino-nii…” Theo terlihat senang sekali


Kino mencoba bangun dan duduk. Dia melihat anak-anak itu sudah mengelilinginya. Tidak lupa juga dia melihat Ryou yang tampak beradu dengan anak-anak itu.


“Apa yang sedang kamu lakukan pada anak itu, Ryou?” tanya Kino dengan tatapan bingung


“Dia sudah membangunkanmu! Akan kuberi dia pelajaran!”


“Huwaa~turunkan aku dasar Ryou-niichan setan!”


“Apa kau bilang!” Ryou terlihat kesal


“Ryou, turunkan sekarang” Kino memintanya dengan ekspresi serius


“Tapi kau jadi tidak bisa istirahat, Kino”


“Aku mohon, dengarkan aku dan turunkan sekarang ya. Kalau sampai dia menangis, aku akan tetap menyalahkan Ryou”


“Ukh…”


Ryou langsung menurunkannya. Anak itu langsung pergi ke tempat Kino dan memeluknya dengan senyum. Kino juga mengelus kepalanya dengan senyuman.


“Cih! Dasar anak-anak nakal!” umpat Ryou


“Terima kasih banyak sudah mendengarkanku” ujar Kino pada sang adik


Riz yang melihat itu hanya bisa menatap Kaito dengan wajah syok. Kaito hanya mengangguk bangga.


‘Aku tidak percaya dia benar-benar hanya mendengarkan ucapan kakaknya!’ kata Riz dalam hati


Theo dan anak-anak lain senang melihat Kino yang sudah bangun.


“Kino-niisan, apa kami mengganggu istirahatmu?” tanya Stelani dengan wajah cemas


“Tidak. Aku sudah cukup istirahat. Aku senang kalian datang. Bukankah kalian membawa kue untukku?”


“Kami bawa! Aku berikan pada Ryou-niichan tadi. Iya kan, Ryou-niichan?” Michaela melihat ke arah Ryou


Ryou hanya mengangguk dan menunjukkan kuenya pada Kino dengan tangannya. Kino tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada mereka. Tidak lama setelah itu, dia menyadari ada orang yang belum pernah dilihatnya.


“Itu…”


“Oh, salam kenal. Namaku Riz Mortem”


“Riz…Mortem…mungkinkah…orang yang menolongku?”


“Aku hanya membantu Arkan. Senang bertemu denganmu, Kino”


“Ah, terima kasih banyak karena telah menyelamatkanku. Aku berhutang sangat banyak padamu, Riz-san” Kino menundukkan kepalanya dapa Riz seraya berterima kasih


“Ah, aku…um… aku tidak melakukan apapun” Riz tersipu malu


Kaito hanya tersenyum. Tidak lama setelah itu dia mendekati tempat tidur pasien untuk bergabung dengan anak-anak.


“Kino-nii, kau pasti lapar. Kita potong kuenya ya. Maggy-obachan bahkan sudah membawakan sendok dan piring kecil untuk kita” Theo menjadi semangat sekali


“Baiklah. Tolong ya”


Theo berjalan ke tempat kue itu berada. Tidak sengaja dia menyenggol Kaito hingga hampir terjatuh karena terburu-buru. Saat nyaris menyentuh lantai, Kaito langsung menarik tangan anak itu.


“Hati-hati…” Kaito berhasil menolongnya sebelum terjatuh


“Terima kasih, Kaito-nii”


-Deg


Sebuah bandul kalung yang awalnya berada di balik kerah pakaian Theo terlihat. Perasaan aneh mulai muncul dari kedua orang tersebut. Theo merasakan sesuatu yang aneh. Dia melihat Kaito dan matanya langsung melebar karena syok.


“Kaito-nii…kenapa…kau menangis?”


******